
Shin Liong menghentikan kuda nya di sebuah warung makan yang agak sepi pengunjung nya.
Seorang ibu setengah tua sedang membersihkan meja dengan kain pel, langsung menghentikan kegiatannya dan menyambut Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang sedang berjalan memasuki warung nasi itu.
Seperti biasa,di setiap warung nasi,terdapat beberapa tempat yang di buat untuk menambatkan kuda kuda para pengunjung warung itu.
Tempat penambatan kuda itu sudah di beri batas batas agar kuda kuda tidak saling serang, dan di jaga oleh seorang anak muda yang segera memberi makan dan minum kuda kuda itu.
Satu Gentong air sudah di siapkan di depan warung nasi itu untuk para pengunjung yang ingin cuci muka.
Sebelum masuk kedalam warung nasi itu,Shin Liong dan Dewi Teratai putih membasuh muka mereka dahulu di gentong itu.
"Bibi,tolong sediakan untuk saya dan suami saya dua porsi nasi lengkap juga dua poci teh manis panas ya bi" kata Dewi Teratai putih sambil duduk di sudut warung nasi itu.
"Baiklah nona muda,silahkan duduk dulu,bibi siapkan sebentar" kata pemilik warung nasi itu kepada Dewi Teratai putih dan Shin Liong.
Yang pertama datang adalah dua poci teh panas manis yang segera diseruput oleh Shin Liong.
"Pelan pelan sayang, panas!" kata Dewi Teratai putih mengingatkan Shin Liong.
Tidak seberapa lama, makanan pesanan mereka pun tiba,dan mereka berdua langsung bersantap ria.
Saat mereka makan, masuk empat orang pemuda ke warung nasi itu sambil tertawa-tawa bercanda.
Melihat Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang sedang makan di situ, tiba tiba salah satu dari pemuda itu menepuk pundak Shin Liong dengan kasar nya, " Hei kau pindah dari situ, disitu tempat duduk ku"kata pemuda itu.
Tanpa banyak cakap,Shin Liong berdiri untuk pindah tempat duduk,di ikuti oleh Dewi Teratai putih.
"Hei kau cantik tidak ada yang mengijinkan kau untuk pindah tempat duduk mengikuti kodok itu, kau tetap disitu menemani ku makan!" kata pemuda itu di ikuti suara tawa para pemuda yang lain.
Tangan Dewi Teratai putih bergerak mengibas kan sesuatu, dan tiba tiba saja, sebatang sumpit menancap di pipi kiri pemuda itu hingga tembus ke pipi kanan nya.
Kontan saja teriakan pemuda itu segera memecahkan kesunyian pagi.
Orang orang menatap pemuda itu dengan perasaan ngeri, melihat bagai mana sebatang sumpit bisa menancap di pipi pemuda itu hingga tembus ke pipi sebelah seperti ikan di tusuk akan di panggang.
sedangkan Shin Liong dan Dewi Teratai putih terus makan seperti tidak terganggu dengan kejadian itu.
Dari kejauhan nampak empat orang pengawal berbadan tegap datang menghampiri pemuda itu dengan buru buru.
Sang pemuda menunjuk kearah Shin Liong dan Dewi Teratai putih yang sedang makan.
"Kau teruskan makan mu sayang, aku akan memberi pelajaran kepada para kecoa kecoa itu!" kata Dewi Teratai putih sambil bangkit berdiri dan keluar dari warung nasi itu.
"Hei kau jal*ng liar, berlutut lah sekarang, dan ikutilah bersama tuan muda Yong pergi, dan kami jamin keselamatan mu!" kata salah seorang dari laki laki pengawal pemuda Yong itu.
"Heh!, cuma seekor kecoa, nyamuk, dan lalat berani menggertak ku, kau belum tahu tinggi nya langit,sudah bicara bintang gemintang, sungguh lucu, aku dan suami ku makan di tempat ini tanpa mengganggu siapa pun juga, tetapi mereka datang datang menghina suami ku,hei dengarlah, tidak akan kubiarkan seorang pun di dunia ini mengejek dan menghina suami ku,kecuali leher mereka ku gorok,bawa tuan muda mu pergi dari sini selagi aku bermurah hati, kau belum tahu bahwa aku tidak pernah bermurah hati kepada siapa pun yang sudah menginjak injak harga diri suami ku" kata Dewi Teratai putih gusar.
