Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Perkampungan di dalam lembah.


__ADS_3

Ke empat pemuda berpakaian lusuh itu berjalan kearah Shin Liong dan keluarganya yang sedang makan itu.


"Kalian siapa, dan kenapa mengintip kami makan?" tanya Shin Liong keheranan.


Salah satu dari ke empat pemuda itu berkata, "maafkan kami tuan muda, di dunia yang serba kacau ini, kami harus lebih berhati hati lagi, karena sangat banyak musuh di mana mana, kita sulit mempercayai orang lain meskipun itu sesama manusia, bisa saja mereka musuh, kami memang mengikuti kalian beberapa waktu, karena kami heran melihat ada wanita cantik yang berjalan di tengah hutan di daerah berbahaya ini!"...


"Hm, lalu apa yang sebenar nya terjadi di tempat ini?" tanya Shin Liong penasaran.


"Sebelum menjawab pertanyaan tuan, bolehkah kami tahu terlebih dahulu, kalian siapa, dan ada keperluan apa?" tanya salah satu dari pemuda itu.


"Saya Shin Liong, dan mereka berdua istri istri saya, serta ini ibu saya, dan ini putra saya, kami dari dunia Fangayun ingin mencari kerabat kami yang tersesat ke dunia disini!" jawab Shin Liong .


Setelah mendengar jawaban dari Shin Liong itu, ke empat orang itu bernafas lega.


"Syukurlah kalau begitu, saya bernama Cao Ban, ini Gi Ming, Ang Bao, dan Ko Tiong, kami baru saja menyelidiki markas mahluk Orgo di hutan timur!"kata pemuda bernama Cao Ban itu.


"Markas mahluk Orgo di hutan timur?" tanya Shin Liong .


"Benar tuan, di hutan timur, perjalanan tiga hari dari sini, ada sebuah markas pasukan Orgo yang baru di bangun, seperti nya mereka mempersiapkan penyerbuan ke markas persembunyian terakhir kami!" kata pemuda Co Ban.


"Markas? apa kah masih ada manusia yang tersisa di Dunia ini?"tanya Shin Liong dengan bergairah.


"Masih ada tuan, ada beberapa yang sempat menghindar dan menyelamatkan diri sewaktu peristiwa itu terjadi!" jawab pemuda Co Ban itu.


"Ada berapa kelompok yang berhasil selamat ?" tanya Shin Liong kepada pemuda itu.


"Jumlah keseluruhan kami belum jelas tuan, tetapi yang jelas ada beberapa kelompok yang berhasil mengungsi menyelamatkan diri ke hutan hutan dan goa goa, kalau tuan tuan mau, kami bisa membawa tuan ke markas kami!" kata pemuda bernama Co Ban itu.


"Bagai mana Bu?" tanya Shin Liong meminta pendapat ibu nya.


"Tidak ada salah nya kita mampir sejenak nak!, mungkin kita bisa mendapatkan beberapa penjelasan !" kata Dewi Chang 'e memberikan pendapat nya.


"Tetapi Bu!, kita pernah di bohongi orang, bagai mana jika?" tanya Dewi Teratai putih ragu ragu.


Dewi Chang 'e tersenyum menatap wajah anak menantu nya itu.


"Percaya lah nak, dimana ada manusia, tentu akan selalu ada yang baik, seperti juga selalu ada yang tidak baik!" jawab Dewi Chang 'e.


"Baiklah!, kami mengikuti kalian berempat, ayo makan dulu, setelah itu, barulah kita berangkat!" kata Shin Liong menawari ke empat orang pemuda itu untuk ikut mereka makan.


Ke empat orang pemuda itu, dengan senang hati menerima tawaran dari Shin Liong itu.


Setelah selesai makan, barulah mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke tempat persembunyian rombongan empat orang pemuda itu.


Setelah melewati hutan yang sangat lebat, kini mereka melewati sebuah rawa rawa hidup, yaitu rawa rawa yang bisa menghisap siapapun yang tercebur ke dalam nya, meskipun itu sebuah perahu sekali pun.


Rawa itu di tumbuhi oleh pohon pohon khusus, yang tumbuh di lumpur rawa, setelah pohon itu terlalu tinggi, mereka akan roboh, dan dari batang nya yang roboh itu, tumbuh kembali tunas tunas pohon yang baru.


