
Saat akan keluar dari rumah makan itu, di hadapan mereka muncul dua orang kakek tua berbadan agak bongkok, berambut putih riap riapan, tetapi terlihat masih sangat kuat.
Mereka adalah Ou Yang Kao Seng dan Ou Yang Liao Ceng, dua Datuk dari bukit Kwan yang sangat terkenal sadis itu.
Dibelakang mereka, ada empat orang pemuda, yang salah satu nya adalah pemuda Luan Cen Tong dan Ouw Kong Ho.
"Guru!, itulah mereka, salah satu dari kedua pemuda kembar itulah pelaku nya guru!" kata Kong Ho sambil menunjuk dengan tangan kiri nya, kearah Hao Cun dan Hao Shen yang sedang berjalan keluar dari halaman rumah makan itu.
"Hei!, kalian berdua, aku tidak akan bertanya siapa diantara kalian pelaku nya, karena bagi ku, mengaku atau tidak, kalian berdua tetap akan kubunuh!" kata Ou Yang Kao Seng.
Didalam rumah makan, para gadis cantik yang sudah menyelesaikan makan nya, dan membayar harga makanan mereka, mendengar orang orang di dalam rumah makan itu berteriak teriak bahwa diluar ada perkelahian, segera berlari keluar dari rumah makan itu.
Sesampai nya di luar, bukan main terkejut nya mereka ber empat melihat siapa yang datang.
Kontan saja mereka merasa bersalah karena telah melibatkan kedua bersaudara yang baik hati itu kedalam permasalahan berbahaya.
"Aku cuma menawar kan kepada kalian berdua, mengaku dan minta maap dengan bersimpuh dihadapan kami, lalu bunuh diri, atau tetap diam dan kami siksa dengan sadis sampai mati?, terserah kalian saja!" kata Ou Yang Kao Seng lagi.
Tiba tiba Hao Cun maju ke arah kedua Datuk itu.
"Saya lah pelaku nya tuan!, dan saya siap mempertanggung jawabkan semua nya, asal adik saya jangan di sentuh sedikit pun juga!" kata Hao Cun tanpa gentar.
"Kakak!, aku yang melakukan nya, dan kakak jangan merendahkan diri kakak, aku selamanya tidak akan mengakui kakak sebagai saudara, bila kakak merendahkan diri kakak dihadapan mereka, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku pada mereka, tetapi bukan dengan merendahkan diri kita kak, kita boleh hina Dimata orang lain, tetapi jangan sampai memperhinakan diri sendiri kak, kau jaga para gadis itu, dan lihat adik mu ini bertindak pada orang tua tidak tau diri ini kak, itupun bila kakak masih mau bersaudara dengan ku!" ucap Hao Shen atau Shin Liong kepada kakak angkat nya.
Hati nya terharu melihat rasa persaudaraan yang begitu tulus dari kakak angkat nya itu.
"Tetapi adik, kakak lebih siap menerima resiko apapun dari mereka, dari pada melihat adik celaka oleh kedua Datuk itu!" kata Hao Cun lagi.
Dengan tersenyum ramah, di raih nya tubuh kakak nya, lalu di peluk nya, sambil berbisik halus di telinga Hao Cun, "kakak!, kau masih belum mengenal aku kak, percayakan kepada ku kedua Datuk itu, dan aku tidak akan kalah dari mereka berdua, sekalipun mereka maju bersama!"...
Hao Cun atau Chen Chao Kai memang belum begitu mengenal adik angkat nya itu.
"Ha ha ha ha, kalian jangan berebut, kalian berdua pasti mendapatkan bagian yang sama, betapapun kalian tidak meng ingin kan nya" kata Ou Yang Kao Seng sambil tertawa nyaring karena mengira kedua saudara kembar itu sudah takut dengan mereka.
pemuda Hao Shen atau Shin Liong maju kehadapan kedua orang kakek tua itu.
"Kau begitu yakin bisa menumbang kan aku kakek tua, kau begitu jumawa nya dengan tingkat kesaktian mu yang masih belum se ujung kuku itu kakek, seolah olah sudah jelas aku akan tumbang di hadapan mu, begini saja kek, kuberi kesempatan lima jurus kepada mu untuk menumbang kan aku, bila dalam lima jurus kau berhasil menumbangkan aku, maka kakak ku itu juga boleh kau bunuh, tetapi bila dalam lima jurus kau tidak bisa menumbangkan aku, aku yang akan menewaskan diri mu dalam tiga jurus!" ucap Hao Shen datar.
