Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Bu Tek Kui.


__ADS_3

Orang tua berambut panjang berwarna putih semua yang di anyam kebelakang serta berkumis panjang yang juga berwarna putih semua , yang menjuntai di sisi kanan dan kiri mulut nya itu masih memeluk tubuh sahabat nya itu .


Setelah beberapa saat , di letakan nya tubuh sahabat nya itu diatas teras rumah , lalu dengan amarah yang meluap luap , ditatap nya A Yong dalam dalam .


Tiba tiba wajah kakek tua ber kumis panjang ini perlahan lahan berubah menjadi berwarna merah seperti darah .


Warna merah itu bukan saja pada kulit wajah nya , tetapi hingga kedua mata nya pun berwarna merah darah juga .


Itulah pertanda sang kakek tua yang bernama Ang Bin Sian (Dewa muka merah) ini sudah sangat marah sekali .


"Kau !, kau !, sudah membunuh sahabat yang juga saudara ku , aku harus membunuh mu juga , menyayat nyayat kulit tubuh mu ban*sat !"...kata kakek tua Ang Bin Sian sambil menuding kearah A Yong yang masih cengengesan memandang kearah nya .


Kakek tua bernama Ang Bin Sian ini mengeluarkan sebuah rantai panjang sebagai senjata nya .


Di ujung rantai itu ada pisau berbentuk sabit yang saling membelakangi , dengan tangkai nya terhubung pada sebuah rantai baja .


Rantai itu di putar putar oleh kakek Ang Bin Sian sehingga menimbulkan suara berdenging seperti suara suling yang di tiup dengan kencang .


Beberapa orang pengawal rendahan tersungkur dengan telinga yang berdarah mendengar suara dengingan dari pisau sabit di ujung rantai itu .


A Yong merasa ada energi kuat dari suara dengingan yang masuk kedalam kuping nya , tetapi energi sakti di dalam dantian nya segera bangkit menolak gangguan dari suara itu .


Setelah memutar mutar senjata rantai nya , akhirnya ujung rantai yang ada pisau sabit nya itu di arahkan ke tubuh A Yong .


Masih dengan menggunakan jurus yang sama , A Yong menghadapi kakek Ang Bin Sian itu .


Tubuh A Yong berpindah pindah tempat , menghindari sabetan senjata pisau sabit di ujung rantai milik kakek Ang Bin Sian itu .


Sambil bergerak dengan sangat cepat sekali , kakek Ang Bin Sian memutar senjata rantai nya , serta mengarah kan mata pisau sabit di ujung rantai itu ke tubuh A Yong .


Rantai ber ujung pisau sabit itu bergerak seperti ular yang hidup , meliuk liuk mengejar A Yong , kadang lemas kadang menegang seperti tongkat yang panjang .


Seratus jurus segera berlalu dengan cepat sekali , sudah berbagai tipuan telah di keluarkan oleh kakek Ang Bin Sian , tetapi belum membuah kan hasil nya .


Sementara itu , A Yong yang meladeni kakek tua itu , sudah mulai melihat celah dan kekurangan dari jurus yang di pergunakan oleh sang kakek tua itu .


"Cuih !, kau ingin bertarung apa ingin melompat lompat terus seperti itu heh ?, atau seluruh ilmu simpanan mu telah habis kah ?" tanya kakek Ang Bin Sian sambil bermaksud memprovokasi A Yong .


"Ha ha ha ha, misalkan simpanan ku sudah habis pun , kakek tidak mampu menyentuh tubuh ku , apalagi bila ku keluarkan jurus yang lebih tinggi lagi dalam sepuluh jurus kakek pasti akan tumbang !" kata A Yong balas memprovokasi kakek Ang Bin Sian .


Mendengar ucapan dari A Yong , kakek Ang Bin Sian yang semula berencana memprovokasi lawan nya , kini jadi dia sendiri yang terprovokasi .


"Ku*ang ajar an*ing kurap ,ban*sat , aku tidak akan berlaku segan lagi kepada mu !" teriak kakek Ang Bin Sian sambil mempercepat gerakan nya .


Kini rantai itu ber desingan di kiri dan kanan tubuh A Yong , sesekali memutar dan melesat kearah uluhati nya .