Dengan berjalan di atas batang pohon yang roboh itulah, mereka bisa melewati rawa itu.


Setelah melewati rawa rawa itu, kini mereka tiba di tana yang agak tinggi, dengan kiri dan kanan nya adalah hutan lebat.

__ADS_1


Di sebelah hutan itu, terdapat sebuah tebing batu sangat tinggi sekali, mungkin lebih dari limaratus depa tinggi nya.


Salah satu dari ke empat pemuda itu memukul sebongkah batu sebesar kerbau dengan batu sebesar kepalan tangan dengan nada nada khusus.


"Tung!"...


"Tung!"...


"Tung!"...


Lalu tidak lama, terdengar sahutan suara batu di pukul dengan irama yang lain lagi.


Salah seorang pemuda memukul batu itu kembali, dengan irama yang lain lagi.


"Tung!, tung!"...


"Tung!, tung!"...


"Tung!, tung!"...


Tidak seberapa lama, sebuah batu bergetar, lalu bergeser ke bawah, dan sebuah pintu goa pun terbuka lebar.


Setelah mereka semua masuk, batu itupun kembali menutup naik.


Lorong goa itu cukup lebar dan terlihat rata, cuma ada disana sini yang tampak menonjol dan tidak rata.


"Tuan, silahkan ikuti langkah saya, di sini penuh dengan jebakan!" kata pemuda bernama Cao Ban itu.


Tiga orang pemuda lain nya juga mengikuti dengan cara yang sama pula.


Kini Shin Liong pun mengikuti jejak kaki dari pemuda Co Ban itu dari belakang.


Setelah berjalan beberapa jauh, menyusuri lorong goa yang berliku liku, akhirnya di depan mereka terlihat cahaya terang dari ujung goa.


Mereka keluar di ujung lorong goa, disebuah lembah yang sangat luas, dengan sekeliling nya adalah gunung batu menjulang tinggi.


Di tengah tengah lembah itu ada sebuah telaga yang cukup besar, dan di sisi barat telaga, ada sebuah perkampungan padat dengan ratusan rumah saling berhadapan dan menghadap jalan besar.


Jauh di ujung jalan, ada sebuah lapangan yang cukup besar, dan diseberang ujung jalan, tepat dipinggir lapangan, ada sebuah rumah yang cukup besar, dengan di kiri serta kanan nya terdapat rumah yang agak lebih kecil dari rumah yang di tengah.


Ke empat orang pemuda itu membawa Shin Liong dan keluarga ke rumah yang lebih besar yang berada di tengah tengah.


Seorang laki laki paro baya nampak duduk di lantai bersandar ke tembok ruang tengah, dan di kiri kanan nya, duduk dua laki laki tua.


"Ada apa Co Ban?, dan siapa mereka?" tanya laki laki paro baya yang terlihat wajah nya memancarkan aura yang sangat kuat.


Ke empat pemuda itu berlutut di hadapan laki laki paro baya itu.


"Ampun yang mulia, Hamba bertu dengan mereka di tengah hutan, mereka dari dunia lain yang bermaksud mencari kerabat mereka yang tersesat di dunia kita ini yang mulia!" kata pemuda Co Ban itu.


Laki laki paro baya itu bernama Chong Kong Yu, sedangkan yang duduk di kanan dan kiri nya adalah Jendral Huang Fu Shen dan pendeta Wang Tuoli.

__ADS_1


Sang Kaisar Chong Kong Yu menatap kearah Shin Liong agak lama, "Siapakah kalian anak muda?" tanya sang Kaisa.


Shin Liong membungkuk di hadapan sang Kaisar.


"Maaf Kaisar, nama saya Shin Liong , dan ini Chang 'e ibu saya, ini Dewi Nuwa dan yang ini Putri Xuan Yi, kedua nya istri saya, sedangkan anak muda itu Shin Yong yang biasa di panggil A Yong adalah putra saya !" jawab Shin Liong .


"Hm selamat datang di perkampungan kami ini anak muda, saya Chong Kong Yu, mantan Kaisar yang sudah tidak memiliki negeri lagi, sedangkan di sebelah kiri saya ini adalah Huang Fu Quon mantan panglima ku, dan di sebelah kanan ku ini pendeta Wang Tuoli, penasihat utama ku, mereka orang orang yang sangat setia kepada ku!" kata kaisar Chong Kong Yu.


