
Pagi belum lewat, baru naik sepenggalah di ufuk timur.
Disebuah kota kecil, dikatakan kota kecil, memang untuk sebuah kota, ini terlalu kecil, tetapi kalau dikatakan desa juga terlalu besar untuk sebuah desa.
Kota kecil ini bernama kota Si Ma yang bermakna bangkai kuda, ataupun kuda mati, karena konon di kota kecil itu pernah terjadi sebuah wabah yang menyebabkan kuda di tempat itu mati semua, dan semenjak itulah, kota kecil itu berubah menjadi kota Si Ma.
Kota Si Ma di kelilingi oleh pagar terbuat dari pohon besar yang ditancapkan berbaris mengelilingi kota kecil itu, serta akses keluar masuk kota kecil itu cuma lewat satu gerbang saja, sehingga siapa pun yang keluar dan masuk kota kecil itu, mudah untuk di pantau.
Pagi itu masyarakat kota Si Ma beraktivitas seperti biasa nya, tidak ada yang berubah, cuma di gerbang kota yang cuma satu satu nya itu, terlihat kesibukan beberapa ratus prajurit kota, siaga dengan senjata siap tempur di tangan mereka masing masing.
Kota Si Ma, meskipun kota kecil, tetapi penduduk nya cukup banyak dan cukup padat, maklum di dalam kota yang sekecil itu, dijejali oleh penduduk yang banyak, tentu saja terasa sangat padat sekali.
Di alun alun kota Si Ma, kesibukan penduduk seperti biasa nya, ada yang berjualan, ada yang berlalu lalang ketempat mereka bekerja, ada pula yang bersantai di taman kota di sekeliling alun alun.
"Jdeerr!!"...
Pagi hari yang begitu cerah itu, tiba tiba di kejutkan oleh sebuah petir yang menyambar di langit diatas alun alun kota Si Ma.
Di atas alun alun kota Si Ma itu terlihat langit seperti berlobang besar.
Sebuah lobang berwarna hitam terbuka di atas kota Si Ma.
Dari dalam lobang hitam yang ada di atas kota Si Ma itu, keluar cahaya putih terang benderang, bergulung gulung memancar ke tengah alun alun kota Si Ma itu.
Ketika cahaya putih kemilau itu pudar, di tengah alun alun terlihat tubuh seorang remaja laki laki berusia sekitar empat belas tahun, sedang tertidur, atau pingsan, belum ada yang tahu, karena semua orang masih takjub serta takut mendekati tempat itu.
Bersamaan dengan pudar nya cahaya kemilau itu, lobang hitam di langit pun menciut, lalu hilang sirna tanpa bekas lagi.
Dengan kejadian itu, maka gempar lah masyarakat kota kecil itu.
Berbagai tanggapan muncul dari berbagai kalangan masyarakat, tidak jarang pula ada yang menghubungkan dengan kesiap Siagaan pasukan prajurit kota di pintu gerbang.
Bahkan banyak yang kebetulan menyaksikan langsung kejadian itu, mengatakan bahwa itu adalah peristiwa kemunculan Dewa berwujud manusia biasa.
Beberapa orang prajurit yang kebetulan melintas di sekitar alun alun itu, segera mendekati tempat kejadian, dan bertanya sana sini kepada masyarakat yang kebetulan melihat kejadian itu.
Setelah mendapatkan keterangan cukup lengkap, para prajurit itu segera pergi ke tempat kepala pasukan kota Si Ma berada.
Kepala pasukan kota Si Ma itu bernama Guo Ci Kuang, merupakan seorang yang berkepandaian tinggi.
Sedangkan tuan ketua kota Si Ma adalah seorang yang berhati baik serta berkepandaian tinggi, bernama Cai Bo Kung, makanya seluruh masyarakat kota Si Ma, menunjuk nya sebagai tuan ketua kota.
Tuan ketua Kota itu memiliki sepasang anak kembar, yang laki laki bernama Cai Bo An, serta yang gadis bernama Cai Na Li.
Kedua orang putra dan putri tuan ketua kota itu rata rata memiliki kepandaian yang tinggi pula, karena diusia yang baru lima belas tahunan itu, kedua nya sudah mencapai tingkat alam Brahmana menengah.
