
Pagi itu kegemparan terjadi di seluruh kota Raja Alexia , karena secara mengejutkan , istana Alexia beserta semua penghuni nya , raib tenggelam kedalam Danau yang sangat luas itu .
Semenjak itulah , konon di negeri Fangkea terpecah menjadi lima wilayah negeri .
Di Utara ada negeri Song , di selatan ada negeri Ming , di timur ada negeri Yuan dan di barat ada negeri Han , dengan Kaisar nya masing masing .
Sedangkan di tengah tengah ada negeri tak bertuan yang di namakan orang orang sebagai tanah keramat .
Wilayah ini dikatakan tanah keramat adalah , karena Negeri mana saja yang mencoba mencaplok wilayah ini menjadi negeri nya , maka Kaisar nya akan tewas tertimpa musibah , sehingga tidak ada satupun negeri di sekeliling nya yang berani menduduki wilayah keramat ini .
Beberapa kota yang berada di wilayah tanah keramat ini , dipimpin oleh seorang tuan kota atau penguasa Kota .
Tuan kota apa bila dia di pilih oleh masyarakat , sedangkan penguasa kota , apabila dia memimpin kota karena kekuasaan dan harta kekayaan nya .
Keruntuhan dinasti Fang yang sangat tragis itu ternyata sudah terdengar kemana mana .
Banyak diantara masyarakat yang berbondong bondong mengunjungi Danau Alexia untuk sekedar membuktikan kebenaran cerita itu .
Masing masing kota mulai berdiri sendiri sendiri tidak lagi ada yang mengatur nya .
Mereka di kuasai oleh para penguasa kota maupun tuan ketua Kota .
Siang itu , dua buah kereta kuda yang di tarik oleh masing masing dua ekor kuda memasuki gerbang kota Famoa dari gerbang timur .
Disebuah penginapan yang cukup terkenal , kereta kuda itu berhenti .
Shin Liong turun dari kereta sambil menggerak gerakan badan nya yang agak kaku selama di perjalanan .
Dari kereta yang satu nya lagi , A Yong turun sambil menggerak gerakan badan nya pula .
Dari kereta yang di kusiri oleh Shin Liong , turun Dewi Xuan Yi , Dewi Ying Fa , putri Hong Yi , inang Yu Nan de dan pangeran Fang Ru zhian serta Dewi Chang 'e .
Nampak mata putri Hong Yi sembab karena terlalu banyak menangis .
Sedangkan pangeran Fang Ru zhian berjalan di samping Dewi Chang 'e .
Nampak sekali keakraban diantara mereka berdua mulai terjalin .
Sedikit banyak nya , kehadiran Dewi Chang 'e sebagai sosok ibu pengganti bagi sang pangeran kecil itu .
Dewi Chang 'e membimbing tangan sang pangeran kecil memasuki rumah penginapan itu , di iringi pandangan mata beberapa orang yang berada di halaman penginapan itu .
Diantara orang yang menatap mereka dengan tajam ada lah dua orang perempuan paro baya berwajah sangat cantik dan bertubuh molek .
Saat Dewi Chang 'e melangkah kearah penginapan itu , salah seorang dari mereka menegur nya , "nyonya , tunggu sebentar , maukah nyonya menyerahkan anak itu pada kami untuk kami didik menjadi murid kami ?" ...
Dewi Chang 'e menatap kearah kedua orang wanita itu , "apa maksud kalian ?" tanya nya .
__ADS_1
"Kami berdua menginginkan kan anak itu , serahkan dia pada kami , dan urusan kita selesai sampai disini !" kata salah seorang dari wanita itu .
"Kau menginginkan putra ku ?, tentu saja aku tidak akan menyerahkan putra ku begitu saja kepada siapa pun , pergilah menyingkir dari hadapan ku , aku tidak akan menyerahkan putra ku ini !" kata Dewi Chang 'e .
Kedua wanita paro baya yang cantik itu tertawa cekikikan mendengarkan ucapan dari Dewi Chang 'e itu .
"Hi hi hi hi , sayang sekali kalau begitu nyonya , karena Ji Pak Sai Li (Dua singa dari Utara) tidak mengenal kata kata kegagalan nyonya , apa yang kami mau , harus kami dapat kan !" kata salah satu dari wanita itu .
