
Pemuda durjana bernama Cio Mang Le sang kumbang penghisap kembang itu masih tertawa tawa gembira sambil menari nari di sekeliling tubuh kedua dara cantik yang sudah tidak berdaya termakan racun pelumpuh urat, ditambah dengan totokan dari Cio Mang Le.
Kini kedua dara cantik itu cuma bisa terisak menangis, tanpa bisa berbuat apa pun juga.
"Bret!".
"Bret!".
Tangan pemuda durjana Cio Mang Le itu bergerak cepat merobek baju bagian depan kedua dara itu.
Kini sepasang gunung kembar milik kedua dara cantik itu, terbentang menatap langit, tanpa ada lagi sesuatu yang menutupi nya.
Air mata kedua gadis cantik yang selama ini sangat arogan itu mengalir deras tanpa terbendung lagi.
Hilang segala keangkuhan, kesombongan dan sifat arogan nya, menjadi gadis lemah yang cuma bisa menangis.
Kini pemuda durjana itu bersiap melaksanakan hasrat nafsu binatang nya kepada kedua orang gadis cantik itu.
Namun disaat detik detik terakhir, tiba tiba kaki pemuda itu menjadi kaku seperti terpaku ke tanah.
Meskipun dia berusaha sekuat daya untuk menggerakkan kaki nya, tetapi hasil nya tetap nihil.
Seorang anak muda tiba tiba sudah berdiri di dekat diri nya sambil tertawa.
Dengan sekali kibasan tangan, totokan kedua orang gadis itu pun terlepas.
"Nona nona berdua, perbaiki pakaian kalian, dan ini minumlah pil penawar racun ini cepat, kalau tidak cepat, otot kalian akan rusak dan kalian bisa lumpuh permanen" kata anak muda berjubah motif He Hua itu sambil meletakan dua butir pil penawar racun di dekat mereka ber dua, dengan wajah yang merah karena menahan malu melihat dua bukit kembar yang mencuat menantang langit itu.
Setelah totokan mereka terbuka, kedua dara cantik itu segera menelan masing masing sebutir pil penawar racun .
Setelah menelan pil penawar racun, berangsur angsur tenaga mereka berdua mulai pulih kembali.
Mata Cio Mang Le melotot menatap kearah Shin Liong yang juga menatap kepada nya itu.
"Kau, kau ba' baj*ngan!, ikut campur urusan orang lain, cepat lepaskan totokan mu ini, dan kita bertarung hingga seribu jurus, kita lihat siapa yang berhak memiliki kedua orang gadis cantik itu!" kata pemuda Cio Mang Le.
"Aku tidak menotok mu, dan pula kedua tangan mu bebas bergerak, kau bisa menotok bagian tubuh mu sendiri, bila memang kau kena totokan ku!" kata Shin Liong sambi menatap jijik kearah Cio Mang Le.
pemuda Cio Mang Le berusaha beberapa kali menotok beberapa bagian dari tubuh nya, tetapi tetap tidak ada reaksi apapun juga.
"Kau, kau apakan aku ban*sat!, cepat lepaskan aku!" bentak pemuda Cio Mang Le.
__ADS_1
Dengan tersenyum, Shin Liong menatap kearah pemuda durjana itu.
"Kau pikir itu ilmu totokan?, itu jurus rengkat Bumi nama nya, jurus yang dapat membuat kaki mu melekat di Bumi, kau boleh saja mengatai aku bangs*t atau baj*ngan, tetapi aku tidak sebejat kelakuan mu, kau sungguh sungguh memalukan sekali" kata Shin Liong .
Tiba tiba kedua dara cantik itu berdiri sambil menghunuskan pedang mereka masing masing, dan berjalan kearah pemuda bejad Cio Mang Le.
Pucat pasi muka pemuda Cio Mang Le itu melihat pedang terhunus di tangan kedua gadis yang nyaris saja dia perkosa tadi.
"No' nona cantik berdua, maafkan ke khilafan saya tadi nona, ampun kan nyawa saya nona!" kata pemuda Cio Mang Le sambil berusaha membebaskan kaki nya yang terpaku kee tanah.
"Cras!".
"Cras!".