__ADS_1
Komandan Guo Ci Kuang tergesa gesa ke tempat kediaman tuan ketua kota bersama para prajurit yang melaporkan kejadian barusan di alun alun kota, untuk melaporkan kejadian pagi ini.
"Ada apa komandan Guo?, Tergopoh gopoh, sepertinya ada hal penting? tanya tuan ketua Kota.
"Sangat benar tuan ketua, apakah tuan sudah mendengar kegemparan pagi ini di alun alun kota?" tanya balik komandan Guo kepada tuan ketua Kota.
"Kegemparan?, apa maksud mu komandan Guo, aku baru saja selesai mandi, dan belum mendengar kabar apapun juga!" sahut tuan ketua Kota sambil mempersilahkan komandan Guo dan beberapa prajurit kota untuk duduk.
Para pelayan keluar membawa beberapa poci teh harum yang panas beserta beberapa cangkir keramik.
"Ampun ketua, pagi ini ada kejadian aneh di tengah alun alun kota, tiba tiba langit berlobang seperti bocor, dan dari dalam lobang langit itu keluar cahaya kemilau menuju ke tengah alun alun kota, dan bersamaan dengan cahaya kemilau itu, di tengah alun alun kota ada seorang remaja belasan tahun yang entah pingsan, entah tidur, kami tidak berani mengusik nya, kalau kalau benar dia adalah Dewa yang turun dari langit untuk membantu kita tuan!" kata komandan Guo.
Sepasang remaja belasan tahun, yang mendengar laporan komandan Guo dari balik tirai ruang tengah, saling berpandangan Maya, selanjut nya melesat keluar dari pintu belakang, menuju ke arah alun alun kota Si Ma.
Tuan ketua kota merenung sesaat, dia belum bisa mengambil kesimpulan sebelum melihat remaja itu.
"Apakah bersamaan dengan suara petir yang nyaring tadi komandan Guo?" tanya tuan ketua kota.
"Sangat benar tuan ketua, sangat benar, suara petir itu tadi, menurut penduduk yang kebetulan menyaksikan peristiwa itu, berasal dari langit yang tiba tiba berlubang tuan!" sahut komandan Guo.
"Baiklah!, baiklah!, terimakasih atas laporan kalian, semoga ini pertanda baik, bukan pertanda buruk, dan semoga ini jawaban dari doa doa kita semua beberapa waktu ini, ayo kita kesana, aku mau melihat secara langsung!" kata tuan ketua kota sambil berdiri, dan melangkah keluar dari kediaman nya, yang di ikuti oleh komandan Guo,serta beberapa prajurit tadi.
Sementara itu di tengah alun alun Kota Si Ma, masyarakat semakin banyak di sekitaran taman yang mengelilingi alun alun kota itu, untuk melihat keanehan yang terjadi pagi ini.
Para penduduk itu melihat dari tempat yang lumayan jauh, karena takut terjadi sesuatu.
Melihat sepasang remaja itu, para penduduk tidak ada yang berani melarang nya, karena mereka tahu kalau sepasang muda mudi itu putra putri nya tuan ketua Kota mareka.
Tanpa rasa takut sedikitpun juga, sepasang muda mudi itu berjalan menghampiri ke arah remaja yang masih terbaring di tengah alun alun kota itu.
"Kakak Bo An, nampak nya orang itu masih hidup, lihatlah dadanya turun naik secara teratur, yang menandakan dia cuma tertidur!" kata Na Li kepada saudara kembar laki laki nya itu.
"Kau benar Na Li, manusia yang turun dari langit itu masih tertidur pulas, ayo kita bangunkan, dan kita tanyakan siapa dia!" kata Bo An kepada saudari kembar nya itu.
Kedua saudara kembar itu segera bergerak mendekati remaja yang sedang tidur pulas di tengah alun alun kota itu.
Tangan Cai Bo An terjulur kedepan, bermaksud menyentuh tubuh remaja itu, tetapi setelah tangan nya tinggal sejengkal dari tubuh remaja itu, tiba tiba seberkas cahaya putih terang keluar membungkus tubuh anak remaja itu, seakan cahaya itu melindungi tubuh nya.
