
Benteng besar terbuat dari kayu gelondongan besar yang di tancapkan di tanah serta tinggi menjulang ke atas itu terlihat sangat angker.
Sesekali para prajurit Orgo terlihat hilir mudik, berpatroli.
Di tengah tengah benteng itu ada sebuah bangunan utama, tempat jendral Lu Fei Yang tinggal sekaligus tempat perkantoran nya.
"Bruang!"...
"Bruang!"...
Terdengar dari tempat kediaman sang jendral, seperti suara barang barang yang di hancurkan.
"Grrr, jendral Bian Hok Tong b*ngs*t!, kurang ajar, dia sudah berani mempermainkan aku, bahkan menjebak ku!,
akan ku ***** tubuh nya nanti, kujadikan santapan siang ku, seluruh prajurit ku musnah semua nya, karena ulah nya, awas kau jendral Bian Hok Tong, aku tidak lagi memaafkan kami!" teriak jendral Lu Fei Yang sambil membanting sebuah guci besar ke lantai hingga pecah berantakan.
Tidak ada satupun para prajurit yang berani mendekati nya, semua menghindar, karena takut menjadi sasaran kemarahan sang jendral itu.
Di belakang kediaman sang jendral, ada beberapa barak prajurit di bagian kiri dan kanan saling berhadapan.
Di bagian paling belakang benteng, ada lagi sebuah barak panjang yang di jaga dengan sangat ketat, serta terbagi dua bagian.
Bagian kiri tempat tawanan wanita, sedangkan yang sebelah kanan adalah tempat tawanan laki laki.
Dari kedua bagian barak itu terdengar suara rintihan maupun suara tangisan laki laki dan perempuan.
Di bagian paling belakang benteng, ada sebuah lapangan kecil, dimana di tempat itu terdapat onggokan tulang belulang manusia.
Tiba tiba di sebelah kanan bagian muka benteng terjadi kebakaran hebat.
Api sebentar saja membakar kayu gelondongan yang di tancapkan di tanah.
Ketika para prajurit Orgo itu sibuk memadamkan api di bagian kanan, tiba tiba di bagian kiri juga terbakar hebat.
Prajurit Orgo yang kini cuma tersisa duaratus orang itu berusaha memadamkan api di sisi kanan dan kiri benteng itu.
Belum juga api di kedua sisi itu padam, tiba tiba tempat kediaman jendral juga terjadi kebakaran hebat.
Belum lagi habis kegemparan di tiga tempat itu, tiba tiba sepuluh orang prajurit Orgo yang sedang berusaha memadamkan api di sisi kanan bertumbangan tertembus anak panah.
Beberapa orang prajurit Orgo segera bersiaga ke sisi kanan, tetapi terdengar jeritan dari sebelah kiri.
Kini sepuluh orang prajurit Orgo di sisi kiri juga tumbang tertembus anak panah.
Baru saja para prajurit Orgo itu bersiaga di sisi kiri, kini di bagian tengah pula yang terdengar jeritan dan pekik kesakitan, ketika sepuluh prajurit Orgo itu bertumbangan ketanah dengan kondisi yang sama.
Sebentar saja, dua ratus orang prajurit Orgo itu telah habis semua nya, tinggal sang jendral yang kini sendirian.
"Hrrrrrr!, kurang ajar!, siapa kalian yang telah membokong semua prajurit ku, keluarlah pengecut!" teriak sang jendral Lu Fei Yang sangat murka.
"Ha ha ha ha, jendral tidak berguna!, kau pikir aku takut kepada mu, kalian telah banyak berbuat Angkara murka di muka Bumi, mahluk iblis memang tidak pernah bisa berbuat kebaikan!" kata Shin Liong yang secara tiba tiba sudah berada di belakang sang jendral.
"Ha ha ha ha!, kau tahu jika manusia itu cuma mahluk lemah yang bodoh dan hina?,di ciptakan untuk menjadi budak dan makanan kami, sebentar lagi kau juga akan ku makan!" kata sang jendral dengan rasa yakin.
"Ya kah?, bagai mana jika kedua kaki mu ku minta terlebih dahulu?" kata Shin Liong dengan rasa murka luar biasa.
"Kau pikir kau mampu wahai budak hina?" tanya sang jendral.
"Ya kah?, kalau begitu, baiklah, ku minta kedua kaki mu!" kata Shin Liong sambil bergerak lebih cepat dari Sambaran kilat.
__ADS_1
"Tras!"...
"Tras!"...
Terdengar suara raungan dari sang jendral ketika tahu tahu kedua kaki nya telah buntung di atas paha.