Shin Liong membungkuk dihadapan kedua laki laki tua itu.


"Salam hormat tuan panglima, dan salam hormat tuan pendeta, semoga kalian sehat selalu!" ucap Shin Liong .


Kedua orang tua itu membalas, dengan membungkukan badan nya juga,"semoga kalian sehat juga semua nya!"...


Tiba tiba dari arah pintu, masuk seorang laki laki tua juga, dengan rambut dan semua bulu di muka nya yang sudah putih semua, berbadan tinggi besar, mengenakan jubah hitam panjang.


"Tunggu!, bagai mana bisa kalian membawa orang luar masuk ke dalam perkampungan ini heh?, siapa yang memberi ijin kepada kalian ber empat?" tanya laki laki yang baru datang itu dengan nada yang sangat marah sekali.


"Maaf tuan jendral Bian Hok Tong!, menurut hemat kami,dan penglihatan kami, mereka bukan orang orang yang jahat tuan, mereka orang yang baik baik, kami sempat membuntuti mereka beberapa waktu!" jawab pemuda Co Ban.


"Kalian terlalu cepat memutuskan, kalau mereka ternyata adalah musuh, apakah kalian bisa bertanggung jawab dengan ribuan nyawa yang berlindung di tempat ini?" tanya jendral Bian Hok Tong sangat gusar kepada ke empat pemuda itu.


"Sudahlah jendral, biarkan mereka di sini, mereka adalah tamu ku!" kata sang Kaisar menengahi.


"Terserah tuan ku, seharusnya mereka di masukan kedalam penjara saja, bukan nya malah diterima sebagai tamu, saya tidak lagi ikut campur dengan apapun yang terjadi kepada perkampungan kita ini nanti nya, saya tidak lagi mau tau, silahkan bertindak apa pun, dan saya tidak akan berbuat apapun bila kampung kita ini di serang musuh!" kata sang jendral Bian Hok Tong dengan kasar nya, sambil melangkah keluar dari tempat itu.


"Maafkan dia anak muda, jendral itu sangat cepat khawatir dengan semua orang baru, tetapi hati nya sebenar nya baik!" kata Kaisar.


"Tidak apa apa yang mulia, sangat wajar jika kami orang yang baru datang, di curigai!" jawab Shin Liong, mencoba memahami keadaan di tempat itu.


Malam itu, mereka di sediakan sebuah rumah yang cukup besar di sebelah dari rumah sang pendeta, sedangkan untuk makan malam, sang Kaisar mengundang mereka untuk makan bersama di tempat kediaman sang kaisar.


Malam ini terasa sangat gerah di dalam lembah itu, sehingga Shin Liong berjalan sendirian kearah gerombolan pohon pohon besar yang di biarkan di tepi telaga di seberang perkampungan itu.


Selagi Shin Liong asik menikmati keindahan telaga yang terkena cahaya bulan sambil bersandar di sebuah batang pohon besar, tiba tiba telinga nya mendengar suara desauan angin dari kejauhan, pertanda ada yang sedang berlari dengan ilmu lari cepat.


Karena merasa penasaran, secepat kilat Shin Liong melompat keatas dahan yang paling tinggi, Sabil mempertajam pendengaran nya.


Tidak seberapa lama, dari arah perkampungan, muncul sekelebat bayangan hitam, yang ternyata seseorang yang mengenakan jubah hitam.


Bayangan hitam tinggi besar itu berdiri di bawah pohon tempat Shin Liong bersembunyi di atas nya.


Tidak seberapa lama kemudian, dari arah mulut goa tempat jalan keluar masuk lembah, muncul dua bayangan hitam lain nya.


"Kebiasaan!, kalian selalu terlambat, Cu Eng!, Cu Bek!, bagai mana perkembangan di luar, apakah surat ku telah kalian serahkan kepada jendral Lu Fei Yang, dan apa tanggapan mereka?" tanya laki laki pertama.


Dari bentuk tubuh, suara dan pakaian nya, Shin Liong bisa memastikan, jika laki pertama itu adalah jendral Ban Hok Tong, sedangkan kedua pemuda yang baru datang itu adalah anak buah nya, atau justru kaki tangan sang jendral tua itu.


Lalu ada apa sang jendral tua itu mengadakan pertemuan rahasia di tempat tersembunyi ini?.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2