
Hari belumlah terlalu siang, embun saja sebagian ada yang masih menempel di daun daun pohon dan rumput rumput, ketika seekor kuda berwarna coklat sedang berjalan perlahan di bawah kerimbunan huta.
Sebenar nya, kuda itu tidaklah berjalan sendirian, karena tali kekang nya ditarik oleh seorang laki laki muda berwajah sangat tampan, dan di samping pemuda itu berjalan seorang wanita muda berwajah sangat cantik jelita.
Ya, mereka berdua memang Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang hari ini memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali setelah beberapa waktu berhenti untuk berkultivasi.
Meskipun tingkatan mereka berdua sudah mencapai tingkat Dewa Langit awal, tetapi justru yang terlihat hanya tingkat alam Taruna menengah saja.
Apa bila Dewi Teratai putih memang sengaja menyembunyikan tingkat kultivasi nya sendiri, beda dengan Shin Liong yang memang di sembunyikan oleh leluhur Bu Tek Cong dari perguruan Rajawali emas karena takut gangguan orang orang jahat yang tidak senang dengan nya, hal ini di perkuat lagi oleh kakek Qin, yang sengaja menyembunyikan tingkat kultivasi Shin Liong ,agar tidak mendatangkan kesulitan bagi nya di kemudian hari.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih terus berjalan menuntun kuda mereka,karena kuda tidak bisa mereka pergunakan di dalam hutan itu,terlalu banyak semak belukar nya.
Akhirnya setelah berhari hari berjalan, mereka berdua mulai meninggalkan lembah itu.
Hal itu di tandai dengan jalanan yang mulai menanjak meninggalkan lembah.
Setelah satu hari berjalan di dataran tinggi itu, akhir nya mereka tiba di belakang sebuah desa yang lumayan besar.
Desa ini berada tidak jauh dari jalan raya antara kota Fansau dan kota Yufing, cuma perjalanan seperempat hari dengan kuda.
Desa ini bernama desa Muk kua atau desa pepaya.
Desa ini bernama Muk kua, mungkin karena hasil utama desa ini adalah pepaya,hal itu terlihat di belakang desa itu,terdapat banyak kebun pepaya.
Desa ini juga penghasil sayuran dan buah buahan lain nya seperti pisang dan lain nya.
Tentu saja desa ini setiap hari ramai dengan Taoke pemborong sayur yang datang dari kota Yufing maupun kota Fansau dengan membawa beberapa gerobak.
Di belakang desa itu masih ada beberapa rumah penduduk yang tidak terlalu besar,cuma rumah para buruh tani saja.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih tiba di belakang desa itu setelah hari baru lepas tengah hari.
Karena hari cukup panas, Dewi Teratai putih mengajak Shin Liong untuk mampir di sebuah rumah yang berada di belakang desa itu, untuk sekedar beristirahat saja sebentar.
Rumah pertama yang mereka temui tidak terlalu besar, tetapi cukup bersih, dengan dinding dari bambu yang di anyam rapi.
Seorang tua paro baya memperhatikan Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang datang dari arah hutan belakang desa itu.
Sangat jarang sekali orang yang mau melewati tempat itu, kebanyakan orang senang lewat jalan raya, selain ramai dengan orang orang, juga rumah singgah nya banyak terdapat di sepanjang jalan.
"Selamat siang bapak, bolehkah kami duduk mengaso sebentar disini?" tanya Shin Liong kepada laki laki paro baya itu.
"Eh selamat siang nak, silahkan silahkan duduk" kata laki laki paro baya itu ramah, sambil mempersilahkan Shin Liong dan Dewi Teratai putih untuk duduk di teras depan rumah nya.
Di kiri dan kanan teras depan rumah laki laki paro baya itu di tumbuhi beberapa pohon Liu Ngan, atau pohon Kelengkeng yang berbatang tinggi dan rimbun,sehingga suasana menjadi teduh.