"Ya sayang sekali nyonya , saya tidak akan menyerahkan putra saya kepada kalian , apa lagi kalian cuma dua kucing kecil yang lemah , pergilah kucing kecil , jangan sampai pantat mu ku gebuk !" ucap Dewi Chang 'e sambil tersenyum sinis pada kedua wanita cantik itu .
Kedua orang wanita cantik itu berhenti tertawa , menatap kearah Dewi Chang 'e dengan tajam sekali .
"Wanita tidak tahu di untung , nyawa sudah tinggal di ubun ubun , masih saja berbicara tinggi !" ucap salah seorang dari Ji Pak Sai Li itu .
"putra ku adalah tanggung jawab ku , kalian bisa merebut nya bila memang kalian mampu !" ucap Dewi Chang 'e masih dengan nada yang tenang .
Kini kedua wanita itu kembali tertawa cekikikan , "sayang sekali nyonya , wajah mu yang jelita akan berakhir di tangan Ji Pak Sai Li , darah mu akan ku minum , agar aku bisa secantik diri mu , hi hi hi hi !" kedua wanita jelita itu mulai bergerak menyerang Dewi Chang 'e .
"Putri !, bawa adik mu menjauh , aku akan memberi pelajaran pada dua ekor kucing dapur ini , bagai mana seekor singa seharus nya melindungi anak anak nya !" kata Dewi Chang 'e pada putri Hong Yi .
"Baiklah Bu !" Putri Hong Yi segera menarik tangan pangeran Fang Ru zhian mendekat ke arah Shin Liong berdiri .
"Kau terlalu merendahkan kami nyonya , dan itu akan menjadi penyesalan selama hidup mu nyonya !" kata salah seorang dari wanita cantik itu sambil bergerak dengan kecepatan tinggi , melancarkan serangan kearah Dewi Chang 'e .
Dewi Chang 'e tidak berusaha menghindar dari serangan kedua wanita itu , tetapi dia cuma menangkis setiap pukulan yang datang kepada nya .
Kedua wanita itu segera meningkatkan kekuatan serangan nya , ke level maksimal nya .
Namun hingga beberapa puluh jurus , tangan mereka masih saja terpental karena tangkisan tangan Dewi Chang 'e .
Kedua wanita paro baya ini sadar jika energi mereka berdua tidak sebanding dengan energi wanita jelita di hadapan nya ini .
Saat kedua wanita cantik ini mencari cara untuk melarikan diri , tiba tiba terdengar suara wanita melengking nyaring sekali .
Mendengar suara itu , sontak kedua wanita paro baya berwajah cantik itu menjadi pucat pasi .
"Celaka !, iblis itu juga hadir di tempat ini rupanya !" gumam salah satu dari kedua wanita itu sambil memberi isarat kepada teman nya .
Setelah teman nya mengangguk , salah seorang wanita itu kemudian berkata , "sayang kami harus buru buru nyonya , lain waktu kita teruskan main main ini !" ...
Kedua wanita paro baya itu melesat keatas atap rumah penginapan , dan menghilang di balik rumah rumah penduduk .
Suara lengkingan itu kembali terdengar nyaring ,menusuk kedalam lobang telinga .
Shin Liong segera mengerahkan hawa sakti nya , untuk melindungi sang pangeran dan inang Yu Nan de dari serangan suara itu .
Belum lagi gema suara lengkingan itu hilang , tiba tiba di hadapan Dewi Chang 'e , muncul sosok seorang wanita tua berwajah keriput dan berambut putih riap riapan , dengan hidung panjang dan bengkok seperti paruh burung elang .
__ADS_1
"Hi hi hi , ha ha ha ha !, kalian curang , berpesta tanpa mengajak ajak aku , ayo kita bersenang senang kembali , ayo !, ayo !" kata wanita tua itu .
"Nenek tua , kita tidak punya pangkal soal , tidak pula ada utang piutang yang perlu ditagih dan di bayar , maafkan kami , biarkan kami beristirahat di tempat ini barang semalam !" kata Dewi Chang 'e dengan nada lembut nya .
Wanita tua berwajah angker itu tertawa cekikikan mendengar perkataan dari Dewi Chang 'e itu , "hi hi hi , ha ha ha ha !, boleh , boleh , kalau kau ingin beristirahat dengan tenang , silahkan saja nyonya cantik , tetapi mulai saat ini , bocah laki laki itu sudah menjadi milik ku , serahkan dia pada ku baik baik , dan aku akan membuat kau beristirahat dengan tenang sekali !" ...