Ke empat pengawal itu mendengar kata kata dari Dewi Teratai putih,bukan nya cepat angkat kaki dari tempat itu,tetapi malahan tertawa tawa seperti mendengar sesuatu yang sangat lucu.
__ADS_1
Akhir nya,kesabaran Dewi Teratai putih pun sampai batas ujung nya,dengan sangat cepat sekali, dia bergerak, tiba tiba leher laki laki pengawal yang pertama menyemburkan darah segar dengan sebuah luka menganga lebar.
Ketiga pengawal yang lainnya terpaku menyaksikan peristiwa yang terjadi begitu cepat nya itu, bahkan mereka tidak sempat melihat wanita cantik jelita itu bergerak, dan tahu tahu seorang rekan mereka sudah di gorok dengan sadis.
Kini mereka sadar,bahwa tuan muda mereka mengganggu orang yang salah, yang tidak seharusnya mereka usik.
Wanita cantik itu bak seperti seorang iblis yang lagi haus darah.
Dengan menggotong jasad rekan nya, mereka pergi dari tempat itu dengan muka pucat pasi.
Bahkan orang orang yang melihat pun bergidik ngeri,wanita cantik yang terlihat begitu lembut dan sedang sangat kasmaran itu,ternyata sang Dewa maut yang di depan mata.
Setelah membayar makanan mereka dan membayar ongkos parkir kuda mereka, perjalanan pun mereka lanjutkan kembali.
Kini kuda coklat itu mereka pacu dengan kecepatan penuh kembali,mendahului beberapa kuda,gerobak dan kereta yang sedang merayap pelan di jalanan.
Jalan antara kota Famoa dan kota Raja Alexia tidak melalui hutan lagi, karena di sepanjang kiri kanan jalan rumah penduduk berjejer,hingga antara kota Famoa dan kota Raja Alexia sebenar nya menyatu dengan adanya beberapa desa.
Setelah tiga hari di perjalanan, akhir nya pada satu siang, Shin Liong dan Dewi Teratai putih tiba di gerbang kota Raja Alexia.
Dengan memperlihatkan surat jalan dari penjagaan di gerbang kota Famoa, mereka bisa masuk setelah membayar biaya masuk kota sebesar dua ratus keping perak.
Di kota Raja Alexia ada dua gerbang kota,yaitu gerbang barat dan gerbang timur.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih menitipkan kuda mereka di penitipan kuda di gerbang barat tempat mereka masuk tadi.
Mereka naik kereta menuju ke alun alun kota Raja Alexia.
Warung warung kecil terlihat berjejer rapi di pinggir alun alun kota Raja itu.
Kota Raja Alexia memang tidak ada tanding nya dalam ke indahan tata kota serta ke nyamanan nya, rumah rumah tertata rapi, penginapan besar kecil bertaburan, juga rumah makan dan warung tersedia semua nya.
Ketika Shin Liong dan Dewi Teratai putih berjalan di dekat alun alun,Shin Liong melihat tidak jauh dari situ terdapat sebuah toko obat yang sangat besar.
Shin Liong langsung teringat dengan siluman monster yang mereka dapat di hutan.
"Dewi!, kita mampir ke toko obat itu ya" ajak Shin Liong kepada Dewi Teratai putih.
"Apakah sayang mau beli obat,atau jual obat?" tanya Dewi Teratai putih.
"Tidak Dewi, kau ingat bangkai siluman yang kita bawa,nah kita bisa menjual nya di situ,lumayan buat ongkos kita beberapa bulan!" jawab Shin Liong .
"Oh iya,Dewi lupa sayang, ayo kita kesana "ajak Dewi Teratai putih sambil menarik tangan Shin Liong menuju ke toko obat itu.
"Ada yang bisa kami bantu nona?" tanya wanita pemilik toko obat itu.
"Kami ingin menjual binatang siluman macan tutul dan macan kumbang tingkat enam dan tujuh serta Monster tingkat delapan ,berapa bibi beli?" tanya Dewi Teratai putih.
