
Hari itu sang Kaisar memutuskan mengadakan pesta sukuran atas kembali nya Shin Liong dari pengembaraan nya selama empat tahun ini.
Semula kakek Qin dan Yaochi Jin Mu atau ibu Suri bermaksud kembali ke istana kedewataan di Swarna Loka, tetapi sang kaisar yang bermaksud mengadakan pesta sukuran meminta kedua nya untuk menunda kepulangan mereka ke Swarna Loka.
Akhirnya kakek Qin mau mengabulkan permintaan sang kaisar setelah Shin Liong memohon mohon kepada kakek nya untuk mengabulkan permintaan sang Kaisar itu.
Shin Liong Dan A Yong atau Shin Yong itu semakin lama juga semakin akrab saja, bukan lagi seperti dua anak beranak, tetapi lebih mirip seperti dua kakak beradik saja layak nya, kadang kadang saling merajuk, lalu baikan lagi.
Hanya panggilan saja yang membuat orang lain tahu bahwa mereka sebenar nya ayah dan anak.
Usia delapan belas tahun, sifat usil dan jahil tentu saja masih ada, kadang kadang ada saja ulah Shin Liong menjahili sang putra, sehingga sang putra merajuk dan melapor pada ibu nya.
Akhirnya gelak tawa tiga orang wanita cantik ini melihat ulah anak beranak itu.
Tetapi meskipun selalu di usili oleh sang ayah, tetapi sebenar nya di hati kedua nya semakin subur tumbuh rasa kasih sayang.
Ke esokan hari nya, setelah sarapan pagi, dengan dilepas oleh Dewi Chang 'e, Dewi Nuwa, Putri Xuan Yi, Shin Liong dan Shin Yong, kakek Qin dan Yaochi Jin Mu pergi kembali ke istana kedewataan di Swarna Loka.
Selepas kakek Qin pergi, kini giliran Shin Liong dan kedua istrinya serta putra nya untuk pergi ke gunung Kai Lun di hulu sungai kuning.
Sungai kuning sendiri ada di kota Su Cuan, jadi mereka harus pergi ke kota Kwan Ton terlebih dahulu, baru ke Su Cuan, dan dari su Cuan, ikut kapal ke Su Ciang, dan dari Su Ciang, tidak terlampau jauh gunung Kai Lun, bahkan dari kota Su Ciang pun gunung Kai Lun itu sudah terlihat.
Meskipun dengan berat hati, pangeran Chen Chao Kai dan kaisar Chen Tio Liang terpaksa melepaskan kepergian Shin Liong .
Begitu pula dengan putri Fan Yin, dengan sangat berat hati, dia terpaksa melepaskan kepergian Shin Liong.
Sebelum pergi, Shin Liong menyempatkan diri bertemu dengan pemuda Rua Tan Rao dan Bu Si Hong.
Rupanya mereka telah tahu dari sang pangeran jika Shin Liong itu sebenar nya Hao Shen, dan Hao Shen itu adalah Shin Liong .
Sehingga ketika Shin Liong datang menjenguk mereka berdua, mereka berlutut di depan Shin Liong.
"Salam hormat kepada guru Liong!" kata kedua nya berlutut sambil menyembah tiga kali.
"Apa apa An kalian berdua?" tanya Shin Liong bingung.
"Maap guru, manusia hidup menjunjung adat, manusia mati membawa derma, kami murid berdua menghaturkan hormat setinggi tinggi nya, berkat guru, kini kehidupan kami mulai membaik, terima kasih guru!" kata ke dua nya.
Tanpa banyak protes lagi, Shin Liong terpaksa menerima saja keputusan kedua pemuda itu, karena sewaktu di kapal dulu, dia memang sempat mengajarkan beberapa jurus kepada kedua nya,serta mengajarkan cara berkultivasi menyerap cahaya matahari pagi dan cahaya bulan purnama.
"Sudahlah, terserah kalian berdua saja, saya kesini cuma ingin mengucapkan selamat kepada kalian berdua, kini telah menjadi perwira muda, jangan bosan bosan nya untuk terus berlatih, meningkatkan kecepatan, meningkatkan daya tangkap mata,serta ber kultivasi yang rajin, dan yang penting, teruslah rendah hati, jangan sombong dan takabur!" pesan Shin Liong kepada kedua nya sambil menyerahkan masing masing sebutir pil surgawi.
Betapa suka citanya kedua orang laki laki itu dengan pemberian dari Shin Liong.