"Ternyata Tempakul tetaplah Tempakul , dan tidak pernah jadi ikan , hei mahluk jadi-jadian , sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyerahkan putra ku kepada iblis macam kamu , Cuih !, aku mulai muak melihat tingkah iblis seperti kau ini !" ujar Dewi Chang 'e mulai geram .
"He he he , tidak apa apa cantik , suka atau tidak suka , rela atau tidak rela , anak itu akan tetap ku rampas agar darah nya bisa membangkitkan kan Mo Sian kembali !" kata wanita tua itu lagi .
"Terserah kau !, bila memang kau memiliki kemampuan untuk merebut nya !" kata Dewi Chang 'e .
"Tentu saja aku memiliki kemampuan untuk sekedar mencabut nyawa mu , Shin Cui Mo Li bukan lah julukan kosong belaka !" kata wanita tua itu menyebutkan julukan nya sebagai Shin Cui Mo Li ( iblis betina pencabut nyawa) .
Shin Cui Mo Li adalah salah satu dedengkot tua yang sudah lama tidak muncul di dunia ramai , jadi sangat wajar jika tokoh tokoh muda tidak mengenal nya , tetapi hampir semua tokoh tua , kenal dengan tokoh yang satu ini , karena ganas nya sepak terjang nya di masa lalu .
Termasuk Ji Pak Sai Li ini juga jengah dengan momok yang satu ini , karena dahulu mereka pernah pontang panting dihajar oleh Shin Cui Mo Li ., dan hampir saja nyawa mereka melayang , bila tidak segera melarikan diri .
Shin Cui Mo Li segera melancarkan serangan kearah Dewi Chang 'e dengan gerakan yang sangat cepat dan ber energi besar .
Sementara itu , Dewi Chang 'e melayani dengan gerakan yang nampak seperti sangat lambat , mirip seorang Dewi yang sedang menari , namun mengandung energi luar biasa dahsyat nya , inilah jurus tarian Dewi diatas awan .
beberapa kali terjadi benturan tangan mereka , Shin Cui Mo Li merasa betapa tangan nya seperti kesemutan dan kehilangan kekuatan nya .
Sebagai tokoh tua yang banyak pengalaman , Shin Cui Mo Li tidak lagi mau beradu tangan dengan Dewi Chang 'e , dia tahu jika wanita ini memiliki tangan yang sangat kuat sekali .
Akhirnya Dewi Chang 'e mempercepat gerakan jurus tarian Dewi diatas awan nya , tubuh nya berkelebat seperti bayangan kesana kemari .
Pada satu kesempatan , saat Shin Cui Mo Li baru saja selesai melepaskan tendangan kearah dada Dewi Chang 'e .
Dengan tangan kiri nya , Dewi Chang 'e menangkis tendangan itu , sementara kepalan tangan kanan nya diarahkan ke pangkal paha wanita tua itu .
Shin Cui Mo Li mau tidak mau , terpaksa melemparkan tubuh nya ke belakang , agar pangkal paha nya tidak remuk terkena hantaman Dewi Chang 'e .
Rupanya gerakan itu cuma gerak tipuan belaka , karena pada saat berikut nya , Dewi Chang 'e sudah berada di belakang Shin Cui Mo Li dan melepaskan pukulan tangan kosong nya kepada wanita tua itu .
Tidak ada jalan lain lagi bagi Shin Cui Mo Li , selain mengadu tenaga sakti nya dengan Dewi Chang 'e .
"Bum !!" ...
Sebuah dentuman nyaring terdengar akibat pertemuan dua energi besar antara Shin Cui Mo Li dan Dewi Chang 'e , membuat debu , pasir dan tanah berterbangan keudara .
Setelah debu memudar , terlihat Dewi Chang 'e berdiri di tempat nya , dengan tangan yang masih terjulur kedepan .
Sedangkan Shin Cui Mo Li terlempar lebih dari sepuluh depa , dan mendarat di tanah dengan pantat nya terlebih dahulu .
Dari mulut wanita tua itu , mengalir , beberapa tetes darah , sebagai pertanda , jika wanita ini sudah terluka dalam .
__ADS_1
...****************...