"Daging siluman macan berbagai tingkat dan jenis sama empat keping emas untuk tiap ekor nya, bulu nya juga sama empat keping emas, untuk batu energi nya,yang tingkat enam sepuluh keping,yang tingkat tujuh dua belas keping emas sedangkan untuk kulit monster enam keping emas,untuk daging monster juga enam keping emas,sedangkan untuk batu energi Monster tingkat delapan,seharga enam belas keping emas" kata wanita pemilik toko obat itu.
__ADS_1
Shin Liong mengeluarkan binatang bawaan nya dari cincin ruang di gudang belakang toko itu.
Setelah meneliti dan menghitung jumlah kesemua nya dengan Sipoa nya,wanita pemilik toko obat itu berkata, " jumlah semua nya dua ratus delapan puluh keping emas" , sambil menyerahkan beberapa kantong keping emas.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih menghitung jumlah semua nya.
Setelah selesai, Dewi Teratai putih memasukan kantong berisi keping emas itu kedalam cincin ruang nya.
Dewi Teratai putih menggandeng tangan Shin Liong, mengajak nya ke alun alun mencari minuman.
Dekat sebuah pohon Tao ber batang besar, Dewi Teratai putih memesan teh manis dua poci.
"Berapa kali kau ke kota Raja ini Dewi?" tanya Shin Liong sambil duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon Tao rindang itu.
"Dahulu sangat sering sewaktu ayah dan ibu ku masih ada, hampir tiap ada festival,kami pasti datang, ayah selalu mendudukkan aku di pundak nya agar aku bisa melihat keramaian" kata Dewi Teratai putih sedih, dua bulir air bening mengalir di pelupuk mata nya.
Shin Liong menghapus air mata itu sambil tersenyum menatap wajah Dewi Teratai putih yang cantik jelita itu.
"Maap kan aku Dewi, aku tidak bermaksud membuat mu sedih, maap ya, boleh kah aku mencium mu?" tanya Shin Liong pelan dan ragu ragu.
Dewi Teratai putih menatap wajah sang suami kecil nya itu, hilang segala kedukaan nya melihat wajah lugu Shin Liong.
Dipeluk nya laki laki itu dengan erat,sambil berbisik di telinga Shin Liong, " kau kan suami ku sayang, sekarang semua yang ada pada ku adalah milik mu, kenapa harus bilang?, Dewi tidak mungkin marah, yang lebih dari itupun telah ku beri kan kepada mu, ya kan?"...
Shin Liong mencium kedua pipi Dewi Teratai putih,sekedar permintaan maap dan sebagai penghibur buat sang istri.
Kembali Dewi Teratai putih tersenyum menatap wajah Shin Liong, "kau sudah semakin pintar dan semakin berani sekarang sayang, aku senang, aku senang"...
Teh yang mereka pesan tiba,mereka minum teh sambil makan beberapa kue jajanan pinggir jalan.
Kebersamaan mereka terasa kian kuat, dan keterikatan satu sama lain semakin erat saja.
Para gadis muda yang berlalu lalang mencibir kepada Dewi Teratai putih, sedangkan para pemuda nya, nampak memandang sinis dengan rasa tidak senang kepada Shin Liong.
Bahkan ada diantara mereka yang terang terangan mengeluarkan kata kata hinaan untuk Shin Liong.
Sebenar nya Dewi Teratai putih hampir saja mengamuk,kalau saja Shin Liong tidak segera menenangkan nya.
Sebuah kereta kencana tiba tiba berhenti di dekat mereka.
Kereta itu di kawal sejumlah pasukan khusus pengawal istana.
Semua orang yang ada di situ tiba tiba bersimpuh, Shin Liong dan Dewi Teratai putih pun ikutan bersimpuh pula.
Seorang dara sangat cantik jelita keluar dari dalam kereta kencana itu,dan melangkah ke arah Shin Liong dan Dewi Teratai putih.
"Mampus kalian,putri galak itu akan memberi hukuman kepada kalian" kata pemuda yang tadi mengeluarkan kata kata hinaan kepada Shin Liong.
Dara cantik jelita itu berhenti tepat di hadapan Shin Liong dan Dewi Teratai putih, memandang kedua nya beberapa saat.
__ADS_1
Saat itu alam serasa sunyi sepi,tidak ada satu orang pun yang ber bicara.
...****************...