
Meskipun Kulit tubuh Shin Liong telah hangus sepenuh nya, karena Sambaran petir ketiga, tetapi karena seluruh organ dalam nya di lindungi oleh kekuatan sakti panah sumbu langit dan pedang kristal Katai putih, dia tidak terlalu terpengaruh dengan keadaan itu.
Petir kesengsaraan sudah berhenti berdentum,namun awan hitam bergulung gulung tetap saja berada diatas kepala Shin Liong.
Tiba tiba hujan deras laksana air di tuangkan turun dari awan hitam itu ke arah Shin Liong.
Perlahan lahan, jelaga dan arang dari kulit Shin Liong yang hangus terbakar itu luruh sedikit demi sedikit tergerus air hujan yang sangat lebat itu.
Beberapa saat kemudian,arang dan jelaga dari kulit Shin Liong yang terbakar tadi pun sudah sepenuh nya hilang, berganti kulit yang putih susu agak kemerahan, rambut yang tadi ikut habis terbakar, kini tumbuh lebih indah dari semula.
Kini Shin Liong sudah menjelma menjadi laki laki muda yang sangat tampan,dengan alis tebal bulu mata agak lentik serta kulit putih susu kemerah merahan dan hidung yang mancung.
Dewi Teratai putih terpana menatap laki laki muda yang sangat tampan, yang berdiri di depan nya itu.
"De, Dewata Agung, hadiah apa gerangan yang kau berikan untuk ku, sungguh anugrah yang tiada ternilai harga nya!" puji nya kepada para Dewa.
Dewi Teratai putih berlari memeluk tubuh Shin Liong dengan pelukan yang erat.
"Sayang,andai mata ku tidak melihat sendiri, tentu aku tidak akan percaya bila ini adalah kau sayang!" kata Dewi Teratai putih memeluk Shin Liong sambil air mata nya berderai karena terharu.
Kini awan hitam itu telah berubah menjadi berwarna kelabu, serta hujan pun sudah mereda, namun masih ada kilatan berwarna kuning.
"Segeralah menyingkir sayang, ini giliran ku menerima ujian dari petir kesengsaraan, menjauhlah sebisa mu!" kata Dewi Teratai putih menyuruh Shin Liong berlindung,karena kali ini ujian nya dengan petir kesengsaraan tingkat dua.
Shin Liong segera menjauh, mengganti pakaian nya yang tadi hangus semua dengan yang baru.
Sementara itu,Dewi Teratai putih melepas semua perhiasan di tubuh nya pemberian dari Shin Liong dulu yang hingga kini tetap dia pakai.
Semua perhiasan termasuk hiasan rambut nya, dia masukan di dalam cincin ruang nya.
Kini dia berdiri tegak menunggu ujian dari petir kesengsaraan tingkat dua, karena dia sudah menerobos tingkat Dewa Laut menengah setelah memakan buah Mumu emas itu.
Kini Dewi Teratai putih sudah berdiri tegak, menantikan datang nya ujian petir kesengsaraan itu.
"Jdeerr!!"...
Petir berwarna kuning, sebagai petir kesengsaraan tingkat dua itu, menghantam tubuh Dewi Teratai putih, membuat seluruh pakaian nya hangus semua,termasuk rambut panjang nya.
Namun tubuh Dewi Teratai putih tetap berdiri seolah petir itu tidak berarti bagi nya.
"Jdeerr!!"...
Dentuman kedua, petir kesengsaraan tingkat dua itu, kembali menghantam tubuh Dewi Teratai putih.
Kini seluruh kulit tubuh nya menjadi hangus semua nya tanpa terkecuali.
Tetapi Dewi Teratai putih tetap tegar berdiri, seolah tidak tergoyahkan oleh petir kesengsaraan itu.
"Jdeerr!!" ...
Petir ke tiga berdentum nyaring, menyambar tubuh Dewi Teratai putih yang sudah gosong itu.
__ADS_1
Namun tubuh Dewi Teratai putih masih tetap tegar berdiri menantang langit.
Hujan pun akhir nya turun dengan deras nya,membasahi tubuh Dewi Teratai putih .
Dan kulit Dewi Teratai putih yang gosong itupun luruh sedikit demi sedikit, terkena siraman air hujan, berganti dengan kulit yang baru, yang jauh lebih putih,lebih bersih dan jauh lebih cantik dari semula, dengan rambut yang panjang seperti semula.
