Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Weng Tao, Weng Taoli.


__ADS_3

Kapal sandar di dermaga kota Tobao tidak terlalu lama, setelah bongkar muat barang,dan penumpang, kapal pun akhirnya berangkat kembali ke kota raja Sun Cao.


Setelah berangkat dari kota Tobao, barulah Hao Shen atau Shin Liong menyadari, jika kini di telapak tangan kanan nya kembali bertambah satu titik lagi.


Kini titik kuning ke emasan di tangan nya berjumlah delapan buah.


Selama perjalanan, kedua orang remaja Rua Tan Rao dan Bu Si Hong terus terusan sibuk berkultivasi dan berlatih bela diri.


Sedangkan ke empat orang remaja yang dahulu Hao Shen kalah kan, tidak pernah lagi terlihat.


Malam belum terlalu larut, ketika kapal bersandar di dermaga kota Sun Cao.


Kini setelah lima hari pelayaran, Rua Tan Rao dan Bu Si Hong sudah mencapai tingkat Alam Ksatria akhir, serta ilmu bela diri nya pun lumayan hebat, karena selama di kapal, Hao Shen telah mengajarkan beberapa jurus ilmu bela diri.


Malam itu juga, kelima orang remaja itu turun dari kapal menuju ke kota raja Sun Cao.


Kota Sun Cao adalah kota besar di ujung Tanjung yang di kelilingi oleh laut.


Di sebelah selatan, timur, dan Utara adalah lautan, cuma di sebelah barat ada gerbang menuju ke daratan dunia luar.


Hao Cun dan Hao Shen mengantarkan Ling Ling kerumah kakek dan nenek nya, sedangkan Rua Tan Rao dan Bu Si Hong, pulang kerumah mereka di pinggiran kota Sun Cao.


Kakek Ling Ling ini bernama Gong Tua Liao, atau Gong Taijin ( pembesar Gong), seorang pejabat dalam istana Kaisar.


Keluar dari rumah kediaman Gong Taijin, Hao Cun dan Hao Shen berjalan kesebuah sudut kota yang tidak terlalu ramai penduduk nya.


Diapit oleh dua buah rumah yang cukup besar serta bertingkat dua, ada sebuah gang kecil, hanya selebar satu depa saja.


Hao Cun mengajak adik nya memasuki gang kecil itu.


Setelah sampai di ujung gang kecil itu, mereka harus berbelok ke kiri lagi dengan menyusuri gang yang kurang lebih sama lebar nya.


Di belakang bangunan itu, ada sebuah kebun pisang dan kebun jeruk serta beberapa tanaman lain nya.


Di tengah tengah kebun itu ada sebuah rumah sederhana, namun terasa sangat nyaman karena berada di tengah tengah perkebunan.


Hao Cun mengetok pintu rumah itu beberapa kali sambil memanggil seseorang.


"Kakek Weng!, kakek Weng!, bukakan pintu nya, ada bak pau panas!" teriak Hao Cun nyaring.


Tidak lama kemudian, dari arah dalam, ada terdengar suara langkah kaki seseorang, lalu suara palang pintu di buka.


Ketika pintu terbuka, nampak wajah keriput seorang laki laki tua, muncul dari balik pintu rumah itu.


Laki laki tua itu berusia delapan puluh tahun, berperawakan kurus namu terlihat masih kuat.


Setelah pintu dibukakan, laki laki tua itu menatap kearah Hao Cun.

__ADS_1


"Saya tidak punya keping tuan, meski satu keping perak,saya harus bayar dengan apa?" tanya laki laki tua itu sambil menatap kearah Hao Cun.


"Kakek tidak usah membayar dengan keping, tetapi cukup dengan seribu buah pisang!" jawab Hao Cun lagi.


Hao Shen yang mendengar dialog antara kedua nya, menjadi terheran heran, kenapa kakak nya datang membangunkan kakek kakek tua sekedar menawarkan bak pau yang di tukar dengan buah pisang seribu.


Belum hilang kebingungan dari Hao Shen atau Shin Liong mendengar dialog antara Hao Cun dan kakek Weng itu, tiba tiba sang kakek berlutut di hadapan Hao Cun.


"Tuan ku, terimalah sembah hamba!" kata kakek Weng kepada Hao Cun.


