Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Pembantaian di Benteng ke Dua.


__ADS_3

Meskipun berat hati, akhirnya Dewi Nuwa merelakan juga sang putra bersama ayah nya untuk pergi berjuang, membebaskan para tahanan.


Untuk sementara, Dewi Chang 'e, Dewi Nuwa dan putri Xuan Yi, hanya tinggal di dalam lembah.


Untuk memudahkan perjalanan, Shin Liong membuka portal langsung keseberang rawa, di tengah hutan.


Bersama dua ratus orang prajurit, termasuk Co Ban, Gi Ming, Ang Bao dan Ko Tiong, mereka berangkat merambah hutan lebat.


Di sepanjang perjalanan, sang jendral dan Shin Liong saling berbincang, bercerita tentang masalah yang mereka hadapi sekarang.


"Jendral, beberapa waktu yang lalu, kami bertemu dengan pasukan kesepuluh dari Kaisar Chong Sian, Kaisar mana lagi mereka?" tanya Shin Liong kepada jendral Fu Shen.


"Tuan muda!, sebenar nya kekacauan sekarang ini adalah hasil perbuatan dari nya, dia adalah paman dari kaisar sekarang, putra tertua Kaisar Chong tua dari selir, karena tidak bisa menjadi Kaisar, Chong Sian selama kaisar ayahanda dari kaisar yang sekarang, dia ternyata diam diam mengembangkan satu ras mahluk baru yang lebih unggul dari manusia, bekerja sama dengan iblis, menciptakan mahluk Orgo baru, persilangan antara manusia dan Orgo, namun rupanya sang pangeran Chong Sian kebablasan, mahluk itu dalam waktu sekejap saja sudah berkembang demikian banyak, memakan semua hewan apapun, hingga ketika hewan sudah habis, mereka mulai memakan manusia, lalu peristiwa pendudukan besar besaran pun terjadi, hingga Kaisar Chong Ting Kuan pun turut tewas, dan di gantikan oleh kaisar yang sekarang, namun di waktu yang sama, pangeran Chong Sian juga menyatakan diri nya sebagai Kaisar juga, ketika pendudukan besar besaran itu terjadi, kedua Kaisar itu mengungsi kedua dua nya!" kata sang jendral menceritakan kisah asal muasal nya.


"Tetapi kenapa pangeran Chong Sian ikut mengungsi, padahal dia kan ikut andil menciptakan mahluk pemusnah ini?" tanya Shin Liong lagi.


"Itulah yang di luar perkiraan sang pangeran tua itu, ternyata mahluk itu tidak bisa di atur oleh manusia, mereka selalu lapar dengan daging segar, dan akhirnya, sang pangeran pun terpaksa lari mengungsi bersama para pasukan nya!" kata sang jendral.


"Bagai mana mungkin mereka bisa berkembang demikian pesat nya jendral?" tanya Shin Liong lagi.


"Tuan muda!, mahluk itu berkembang biak di dunia dimensi yang sepuluh kali lebih cepat dari dunia kita ini, maka nya cuma dalam waktu beberapa puluh tahun saja, mereka bisa sebanyak itu!" jawab sang jendral Fu Shen.


Kini Shin Liong tahu dengan jelas, kenapa mahluk itu bisa sampai ada dan sebanyak sekarang ini.


Pada hari kedua, mereka tiba di sebuah kota cukup besar, namun tanpa ada satupun sisa sisa kehidupan di dalam nya, sunyi sepi, bahkan anjing liar saja tidak ada lagi.


"Ini kota Lok Kwan, dulu nya kota ini kota paling kaya raya, tuan muda, hingga kedatangan pasukan Orgo menguasai kota ini, membawa penduduk yang tidak ikut mengungsi ke markas mereka, kota ini pun akhirnya di tinggalkan begitu saja hingga menjadi sebuah kota hantu seperti ini!" kata sang jendral.


Rata rata rumah di kota ini adalah rumah mewah yang besar besar, serta toko toko yang berjejer tertata rapi di tiap kiri dan kanan jalan.


Dahulu nya kota ini diperkirakan mampu menampung hingga jutaan penduduk di dalam nya.


Ke esokan hari nya, saat rombongan sudah meninggalkan kota itu agak jauh, Shin Liong sengaja kembali sendirian ke kota itu, dengan sekali tunjuk, tiba tiba seluruh kota itu pun menghilang, berganti Padang tandus tanpa apapun juga.