Setelah mengganti pakaian nya yang semula hangus terbakar itu, Dewi Teratai putih melambaikan tangan nya ke arah Shin Liong.
Ketika Shin Liong sudah berada di dekat nya,Dewi Teratai putih segera memeluk nya dengan erat, "selamat sayang, sekarang kau sudah mencapai tingkat pertama kedewaan, mungkin saat ini kau pria satu satunya yang berhasil mencapai alam Dewa Bumi menengah, tidak ku sangka, kau jauh sangat tampan dari siapapun di dunia rendah ini sayang!"...
"Aku tidak merasa berubah Dewi, aku tetap Shin Liong yang dulu,yang hidup penuh dengan kesedihan!" kata Shin Liong .
"Aku senang kau tidak berubah, biarlah yang berubah cukup tubuh mu saja, jangan sifat mu,aku suka sifat mu yang sekarang" kata Dewi Teratai putih sambil memeluk sang suami kecil nya itu.
Dia yakin dengan wajah Shin Liong yang sekarang,ribuan gadis akan antri memperebutkan Shin Liong.
"Sebenar nya aku khawatir dengan mulut goa ini,aku takut bila ada orang yang menemukan goa ini,mereka akan merusak pohon Mumu emas itu!" kata Dewi Teratai putih .
"Bukankah untuk bisa makan buah itu lagi masih harus menunggu seribu tiga ratus tahun lagi Dewi!" kata Shin Liong bingung.
"Ya sayang itu kalau mereka mau menunggu selama itu,tetapi tahukah kau sayang, jika mulai dari akar hingga daun nya juga mengandung khasiat yang sama juga, dan orang orang serakah akan membongkar pohon itu hingga ke akar akar nya,dan pohon langka satu satu nya itu akan lenyap untuk selama lama nya!" kata Dewi Teratai putih menjelaskan.
" Dengan mengangguk, akhirnya Shin Liong mengerti, "bagai mana bila mulut goa itu ku tutup dengan tirai gaib halimunan, sehingga setiap orang yang berada di sini tidak lagi bisa menemukan mulut goa itu Dewi?" tanya Shin Liong memberikan usul.
"Nah itu baru ide yang baik, lakukanlah" Dewi Teratai putih menyetujui usul dari Shin Liong yang bagus itu.
Akhirnya Shin Liong menyegel mulut goa itu dengan segel Dewata, serta menutupi nya dengan tirai gaib halimunan, sehingga siapa pun yang lewat atau berada di situ,tidak melihat bahwa ditempat itu ada goa,yang mereka lihat hanyalah onggokan batu besar saja.
"Nanti lah,kita cari waktu yang pas, buah itu tidak akan busuk meskipun disimpan ratusan tahun,bahkan khasiat nya bertambah kuat!" kata Dewi Teratai putih sambil membimbing tangan Shin Liong kembali ke tenda mereka.
Dewi Teratai putih dan Shin Liong segera makan, karena hari sudah lewat tengah hari.
Rupanya waktu yang mereka habiskan berkultivasi tadi lebih dari setengah hari.
"Sayang!, sebaiknya hari ini kita istirahat dulu, untuk membiasakan kekuatan yang baru ini, kita harus berlatih dulu!" saran Dewi Teratai putih kepada Shin Liong.
"Terserah kau saja lah Dewi, memang sebaiknya kita melatih tubuh kita agar terbiasa dengan kekuatan baru ini!" jawab Shin Liong, patuh.
Begitu selesai makan, Shin Liong dan Dewi Teratai putih segera berlatih olah tubuh dengan adu tanding berdua.
Mulai dari gerakan gerakan dasar, hingga gerakan mereka semakin cepat untuk saling serang.
Sangking cepatnya gerakan mereka, sehingga tubuh mereka kini cuma seperti seberkas cahaya putih dan biru yang saling serang saja.
Sebentar saja,Beratus ratus jurus sudah terlewati oleh mereka, hingga akhirnya, mereka sama sama menghentikan serangan mereka masing masing.
"Bagai mana sayang, apakah semua energi di tubuh mu terasa sudah normal semua nya?" tanya Dewi Teratai putih sambil menyeka keringat di dahi Shin Liong.
"Aku merasa seluruh energi di tubuh ku sudah normal semua nya,tidak seperti tadi masih bergolak terus, kini jauh lebih tenang!" jawab Shin Liong, gantian melap peluh di wajah Dewi Teratai putih yang bercucuran.