A Yong tidak mengganti jurus nya dengan jurus baru , hanya meningkatkan tensi serangan nya menjadi lebih cepat lagi , sehingga kini tubuh nya tidak nampak lagi di mata orang orang , cuma sekelebatan bayangan putih saja yang terlihat .

__ADS_1


Setelah melewati jurus yang ke dua ratus , kini gerakan dari kakek Ang Bin Sian mulai terlihat melambat sedikit , pertanda energi nya mulai terkuras .


A Yong tidak menyia nyia kan kesempatan itu , ketika rantai berujung pisau sabit itu di putarkan oleh kakek Ang Bin Sian dengan kencang di sekeliling tubuh nya , dengan gerakan langkah Dewa Dewi yang super cepat itu , mata pisau berbentuk sabit yang saling membelakangi itu di tangkap nya , lalu di bawa nya berputar mengelilingi tubuh kakek Ang Bin Sian .


Karena gerakan A Yong lebih cepat dari pada gerakan kakek Ang Bin Sian , akibat nya , rantai itu segera melilit leher kakek itu sendiri .


"Plas !" ...


Dengan satu sentakan yang sangat kuat sekali , putus lah leher kakek Ang Bin Sian , dan kepala nya jatuh ke tanah dengan mata yang masih melotot seakan tidak percaya , jika dia di kalahkan oleh seorang pemuda tanggung .


Tubuh Ang Bin Sian masih berjalan beberapa saat sambil darah menyembur dari potongan leher nya .


Ketika darah sudah tidak lagi menyembur keluar , barulah tubuh Ang Bin Sian itu tumbang ke tanah , berkelojotan beberapa saat , lalu diam untuk selama nya .


"Hei kalian semua !, ayo serang anak muda itu cepaaaat !" teriak tuan Jung Cu memberi perintah kepada para pengawal rendah nya yang tersisa .


Dengan perasaan ragu ragu , para pengawal rendahan yang cuma tinggal beberapa puluh orang itu pun akhirnya maju juga .


"Apakah kalian benar benar ingin mati sia sia ?, kalau benar sudah ingin mati sia sia , maka maju lah kalian semua !" kata A Yong sambil memungut senjata rantai milik kakek Ang Bin Sian tadi .


"Cepaaaat bunuh iblis itu !" ...


Terdengar teriakan dari tuan Jung Cu kembali , memberi komando kepada pengawal nya itu .


Meskipun dengan sisa sisa keberanian yang tersisa tinggal seperempat itu , para pengawal rendahan itupun bergerak juga pada akhir nya .


"Baiklah bila kalian memang sudah bertekad untuk mati sia sia , bersiap lah !" kata A Yong sambil bergerak kearah para penyerang nya .


Cuma dalam beberapa gerakan saja , lebih dari separuh pengawal rendahan itu telah tewas .


"Masihkah kalian berniat bunuh diri ?, kalau iya , ayo teruskan permainan kita , tetapi bila masih mau selamat , cepat tinggalkan desa ini sejauh jauh nya !" kata A Yong lantang sambil berdiri memegang senjata rantai baja perak itu .


Para pengawal yang tinggal beberapa puluh orang itu pun segera mundur kearah pintu gerbang yang sudah hancur itu .


"Keparat ternyata kalian semua cuma tikus tikus pengecut yang tidak berguna , rupanya selama ini aku memelihara sekelompok tikus tikus tak berguna !" kata tuan Jung Cu sambil mencabut pedang nya .


Pedang milik tuan Jung Cu ini berbentuk melengkung ,tetapi bukan melengkung ke arah belakang pedang , malahan justru melengkung ke arah depan seperti sabit ujung nya .


Dengan sekali gerakan saja , tuan Jung Cu sudah berada di depan para pengawal nya yang berdiri ketakutan itu .


Dengan gerakan yang sangat cepat sekali , tuan Jung Cu mengayunkan pedang bongkok nya ke arah para pengawal nya itu .


"Trang !"...


Terdengar bunyi berdentang nyaring sekali dan bunga api beterbangan saat A Yong memapaki pedang tuan Jung Cu dengan senjata rantai yang berada di tangan nya .


Saat senjata rantai di tangan A Yong beradu dengan pedang bongkok milik tuan Jung Cu , A Yong merasa tangan nya bergetar dan agak kesemutan , sedang kan tuan Jung Cu terbelalak karena pedang nya terpental kebelakang beberapa jengkal .

