
Tubuh laki laki cebol berkepala botak yang bernama Bian San Kun ini masih berdiri beberapa saat , seakan belum sadar dengan kepala nya yang sudah hancur itu .
Darah masih menyembur seperti air mancur , keluar dari leher nya yang kurung tanpa kepala lagi itu .
Baru setelah beberapa saat berlalu , tubuh Bian San Kun pun akhirnya tumbang ke tanah , roboh diatas tubuh sahabat nya Keng Tee Hun yang telah tewas mendahului nya .
Baru saja A Yong berjalan satu langkah , tiba tiba dia merasakan ada Sambaran angin dari seseorang yang sedang melancarkan serangan jarak jauh nya .
A Yong Terpaksa menghindar kesamping kanan Yang agak jauh dari lawan nya .
Ternyata yang menyerang nya tadi adalah seorang kakek tua bertubuh tinggi berbaju putih , berambut panjang yang sudah putih semua serta dianyam kebelakang dan berjenggot panjang menjuntai yang juga berwarna putih semua itu.
Walaupun kakek ini berjenggot panjang , tetapi tidak memiliki kumis meski satu helai pun .
Mata kakek tua ini menatap kearah A Yong dengan sangat lama , seakan ingin mengetahui isi rahasia di dalam dada nya .
Meskipun dia telah memindai dengan ilmu pindai tingkat tinggi pada lawan muda nya kali ini , tetapi yang dia lihat cuma tulang muda yang baru berusia belasan tahun dengan tingkat kultivasi nya ada pada tingkat alam Taruna menengah , itu saja yang dia lihat .
"Hm , katakan siapa nama mu anak muda , agar aku bisa menuliskan nya di batu nisan mu nanti nya !" kata kakek tua berjenggot panjang itu .
"Kakek tua !, tidak ada yang perlu ku rahasia kan , nama ku Shin Yong atau di panggil A Yong , dari dahulu tidak pernah berubah , dan aku sendiri tidak ingin tahu nama nama kalian semua , bagi ku itu semua tidak ada beda nya kek , se ekor anjing , meskipun diberi nama sebagus apapun , tetap saja anjing , tidak akan bisa berubah menjadi manusia yang berakal Budi !" kata A Yong yang sudah terbakar jiwa muda nya itu .
Merah padam muka kakek tua itu mendengar kata kata dari A Yong itu.
"Hm , anak muda !, sungguh tajam kata kata mu , aku berharap semoga Koan (tinju) mu itu setajam kata kata mu , atau memang kau tidak pernah diajarkan tata Krama oleh kedua orang tua mu !" kata kakek tua itu .
Meskipun amarah A Yong membuncah sampai ke ubun ubun nya , tetapi dia berusaha agar jangan sampai terpancing oleh omongan kakek tua itu .
"Kau jangan khawatir kek , kau sudah melihat bagai mana Koan ku menghabisi kawanan anjing gila , apa lagi sekedar menghadapi seekor Rubah tua !" kata A Yong balas menyindir kakek tua itu .
"Kurang ajar !, rupanya kau memang tidak pernah diajarkan adat oleh ayah mu ya !"kata kakek tua itu .
"Untuk menghadapi se ekor Rubah tua yang sudah bau tanah , mengapa harus repot repot pakai peradaban segala ?" tanya A Yong .
"Cuih !, kurang ajar !, anak demit dari mana yang tidak tahu tata Krama ini , baiklah agar kau tahu tata Krama , biar ku ajar adat kepada mu sedikit !" kata kakek tua itu yang segera menyerang kearah A Yong dengan serangan tangan kosong nya .
"Des !"...
Ketika kakek tua itu melayangkan tinju nya ke arah tubuh A Yong dengan separuh kekuatan nya , dengan maksud sekedar membuat gentar A Yong saja .
A Yong menangkis serangan kakek tua berjenggot panjang itu dengan kibasan tangan kanan nya menggunakan separuh energi tubuh nya .
Kakek tua itu terkejut luar biasa , karena pada saat kedua tangan mereka bersentuhan tadi , tangan kakek tua itu mental hingga beberapa jengkal dan terasa panas dan sangat nyeri .