__ADS_1
Dan kebetulan sekali, Liu Ngan itu sedang berbuah masak masak.
Laki laki paro baya itu keluar dari rumah nya membawa tikar dari daun palm hutan, yang di gelar di teras rumah nya itu.
"Duduklah di sini nona muda, kalian pasti lelah, kalau bapak tidak salah duga, kalian pasti dari kota FanSau ya?" tanya laki laki paro baya itu dengan ramah.
"Iya pak!, kami dari kota FanSau, bermaksud ke kota Yufing, mengambil jalan pintas lewat sini, nama saya Shin Liong, dan ini istri saya Dewi Nuwa!" jawab Shin Liong juga dengan ramah.
"Ooh, jadi kalian pasangan muda rupanya, kalian sungguh berani melewati lembah naga hijau itu, konon kata leluhur saya,di lembah itu ada seekor naga berwarna hijau yang menjadi penunggu nya" kata laki laki paro baya itu lagi.
Seorang wanita cantik yang juga berusia separo baya, keluar dari dalam rumah membawa satu teko teh panas dan ubi rebus.
"Ooh ada tamu rupanya, ini air teh seadanya nak, maklum orang desa" kata wanita paro baya itu.
"Waah kami jadi merepotkan kalian saya Bu, maapkan saya dan suami saya ya Bu?" kata Dewi Teratai putih .
"Tidak apa apa nak, cuma teh dan ubi rebus ala kadar nya, ayo di minum,dan ubi nya di makan" kata wanita itu mempersilahkan dengan ramah nya.
"Kalau boleh tahu, ini desa apa ya pak?" tanya Shin Liong Kapadia laki laki paro baya itu.
"Ini desa Muk kua nak, kenapa desa ini di namakan Muk kua, karena di desa ini secara ajaib buah Muk kua (pepaya) bisa tumbuh subur disembarang tempat nak, oh iya, panggil saja saja pak Dong An, nama saya Kao Dong An,ini istri saya An si,dan di dalam ada putri saya bernama Ming Su" kata bapak Dong An memperkenalkan diri nya.
Dari dalam bilik, keluar seorang dara sangat cantik berbadan tinggi semampai membawa buah Muk kua masak dan sekeranjang buah Liu Ngan.
Kereta kuda itu ditarik oleh empat ekor kuda, yang menandakan bahwa sang pemilik nya adalah seorang yang sangat kaya raya.
"Hei Dong An, ini hari terakhir perjanjian kita,cepat lunasi semua utang mu kepada ku!" teriak seorang laki laki paro baya berbadan tinggi besar dengan perut buncit dari dalam kereta.
"Tuan besar Ho Tiang, kami belum punya keping hari ini, mohon kebijaksanaan dari tuan, lagi pula kami tidak pernah berhutang kepada tuan, mengapa tahu tahu sekarang tuan bilang kami punya hutang?" kata bapak Dong An heran.
"Tidak!, tidak ada toleransi lagi bagi mu Dong An, hutang mu lima ribu keping emas, harus kau bayar sekarang juga, kalau tidak,terpaksa putri mu yang kami bawa sebagai pengganti nya!" kata tuan besar Ho Tiang dengan marah.
"Kami tidak pernah meminta hutangan kepada tuan besar, tuan besar datang datang membawa barang barang hadiah, kenapa sekarang jadi hutang?" tanya bapak Dong An.
"Tentu saja ada hitungan nya Dong An, mana ada seorang pedagang besar seperti aku tidak pakai hitungan, anak mu telah menolak aku, maka hadiah itu ku hitung utang yang harus kau bayar kan!" kata tuan besar Ho Tiang.
"Tuan!, biarlah semua hutang tuan Dong An,saya yang bayar, saya akan membayar lima ribu keping emas kepada tuan,tetapi berjanjilah untuk tidak mengganggu keluarga tuan Kao ini!" kata Shin Liong menengahi.
Ma Ho Tiang menoleh kearah Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang sedari tadi duduk membelakangi mereka.