__ADS_1


"Kep*rat an*ing kurap !, kubunuh kau ban*sat !, kau belum tahu berhadapan dengan siapa ?, jangan sebut nama ku Bu Tek Kui bila aku tidak dapat membunuh mu !" teriak tuan Jung Cu yang bernama Bu Tek Kui (Setan tanpa tanding) itu sambil mengayunkan pedang bongkok nya ke arah A Yong .


Pedang di tangan Bu Tek Kui Jung Cu itu bergerak sangat cepat serta terasa bertenaga sangat besar , sehingga angin nya saja membuat daun daun pohon Liu berbunyi seperti menjerit .


Kali ini A Yong harus ekstra hati hati dalam menghadapi Bu Tek Kui , karena ternyata tingkatan Bu Tek Kui ini , setingkat diatas Ji Sian Keng Tee .


A Yong kali ini menggunakan jurus sakti sembilan Dewa tingkat yang ke lima dari sembilan tingkatan nya , serta di kombinasi dengan jurus langkah Dewa Dewi serta bersenjata rantai baja perak milik Ang Bin Sian yang masih dia genggam erat itu .


Serangan dari Bu Tek Kui bergerak lincah mengurung A Yong dari segala penjuru , hingga tampak tidak ada jalan lain untuk A Yong meloloskan diri nya .


Tetapi meskipun gerakan dari Bu Tek Kui ini demikian cepat nya , tetapi di mata A Yong yang telah mahir menggunakan jurus langkah Dewa Dewi , gerakan dari Bu Tek Kui ini masih sangat lamban dan masih terdapat celah kekurangan nya untuk di masuki .


A Yong sengaja mengulur waktu , sambil mengukur sampai dimana daya tahan dari Bu Tek Kui ini serta melihat bagai mana kesudahan dari jurus milik Bu Tek Kui ini .


Karena sudah tahu kekuatan dari lawan nya , Bu Tek Kui tidak lagi berani beradu senjata dengan A Yong , dia selalu menarik pedang nya bila akan berbenturan dengan nya .


Beberapa tipuan pun telah di keluarkan oleh Bu Tek Kui , tetapi belum juga dia bisa memasuki senjata rantai di tangan A Yong yang bergerak laksana benteng baja melindungi diri nya .


Lama kelamaan , nampak Bu Tek Kui seperti frustasi menghadapi A Yong yang bergerak luar biasa cepat nya serta jurus jurus yang sangat sukar di terka itu .


Permainan pedang bongkok milik Bu Tek Kui pun kini mulai terlihat kacau .


Untung tingkat kultivasi nya lebih tinggi dari Ji Sian Keng Tee , sehingga hingga menjelang dua ratus jurus , stamina laki laki itu masih saja kuat .


Tiba tiba sambil bergerak menyerang , tangan kiri dari Bu Tek Kui ini bergerak mengambil sesuatu dari dalam kantong yang terselip di pinggang nya , dan melemparkan kearah A Yong .


Angin serangan mendesau mengarah ke tubuh A Yong .


Dari arah lemparan Bu Tek Kui itu , A Yong dapat melihat ada lima buah jarum beracun melesat kearah tubuh nya .


Sambil berjumpalitan di udara dengan kecepatan luar biasa , A Yong menghindari serangan dari Bu Tek Kui ini .


Baru saja A Yong menginjakan kaki nya di tanah , pedang bongkok di tangan Bu Tek Kui mengarah ke leher nya .


"Trang !"...


Dengan kecepatan yang luar biasa cepat nya , rantai di tangan A Yong tiba tiba membelit pedang ditangan Bu Tek Kui .


"Cras !"...


Dengan sekali sentak saja , pedang itu melesat sangat cepat menembus dada Bu Tek Kui sendiri hingga gagang nya saja lagi yang tertinggal .


Mata Bu Tek Kui melotot kearah gagang pedang yang menyembul di dada nya dengan tatapan tidak percaya .


"Sret !"...


Dengan sekali renggut saja , pedang itu tertarik oleh rantai di tangan A Yong .

__ADS_1


Tuan Jung Cu yang bernama Bu Tek Kui ini akhirnya tumbang ke tanah tanpa suara lagi .


...****************...


__ADS_2