Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Bertemu jendral Tua.


__ADS_3

Setelah jendral tingkat tiga, pemimpin Benteng itu di taklukan Shin Liong , kini semua prajurit segera menyerbu kedalam Benteng, untuk menguras apa saja yang bisa di kuras.


Sedangkan sang jendral Fu Shen beserta Shin Liong , A Yong dan pangeran Fu Quon segera melihat keadaan para tawanan yang dikurung di barak belakang, persis kandang hewan.


Ternyata di barak itu ada sekitar seribu enam ratus orang yang di kurung berdesak desakan, bercampur bau kotoran mereka sendiri.


Setelah disuruh mandi dan membersihkan diri, Shin Liong segera membuka portal untuk pulang langsung ke dalam lembah.


Portal ini hanya bisa di buat, bila dia sendiri pernah melihat tempat itu, cuma dengan membayangkan tempat yang akan di tuju, portal dimensi pun akan bisa dibuka.


Setelah semua tawanan bisa di bebaskan kedalam lembah beserta para prajurit, Shin Liong segera mengeluarkan pedang kristal Katai putih inti bintang nya, dan dibabat kan kearah sekeliling Benteng itu.


Benteng megah itupun hancur menjadi serpihan kecil kecil.


Setelah Benteng itu hancur, barulah Shin Liong masuk kedalam portal untuk kembali ke dalam lembah.


Di dalam lembah sendiri terjadi ke hebohkan, orang orang yang terlebih dahulu selamat, menyambut orang orang yang baru datang itu dengan saling ber tangis tangisan.


Shin Liong mencari tempat yang baik untuk memindahkan kota Lok Kwan.


Setelah mendapatkan sebuah lokasi yang tepat, yaitu di sebelah barat telaga, Shin Liong segera menunjuk telunjuk yang ada cincin nya ke lokasi itu, dan secara ajaib, sebuah kota sudah berdiri lengkap dengan gerbang nya menghadap ke arah pintu tebing di kejauhan.


Bukan main gempar nya penduduk, karena tiba tiba sebuah kota kosong bernama Lok Kwan sudah berdiri di depan mereka.


Sang jendral beserta para prajurit segera mengamankan rumah tuan ketua kota yang sudah kosong itu untuk tempat sementara sang kaisar, karena rumah itulah yang pasilitas nya mirip istana, sedangkan para pengungsi diatur untuk menempati rumah rumah yang sudah kosong di kota itu.


Bekas rumah tuan ketua kota berpagar tembok tinggi di sekeliling nya, dan menghadap kearah alun alun kota, sangat mirip dengan istana kaisar dahulu, meskipun luas nya tidak seluas istana kaisar, tetapi dibandingkan ke diaman sang Kaisar yang sekarang, jauh lebih luas yang ini.


Setelah semua warga berpindah ke dalam kota Lok Kwan, akhirnya Shin Liong memindahkan semua bangunan yang berdiri di tepi telaga ke dalam kota semua nya, bahkan telaga itu sendiri dia pindahkan ke dalam kota pula.


Kini di bekas telaga itu, secara ajaib, muncul petak petak persawahan dengan perkampungan petani di dekat persawahan itu.


Dengan pedang kristal Katai putih inti bintang nya, Shin Liong mengukir batu tebing menjadi sebuah tangga yang lebar tempat naik ke atas tebing yang sangat tinggi itu, dan beberapa pos pengawas di dirikan di atas puncak tebing, mengelilingi lembah, dengan sebuah jalan yang lebar melingkari lembah yang sangat luas itu.


Di puncak tebing itu, ada beberapa bangunan rumah dan barak barak prajurit penjaga yang di bangun di sana, sebagai tempat tinggal para prajurit pengawas.


Perlahan lahan, sang Kaisar mulai menggerakkan roda perekonomian kota Lok Kwan itu, masyarakat yang semula berdagang, kembali berdagang, yang membuka rumah makan, kembali membuka rumah makan, dan yang bertani, juga kembali bertani.


Meskipun begitu, kapasitas kota yang cukup untuk masyarakat hingga juta an jiwa itu, baru terisi beberapa bagian saja.