Tahulah kakek tua itu , bahwa tingkat anak muda itu tidak berada di bawah nya , bahkan bisa jadi berada diatas diri nya .
__ADS_1
Kakek tua itu mundur beberapa tindak ke belakang sambil mengeluarkan sebuah senjata aneh berbentuk sebuah centong , tetapi lebih besar dari centong biasa , terbuat dari kayu berwarna hitam sangking tua nya usia centong raksasa itu .
"Hari ini , aku Kin Sian akan memberikan Nuh mu , cepat keluarkan senjata mu anak muda ,bila tidak , jangan salah kan aku !" kata kakek tua berjenggot panjang berwarna putih semua itu sambil memutar-mutar centong besar di tangan nya .
Kakek tua ini memang bernama Kin Sian atau Dewa bertenaga besar salah satu dari Ji Sian Keng Tee atau dua Dewa menggetarkan Bumi .
Mereka merupakan pengawal utama tuan Jung Cu dan satu tingkat diatas Tian Tung Mo Ji tadi .
Ketika centong besar itu di putar putar oleh kakek tua itu , terdengar suara mendengung dan menimbulkan angin yang sangat kuat sekali .
Sesuai dengan nama nya Dewa bertenaga besar , tenaga Gwakang atau tenaga kasar dari kakek ini memang sangat besar sekali , dia bisa meremukkan satu kepala kerbau jantan dewasa cuma dengan sekali pukul saja .
Setelah memutar mutar kan senjata centong besar nya beberapa saat , akhirnya kakek tua itu mengayunkan centong besar itu kearah tubuh A Yong , seperti dia mengayunkan sebuah pedang biasa .
"Trass !"...
Pilar teras rumah tuan Jung Cu yang terbuat dari batu itu putus terkena sabetan dari centong besar milik kakek Kin Sian ini .
"GUO*LOG !, yang seharus nya kau serang itu dia , bukan malah menghancurkan kediaman ku , cepat bereskan ban*sat itu , atau kau yang ku bereskan !" teriak tuan Jung Cu marah karena melihat pilar teras nya putus terkena hantaman senjata centong besar milik Kin Sian itu , untung putus nya melintang vertikal , sehingga masih bisa bertumpu pada pilar di bawah nya , dan tidak sampai runtuh .
Mendengar teriakan dan umpatan dari tuan Jung Cu itu , kakek tua segera mengarah kan serangan nya pada A Yong kembali .
Ternyata kakek tua ini memiliki Sinkang (tenaga dalam) cukup tinggi di samping tenaga Gwakang nya yang besar itu .
Tenaga Sinkang ini pula yang menentukan panjang pendek nya nafas dan daya tahan tubuh seseorang serta bisa mengalahkan tenaga Gwakang bila dilatih dengan baik .
Karena gerakan kakek tua ini berbarengan antara Gwakang yang besar serta Sinkang cukup tinggi , maka gerakan nya menjadi sangat cepat dan berbahaya sekali .
Bila saja A Yong tidak bisa bergerak dengan cepat , maka meskipun tingkat kultivasi nya lebih tinggi dari sang kakek tua , tidak menjamin dia tidak tewas di tangan sang kakek tua ini .
Untung nya A Yong disamping tingkat kultivasi nya lebih tinggi , dia juga telah menguasai jurus langkah Dewa Dewi , sehingga secepat apapun gerakan sang kakek tua ini , di mata A Yong tetap terlihat sangat lambat sekali .
Karena mengetahui jika dia menang tingkat kultivasi , maka A Yong sengaja mengulur ulur pertarungan agar berjalan agak lama sambil membangkitkan terus hawa amarah lawan nya .
Merasa di permainkan oleh lawan nya , kakek tua itu pun terus mengamuk menyabetkan centong besar nya kearah A Yong .
Seratus jurus segera berlalu dengan cepat sekali , gerakan sang kakek pun mulai berkurang kecepatan nya walau masih sangat berbahaya sekali .
Karena tingkat kultivasi A Yong yang sudah berada di tingkat Dewa Sorga menengah , sehingga dia mampu bertarung hingga berhari hari tanpa merasa kelelahan sedikit pun juga .