"Karena dosa mu telah teramat besar, maka mati pun kau tidak berhak, kau harus merasakan bagai mana hidup tanpa kaki dan tangan!" kata Shin Liong sambil bergerak kembali lebih cepat dari Sambaran kilat.
"Tras!"...
"Tras!"...
Dan kedua tangan sang jendral Orgo itu pun jatuh ketanah setelapak tangan di atas siku nya.
Tanpa memperdulikan suara jerit dan tangisan dari sang jendral Orgo itu, Shin Liong bergerak cepat, menotok sana sini, hingga darah pun berhenti mengucur dari ke empat luka sang jendral itu.
Setelah selesai mengeksekusi sang jendral, Shin Liong melangkah ke belakang, kearah barak para tahanan.
Di sana ada dua ratus laki laki tua muda dan dua ratus wanita tua muda, yang di ambil dari berbagai desa terdekat.
Sekali renggut, pintu itupun jebol, dan para tawanan berebutan keluar dari ruangan pengap bercampur dengan kotoran manusia itu.
"Sebelum mengikuti aku, bersihkan tubuh kalian semua, aku tidak kuat bau nya!" kata Shin Liong menyuruh semua orang untuk mandi terlebih dahulu.
Setelah semua nya sudah bersih, Shin Liong langsung membuka portal dimensi ruang waktu menuju ke dalam lembah.
...----------------...
Di dalam lembah , pada waktu pagi yang sama.
Ditempat tinggal sementara mereka, nampak Dewi Nuwa dan putri Xuan Yi sedang berdiri di pintu rumah dengan pandangan gelisah.
Seorang wanita cantik keluar dari dalam rumah, menatap kedua anak menantu nya itu dengan ramah.
"Ada apa nak?, kenapa kalian nampak gelisah seperti itu?" tanya Dewi Chang 'e.
"Ini Bu, kakak belum juga kembali bersama A Yong, padahal hari sudah mulai siang, tadi pamit nya mau jalan jalan saja!" kata Dewi Nuwa gelisah.
"Sudahlah!, kalian tidak usah gelisah, suami kalian itu sudah terbiasa mengatasi masalah nya sendiri semenjak kecil!" kata Dewi Chang 'e menenangkan hati kedua anak menantu nya itu.
"Kak!, bukan kah itu A Yong yang berlari kearah sini, lalu mana kakak?" tanya putri Xuan Yi sambil menunjuk kearah kejauhan.
Dari kejauhan, nampak A Yong berlari ke arah mereka.
"Ayah mu mana nak?" tanya Dewi Chang 'e kepada cucu nya itu.
A Yong segera menceritakan apa yang dia lihat tadi, serta segala pesan sang ayah.
Dewi Nuwa terdiam, bibir nya sedikit bergetar, tetapi tidak ada yang terucap dari mulut nya.
Dewi Chang 'e yang melihat hal itu, segera membelai rambut sang anak menantu nya itu.
"Percayalah kepada ibu, suami kalian tidak apa apa, dia adalah darah daging ibu, setiap tarikan nafas nya, adalah jiwa ibu, bila dia dalam bahaya, ibu lah orang yang terlebih dahulu merasakan nya, tenang lah, sebentar lagi dia juga datang!" kata Dewi Chang 'e membesarkan hati kedua anak menantu nya itu.
Kini wajah kedua wanita cantik jelita itu mulai berwarna cerah kembali.
"Maafkan kami Bu, seharusnya kami lebih mempercayai suami kami, bukan nya malah menghawatirkan nya!" kata putri Xuan Yi.
Beberapa waktu berlalu dalam hening, mereka menunggu dengan mencoba mempercayai semuanya kepada sang suami.
__ADS_1
Hingga setelah beberapa lamanya menunggu.
Tiba tiba sebuah portal dimensi ruang waktu terbuka di dekat mereka, dan empatratus orang laki laki dan perempuan keluar dari dalam portal itu.
Setelah semua nya keluar, portal itupun menciut kecil, lalu hilang sama sekali.
"Kalian semua duduklah di lapangan itu dengan tertib, sementara aku melapor kepada sang kaisar!" kata Shin Liong yang segera melangkah kearah tempat kediaman sang Kaisar.
Sedangkan A Yong menertibkan orang orang itu agar duduk dengan tenang.
Di tempat kediaman sang Kaisar, nampak Kaisar sedang berbincang dengan jendral Huang Fu Shen, jendral Bian Hok Tong, pendeta Wang Tuoli, dan pangeran Chong Fu Quon.
