
Laki laki tua ber baju hitam berkulit gelap , dengan sebuah tanduk berwarna hitam dengan panjang satu jengkal itu tertawa tawa senang sambil menatap bayi merah yang ada di tangan nya itu .
"Ho ho ho ho !, nasip baik Dandasura , benar benar bernasib baik , dari pada susah susah berkultivasi ratusan tahun , dengan memakan bayi ini , aku sudah bisa melampaui para Dewa di langit , ho ho ho ho , benar benar nasib baik !" kata laki laki tua itu sambil menimang nimang bayi aneh itu .
Bayi aneh itu bukan nya menangis , tetapi malah diam tertidur .
"Hei mahluk Iblis hina , kembalikan bayi milik ku itu cepat , dan aku akan mengampuni diri mu !" kata Hek Koai Liong murka .
"Ho ho ho ho !, aku mahluk hina ?, lalu kau Bangsa siluman mahluk apa ?, mahluk mulia ?, kalian bukan mahluk ciptaan Illahi , tetapi mahluk jadi-jadian karena penyimpangan kodrat antara manusia dan Iblis , jadi , kami lebih mulia dari pada kalian !" jawab Dandasura sambil tertawa mengejek Hek Koai Liong .
"Kurang ajar !, ku bunuh kau iblis hina , kubunuh kau !" teriak Hek Koai Liong sambil berusaha merebut bayi merah ajaib itu .
Dandasura segera melesat keatas sebuah tebing yang paling tinggi , lalu meletakan bayi itu di sana , Selan juta nya , dia melesat kembali ketempat Hek Koai Liong tadi .
"Bayi itu aman di atas sana , ayolah kita bertarung , siapa yang keluar sebagai pemenang nya , berhak atas bayi itu , bagai mana ?" tanya Dandasura .
"Baiklah Dandasura !, aku setuju dengan aturan itu , akan ku pecahkan kepala mu terlebih dahulu , barulah aku menyantap tubuh bayi ajaib itu dan menyedot semua darah nya , agar aku bisa menjadi lebih sakti lagi !" kata Hek Koai Liong sambil melepaskan pukulan nya ke arah Dandasura .
Dandasura menghindar kesamping kiri , sambil melepaskan pukulan nya juga kearah rusuk Hek Koai Liong .
Jual beli pukulan segera terjadi antara Dandasura dan Hek Koai Liong .
Kedua mahluk beda jenis namun memiliki kesaktian setingkat itu , saling serang dan salin pukul satu sama lain nya .
Sementara kedua laki laki tua itu asik bertarung , di puncak tebing batu cadas , berkelebat bayangan seorang laki laki tua bertubuh tinggi kurus dengan tato memenuhi seluruh tubuh nya , melesat ke arah bayi merah itu .
"Ha ha ha ha !, kalau memang rejeki Pak Siu Mo Thian , tidak bakalan jatuh ke tangan yang lain !" gumam laki laki bergelar Pak Siu Mo Thian (iblis Langit , tangan seratus) salah satu dari empat dedengkot tua Benua Fangkea ini .
Iblis inilah bersama Ban Kiok Mo yang dulu pernah mengeroyok Shin Liong di puncak gunung Tiang Lun dahulu , hingga Shin Liong terjatuh ke dalam lembah Teratai putih .
Baru saja laki laki tinggi kurus itu bermaksud ingin mengambil bayi merah itu , tiba tiba seberkas energi yang besar menghantam nya dari sisi kanan nya .
"Pak Siu Mo Thian !, jangan berani berani nya menyentuh bayi itu !, bayi itu milik ku !" teriak seseorang .
Dan bersamaan dengan itu , di hadapan Pak Siu Mo Thian , muncul seorang laki laki bertubuh pendek gemuk dan berperut buncit , juga dengan tato yang memenuhi tubuh nya .
Mata Pak Siu Mo Thian terbelalak melihat siapa yang berdiri di hadapan nya itu .
"Ban Kiok Mo ?, kau juga muncul di tempat ini ?" tanya nya heran .
"Ya adik Pak Siu Mo Thian !, jangan sentuh bayi ajaib itu , bayi itu milik ku , serahkan kepada ku adik !" kata Ban Kiok Mo .