Setelah kota Lok Kwan itu berpindah seluruh nya kedalam cincin dimensi, Shin Liong kembali ke rombongan nya lagi tanpa bicara apapun juga.


Tepat pada hari yang ke tiga, mereka tiba di dekat sebuah Benteng besar terbuat dari batu.


Benteng ini besar nya berkali kali lipat dari Benteng kayu yang pernah Shin Liong kalah kan dahulu.


Ada seorang jendral tingkat tiga sebagai penguasa Benteng ini.


Di bawah nya ada dua jendral tingkat empat, serta enam ratus prajurit Orgo.

__ADS_1


Jendral Fu Shen sengaja mendirikan kemah agak jauh dari Benteng itu, menghindari agar tidak terlihat oleh pasukan Orgo itu.


"Tuan jendral!, saya akan memeriksa di dalam benteng itu sebentar!" kata Shin Liong kepada jenderal Fu Shen.


"Bagai mana cara nya tuan muda masuk ke dalam Benteng yang di jaga ketat itu?" tanya jendral Fu Shen bingung.


Shin Liong tersenyum menanggapi keheranan sang jendral itu.


Tiba tiba tubuh Shin Liong memancarkan cahaya, lalu semacam kabut putih menyelimuti sekujur tubuh nya.


Ketika cahaya dan kabut itu hilang, di depan mereka sudah tidak ada lagi Shin Liong , yang ada kini cuma se ekor burung gereja kecil saja.


Setelah mencicit beberapa kali, burung gereja itupun terbang kearah Benteng.


Sang jendral sangat takjub dengan ilmu kesaktian dari Shin Liong itu, belum pernah dia melihat ada seorang manusia yang bisa berubah menjadi apapun sesuka hati seperti Shin Liong ini.


Bahkan A Yong sendiri baru tahu jika sang ayah memiliki ilmu aneh itu.


Setelah beberapa lama nya menanti, akhirnya dari arah benteng, terbang se ekor burung gereja kecil yang langsung masuk kedalam tenda besar itu.


Setelah melewati proses seperti tadi, kini burung gereja itu kembali menjadi Shin Liong lagi.


"Jendral!, manusia yang mereka tawan mungkin lebih dari seribu orang banyak nya,berdesak desakan dalam dua buah barak, sebaik nya, besok kita mulai serangan dari depan, tetapi tetap harus berhati hati, biar saya sendiri yang akan menyusup, kalian cuma bertugas membuat semua mahluk itu keluar dari Benteng saja, selebih nya itu urusan saya jendral!" kata Shin Liong.


"Saya percaya dengan tuan muda, saya akan jalan kan apa yang tuan muda atur untuk besok!" sahut sang jendral menuruti kata kata dari Shin Liong , karena dia sendiri sudah kehabisan akan menghadapi mahluk yang kebal senjata biasa itu.


Sedangkan Shin Liong, bergerak seorang diri.


Ketika melihat sepasukan manusia bergerak mendekat, prajurit Orgo itu seperti melihat makanan tersaji di depan mereka, Lang sung berebutan keluar dari Benteng menyongsong pasukan manusia itu.


Sebentar saja, enam ratus prajurit Orgo beserta ketiga jendral nya, sudah berada di luar Benteng itu, menunggu pasukan manusia datang.


Shin Liong secara diam diam mengirimkan suara nya kepada jenderal Fu Shen agar sebisa mungkin memanah mata mahluk itu, karena cuma bagian mata nya lah yang tidak kebal senjata apa pun juga.


Segera sang jendral menyuruh regu panah untuk berdiri di depan, bersiaga dengan panah di tangan, dan menginstruksikan pasukan nya, agar memanah bagian mata mahluk itu.


Sementara itu, A Yong sudah bersiaga dengan pedang Naga api yang sudah terhunus di tangan nya.


Diawali oleh sebuah teriakan nyaring dari jendral tertinggi nya, mahluk itupun menyerbu kearah pasukan sang jendral Fu Shen dengan suara hiruk pikuk.


Pasukan panah pun segera beraksi, puluhan anak panah melesat, menembus mata mahluk itu.


Terdengar suara jerit kesakitan dari mahluk itu yang salah satu, atau bahkan kedua mata nya tertembus anak panah.