Setelah segala urusan nya selesai, barulah mereka naik ke kapal untuk berlayar ke kota Kwan Ton.
Kerena mereka adalah kerabat istana, maka mendapatkan pelayanan yang sangat istimewa sekali, seperti mendapatkan kamar istimewa serta makanan yang istimewa pula.
Saat kapal berlayar, mereka cuma bercengkrama bersama, Dewi Chang 'e menceritakan semua masa lalu Shin Liong yang penuh duka dan air mata itu.
__ADS_1
Hampir tidak ada hari tanpa air mata, sementara Dewi Chang 'e cuma bisa melihat dalam keterbatasan nya, tanpa bisa membantu sedikit pun.
Berlinang air mata A Yong mendengar sang nenek menceritakan Masalalu ayah nya itu, sedangkan Dewi Nuwa dan Putri Xuan Yi, cuma bisa memeluk sang suami sebagai bentuk kedukaan nya.
"itulah alasan nya, mengapa ayah tidak bisa melupakan ibu mu, meskipun ibu mu sudah tidak lagi mencintai ayah, ayah akan tetap menyayangi ibu mu, karena dialah manusia pertama yang menganggap ayah manusia!" kata Shin Liong menjelaskan kepada sang putra.
"Terimakasih kakak, meskipun Dewi sudah menyakiti hati kakak, tetapi dengan besar hati, kakak masih mau menerima Dewi kembali, menyediakan lautan maap untuk Dewi, biarlah Tian Agung menjadi saksi, Dewi rela terkurung di neraka dan tidak akan terlahir lagi, bila Dewi mengulangi kesalahan Dewi!" kata Dewi Nuwa.
Kapal terus berlayar tidak seberapa jauh dari pantai, dan setelah berlayar berhari hari serta singgah sebentar di kota Tobao, akhirnya kapalpun sandar di dermaga kota Kwan Ton kembali.
Sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda menunggu di depan dermaga laut kota Kwan Ton.
Melihat rombongan Shin Liong turun dari kapal , seorang kusir kereta menghampiri mereka.
"Maap tuan tuan dan nona nona, apakah kalian rombongan pangeran Shin Liong dari Sun Cao?" tanya kusir kereta itu.
"Meskipun canggung, Shin Liong akhirnya meng iya kan juga atas pertanyaan dari kusir kereta itu.
"Saya di suruh tuan besar Liem untuk menjemput kalian berlima!" kata kusir kereta itu.
Tanpa basa basi lebih lama lagi, mereka berlima segera masuk kedalam kereta mewah itu.
Setelah melewati sebuah gerbang mewah, di depan pintu sebuah rumah, nampak tuan besar Liem sudah berdiri menunggu kedatangan para tamu nya itu.
Tuan besar Liem ini telah berumur delapan puluhan tahun, berkat pil surgawi Shin Liong , kini nampak kembali seperti laki laki berusia empat puluh tahun saja lagi.
"Tuan tuan dan nona nona muda, saya di beritahu cucu saya Ling Ling lewat surat merpati, bahwa pangeran Shin Liong atau Hao Shen beserta keluarga nya akan menuju ke kota Kwan Ton ini, maka nya saya menyuruh kusir kereta untuk menjemput kalian semua, selamat datang kembali di tempat kediaman saya ini "kata tuan besar Liem.
"Tunggu dulu kakek, dulu muka tuan Hao Shen tidak seperti ini!" protes gadis itu, yang takut kalau kalau itu cuma akal akalan penjahat saja.
"maksud nona Nio Nio wajah seperti ini kah?" tanya Shin Liong yang tiba tiba saja sudah berubah menjadi Hao Shen dahulu.
Bukan main terkejut nya Dewi Teratai putih dan putri Xuan Yi melihat perubahan sang suami yang tiba tiba itu.
Mereka sampai terlonjak menjauh berpegangan kepada sang ibu mertua nya.
"Jangan khawatir, itu cuma ilmu Ban Mian, entah dari mana dia mendapatkan ilmu itu!" kata Dewi Chang 'e.
"Eh ternyata kau benar benar tuan Hao Shen, maafkan saya tuan!" kata nona Nio Nio.
Kini Shin Liong kembali menjadi dirinya yang sebenar nya lagi.
Malam itu tuan besar Liem mengadakan jamuan makan malam sebagai ungkapan rasa bahagia, bisa bertemu dengan sang tuan penolong nya kembali.