"Sudahlah kakek Weng, ayo kita masuk, ayo adik kita menginap di rumah kakek Weng malam ini!" kata Hao Cun menarik tangan Hao Shen.


Mereka masuk kedalam rumah kakek Weng yang tidak terlalu besar, namun masih cukup untuk menampung mereka berdua tidur di situ.


Kakek Weng masuk kedalam beberapa saat, lalu keluar lagi dengan membawa tikar dari daun palm hutan, yang di gelar di ruang depan, rumah kakek Weng itu.


Sambil menyerahkan dua buah bantal dari kapuk, kakek Weng membungkukan tubuh nya beberapa kali di hadapan Hao Cun sambil berkata, "maaf tuan ku, cuma ini yang hamba punya, bila tidak berkenan, mohon ampuni saya tuan ku!" ...


Hao Cun tersenyum ramah menatap kearah kakek Weng itu, "tidak mengapa kakek Weng, ini pun sudah lebih dari cukup!"...


Dari arah belakang, keluar seorang gadis cantik berkulit putih membawa poci dan beberapa cangkir keramik, lalu menuangkan air teh kedalam cangkir, serta menyuguhkan nya ke pada Hao Cun dan Hao Shen.


Setelah selesai menuangkan air teh kedalam cangkir, gadis itu mundur beberapa tindak kebelakang, duduk bersimpuh tetapi tidak pergi dari tempat itu.


Tidak berapa lama, dari dalam, muncul lagi seorang gadis yang sangat serupa dengan gadis pertama membawa nampan berisi buah pisang rebus, serta beberapa buah ubi yang juga sudah di rebus.


"Maaf kakek Weng, perlu saya ingatkan kepada kakek dan semua nya yang ada di sini, kalian tidak boleh memperlakukan aku seperti di istana, bila aku berpenampilan seperti ini, kecuali aku menampilkan wajah asli ku, barulah kalian boleh memperlakukan ku dengan istimewa, bila tidak, tidak ku perkenankan siapapun untuk memperlakukan aku seperti seorang pangeran, panggil saja aku Hao Cun, dan ini adik ku Hao Shen, kalian hanya boleh memanggil kami tuan muda saja!" titah Hao Cun atau Chen Chao Kai.


Kakek Weng bersimpuh sekali lagi, di ikuti oleh kedua gadis kembar tadi.


"Maafkan kami yang mulia, eh tuan muda, harap sudilah memaafkan kami!" kata kakek Weng sambil menjura beberapa kali.


"Tuan muda berdua, silahkan mencicipi hidangan alakadar nya ini tuan!" kata gadis yang pertama datang tadi.


Hao Cun menatap kedua gadis cantik itu dengan tersenyum, "meskipun aku sering kesini, aku selalu tidak bisa membedakan mana Cha Cha dan mana Che Che?" ...


"Sayalah Cha Cha yang tertua tuan, dan ini Che Che adik saya!" kata gadis pertama menjelaskan.


"Oh iya Kakek Weng, saya mau tahu bagai mana perkembangan istana selama saya pergi, dan bagai mana dengan ayahanda?" tanya Hao Cun.


Mendengar pertanyaan dari Hao Cun itu, raut wajah kakek Weng langsung berubah sedih.


"Kelakuan pangeran Chi You semakin menjadi jadi tuan muda, jendral Beng Bo Antiong, sudah di copot oleh Pangerang dari jabatan jendral besar, dan mengganti nya dengan Dong Guan Saoji, serta seluruh jendral yang yang menjadi pendukung utama Kaisar, semua nya di copot dari jabatan nya, dan di gantikan dengan orang orang nya, serta kini kesehatan kaisar sudah sangat menghawatirkan, beliau sudah tidak lagi bisa duduk, meskipun di tempat tidur sekali pun, dan di luar kamar Kaisar, di jaga oleh sepasukan prajurit pengawal yang tangguh, tidak seorang pun yang di perkenankan oleh pangeran Chi You untuk masuk, meskipun sang ratu sekalipun!" jawab kakek Weng dengan sedih.


Hao Cun nampak termenung sesaat, dari raut wajah nya, sangat nampak raut kesedihan yang mendalam.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang kakak?" tanya Hao Shen.

