
Wanita tua bergelar Shin Cui Mo Li (Iblis betina pencabut nyawa) itu berdiri gontai , dari sudut bibir nya mengalir beberapa tetes darah segar .
Di keluarkan nya sebutir pil dari penyimpanan nya , lalu di telan nya .
Setelah beberapa saat , nafas nya mulai teratur kembali , pertanda luka dalam nya sudah mulai membaik .
Dengan mata memerah , di tatap nya Dewi Chang 'e dengan tatapan yang sangat murka .
Tidak dia sangka sama sekali , seorang wanita yang terlihat lemah lembut dan anggun , dapat membuat diri nya terluka dalam .
"Rupanya kau memiliki kemampuan juga ya ?, tetapi jangan girang dulu , aku masih belum kalah , sekarang terima jurus ku ini !" kata Shin Cui Mo Li sambil menangkup kan kedua telapak tangan nya di depan dada nya , mulut nya komat Kamin membaca mantera mantera .
Tiba tiba "Plas !"...tubuh Shin Cui Mo Li raib dari pandangan mata .
"Hmm !, ilmu siluman , kau kira bisa membodohi ku dengan ilmu murahan seperti itu !" gumam Dewi Chang 'e yang segera menerapkan mata Dewi nya .
Mata Dewi Chang 'e sejenak berkilat warna putih bercahaya terang , tanda mata Dewi nya sudah aktif .
Dengan mata Dewi ini , para Dewa dan Dewi dapat melihat keberadaan semua mahluk gaib .
Meskipun Dewi Chang 'e sudah bisa melihat keberadaan Shin Cui Mo Li , tetapi sang Dewi ini berpura pura tidak melihat nya .
Dia menoleh kesana kemari , persis seperti orang yang mencari sesuatu .
Dewi Teratai putih !, A Yong , Arwanwen dan Dewi Lilian yang melihat Dewi Chang 'e kesulitan mencari keberadaan Shin Cui Mo Li , menjadi was was akan keselamatan wanita itu .
Sementara itu , dari jarak satu langkah di depan Dewi Chang 'e , Shin Cui Mo Li mempersiapkan jurus terakhir nya yang di sertai dengan energi maksimal nya .
Sedangkan Dewi Chang 'e yang sebenar nya melihat keberadaan dari Shin Cui Mo Li , namun pura pura tidak melihat nya , diam diam mempersiapkan jurus Hai Coan Hun San ( Menerjang lautan , memecah gunung) untuk menghadang pukulan dari wanita tua itu .
Shin Cui Mo Li setelah merasa jarak antara dia dan Dewi Chang 'e cukup dekat serta persiapan nya selesai , segera menerjang kearah Dewi Chang 'e dengan tangan kanan yang siap melepaskan pukulan .
"Bum !!" ...
Terdengar suara dentuman dahsyat saat pukulan dari Shin Cui Mo Li beradu dengan jurus Hai Coan Hun San milik Dewi Chang 'e .
Sangking kuat nya dentuman itu , hingga tanah dan debu berterbangan ke udara .
Saat debu telah mereda , nampak Dewi Chang 'e masih berdiri tegak di tempat nya , sedangkan Shin Cui Mo Li terpelanting sejauh puluhan depa kebelakang dengan mulut , telinga , mata dan hidung yang mengeluarkan darah segar .
"Kau !, kau !, kau !" ...
Sambil berusaha bangkit berdiri , Shin Cui Mo Li terbelalak menatap kearah Dewi Chang 'e dengan tatapan tidak percaya .
Setelah terhuyung huyung sesaat , akhirnya wanita tua berhidung seperti paruh elang itu ambruk ketanah , lalu berkelojotan beberapa saat , dan nyawa nya pun melayang ke neraka , mengakhiri petualangan nya di atas Dunia ini .
Di pergelangan tangan kurus nya yang tersingkap , terlihat tato bunga teratai berwarna hitam .
Dewi Chang 'e segera memanggil beberapa orang pemuda yang berdiri melihat kejadian itu , dengan memberikan upah beberapa Tail emas , dia menyuruh para pemuda itu untuk menguburkan jenazah wanita tua itu di pemakaman umum .
Malam itu , Dewi Chang 'e tidur satu kamar dengan Putri Hong Yi , pangeran Fang Ru zhian , dan inang Su Nan de .
Sedangkan Shin Liong satu kamar dengan ketiga istri nya , sementara A Yong satu kamar sendiri dan Arwanwen satu kamar dengan istri nya Dewi Lilian .