Ketika melihat Shin Liong datang ke tempat itu, jendral Bian Hok Tong segera menunjuk kearah nya, "nah inilah orang nya biang kerok kenapa kita diketahui oleh musuh!"...
"Ada masalah apa dengan hamba yang mulia!" tanya Shin Liong .
"Oh syukurlah kau datang, ini menurut jendral Bian Hok Tong, kemungkinan siang ini lembah kita akan diserang oleh pasukan musuh, dan semua ini ada kaitan nya dengan kalian,benar kah itu anak muda?" tanya sang Kaisar.
Shin Liong tersenyum mendengar kata kata sang kaisar itu, karena sesungguh nya dia sudah tahu semua nya, karena dialah tadi malam yang memindahkan tanda yang dibuat oleh pemuda Cu Eng dan Cu Bek, sehingga pasukan Orgo menjadi kacau balau, bahkan musnah semua nya.
"Saya tidak ingin menyangkal, apalagi meng iya kan masalah ini yang mulia, tetapi hamba punya satu persembahan untuk yang mulia, harap yang mulia tunggu sesaat!" kata Shin Liong lalu lenyap dari pandangan mereka, sesaat kemudian muncul di depan sang kaisar dengan dua orang anak muda yang telah tertotok.
Melihat kedua orang anak muda itu, pucat pasi wajah sang jendral tua itu.
"Cu Eng!, Cu Bek!, mengapa kalian bisa seperti ini?" tanya sang jendral Bian Hok Tong.
"Ampun kan kami tuan ku, setelah kita berpisah tadi malam, kami berdua tiba tiba di totok oleh pemuda itu, ternyata dia telah mendengarkan semua pembicaraan kita tuan!" kata pemuda Cu Eng.
"Kalian berdua memang tidak berguna sama sekali, rupanya kalian berdua bersekongkol dengan pemuda ini untuk menguasai lembah ini ya, dasar tidak tahu balas Budi!" bentak jendral Bian Hok Tong sambil mengeluarkan pedang nya, dan langsung menyerang kearah kedua pemuda yang sedang tertotok itu.
"Sret!"...
"Klontang!"...
Saat pedang sang jendral terayun kearah leher kedua orang pemuda bersaudara itu, kedua saudara itu sebenar nya sudah pasrah.
Tetapi hingga beberapa saat, bukan kepala mereka yang jatuh, tetapi ada bunyi sesuatu yang lain yang terjatuh.
Saat kedua orang pemuda itu membuka mata nya, terlihatlah yang terjatuh tadi adalah tangan kanan sang jendral yang masih menggenggam erat sebuah pedang.
"Yang mulia!, yang mulia boleh bertanya kepada kedua orang pemuda ini tentang penyerangan yang seharusnya terjadi pagi ini, untung saja hamba bisa mengatasi nya!" kata Shin Liong.
Tanpa menghiraukan keadaan sang jendral Bian Hok Tong yang tersandar Kedinding sambil menotok jalan darah di tangan nya, sang Kaisar menatap kearah kedua pemuda itu dengan tatapan yang sangat tajam.
"Apa yang kalian ketahui tentang penyerangan hari ini, cepat katakan dengan sejujur nya!" bentak sang Kaisar.
Kedua saudara yang masih tertotok itu menangis tersedu sedu.
"Ampun kan kami yang mulia, semua ini rencana sang jendral tuan, jendral menyuruh kami menemui jendral Lu Fei Yang di benteng timur, tidak jauh dari rawa kita ini untuk menyerahkan surat dari beliau mengenai rencana penyerangan itu, jendral bersedia menunjukan jalan serta membukakan pintu gerbang goa, tetapi dengan syarat, seluruh lembah ini di berikan kepada beliau, dan jendral Orgo itu menyetujui nya, kami di suruh menunjukan jalan dengan meletakan sobekan kain di sepanjang rawa, dan kami sudah melakukan nya, tetapi entah bagai mana, hingga siang ini, pasukan itu tidak juga tiba!" kata pemuda Cu Eng mengaku.
Merah padam muka sang Kaisar menatap kearah jendral Bian Hok Tong.
Mereka semua tahu, jika kedua pemuda bersaudara itu kaki tangan setia sang jendral.
...****************...
Mohon maaf, untuk sementara, cuma bisa up date satu episode saja, itupun hasil kerja keras dengan penglihatan yang cuma satu mata saja.
Semoga author bisa cepat sembuh, biar bisa up date dua episode setiap hari nya.
__ADS_1
terimakasih atas dukungan dan doa doa kalian semua.