"Sebaik nya tenda kita ini, kita pindahkan ke sisi lain dari telaga ini!" usul Dewi Teratai putih .
__ADS_1
"Pindah kemana ?" tanya Shin Liong rada bingung.
"Kan telaga ini bentuk nya memanjang seperti sungai besar, nah kita bisa pindah ke sisi sana!" kata Dewi Teratai putih sambil menunjuk kearah ujung telaga yang terlindung batu sebesar bukit.
"Ayolah sebelum sore hari, aku akan melepaskan tenda ini sebentar!" Kata Shin Liong sambil melepas kan ikatan tenda itu satu persatu.
Sedangkan Dewi Teratai putih mengambil kuda mereka yang dari balik pohon, karena tirai gaib punggung kura kura nya sudah di lepaskan oleh Shin Liong.
Akhirnya Dewi Teratai putih dan Shin Liong berjalan meninggalkan tempat mereka menginap semalam, mencari tempat baru untuk memasang kemah.
Telaga itu berbentuk memanjang ke arah timur sepanjang kira kira dua li, seperti sebuah sungai besar dengan batu batu di pinggir telaga itu.
Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya mereka tiba di ujung telaga.
Disebuah tanah lapang yang agak tinggi,Shin Liong mendirikan tenda mereka di bantu oleh Dewi Teratai putih.
Setelah itu, Shin Liong pergi mengumpulkan kayu kering untuk mereka memasak sore ini.
setelah beberapa saat berlalu.
Dewi Teratai putih menyajikan teh manis untuk Shin Liong.
"Kenapa kita tidak memakan buah Mumu itu lagi dan berkultivasi?" tanya Shin Liong pada Dewi Teratai putih.
"Tentu saja tidak boleh secepat itu juga, kau ingin dantian mu sobek, bahkan pecah karena besarnya arus energi yang memasuki nya ya ?" tanya Dewi Teratai putih .
"Lalu ?, kapan kita baru boleh makan buah itu lagi Dewi?" tanya Shin Liong .
"Tunggu lah, dua atau tiga hari lagi,baru kita boleh memakan buah Mumu itu kembali!" jawab Dewi Teratai putih tersenyum melihat ketidak sabaran Shin Liong untuk berkultivasi kembali.
"Kalau begitu, bagai mana kalau kita tetap di lembah ini selama beberapa hari ini, aku takut bila kita ber kultivasi di kota atau dekat orang lain,bisa bikin kehebohan dan membahayakan orang lain juga!" usul Shin Liong pada Dewi Teratai putih .
Dewi Teratai putih menatap Shin Liong sambil tersenyum manis, lalu menganggukkan kepala nya, "tentu saja boleh sayang, aku kan istri mu, dan aku akan selalu mendukung mu, selama langkah mu di jalan kebaikan dan kebenaran, aku mengikuti mu"...
Shin Liong memeluk wanita cantik jelita tinggi semampai itu.
"Kita akan terus bersama berduaan selama nya kan sayang?" tanya Dewi Teratai putih dalam dekapan Shin Liong.
"Tentu saja Dewi, kita akan berpetualang keseluruh dunia,bahkan keseluruh semesta ini berdua an saja!" jawab Shin Liong mencium dahi Dewi Teratai putih yang terpejam bahagia.
Dewi Teratai putih mengeluarkan sebutir pil berwarna biru cerah ber kualitas bintang delapan kepada Shin Liong ," telanlah pil ini,pil itu akan memperkuat seluruh organ tubuh mu,terutama dantian mu, kau ingin berkultivasi lagi kan?"...
"Tidak juga Dewi, aku cuma bertanya saja" jawab Shin Liong seadanya.
"Tetapi aku yang ingin kau berkultivasi lagi beberapa hari ini, untuk menaikan tingkatan mu, kita tidak tahu, dunia semacam apa yang akan kita hadapi kelak!" kata Dewi Teratai putih kepada Shin Liong.
Shin Liong cuma terdiam membisu, dia mengerti apa maksud dari kata Dewi Teratai putih itu.
Shin Liong memeluk tubuh Dewi Teratai putih dengan erat, semakin lama kebersamaan mereka, Shin Liong semakin merasa sangat membutuhkan Dewi Teratai putih, dan begitu juga dengan sang Dewi yang merasa semakin tergantung kepada Shin Liong itu.
...****************...
__ADS_1