Malam berlalu dengan pelan , mengantarkan semua manusia , masuk kedalam Dunia mimpi nya masing masing .
__ADS_1
Baru saja Shin Liong memejamkan mata nya , tiba tiba telinga nya yang sensitif mendengar langkah halus seseorang di atas genteng .
Shin Liong segera duduk sambil mempertajam pendengaran nya .
Dewi Ying Fa yang terkejut segera menegur , "ada apa kak ?" ...
"Sttt !" Shin Liong meletakan jari nya di bibir lalu menunjuk keatas atap rumah penginapan .
"Ada apa kak ?" bisik Dewi Ying Fa sangat pelan .
"Diatas atap ada suara langkah kaki seseorang !" bisik Shin Liong dengan suara pelan pula .
Dengan langkah pelan , Shin Liong beranjak menuju kearah jendela di ikuti oleh Dewi Ying Fa .
Namun tiba tiba tangan Dewi Ying Fa di pegang oleh Dewi Xuan Yi yang tertarik melihat kelakuan kedua orang ini , "kalian mau kemana ?" ...
"Sttt !, ada orang diatas gen'teng kak Yi ,lagak nya sangat mencurigakan , bangunkan kakak Nuwa , takut nya kejadian sore tadi masih berbuntut panjang !" bisik Dewi Ying Fa di telinga Dewi Xuan Yi .
Dewi Xuan Yi segera membangun kan Dewi Teratai putih yang sudah tertidur pulas .
"Ada apa adik Yi ?" tanya Dewi Teratai putih sambil menggosok gosok mata nya .
"Sttt !, ada seseorang mengendap endap diatas atap rumah penginapan ini , berhati hati lah kak , jaga kamar ibu dan sang pangeran , aku mau menemani kakak Liong melihat siapa orang itu !" bisik Dewi Xuan Yi di telinga Dewi Teratai putih .
Dewi Teratai putih mengangguk lalu memadamkan lampu serta duduk di sudut ruangan sambil seluruh panca indera nya dia pertajam .
Dewi Xuan Yi segera membuka jendela , dan melesat di kegelapan malam , menyusul sang suami dan adik madu nya yang sudah terlebih dahulu keluar .
Dengan kecepatan luar biasa , Dewi Xuan Yi melesat kearah dahan pohon Siong tidak jauh dari jendela penginapan itu .
Kegelapan malam menyelimuti mereka , namun dengan mempergunakan mata Dewa nya , mereka bisa melihat di kegelapan yang sangat pekat sekali pun .
Beberapa saat , keheningan malam menemani mereka bertiga .
Hingga akhirnya , telunjuk Shin Liong mengarah ke pada satu arah kegelapan malam .
Diatas atap rumah penduduk , terlihat empat bayangan manusia berlompatan dengan sangat ringan nya .
Ke empat bayangan itu berhenti diatas atap rumah penginapan , lalu membuka sebuah gen'teng , dan mengintip kearah dalam rumah penginapan itu .
Beberapa saat kemudian , mereka mengembalikan letak atap gen'teng itu seperti semula , lalu membuka kembali di tempat lain nya .
Begitulah berulang ulang , mereka lakukan , hingga pada satu tempat , salah seorang yang mengintip kearah dalam rumah penginapan itu , memberikan kode kepada teman teman nya , jika di tempat itu , yang mereka cari berada .
Tiga bayangan yang lain nya mengintip kearah bawah beberapa saat lama nya , seperti sedang mempelajari situasi .
Dua bayangan berkelebat kebalik atap bangunan lain nya , sementara dua orang lain nya menunggu di tempat nya semula .
"Prang !" ...
Tiba tiba terdengar suara genteng di pecahkan oleh dua orang yang masih berada di dekat atap gen'teng yang di lepaskan tadi .
Dari dalam rumah penginapan itu , melesat bayangan dua orang kearah suara genteng di pecahkan tadi .
Kedua orang tadi segera melesat berlari diatas atap atap rumah penduduk , tetapi tidak secepat tadi , seolah mereka sengaja agar bisa di lihat oleh dua orang yang keluar dari dalam rumah penginapan tadi .
__ADS_1
Kedua orang yang baru saja keluar dari rumah penginapan itu , segera melesat , mengejar bayangan dua orang yang tadi .
Dari potongan tubuh nya , Shin Liong tahu , jika yang mengejar itu adalah Arwanwen dan Dewi Lilian .