Mata Pak Siu Mo Thian melotot kearah Ban Kiok Mo dengan perasaan yang sangat tidak senang sekali , "apa kau bilang ?, menyerahkan bayi ajaib ini kepada mu ?, hei babi gendut , kau tidak tidur kan ?, dan kau tidak sedang bermimpi bukan ?, apa kau kira dengan aku memanggil mu kakak lalu aku takut kepada mu ?, terlalu besar perasaan mu sobat , aku yang tiba terlebih dahulu di tempat ini , jadi aku yang lebih berhak pada bayi ajaib ini !" bentak Pak Siu Mo Thian benar benar tersinggung dan marah .
Memang tingkat kepandaian ataupun kultivasi mereka tidak berbeda jauh , alias masih setingkat , hanya saja Ban Kiok Mo lebih tua usia nya dari pada Pak Siu Mo Thian , sehingga Pak Siu Mo Thian , biasa memanggil Ban Kiok Mo sebagai kakak .
Mendengar pembangkangan dari Pak Siu Mo Thian ini , bukan main geram rasa didalam hati Ban Kiok Mo .
__ADS_1
"Jadi ?, kau sudah berani kepada ku Pak Siu Mo Thian ?" bentak Ban Kiok Mo juga .
"Jadi selama ini kau anggap aku takut kepada mu kah Ban Kiok Mo ?, kau salah sangka Lo Tong , aku sekedar menghormati mu saja , karena kau lebih tua dari pada aku , sedikit pun aku tidak pernah merasa takut atau pun gentar kepada mu !" kata Pak Siu Mo Thian sangat marah dan memanggil Ban Kiok Mo dengan panggilan Lo Tong (Bocah Tua) , sebagai satu panggilan penghinaan .
Mendengar perkataan dari Pak Siu Mo Thian itu , merah padam muka Ban Kiok Mo menahan amarah nya , sambil menuding kan telunjuk nya ke arah Pak Siu Mo Thian , dia berkata , "Hei Pak Siu Mo Thian !, aku tidak perduli kau serahkan secara baik baik , atau apakah ku dapatkan secara paksa , aku akan tetap merebut bayi ajaib itu dan mencabut nyawa mu !" ...
"Aku juga tidak perduli Ban Kiok Mo , untuk mempertahankan bayi ajaib ini , apakah aku harus membunuh mu terlebih dahulu , masa bodoh !, secuil pun aku tidak akan menyerahkan bayi ini kepada mu !" ...
mendengar itu , Ban Kiok Mo segera mencecar Pak Siu Mo Thian dengan serangan mematikan dari tendangan kaki nya .
Tidak lah omong kosong jika laki laki tua bertubuh pendek gemuk ini bergelar Iblis kaki seribu , karena tendangan kaki nya seperti seribu buah kaki yang datang menyerang dengan silih berganti .
Tetapi Pak Siu Mo Thian juga tidak percuma bergelar Iblis langit tangan seratus , karena tangan nya seperti berubah menjadi ratusan dalam menangkis serangan kaki Ban Kiok Mo itu .
Pertemuan dari dua energi besar dua Datuk sesat itupun beberapa kali terjadi , dan menghasilkan dentuman yang nyaring .
Sementara itu , pertarungan antara Hek Koai Liong dan Dandasura masih berlangsung dengan serius nya , belum ada satu pun tanda tanda jika salah satu dari mereka bakalan kalah .
Seribu jurus berlalu begitu saja , kini pertarungan antara Hek Koai Liong dan Dandasura sudah bergeser kesebelah Utara lembah itu .
Batu batu berguguran dari tebing terkena pukulan mereka berdua .
Sementara itu , di dalam goa besar itu , Arwanwen dan Li Lian masih terbaring diatas batu altar berwarna hitam legam itu .
Tidak ada lagi tanda tanda jika Li Lian habis melahirkan seorang bayi perempuan ajaib yang cantik jelita .
Mereka saling senyum sambil menganggukkan kepalanya , lalu mereka sama sama maju mendekati altar itu .
Sepasang pencuri nyawa itu mulai men cumbu sepasang suami istri yang sedang tertidur pulas di atas altar batu itu .
Namun baru saja mereka memulai kesenangan mereka itu , tiba tiba dari depan mulut goa , melesat sekelebatan bayangan putih menghantam sepasang manusia bejad itu .
"Buk !" ...
"Buk !" ...
Terdengar suara bergedebug dalam waktu yang hampir bersama an .
Bersamaan dengan itu , tubuh sepasang manusia cabul itu terlempar hingga menghantam dinding goa .