Sangkin kuat nya energi cahaya putih itu, tubuh Cai Bo An sampai terpental beberapa tindak kebelakang.
Untung saja dia tidak terluka, karena cahaya putih itu cuma bersifat melindungi saja, dan tidak untuk menyerang, apalagi untuk merusak.
"Kakak!, apakah kau tidak apa apa?" tanya Cai Na Li sambil membantu saudara nya untuk bangun.
"Aku tidak apa apa adik, hal lemah semacam itu belum mampu membuat aku terluka dik!" jawab Cai Bo An tidak ingin terlihat lemah di hadapan sang adik.
__ADS_1
"Bagai mana bila kita serang dengan pukulan jarak jauh kakak?" tanya Cai Na Li memberikan usul nya.
"Boleh juga dik, bisa di coba, ayolah!" sahut Cai Bo An Sabil bersiap siap melepaskan pukulan jarak jauh nya.
Baru saja kedua nya bersiap siap melepaskan pukulan jarak jauh nya, tiba tiba terdengar suara bentakan dari arah belakang para penduduk yang berjejer menyaksikan hal aneh pagi itu.
"Tunggu!, jangan berbuat gegabah!, mundur kalian!" ...
Bersamaan dengan suara itu, dari belakang penduduk, muncul tuan ketua Kota bersama komandan Guo dan beberapa orang prajurit kota.
"A' ayah!, ayah kesini Ju juga?" tanya Cai Bo An ketakutan.
Mata tuan ketua Kota melotot menatap kearah putra putri kembar nya itu.
"Kalian memang suka bertindak gegabah dan tidak mengerti bahaya ya?, dasar anak anak bengal!" kata tuan ketua Kota gusar.
"Maap ayah, kami cuma bermaksud membangunkan dia ayah, tidak tahu nya tubuh nya di lindungi cahaya putih terang, dan kakak Bo An terpental hingga beberapa tindak ke belakang, untung tidak sampai terluka!" jawaban jujur dari gadis cantik Cai Na Li.
"Itulah kecerobohan kalian berdua, bagai mana bila pukulan jarak jauh kalian yang mental di kembalikan cahaya putih itu kepada kalian sendiri, kalian bisa terluka parah, bahkan bisa tewas oleh pukulan kalian sendiri, apakah kalian sudah memikirkan nya sebelum bertindak?" tanya tuan ketua kota dengan gusar nya.
Kedua anak kembar itu menganggukkan kepala nya, baru menyadari kesalahan mereka yang selalu menganggap segala sesuatu nya itu mudah saja, mereka lupa bahwa diatas langit, masih ada langit yang lain.
Lantas bagai mana kita membangunkan laki laki muda itu ayah?" tanya Bo An kepada ayah nya.
"Lebih baik kita tunggu saja sampai dia bangun dengan sendiri nya, kan sebentar lagi matahari akan panas, dia pasti terbangun karena panas matahari ini" kata tuan ketua kota dengan bijaksana.
Cai Bo An dan Cai Na Li tersenyum malu,karena kebodohan mereka yang serba terburu buru itu.
Akhirnya, Tuan ketua kota memutuskan untuk menunggu hingga remaja itu bangun dengan sendiri nya, barulah dia akan menanyakan siapa remaja itu.
Sementara menunggu remaja yang turun dari langit itu bangun, para prajurit kota telah bersiaga di segala penjuru, menjaga segala kemungkinan yang tidak di ingin kan.
Matahari pun mulai meninggi, dan panas nya kian menyengat.
Seperti perkataan tuan ketua Kota, remaja dari langit itupun mulai membuka mata nya.
Yang pertama dia lihat adalah cahaya matahari yang mengenai wajah nya.
Di kedip kedipkan nya matanya, untuk menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk menyilaukan mata itu.
Setelah pandangan nya normal, barulah dia melihat ke sekeliling nya.
Betapa terperanjat nya dia, ketika melihat, bahwa dia berada di tengah sebuah alun alun kota, dengan para prajurit telah bersiaga di sekeliling nya dengan panah dan tombak.
Dan di kejauhan, terlihat orang orang berjubel di bawah bawah pohon menatap ke arah diri nya.
__ADS_1
...****************...