"Ha ha ha ha, kau mengatakan aku yang jumawa, apa bukan kau yang terlalu yakin dan terlalu jumawa bocah?, Alam Taruna menengah, berani petantang petenteng di hadapan ku, aku adalah dewa Yamadipati mu nak, bersiap lah, tidak usah lima jurus, beri aku dua jurus, akan ku pecahkan kepala mu!" kata Datuk Ou Yang Kao Seng sambil menyerang Hao Shen dengan tiga perempat energi nya.
Gerakan kakek tua itu benar benar begitu kuat, cepat dan sangat akurat, sepintas terlihat jurus nya tanpa celah dan kelemahan.
Tetapi di mata Hao Shen atau Shin Liong, jurus secepat itu, Dimata nya justru sangat sangat lambat serta penuh dengan celah dan kekurangan disana sini.
__ADS_1
Hao Shen sengaja membiarkan pukulan sang kakek masuk hampir menyentuh tubuh nya, ketika tinggal sejengkal dari tubuh nya, barulah Hao Shen bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa di ikuti oleh mata manusia.
Bukan main terkesiap nya Datuk tua itu, ketika tiba tiba pukulan nya menghantam angin belaka, padahal tadi dia sangat yakin, dengan sekali pukul, nyawa pemuda itu bakalan minggat dari tubuh nya.
Terasa tepukan seseorang di belakang pundak nya, bersama dengan suara, "saya di sini kek!"...
Kakek Ou Yang Kao Seng membalikan tubuh nya, dan betapa kagetnya dia, karena satu langkah di depan nya sudah berdiri pemuda itu.
Tanpa pikir panjang lagi, sang kakek tua itu segera menyerang kearah pemuda itu dengan serangan yang sangat cepat serta berkekuatan penuh itu, tetapi kejadian tadi kembali terulang hingga tiga jurus terlewati.
Namun jangan kan menewaskan pemuda itu, menyentuh nya saja tidak berhasil.
Akhirnya lima jurus pun kini terlewati, tetap saja, jangan kan menewaskan lawan nya, menyentuh nya saja kakek itu tidak berhasil.
Kini perasaan was was bercampur malu mulai merasuki hati kakek Kao Seng.
Setelah lewat lima jurus, tiba tiba pemuda Hao Shen melompat mundur beberapa tombak.
"Waktu yang kuberikan telah terlewati, dan kakek tidak bisa memanfaatkan dengan sebaik baik nya, kini giliran ku untuk menyerang kakek, kalian majulah berdua, agar tidak memperlama pekerjaan ku, karena kalian maju berdua atau pun tidak, bagiku tidak masalah, karena aku tetap akan membunuh kalian berdua, bersiap lah kek!" ucap pemuda Hao Shen dengan nada yang dingin.
Di tangan Hao Shen sudah tergenggam sebuah pedang kristal Katai putih inti bintang.
Melihat pedang dengan bahan aneh itu, tiba tiba bulu kuduk semua orang yang ada disekitar situ menjadi merinding ngeri, tidak terkecuali pemuda Hao Cun sendiri.
Dengan kewaspadaan yang sangat tinggi, kakek Tua Ou Yang Liao Ceng maju mambantu saudara nya Ou Yang Kao Seng.
"Sekarang, bersiap lah kakek berdua, satu!" selesai berkata kata, tiba tiba tubuh pemuda Hao Shen menghilang dari pandangan, dan di saat yang sama, berada di depan kakek Ou Yang Kao Seng.
"Tras!"...
"Pluk!"...
Dan kepala kakek Ou Yang Kao Seng pun menggelinding di tanah, tanpa sempat menyadari apa yang telah menimpa diri nya.
Seluruh yang menyaksikan peristiwa itu, seolah olah belum bisa mempercayai dengan apa yang mereka lihat sendiri, dengan satu jurus saja, tokoh dedengkot yang paling ditakuti karena kekejaman nya yang tidak pandang bulu itu, bisa tumbang tanpa perlawanan yang berarti.
Melihat saudara kembar nya tewas dalam satu jurus saja, tahulah kakek Ou Yang Liao Ceng bahwa lawan nya sekarang memiliki ilmu yang sangat jauh diatas mereka berdua, bukti nya saja, saudara nya yang berilmu sudah sangat tinggi itu, bisa tumbang hanya dalam satu jurus saja.
Kecewa, marah, dan rasa dendam, namun sadar tidak akan mampu melawan pemuda itu, membuat sang kakek mengambil langkah aman, dengan melarikan diri saja dari pertarungan itu.