Sepasang manusia bergelar Siang Thi Beng itu bangkit berdiri dengan susah payah .
Dari celah bibir kedua nya , mengalir beberapa tetes darah segar , pertanda kedua nya sudah terluka dalam .
Mata kedua nya terbelalak , melihat di dekat altar , berdiri seorang wanita sangat cantik , mengenakan baju putih .
"Si ' siapa kau ****** culas , membokong dari belakang ?" tanya Siang Thi Beng yang perempuan .
__ADS_1
"Aku Dewi Teratai putih , kau sudah membuat masalah dengan ku , kau menculik kedua orang tua ku !" jawab wanita cantik itu .
"Jadi sepasang suami istri ini adalah orang tua mu ?, ho ho , kami tidak berniat jahat , cuma ingin berbagi sedikit kesenangan saja nona !" jawab Siang Thi Beng yang laki laki .
"Aku tidak perduli apa niat mu , kau sudah membuat masalah dengan orang orang teratai putih , dan itu berarti nyawa mu harus melayang ke neraka !" ujar Dewi Teratai putih sambil bergerak menyerang ke arah sepasang pencuri nyawa itu .
Sepasang pencuri nyawa yang sudah terluka dalam itu terpaksa jatuh bangun menghindari serangan Dewi Teratai putih yang sudah terlanjur murka itu .
Hingga pada satu kesempatan , saat sepasang pencuri nyawa ini baru saja bangkit sehabis bergulingan di lantai goa , menghindari pukulan Dewi Teratai putih , terlihat tubuh yang perempuan belum lagi berdiri stabil .
Kesempatan itu tidak di sia siakan oleh Dewi Teratai putih .
Dengan separuh energi nya , dilepaskan nya pukulan tangan kosong ke arah dada Siang Thi Beng yang perempuan .
"Bum !" ...
Satu dentuman nyaring terdengar bersamaan dengan tubuh Siang Thi Beng yang perempuan , terlempar jauh ke mulut goa , dan terjatuh di tanah tanpa bergerak lagi , karena dada nya telah hancur .
Melihat pasangan nya tewas dengan mengenaskan , Siang Thi Beng yang laki laki Meraung sedih bercampur marah .
"Kurang ajar !, ****** biadab , akan ku bunuh kau !" teriak Siang Thi Beng yang laki laki sambil melepaskan pukulan dengan energi maksimal nya kearah Dewi Teratai putih .
Karena memang jarak tingkat kultivasi mereka yang sangat jauh , sehingga pukulan itu justru berbalik menghantam Siang Thi Beng yang laki laki itu sendiri .
"Bum !" ...
Tubuh nya terlempar sangat jauh ke luar goa dengan nyawa yang sudah terlepas dari badan nya .
Siang Thi Beng ( sepasang pencuri nyawa) yang selama ini menjadi salah satu momok di tanah Fangkea ini , kini harus mengakhiri petualangan mereka , di tangan Dewi Teratai putih atau Pek Lian Sian .
Sedangkan di atas tebing batu cadas hitam , pertarungan antara Pak Siu Mo Thian dan Ban Kiok Mo semakin seru saja .
Kini pertarungan mereka sudah memasuki jurus yang ke seribu nya .
Belum ada tanda tanda siapa diantara mereka yang bakalan kalah atau menang .
Begitu juga dengan pertarungan antara Hek Koai Liong dan Dandasura , masih berlangsung dengan sengit nya , Masing masing sudah mengeluarkan kemampuan mereka , mulai dari Ninjit Sut hingga Hoat Sut , tetapi belum terlihat siapa yang bakalan keluar sebagai pemenang nya .
Di dalam goa , Shin Liong dan Dewi Teratai putih sedang berusaha menyadarkan Arwanwen dan Li Lian yang terkena racun tidur itu .
Dewi Chang 'e menatap kearah Li Lian dengan tatapan Dewi nya , tiba tiba wajah nya menjadi masgul .
"Wah celaka sekali , Dunia ini benar benar akan segera berakhir , segala jenis mahluk terkuat di semesta akan segera muncul !" gumam wanita berwajah sangat cantik ini .
Shin Liong yang menangkap ketidak beresan di wajah sang ibu , segera bertanya , "ada apa Bu , apa yang terjadi ?" ...
Sambil berusaha tersenyum , Dewi Chang 'e menggelengkan kepala nya .
__ADS_1
...****************...