"Awasi kedua orang yang masih bersembunyi di balik atap rumah itu , ini taktik memancing induk serigala keluar dari sarang nya , jaga sang pangeran , aku mau meringkus dua orang yang berlari itu , aku mau tahu siapa mereka !" bisik Shin Liong kepada kedua orang istri nya itu , lalu melesat hilang dari pandangan kedua nya .
Sementara itu , Dewi Xuan Yi dan Dewi Ying Fa masih memperhatikan dua orang yang bersembunyi dibalik atap rumah penduduk tadi .
Setelah hening beberapa saat seolah tidak ada apa apa lagi yang terjadi , tiba tiba dari balik atap bangunan rumah penduduk tempat dia orang tadi bersembunyi , melesat dua bayangan langsung masuk kedalam rumah penginapan , setelah menjebol atap rumah .
Selang beberapa waktu , kedua bayangan itu muncul kembali , sambil membopong sesuatu di pundak salah seorang dari mereka .
"Hei !, berhenti kau !" terdengar teriakan Dewi Teratai putih dari dalam rumah penginapan itu .
Tetapi karena saat itu kegelapan begitu pekat , karena kebetulan bulan mati , sehingga Dewi Teratai putih kesulitan mencari arah kedua bayangan itu pergi .
Ditempat persembunyian nya , Dewi Ying Fa dan Dewi Xuan Yi baru saja ingin menghadang kedua bayangan itu , tetapi , tiba tiba pundak kedua nya di tekan seseorang sehingga tidak bisa berdiri .
"Sttt !, jangan di hadang , tetapi ikuti mereka pergi kemana , ayo ikuti aku !" terdengar suara Dewi Chang 'e berbisik di telinga mereka berdua .
Kedua orang Dewi ini begitu kaget sekali , tanpa bisa mereka sadari , sang ibu mertua nya ini tiba tiba saja sudah berada di dekat mereka berdua .
Tanpa membantah , kedua nya melesat mengikuti Dewi Chang 'e dari belakang .
Dewi Chang 'e yang di ikuti oleh kedua orang anak menantu nya itu , terus melesat berlari diatas atap rumah warga , dan kadang kadang melompat lewat atas pohon .
Setelah beberapa waktu berlari , akhirnya mereka berhenti di luar kota , arah selatan kota Famoa , di sebuah Kuil yang berdiri di tepi sungai Ruan .
Di sekeliling Kuil ini , masih terdapat hutan yang cukup rapat , sehingga sangat mudah untuk melakukan pengintaian .
Sebuah patung serigala berwarna hitam , terbuat dari batu giok , berdiri megah di depan Kuil dengan dua kaki belakang nya , sementara dua kali depan nya , terangkat ke udara .
"Ini adalah Kuil Long Sian (Dewa Serigala) !" bisik Dewi Chang 'e kepada kedua anak menantu nya itu .
Dua bayangan yang memondong sesuatu tadi segera masuk kedalam Kuil itu .
Ruangan Kuil itu cukup besar , dengan sebuah patung Serigala terbuat dari batu giok hitam terdapat di tembok menghadap kearah pintu kuil , seolah olah menyapa semua orang yang memasuki kuil itu .
Empat langkah di depan patung Serigala itu , terdapat sebuah altar batu berbentuk persegi panjang , juga terbuat dari batu giok hitam .
Seorang laki laki tua bongkok , ber tongkat kan pokok bambu berwarna hitam , dengan bonggol nya di ukir seperti kepala serigala , berdiri di ujung altar , membelakangi arca serigala hitam .
Hek Long Pang merupakan perkumpulan yang sudah sangat lama berdiri , namun selama ini , tidak ada kegiatan mereka yang nampak mencolok di depan umum , selain sebagai pengawal sewaan dan kurir barang .
Di kiri dan kanan altar batu itu , berdiri berjejer laki laki dan perempuan , mengenakan jubah hitam panjang .
Dua bayangan tadi ternyata dua orang laki laki paro baya berbadan kekar , mengenakan jubah hitam panjang menjuntai dekat tumit .
Salah seorang dari mereka , meletakan bungkusan panjang yang dia bopong tadi di atas altar batu .
"Pang Cu !, tugas telah kami laksanakan , dan pangeran kecil itu sudah berhasil kami bawa kemari !" kata laki laki itu sambil meletakan bawaan nya diatas altar batu .
"Untuk apa mereka menculik pangeran kecil ?" ....
...****************...
__ADS_1