
Kesepuluh orang laki laki kasar yang duduk di bawah pohon dekat dengan Dewi Teratai putih dan Shin Liong itu asik berbincang bincang dengan teman teman nya, sambil meminum arak, serta sesekali menatap kearah Dewi Teratai putih .
Dewi Teratai putih tahu kalau dirinya di perhatikan, tetapi karena tidak ingin mengganggu tidur Shin Liong yang pulas, maka dia memilih untuk pura pura tidak mengetahui hal itu.
"Nona Dewi, kau sangat cantik, kalau kau mau bekerja di kota ini, aku yakin dalam waktu sebentar saja, kau bakalan terkenal dan banyak uang!" kata Wen Niu kembali bicara, sambil mengeluar kan manisan dan menawarkan nya kepada Dewi Teratai putih, tetapi dengan halus, Dewi Teratai putih menolak pemberian gadis itu.
"Ayolah, ambilah satu, ini sangat enak!" kata gadis bernama Wen Niu itu lagi.
"Tidak!, tidak!, saya tidak suka yang manis manis, maapkan saya ya!" sahut nya.
Gadis itu kembali mengeluarkan sepotong kue dan menawarkan nya kepada Dewi Teratai putih .
Tetapi Dewi Teratai putih kembali menolak tawaran gadis itu dengan halus, meskipun gadis itu memaksa Dewi Teratai putih hingga beberapa kali.
"Apakah nona tidak tertarik bekerja dikota ini dengan gajih sangat tinggi dan pekerjaan nya mudah?" tanya Wen Niu lagi.
"Tidak!, tidak!, nona Wen, maapkan saya, saya cuma lewat di kota ini, dan tidak ada niatan untuk bekerja, maapkan saya!" kata Dewi Teratai putih sambil tersenyum ramah.
"Nona Dewi!, cobalah kau pikirkan sekali lagi, ini kesempatan langka, bekerja di kota ini dengan gajih tinggi dan pekerjaan sangat mudah, jarang ada lho!" kata gadis bernama cai Min ikut bicara.
Sebenar nya Dewi Teratai putih sudah mulai geram dengan kedua gadis cantik itu, tetapi karena tidak ingin mengganggu tidur nya Shin Liong, di pendam nya rasa muak nya kepada kedua gadis itu.
Namun kedua gadis itu tetap saja membujuk Dewi Teratai putih untuk bekerja di kota itu, entah bekerja apa yang di maksud nya.
Karena Dewi Teratai putih tetap bersikeras menolak tawaran kedua gadis itu, sehingga nampak nya kesabaran kedua gadis itu sudah sampai pada batas ujung nya.
Sambil berdiri,gadis cantik bernama Wen Niu itu berkata, "baiklah nona Dewi, kami sudah cukup menawari diri mu dengan ramah tamah, namun rupanya kau tidak juga menghargai niat baik kami, baiklah!, baiklah!, bila kau ingin kekerasan, akan kami berikan sekarang, pengawal!!, cepat ringkus gadis cantik itu, dia aset yang sangat berharga,dan bunuh laki laki muda itu!!" perintah Wen Niu dengan lantang.
Spontan kesepuluh orang laki laki kasar tadi, segera mengepung Dewi Teratai putih dan Shin Liong dari segala arah.
"Rupanya kalian sindikat perdagangan manusia ya, aku peringatkan kepada kalian semua, termasuk kalian berdua nona nona, bila sampai suami ku terbangun karena ulah kalian, maka jangan salah kan aku bila aku bertindak kejam dan kalian tidak lagi bisa pulang dengan utuh hari ini, karena aku sudah terbiasa tidak memberikan ampunan kepada semua musuh musuh ku!" ucap Dewi Teratai putih datar tanpa penekanan.
Sepuluh orang laki laki kasar beserta kedua orang gadis cantik itu tertawa terbahak bahak dengan suara nyaring, karena merasa mereka menang jumlah, apalagi Dewi Teratai putih dan Shin Liong cuma berada di tingkat alam Taruna menengah saja, sedangkan kesepuluh orang laki laki itu sudah berada di tingkat alam Raja menengah.
"Kau terlalu mengada ada nona cantik, tetapi tidak apa apa, karena kami cuma akan melumpuhkan diri mu,tanpa menyakiti mu,hanya laki laki kecil itu saja yang akan kami bantai sebagai tempat pelampiasan kemarahan kami!" kata pimpinan dari kesepuluh orang pengawal itu.