Pada suatu siang, putri Xuan Yi dan Dewi Nuwa mengungkapkan kebosanan mereka berdiam diri di kota Lok Kwan itu tanpa ada kegiatan apa pun juga, mereka mengajak Shin Liong untuk melanjutkan petualangan mereka, sekaligus mencari keberadaan kedua orang tua Dewi Nuwa.

__ADS_1


Shin Liong Segera meminta ijin dari sang Kaisar untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali.


Meskipun dengan berat hati, akhirnya sang Kaisar pun mengijinkan mereka, sambil Shin Liong mencari sisa sisa keberadaan umat manusia di luar sana.


Dengan membuka portal dimensi ruang waktu, Shin Liong langsung menuju benteng musuh yang baru saja mereka hancurkan itu.


Dari tempat itu, mereka berjalan mengikuti jalanan umum entah menuju ke mana.


Baru sehari perjalanan, mereka tiba tiba di hadang pasukan Orgo berjumlah seribu prajurit yang sedang menuju ke benteng yang sudah runtuh itu, di pimpin oleh se orang jendral tingkat tiga.


Melihat keberadaan manusia di tengah hutan itu, para prajurit Orgo itu seperti melihat camilan di atas meja makan, tanpa di komando lagi, sifat buas mereka kumat,dan langsung berlari memperebutkan manusia di depan mereka.


Tetapi mereka seperti menanam angin menuai badai, bukan nya mendapatkan mangsa, malahan kini tubuh mereka berjatuhan dengan kepala yang sudah terlepas dari badan nya.


Lima orang manusia itu kini seperti lima orang Dewa Yama yang sedang berpesta mencabut nyawa, bangkai mahluk Orgo itu pun kini bertumpuk tumpuk tidak karuan lagi.


Hampir tidak ada jalan keluar bagi mahluk itu, karena gerakan Shin Liong dan keluarga nya itu sangat luar biasa cepat nya, tidak bisa di ikuti oleh mata.


Lima orang itu terlihat seperti lima ribu orang, dan tersebar berada di mana mana.


Sebentar saja seribu prajurit itu tinggal hitungan jari saja lagi yang tersisa.


Dewi Nuwa dan putri Xuan Yi seperti bidadari menebar kematian, bergerak kemana pun selalu saja ada kepala mahluk Orgo itu yang jatuh ke tanah.


Lima puluh laki laki itu ternyata pasukan terlatih yang sudah lama malang melintang di dunia bebas ini, melawan mahluk Orgo itu.


Limapuluh orang laki laki ini di bekali dengan masing masing sebuah pedang mustika langit, hingga kekebalan mahluk Orgo itu tidak berarti banyak bagi mereka.


Sebentar saja, seribu prajurit mahluk Orgo itu tewas semua nya, terhampar mengerikan diatas tanah.


Kini tinggal sang pimpinan pasukan itu saja lagi, seorang jendral Orgo berpangkat jendral tingkat tiga yang menyerbu ke arah A Yong.


Melihat itu, Shin Liong bermaksud untuk maju menggantikan putra nya, tetapi tangan nya di pegang sang ibu, sambil menggelengkan kepala nya, "biarkan putra mu nak!, biarkan dia berlatih melawan musuh yang lebih tangguh lagi, kau cukup menjaga saja, dia pasti mampu!"...


Gerakan dari anak muda ini tidak tanggung tanggung menghadapi sang jendral tingkat tiga itu, dengan langkah Dewa Dewi nya, tubuh anak muda itu seperti berubah menjadi banyak dan berada di mana mana, sedangkan pedang Naga api di tangan nya, seperti sabit maut Dewa Yama.


Akhirnya dengan gerakan yang super cepat, putra dari Shin Liong ini berhasil menumbangkan lawan nya, setelah membabat tubuh sang jendral dengan pedang Naga api hingga nyaris putus.


Lima puluh prajurit yang datang membantu itu bersorak kegirangan, melihat semua musuh tewas.


Seorang laki laki paro baya sekitar usia lima puluhan tahun maju kearah A Yong dan Shin Liong .

__ADS_1


"Maaf tuan tuan muda berdua, apakah kalian bersaudara?" tanya laki laki itu.


"Bukan tuan, mereka ayah dan anak!" jawab Dewi Chang 'e.


Laki laki paro baya itu tersentak kaget, "haah?, tetapi dari tulang mereka, terlihat cuma beda dua tahun saja, bagai mana bisa?"...