Tiba tiba mata nya terbelalak menatap satu keindahan luar biasa berada didepan mata nya.
Jakun nya bergerak menelan air liur yang hampir menetes itu.
Tuan besar Ma Ho Tiang yang memang terlanjur mata keranjang ini tidak lagi bisa mengalih kan pandangan nya dari Dewi Teratai putih yang memang cantik jelita itu.
__ADS_1
"Ya, kau boleh membayar hutang Dong An sebesar lima ribu keping emas beserta bunga nya!" kata tuan besar Ma Ho Tiang mengatur siasat licik.
"Bunga?, kau tadi tidak mengatakan bunga, kenapa sekarang pakai bunga segala?" tanya Shin Liong tidak mengerti.
"Ya bunga dari utang Dong An, aku seorang pedagang,setiap saat berharga bagi ku, jadi kini aku menetapkan kau harus membayar lima ribu keping emas beserta bunga nya wanita cantik di sebelah mu itu harus kau serahkan kepada ku!" kata tuan besar Ma Ho Tiang.
"Ha ha ha ha, aku sekarang mengerti, ku kira bunga semacam apa tadi, baik lah, permintaan mu ku kabul kan, juga bunga nya akan ku tambah lagi!" kata Shin Liong mulai geram.
Wajah tuan besar Ma Ho Tiang berseri seri mendengar permintaan nya dikabulkan dengan begitu mudah nya.
"Nah begitu baru benar nak,sayangi nyawa mu sendiri, lalu apa tambahan yang akan kau berikan kepada ku?" tanya tuan besar Ma Ho Tiang lagi.
"Ha ha ha ha, selain wanita cantik itu, aku juga akan menambahkan dengan kepala mu,bagai mana tuan?" tanya Shin Liong sengaja menekan rasa gusar nya dalam dalam agar tidak terlihat.
"Hah?, kurang ajar!, rupanya kau memang mencari mati, terserah kau saja, aku sudah memperingatkan diri mu, pengawal!, cepat potong kepala anak muda itu!" perintah nya kepada para pengawal nya.
Sembilan orang pengawal tingkat alam Raja akhir dan satu orang kepala pengawal tingkat alam Brahmana awal segera mengepung Shin Liong.
"Hong Lok! cepat bunuh anak muda itu!" teriak sang pimpinan pengawal yang bernama Hong Gwan itu.
Laki laki tinggi besar bernama Hong Lok itu segera bergerak membabatkan pedang nya ke arah leher Shin Liong.
Gerakan nya baru setengah jalan, lalu berhenti berjalan, karena darah sudah menyembur dari leher nya yang luka hingga separuh nya itu.
Entah siapa yang melakukan dan kapan dilakukan nya,tidak ada yang melihat nya,karena yang mereka lihat Shin Liong dan Dewi Teratai putih masih asik duduk sambil makan buah Liu Ngan.
Hong Gwan menoleh kesana kemari mencari kalau kalau ada orang lain disekitar situ yang membantu kedua anak muda itu.
"Apa lagi yang kalian tunggu,cepat bunuh anak muda itu!" teriak tuan besar Ma Ho Tiang.
Hong Gwan segera bergerak menyerang kearah Shin Liong.
Tetapi kejadian tadi terulang kembali, satu persatu anak buah Hong Gwan bertumbangan dengan leher hampir putus.
Hong Gwan melihat sembilan anak buah nya sudah mendengkur seperti sapi di sembelih itu, kini menjadi nekat.
Dengan pedang di tangan, Hong Gwan segera menyerang Shin Liong.
Namun kembali langkah Hong Gwan terhenti di tengah jalan juga dengan kejadian yang sama menimpa nya.
Tuan besar Ma Ho Tiang menatap kearah sepuluh anak buah nya yang telah tumbang di atas tanah dengan leher tergorok hampir separuh nya.
Hati nya kini bimbang, antara maju melawan, atau berpaling dan pulang.
...****************...
__ADS_1