Tidak lah lama mereka di kota Kwan Ton, karena ke esokan hari nya, mereka harus pergi meneruskan perjalanan mereka kembali.
Tujuan mereka berikut nya adalah kota Su Cuan yang harus di tempuh berhari hari perjalanan dari kota Kwan Ton.
Perjalanan mereka tempuh dengan berjalan kaki, kadang kadang menggunakan ilmu lari cepat, kadang kadang terbang dari satu dahan kedahan lain nya.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, Shin Liong menyisihkan waktu nya untuk melatih sang putra ilmu silat, cara pernafasan, tehnik berkultivasi, dan menyerap cahaya mata hari pagi.
Shin Liong juga menyerahkan sebuah pedang sekelas pusaka langit bernama pedang Naga api yang dulu dia rebut dari The Kwat Liang, kepada A Yong putra nya.
Selama ini A Yong dilatih oleh Yaochi Jin Mu, dan kadang kadang Dewi Teratai putih juga ikut melatih bila pikiran nya lagi normal.
Kini tingkatan kultivasi dari A Yong berada pada tingkat Dewa Bintang menengah, tetapi oleh kakek Qin, tingkatan kultivasi nya itu di sembunyikan hingga ke tahap Alam taruna menengah saja yang tampak.
Ternyata A Yong juga sudah menguasai langkah Dewa Dewi milik ayah bunda nya itu, sehingga tidak susah baginya untuk mengikuti gerakan dari sang ayah.
Kemah milik Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang dahulu di beli Dewi Teratai putih juga masih ada.
Saat beristirahat sore hari, Shin Liong selalu mengajak putra nya untuk berburu binatang untuk dimakan.
Shin Liong sendiri belajar dari sang ibu ilmu membelah ruang waktu,untuk menciptakan portal dimensi yang bersifat sementara.
Ilmu ini bisa di gunakan, asal saja dia tahu atau pernah melihat tempat tujuan nya.
Hanya dengan berkonsentrasi membayangkan tempat tujuan, dia bisa membelah ruang dan waktu, untuk mencapai tempat itu.
Tanpa terasa,kota Su Cuan sudah ada di depan mata mereka kini.
Kota Su Cuan berada tepat di persimpangan sungai Kian Lun dan sungai Kuning.
Selanjutnya mereka menyusuri sungai kuning kearah hulu, menuju kota Su Ciang.
Dengan menggunakan kapal, menyusuri sungai Su Ciang arah kehulu, sekitar seminggu,sedang kan bila mengikuti arus sungai dari Su Ciang ke Su Cuan cuma memakan waktu lima hari.
Setelah seminggu di kapal melawan arus sungai mudik kehulu nya, akhirnya pada pagi hari ke tujuh, mereka tiba di dermaga kota Su Ciang.
Kota Su Ciang ternyata kota yang besar, hampir lebih besar dari pada kota Kwan Ton.
Setelah laporan kepada petugas dermaga, mereka langsung pergi ke gerbang barat, menuju kota Yu Lo di barat kota Su Ciang.
Setelah keluar dari gerbang barat, dengan ilmu lari cepat, mereka berlari mengikuti jalan umum ke kota Yu Lo, tetapi tentu saja tidak sampai kekota Yu Lo, tetapi menyimpang ke sebelah kiri, arah ke gunung Kai Lun.
Tidak ada satu orang pun yang mau mendekati kaki gunung Kai Lun itu, karena susah nya Medan yang dilewati, banyak tebing tinggi dan curam serta jurang menganga yang siap menelan siapapun.
Gunung Kai Lun sendiri termasuk salah satu gunung tertinggi di daratan Fangayun ini.
Separo tubuh nya menjulang melewati awan abadi, sehingga puncak gunung itu tidak pernah terlihat selama nya.
Meskipun melewati Medan yang sangat sulit, tetapi bagi kelima orang ber ilmu tinggi ini, hal itu bukan lah halangan besar.
Dengan berlompatan kesana ke mari, akhirnya mereka tiba di punggung gunung Kai Lun itu.
Ternyata benar, tidak ada cara mendaki gunung itu, kecuali dengan terbang.
Dewi Chang 'e menarik tangan Dewi Teratai putih, sedangkan Shin Liong menarik tangan putra nya.
__ADS_1
Adapun putri Xuan Yi, terbang menggunakan selendang nya, menuju puncak gunung Kai Lun itu.
...****************...