Karena keributan itu, akhir nya Shin Liong pun terbangun,dan segera duduk sambil mengucek mata nya.
Dewi Teratai putih berdiri sambil menuding kearah sepuluh orang laki laki kasar itu, "bukankah tadi sudah ku katakan, bila sampai suami ku terbangun dari tidur nya gara gara kalian, maka sudah terlambat bagi kalian untuk lari, Karena aku tidak pernah bertindak setengah setengah!" kata Dewi Teratai putih dengan amarah yang memuncak.
Tetapi kesepuluh orang laki laki kasar itu, beserta kedua orang gadis cantik tadi, bukan nya takut, malah semakin nyaring tertawa.
"Lantas sekarang kau mau apa nona?, bersenang senang dengan kami?" tanya sang pimpinan pengawal itu.
"Ya, siapa yang ingin lebih dahulu bersenang senang dengan ku?" tanya Dewi Teratai putih.
Sang pimpinan pengawal itu maju kedepan, "tentu saja aku nona, marilah kita bersenang senang sebentar, aku mau tahu bagai mana rasa nya memeluk dan mencium tubuh mu yang cantik jelita itu nona"...
Laki laki pemimpin dari para pengawal itu maju mendekat kearah Dewi Teratai putih sambil tangan di rentangkan siap untuk memeluk.
Namun sekejap kemudian, langkah kaki nya terhenti, dan mata nya mendelik sesaat, sebelum kemudian dari lehernya menyembur darah segar dari luka yang hampir menghabisi separuh batang leher nya.
__ADS_1
Dewi Teratai putih masih berdiri di tempat nya, tetapi kali ini di tangan nya tergenggam pedang berwarna hijau dengan darah yang masih menetes di sisi nya.
Setelah terhuyung huyung beberapa saat, akhirnya laki laki kasar pertama pun tumbang dengan mata mendelik serta suara mendengkur nyaring seperti dengkuran kerbau yang di sembelih.
"Siapa lagi yang ingin bermain main dengan ku, dan merasakan hangat nya pelukan ku, maka maju lah!" tantang Dewi Teratai putih lagi.
"Dasar jal*Ng jad*h!, kau terlalu sombong, ayo teman teman kita maju bersama,persetan dengan bos, utang nyawa harus kita tagih!" ucap salah satu dari sembilan orang pengawal yang tersisa.
Akhirnya dengan menenteng pedang di tangan, sembilan orang yang tersisa itu pun maju bersama mengeroyok Dewi Teratai putih.
Sementara itu, ketika melihat Dewi Teratai putih sedang bertarung dengan sembilan orang pengawal, dua orang gadis cantik itu berbisik, "kulihat wanita cantik itu sangat mencintai suami nya, bagai mana bila suaminya kita sandra agar ia mau menuruti perintah kita, kalau suami nya dalam bahaya, dia pasti akan menuruti kehendak kita"kata Cai Min berbisik di telinga Wen Niu.
"Aku setuju Cai Min, lagi pula laki laki kecil itu terlihat agak lemah" sahut Wen Niu.
Akhirnya mereka berdua secara mengendap endap, berjalan mendekati Shin Liong yang masih duduk sambil menatap ke arah pertarungan Dewi Teratai putih dengan sembilan orang laki laki kasar itu.
Kedua orang wanita cantik itu ternyata bukan gadis biasa, karena mereka bekas murid satu perguruan ilmu bela diri yang sudah keluar dari perguruan, dan tingkat kultivasi mereka juga tidak berada di bawah kepala pengawal,yang tewas pertama tadi, yaitu berada di tingkat alam Raja akhir.
Kedua orang gadis itu ingin menyergap Shin Liong dari sisi kanan dan kiri nya, dari belakang pohon.
Ketika tubuh Shin Liong yang masih duduk tanpa menyadari datang nya bahaya itu tinggal selangkah lagi, dengan sekali lompatan, kedua gadis cantik itu segera menyergap Shin Liong.
"Hiyaat hap!".
Gadis bernama Wen Niu dan Cai Min itu segera memegang tubuh Shin Liong dengan sangat kuat.
"Aduuh!".
"Kurang ajar, dia mempermainkan kita, ayo Cai Min, kita serang sama sama!" kata Wen Niu mengajak teman nya untuk meringkus Shin Liong kembali.