__ADS_1


"Aku tidak bisa memutuskan nya sekarang adik, kita harus melihat situasi nya terlebih dahulu, besok pagi, kita berjalan jalan di sekitar istana dulu, melihat lihat, baru kita putuskan apa yang akan kita lakukan selanjut nya!" jawab Hao Cun.


"Bagai mana bila tuan muda berdua ikut bersama saya ke istana dan mengaku sebagai cucu keponakan saya yang dari kota Kian Bao!" usul dari kakek Weng.


"Wah itu usul yang sangat tepat kakek Weng, bagai mana adik?" tanya Hao Cun kepada Hao Shen.


Hao Shen cuma bisa menggelengkan kepala nya, " sulit kakak, kakak ingat dengan dua orang remaja yang saya tolong waktu di kapal?, mereka dipukuli oleh empat tuan muda dari Dao Taijin, Zhu Ciangkun,Bangsawan Lu dan Hartawan Qiu, dan yang sebenar nya, saya sudah mematahkan tangan mereka masing masing, saya takut mereka masih ingat wajah saya, dan itu bisa bikin masalah nanti nya, kecuali kita bisa berubah menjadi cucu keponakan kakek Weng ini kak!" kata Hao Shen.


Kakek Weng bangkit berdiri dan masuk kedalam, lalu sesaat kemudian keluar dengan sebuah lukisan wajah dua orang pemuda kembar, namun beda rupa dan penampilan nya.


Yang pertama berwajah bulat, bertubuh agak gempal, sedangkan yang kedua berwajah oval kurus dan lebih tinggi dari saudara nya.


"Inilah wajah mereka tuan muda!" kata kakek weng sambil menyerahkan lukisan itu.


Hao Cun menyambut lukisan itu, memandang nya sesaat, lalu,


"Plup!"...


tubuh nya berubah menjadi pemuda gempal, lalu menyerahkan lukisan itu kepada Hao Shen.


Hao Shen menatap lukisan itu beberapa saat lama nya, hingga,


"Plup!"...


Tubuh Hao Shen atau Shin Liong kini berubah menjadi tubuh pemuda kurus dan tinggi.


"Kini kalian sudah berubah, yang gemuk bernama Weng Tao sedangkan yang kurus bernama Weng Taoli, kalian berdua harus mengingat itu"kata kakek Weng dengan takjub nya, karena rupa dan bentuk mereka berdua sekarang, sangat mirip dengan sang cucu keponakan nya.


Setelah selesai mengatur segala sesuatu nya, dan menghabiskan minuman nya, kakek Weng dan kedua cucu kembar nya itu pun masuk ke bilik masing masing untuk beristirahat, sementara Hao Cun dan Hao Shen yang sekarang telah menjadi Weng Tao dan Weng Taoli itu masih berbincang bincang ringan.


"Kak, begitu hebat nya kah kakek Weng itu, sehingga bisa mengetahui keberadaan mu, meskipun kau menjadi orang lain?" tanya Weng Taoli atau Shin Liong kepada kakak nya Weng Tao.


Weng Tao tertawa terlebih dahulu,sebelum menjawab pertanyaan adik nya Weng Taoli.


"Tidak adik!, kakek Weng memang memiliki ilmu cukup tinggi, tetapi untuk mengetahui penyamaran ku, itu tidak mungkin, kami cuma mengungkapkan jati diri dengan bahasa yang tidak dipahami orang, kau dengar percakapan kami sebelum kita di persilahkan masuk tadi?" tanya Weng Tao kepada adik nya.


"Iya kak, masalah tawar menawar bak pau hangat kan?" kata Weng Taoli.


"Ya, Bak Pau itu sapaan untuk kakek Weng, sedangkan nama saya harus ada seribu nya, sedangkan untuk sang Kaisar harus ada tangan besi nya, jadi kami saling mengenal satu sama lain nya, betapapun kami menyamar menjadi siapa pun juga!" jawab Weng Tao.


" Kalau begitu, nanti bila aku berubah menjadi apapun, kau bisa mengenalku dengan kata kata naga nya, nama ku kan Shin Liong yang berarti jiwa Naga!" kata Weng Taoli sambil tertawa tawa.


Malam bergulir perlahan, tetapi, yang pasti akan tetap menemui pagi.


Entah besok akan terjadi peristiwa apa?, mereka pasrah kepada Tian yang maha Agung saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2