Namun baru saja kakek Ou Yang Liao Ceng melompat ke belakang, tubuh nya baru terangkat beberapa jengkal dari tanah, tiba tiba sudah jatuh lagi, dengan perut yang sudah terputus.
Mata kakek Ou Yang Liao Ceng mendelik sesaat, seakan akan tidak percaya kepada apa yang telah di alami nya.
__ADS_1
Lian Cen Tong dan Ouw Kong Ho yang menyaksikan hal itu, bermaksud segera pergi dari tempat itu, untuk mencari keselamatan diri.
Tetapi malang, sesaat terasa angin berhembus tiba tiba bersamaan dengan itu, kepala tuan muda Lian Cen Tong dan Ouw Kong Ho jatuh menggelinding diatas tanah.
"Aku tidak pernah bertindak separo separo, sekarang kalian berdua yang akan mendapatkan bagian juga!" ucap pemuda Hao Shen sambil menatap kearah dua orang pemuda yang tadi datang bersama tuan muda Luan Cen Tong dan Ouw Kong Ho.
Kedua pemuda itu tiba tiba bersimpuh sambil menangis.
Celana mereka berdua basah sangking takut nya," ampuni kami tuan muda, kami cuma pengawal, tetapi tidak ikut ikutan, ampuni selembar nyawa kami!" ratap kedua pemuda itu sambil memohon mohon kepada Hao Shen.
"Kalian memang tidak memiliki masalah dengan ku, maka akan ku maafkan, tetapi kalian harus pergi dari kota ini, karena, setelah ini, bila aku masih melihat kalian berdua di kota ini, aku pasti akan membunuh kalian!" ucap Hao Shen kepada kedua pemuda itu.
Merasa diberikan kehidupan yang kedua, kedua orang pemuda itu segera pergi berlari keluar dari gerbang kota Kwan Ton.
Ketika pemuda Hao Shen melepaskan pedang di tangan nya, pedang itupun kini raib kembali kedalam tubuh Hao Shen atau Shin Liong .
Setelah pedang di tangan Hao Shen tidak ada lagi, barulah orang orang yang berada di sekitar halaman rumah makan itu bisa bergerak, dan detak jantung mereka berangsur kembali normal.
Se benci apapun Ouw Jiu Mei kepada kakak nya itu, tetapi saat melihat sang kakak kandung nya tewas mengenaskan, air mata nya pun akhirnya tumpah jua.
"Kakak!, kau hidup terlalu jahat kak, dosa dosa mu sudah terlampau banyak, aku sudah sering memperingatkan diri mu kak, tetapi jangan kau mau mendengar kan aku, malah kau membentak aku kak, karma itu pasti berlaku!" tangis pilu Jiu Mei, sambil mengangkat kepala kakak nya.
Kabar pun segera menyebar ke seantero kota Kwan Ton, bahwa dua Datuk bukit Kwan telah tewas di tangan seorang pemuda misterius.
Banyak orang yang tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, tetapi bagi yang percaya, mereka bersyukur karena selama ini dia dedengkot itu telah menjadi momok menakutkan bagi siapapun.
Tidak ketinggalan keluarga tuan besar Luan.
Mereka sangat berduka cita, karena tuan muda keluarga mereka kini telah tewas mengenaskan di tangan seorang pemuda.
Tetapi mereka tidak lagi berdaya, karena tidak lagi ada orang yang sekelas dua dedengkot tua itu, apa lagi yang dapat melebihi nya, pasrah jalan terbaik dari pada seluruh keluarga mengalami kehancuran.
Kabar kematian dua dedengkot itu kini menyebar kemana mana bersama dengan angin yang berhembus kencang.
...****************...
Mohon maaf bila tidak memuaskan seluruh pembaca dan peminat cerita silat.
Ada yang bertanya, ini genre apa?, silat kah, atau kultivasi kah.
Saya tidak menamakan cerita ini kisah kultipator murni, ini cuma cerita. silat yang berlatar belakang kultivasi saja yang coba saya buat untuk pembaca yang kebetulan berminat.
Ada juga yang bertanya dengan becak yang terdapat di beberapa bagian cerita ini.
__ADS_1
Hendak nya itu jangan di pahami seperti becak jaman kita sekarang, itu becak tarik tenaga manusia nama nya Rickshaw, dan kendaraan itu sangat populer di perkotaan jaman Tiongkok kuno.
Mohon maaf atas segala kekurangan nya, dan terimakasih atas segala dukungan nya.