Tatapi kejadian seperti tadi terulang kembali, kedua orang gadis cantik itu cuma menyergap tempat kosong, sedang kan Shin Liong sudah tidak berada di tempat itu lagi.
Sementara itu, pertarungan antara Dewi Teratai putih melawan sembilan orang pengawal, juga berlangsung cukup seru.
Ke sembilan laki laki kasar dengan kepandaian setara itu bergerak dengan sangat cepat, mengurung Dewi Teratai putih dari segala penjuru.
Namun Dewi Teratai putih yang di serang, bergerak santai dan terlihat sekena nya saja,tanpa terlalu menguras tenaga nya, mata nya sesekali melihat pertarungan antara dua orang gadis cantik itu dengan Shin Liong.
Akhirnya kesembilan orang laki laki kasar itu mengeluarkan masing masing satu tali dengan ujung nya di beri basi berkait seperti kail.
Kesembilan orang laki laki itu saling melemparkan tali masing masing secara teratur, sehingga tali membentuk sebuah ayaman rumit mengelilingi tubuh Dewi Teratai putih.
Ketika sudah membentuk anyaman rumit sedemikian rupa, tiba tiba lingkaran tengah yang mengelilingi tubuh Dewi Teratai putih secara cepat menyempit ingin mengikat tubuh nya.
Namun saat tali itu sudah mengecil, ternyata Dewi Teratai putih sudah tidak berada di situ, tetapi berdiri diatas tali itu seperti seorang penari cantik.
Dengan gerakan luar biasa cepat nya, Dewi Teratai putih bergerak seperti ratu laba laba diatas jaring nya.
"Tras!".
"Tras!".
__ADS_1
"Tras!".
Tiga kali loncatan dari tarian maut sang Dewi Teratai putih, membuat tubuh tiga orang laki laki kasar itu kejang berdiri, tidak lagi bergerak.
Dari leher mareka masing masing, muncrat darah segar seperti air mancur mini, di sertai dengan suara dengkuran sangat nyaring seperti suara kerbau yang di sembelih.
Tiga orang itupun akhirnya tumbang ketanah sambil berkelojotan.
Kini jeratan tali menjadi tidak seimbang lagi, karena kehilangan tiga personil nya,sedangkan tali mereka masih bersimpul menjadi satu.
Sebelum ke enam orang itu menyadari apa yang harus nya mereka lakukan.
"Tras!".
"Tras!".
"Tras!".
Tiba tiba tiga orang kembali berdiri kaku tidak bergerak lagi.
Mata ketiga orang itu mendelik seakan tidak percaya dengan apa yang mereka alami.
Namun terlambat sudah menyadari nya, dari leher ketiga orang itu menyembur darah segar membasahi tanah ber rumput itu.
Ketiga orang itu akhirnya tumbang ketanah dengan suara Gerungan nyaring, berkelojotan sesaat, lalu diam untuk selama lama nya.
Melihat ketiga orang teman mereka kembali tewas dia dia, tiga orang yang tersisa ber inisiatif untuk lari menyelamatkan diri.
Namun baru beberapa langkah mereka mencoba berlari, kembali Dewi Teratai putih berkelebat dengan kecepatan yang tidak bisa di ikuti oleh mata, tiba tiba saja sudah berada di depan mereka kembali.
"Bukankah kalian ingin bersenang senang dengan ku, ayolah, jangan lari, kita masih bersenang senang disini!" kata Dewi Teratai putih dengan wajah sedingin Dewa kematian.
"Ti tidak nona, ampuni kami nona, kami tidak sungguh sungguh, ampuni kami nona!" kata salah seorang dari ketiga orang itu.
"Sudah terlambat!, majikan lembah teratai tidak pernah mengampuni mesin musuh nya!" kata Dewi Teratai putih lantang.
Bukan main gemetar nya ketiga orang laki laki itu setelah mendengar kata majikan lembah teratai.
"Ma, ma, ma jikan lembah te Te rantai?"...
Keterkejutan mereka sudah terlambat.
"Tras!".
"Tras!".
"Tras!".
Mata ketiga laki laki kasar terakhir cuma bisa mendelik saja, tanpa bisa berbuat apa pun lagi.
Kejahatan yang salah sasaran.
__ADS_1
...****************...