__ADS_1


Meskipun sang jendral nya berteriak sekeras keras nya, menyuruh para prajurit nya tenang, tetapi yang nama nya rasa sakit luar biasa itu tidak lagi bisa di tahan tahan.


Jerit kesakitan terdengar hiruk pikuk bersama dengan prajurit yang saling tabrak serta berlari tanpa arah tujuan.


Saat sang jendral berteriak menyuruh semua nya masuk Benteng, tiba tiba dari arah pintu Benteng, meluncur puluhan anak panah terbuat dari cahaya yang menembus tenggorokan prajurit Orgo itu.


Anak panah cahaya itu melesat bagaikan hujan turun dengan lebat nya, sehingga dalam waktu sekejap saja, ratusan prajurit Orgo pun tewas seketika dengan leher berlobang besar.


Keadaan kacau kini benar benar tak terkendali lagi.


Dari arah depan, anak panah menembus mata mereka, dan dari arah gerbang Benteng, anak panah cahaya membunuhi mereka.


Melihat keadaan mulai tidak terkendali lagi, A Yong segera melompat ketengah tengah pasukan musuh, mengamuk dengan pedang Naga api nya.


Hampir setiap ayunan pedang nya, satu kepala Prajurit Orgo pasti jatuh.


Hingga akhirnya, hari belum lagi tengah hari, pasukan Orgo sudah habis semua nya.


Kini yang tertinggal cuma tiga jendral nya saja lagi.


Bukan main marah nya jendral tingkat tiga mahluk Orgo itu setelah melihat enam ratus Prajurit nya tewas semua, tanpa satupun yang selamat.


Sebagai pemimpin tertinggi Benteng itu, sang jendral tingkat tiga itu menyuruh kedua jendral tingkat empat nya untuk maju mengeroyok A Yong .


Melihat A Yong di keroyok, jendral Fu Shen segera turun tangan membela A Yong, tetapi sang jendral pemimpin Benteng yang melihat sang jendral musuh maju, dia pun akhir nya maju juga.


Tetapi belum lagi sang pemimpin Beteng berhasil mendekati sang jendral Fu Shen, di hadapan nya sudah muncul Shin Liong dengan pedang kristal Katai putih inti bintang yang sudah terhunus di tangan nya.


"Grrr, kau mahluk hina mencoba melawan ku, akan ku ***** tubuh mu!" kata sang penguasa Benteng.


"Aku berjanji tidak akan membunuh mu, tetapi seluruh sakit nya manusia yang kau mangsa, harus kau rasa kan!" ucap Shin Liong sambil bergerak dengan gerakan yang sangat cepat.


Sedangkan sang jendral Fu Shen yang sudah tahu kelemahan mahluk Orgo itu, tetap saja kesulitan mengalahkan nya, karena mahluk itu tau jika kelemahan mereka sudah di ketahui, sehingga berusaha menghindarkan Mata nya dari serangan lawan.


Berbeda dengan sang jendral, berbeda pula dengan A Yong yang menghadapi salah satu jendral tingkat empat tanpa kesulitan sedikit pun.


Ketika A Yong membabatkan pedang naga api nya kearah lawan, sang lawan segera berbalik untuk menghindar sabetan itu, tetapi rupanya itu cuma tipuan belaka, karena selanjutnya pedang A Yong membabat tubuh nya dari belakang, hingga nyaris putus.


Setelah salah satu jendral itu tewas, A Yong segera melompat ke arah jendral yang menjadi lawan dari jendral Fu Shen, dengan sekali babat, putus lah kepala sang jendral tingkat empat itu.


Pertempuran antara Shin Liong dan jendral tingkat tiga juga sudah mencapai titik akhir nya, namun berbeda dari putra nya, Shin Liong tidak membunuh sang jendral tingkat tiga itu, tetapi hanya membuntungi kedua kaki dan tangan nya saja, lalu membiarkan jendral itu tergeletak begitu saja, setelah menotok bagian bagian tubuh nya, agar pendarahan berhenti.


Jerit dan tangisan sang jendral dia biarkan saja, dengan memegang rambut nya, jendral itu dia seret ke pinggir hutan, agar di temukan oleh anjing liar, dan di mangsa sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Kebencian Shin Liong benar benar sudah mencapai puncak nya, setelah melihat bagai mana banyak nya manusia yang binasa di mangsa mahluk biadab itu.


...****************...


__ADS_2