Sian Eng dan Cui Ming berkelebat kearah pemuda bejad Cio Mang Le, dan akibat nya, tubuh pemuda Cio Mang Le terjatuh ketanah dengan kaki putus diatas lutut nya.
Raungan pemuda Cio Mang Le sangat nyaring, seakan mencapai angkasa, menahan sakit luar biasa dari kedua kaki nya yang terputus itu.
"Bukan kah kami baik hati ?, kami melepaskan tubuh mu yang tertahan oleh jurus nya tadi, sekarang kau bebas bergerak!" kata kata Sian Eng terdengar sangat pedas di telinga Cio Mang Le.
Dengan sisa sisa tenaga nya, Cio Mang Le berusaha bergulingan di tanah, menjauhi ke dua dara cantik yang kini berdiri seperti seorang Dewa Yama yang sedang murka itu.
"Cras!".
"Cras!".
Terdengar kembali raungan dari mulut pemuda Cio Mang Le, ketika kedua tangan nya buntung sebatas bahu terkena babatan dari pedang Sian Eng dan Cui Ming.
"Maap kami terpaksa meminta kedua tangan mu, karena kedua tangan mu telah lancang membuka pakaian kami ber dua" kata Cui Ming dengan nada yang dingin.
"Ampun!, bunuh saja aku, bunuh saja aku, jangan siksa aku!" teriak pemuda Cio Mang Le berguling guling di tanah.
"Cras!".
"Cras!".
Seperti di komandoi, kini kedua dara cantik itu bergerak cepat sekali, dan darah pun muncrat dari kedua mata pemuda bejad Cio Mang Le itu.
"Kami juga harus mengambil mata siapapun yang sudah melihat milik kami berdua tadi" kata Sian Eng sambil menatap kearah Shin Liong dengan tajam, seolah olah kata kata itu di tujukan untuk nya.
Ditatap seperti itu, Shin Liong sampai bergidik dan mundur beberapa tindak.
__ADS_1
Setelah kedua mata nya buta, pemuda bejad Cio Mang Le itu meraung Raung sejadi jadi nya, kini kedua kaki dan kedua tangan serta kedua mata nya sudah tidak ada lagi.
"Ku mohon bunuh aku, bunuhlah aku, tolong Bunuhlah aku, jangan perpanjang derita ku!" ratap pemuda bejad Cio Mang Le itu.
"Ha ha ha ha, aku justru akan membunuh setiap orang yang berniat membunuh mu, coba kau bayangkan derita apa yang akan kami alami jika saja kau berhasil melampiaskan hasrat iblis mu, derita seumur hidup, lebih berat dari pada derita mu sekarang, terlalu mudah bagi mu untuk mati begitu saja!" teriak Sian Eng sangat marah.
Akhirnya, pemuda bejad itu jatuh pingsan setelah menanggung penderitaan yang teramat berat.
Akhir dari petualangan sang kumbang penghisap kembang, rupanya sangat mengenaskan, dan bakalan berakhir di mulut binatang buas penunggu hutan itu.
"Kini giliran mu yang harus menerima balasan dari kami, karena mata mu juga sempat melihat bunt*lan milik kami yang seharusnya tidak kau lihat!" kata Sian Eng sambil menoleh kearah anak muda yang telah menjadi Dewa penolong mereka berdua tadi.
Tetapi rupanya anak muda itu sudah tidak terlihat batang hidung nya lagi.
"Kemana pergi nya anak muda mata keranjang itu Cui Ming, kita harus membunuh nya, atau paling tidak mencongkel mata nya, kehormatan kita telah di nodai nya Cui Ming!" kata Sian Li gusar.
"Anak muda tadi lenyap begitu saja dari pandangan mata ku Sian Eng, lagi pula rasa nya tidak pantas kebaikan nya kita balas dengan kejahatan, dia telah membebaskan kita dari aib yang lebih besar dari pada kematian!" kata Cui Ming.
"Tetapi dia telah membunuh ayah kita, kakek kita, lalu eyang kita, utang nyawa harus dibayar dengan nyawa pula Cui Ming, kenapa sekarang kau lemah, biasanya kau yang paling menggebu gebu!" hardik Sian Eng marah.