Ayunan senjata centong besar milik kakek tua berjenggot panjang itu mengayun dari sebelah kiri atas A Yong , menyerong ke arah kanan bawah , lalu kembali naik dari kanan bawah ke sebelah kiri atas , lalu beralih posisi ke kanan atas bergerak menyerong ke kiri bawah lantas kembali kearah kanan atas , begitu terus menerus .
Bagi orang biasa , A Yong dikurung oleh senjata centong besar kakek berjenggot panjang itu, tampak tidak ada celah sama sekali untuk meloloskan diri , tetapi bagi A Yong , gerakan kakek tua berjenggot putih panjang itu , masih sangat lambat sekali di mata nya .
Yang cukup merepotkan Disamping senjata centong nya , ternyata rambut panjang Ter anyam kebelakang itu juga sangat berbahaya , karena dapat melecut kearah lawan seperti cambuk .
__ADS_1
Pada satu ketika , saat kakek tua itu kembali mengayunkan senjata centong besar nya ke kiri dan ke kanan seperti tadi dan di sertai lecutan rambut panjang nya , tiba tiba dengan kecepatan yang luar biasa cepat nya , A Yong menangkap ujung rambut panjang kakek tua itu .
Bersamaan dengan itu , centong besar terayun mengarah ke tubuh nya .
Namun dengan gerakan yang sangat cepat sekali , A Yong yang memegang ujung anyaman rambut panjang kakek tua itu , segera melilitkan rambut itu ke arah centong besar milik kakek tua itu .
Ternyata anyaman rambut kakek tua itu sangat kuat sekali, sehingga senjata centong besar nya tidak mampu memutuskan rambut itu .
"Brett !"...
Karena ayunan centong besar itu begitu kuat , sedangkan rambut yang melilit centong itu juga sangat kuat sekali , akhir nya kulit kepala kakek tua itulah yang jebol terkelupas semua nya .
Terdengar raungan nyaring keluar dari mulut sang kakek tua itu , raungan antara kesakitan luar biasa dan rasa amarah .
Dengan gerakan yang semakin kacau , terlihat jika kakek tua bernama Kin Sian ini sudah bertindak nekat sekali .
Sambil bertarung , A Yong melirik kearah kakek tua satu nya lagi yang masih berdiri menyaksikan jalan nya pertarungan itu .
Nampak kakek tua berambut putih panjang di anyam kebelakang , tidak berjenggot , tetapi berkumis putih panjang menjuntai di sisi kiri dan kanan mulut nya itu , sudah bersiap siap untuk turun tangan .
Pada saat centong besar itu Ter ayun ke sisi kanan bawah A Yong , dan bergerak naik keatas kembali , kesempatan itu A Yong gunakan untuk melepaskan sebuah tendangan yang sangat cepat dengan tiga perempat kekuatan nya kearah uluhati kakek tua itu .
"BUK !!"...
Tendangan kaki kanan A Yong yang super cepat itu mendarat dengan telak di uluhati sang kakek tua .
Tubuh kakek tua itu terbang sejauh dua puluh depa hingga menabrak tembok .
Saat tubuh kakek tua itu terbang terkena tendangan A Yong , terlihat darah segar mem buncah keluar dari mulut sang kakek tua bernama Kin Sian itu .
Kakek tua itu jatuh ketanah dengan pantat terlebih dahulu , lalu ambruk , karena dada beserta se isi nya telah hancur semua .
"KIN SIAAAN !!"...
Kakek tua yang tadi masih berdiri di belakang Tuan Jung Cu , segera melompat memburu kearah sahabat nya itu .
Di pangku nya tubuh sang sahabat sambil terus memanggil manggil nama nya itu .
Tubuh lunglai itu sudah tidak ber reaksi apa-apa lagi , karena nyawa nya sudah melayang ke akhirat .
"Kin Sian !, Kin Sian !, Kin Siaaan !, ayo bangkit kawan , kita adalah Ji Sian Keng Tee (dua Dewa menggetarkan Bumi) yang tidak terkalahkan , tidak mungkin kau kalah cuma oleh seorang bocah ingusan itu , ayo bangkit kawan bangkitlah !" suara Ang Bin Sian (Dewa muka merah) ini sambil menggoncang tubuh sahabat nya .
Namun Kin Sian tidak juga bergerak lagi untuk selama lama nya .
...****************...
__ADS_1