"Begini tuan, yang ini nama nya Shin Liong dan itu Shin Yong putra nya, sang putra nya ini di lahirkan di dunia dimensi yang berbeda kecepatan waktu nya, sehingga itu lah yang membuat putra nya sekarang cuma beda dua tahun dari sang ayah tuan, kalian siapa?" tanya Dewi Chang 'e lagi.


"Nama saya Bow Ce Liang, jendral negeri Xue, sejak terjadi peristiwa dahulu, kami terpisah dari sang Kaisar, hingga kini belum bertemu dengan beliau lagi!" jawab laki laki tua itu memperkenalkan diri nya.


"Salam hormat jendral!, saya Shin Liong , terimakasih atas bantuan kalian semua nya!" kata Shin Liong sambil menjura di hadapan sang jendral itu.


Tidak apa apa tuan muda, saya lihat putra tuan muda sangat luar biasa sekali, dia sudah bisa membunuh seorang jendral tingkat tiga musuh, di mana kami sendiri kesulitan untuk melakukan hal yang sama, bila berkenan, sudilah tuan muda sekalian mampir di markas kami?" tawar sang jendral kepada Shin Liong .


Shin Liong tidak langsung menjawab, tetapi menoleh kearah ibu nya, "bagai mana Bu?, ibu mau istirahat sejenak Bu?"...


"Bolehkah nak!, lagi pula kedua istri mu juga sudah cape sehabis bertarung tadi!" kata Dewi Chang 'e menanggapi tawaran sang jendral.


"Baiklah tuan jendral, kami bersedia mampir sebentar!" sahut Shin Liong .


Mereka segera berjalan meninggalkan tempat itu, kearah kiri masuk melewati celah celah pohon yang lebat cukup jauh.


Di sebuah bukit batu, jalan buntu di situ.


Ternyata di balik sebatang pohon besar, ternyata ada sebuah mulut goa yang sangat tersembunyi.


Mereka memasuki mulut goa itu satu persatu, karena mulut goa itu tidak terlalu lebar.


Setelah berjalan sepuluh langkah, dan berbelok ke kanan, terlihat sebuah ruangan yang besar terbentang di depan mereka, dengan ratusan prajurit sedang tiduran.


Seorang laki laki tua berusia tujuh puluhan tahun, berambut dan berjenggot serba putih semua, dan berjubah putih pula, sedang duduk bersemedi diatas sebuah batu besar.


Melihat kedatangan jendral Bow Ce Liang, orang tua itu lalu bangkit berdiri.


"Kau bersama siapa Ce Liang?" tanya laki laki tua itu.


Jendral Bow Ce Liang menjura dihadapan orang tua itu, "maaf panglima!, tadi kami bertemu dengan mereka di jalan, mereka sedang bertempur melawan prajurit Orgo itu, dan kami bergabung dengan mereka di dalam pertempuran itu, kami bersama mereka, berhasil membantai seribu prajurit Orgo, lalu kami menawarkan mereka untuk beristirahat sejenak di tempat kita!" kata jendral Bow Ce Liang .


"Tidak apa apa jendral, oh ya kalian siapa, dan ada perlu apa berkeliaran di dunia yang kacau ini?" tanya jendral tua itu.


"Maaf jendral senior, nama saya Shin Liong , dan ini ibu saya, ini kedua istri saya serta ini putra saya bernama Shin Yong, kami mau mencari kerabat kami dari dunia lain yang tersesat di dunia ini, mereka sepasang suami istri berusia empat puluh tahunan!" kata Shin Liong menjelas kan.

__ADS_1


Sang jendral itu termenung sesaat, "Sepasang suami istri dari dunia lain?, beberapa musim yang lalu, (semusim sama dengan satu tahun) entah lima musim, apa enam musim atau malah tujuh musim, saya lupa, memang ada sepasang suami isteri yang datang dari dunia lain, yang seorang wanita cantik dan sakti, serta yang seorang lagi laki laki muda yang tampan dan pandai masalah pengobatan datang ke dunia kacau ini, setelah itu kami tidak lagi mendengar kabar nya lagi, terakhir menurut telik sandi, sepasang suami istri itu sudah menjadi pengawal sang Kaisar Dewa, Kaisar nya para mahluk Orgo itu!" kata sang jendral tua itu dengan suara sedih.


...****************...


__ADS_2