"Aku sekarang sadar Sian Eng, benar kata leluhur kedua, menyimpan bara dalam sekam, akan menghanguskan padi segudang, kita hampir saja kehilangan kehormatan kita akibat ambisi membalas dendam, padahal sejak semula kita sudah tahu siapa eyang, siapa kakek, dan siapa orang tua kita, berapa banyak orang orang yang mati sia sia cuma karena tidak sepaham dengan mereka, bahkan kita sendiri juga pernah mengorbankan beberapa nyawa secara sia sia cuma karena rasa ingin di hormati dan di nomor satu kan, kita sering memberi laporan yang tidak benar kepada patriak, cuma untuk memuaskan hati kita, dan setelah patriak bertindak, melenyapkan nyawa yang tidak berdosa itu, cuma karena kebohongan kita, apa yang kita dapat kan?, kepuasan?, ingatlah pepatah tangan bertindak, bahu yang memikul, karma pasti berlaku, seperti yang telah terjadi kepada semua kerabat kita!" kata Cui Ming.
"Tetapi Cui Ming, dia sudah melihat punya kita yang tidak seharusnya dia lihat, dia harus bertanggung jawab" kata Sian Li bersikeras menyalahkan Shin Liong .
"Dengarlah saudari ku, sekarang pikiran ku baru terbuka, setelah bahaya besar yang hampir saja menimpa kita berdua tadi, bagiku kesalahan anak muda itu kepada ku telah dia tebus dengan menyelamatkan kehormatan ku, yang jauh lebih berharga ketimbang nyawa para leluhur, coba bayangkan seandainya niat jahat pemuda itu terlaksana, apa aib yang menimpa kita dan keluarga besar Gak, apa lagi misalnya kita sampai hamil anak penjahat itu, apa yang akan terjadi dengan kita berdua nanti nya, sudahi urusan dendam ini saudari ku, sebaik nya kita kembali ke kota Si Ma untuk membantu patriak dan para tetua serta leluhur, memperbaiki citra klan Gak yang sudah terlanjur jahat di mata masyarakat banyak!" kata Cui Ming.
"Tetapi saudari ku, kita berdua sudah di lecehkan nya, dia sudah melihat benda yang tidak seharusnya dia lihat, bila orang lain tahu, kita tetap akan mendapatkan aib dan cemoohan orang banyak, dia memang harus bertanggung jawab kepada kita berdua saudari ku!" kata Sian Li tidak setuju dengan perkataan dari Cui Ming.
"Lalu, bagai mana dengan urusan dendam itu Sian Eng?" tanya Cui Ming ingin tahu pendirian dari saudari nya itu.
"Setelah aku pikirkan, ternyata ucapan mu benar, dia telah menebus kesalahan nya dengan menyelamatkan kita berdua, dan itu ku anggap impas, tetapi masalah dia telah melihat barang yang bukan hak nya, itu penghinaan yang lain Cui Ming, setidak nya dia meresmikan bahwa semua itu memang hak nya, barulah penghinaan ini tuntas!" kata Sian Eng.
Setelah bertatapan sesaat, kedua bersaudara sepupu itu saling berpelukan tanda setuju, setidak nya dendam sudah terselesaikan, dan sebenar nya, setelah peristiwa tadi, secara diam diam dara cantik bernama Cui Ming ini menaruh hati kepada anak muda yang telah menyelamatkan hidup mereka itu.
Lagipula dia merasa tidak ada guna nya menyimpan dendam dengan anak muda itu yang ilmu nya ternyata jauh lebih tinggi dari yang tampak di mata mereka, bukti nya Cio Mang Le sang kumbang penghisap kembang yang terkenal berilmu tinggi itu pun dengan sangat mudah di pecundangi nya, padahal secara normal, meskipun mereka berdua, belum tentu bisa mengalahkan seorang Cio Mang Le.
Memang pada masa itu, sangat jarang terjadi, seorang laki laki, cuma memiliki satu istri, rata rata kalau tidak istri, maka selir nya yang banyak, seperti halnya ayah ayah mereka, meskipun cuma memiliki satu istri, tetapi selir nya ratusan.
Pada masa itu, status sosial seorang laki laki juga dilihat dar berapa banyak dia memiliki istri atau setidaknya selir.
...****************...
__ADS_1