
Meskipun sudah sekian lama nya pertapa wanita yang tetap cantik ini mengubur dalam dalam kisah masa lalu nya , kini setelah berhadapan dengan laki laki yang pernah mengisi hati nya , dan tetap tak tergantikan selama lama nya itu , akhirnya benteng pertahanan yang selama ratusan tahun bahkan mungkin seribu tahun dia kubur dalam dalam itu akhirnya jebol juga .
Sesak di dada nya meledak menjadi sebuah tangisan pilu yang menyayat hati .
Dia tahu , karena sikap bodoh nya lah hingga laki laki terbaik yang pernah dia kenal itu patah hati seumur hidup nya , hingga memutuskan mengubur nama nya dan ingin menjelma menjadi pribadi yang lain .
Seperti hal nya diri nya , dia mencoba melupakan masa lalu nya dengan mengubur dalam dalam nama asli nya , dan mengganti nya dengan julukan yang baru , tetapi meski bagai mana pun , luka dan lara itu tetap berada di hati yang sama , seperti kata pepatah , sejauh kaki mu berlari , rasa lara tetap terasa jua .
"Maafkan kebodohan ku Gwan ko , aku terlalu terbuai rasa ketimbang asa , terbawa hati ketimbang bukti , takdir telah mempermain kita Gwan ko !" kata Sin Ni Seng Sian disela sela Isak tangis nya .
"Eng moi !, bagai mana pun tindakan mu kepada ku , meskipun sepahit apapun racun yang kau beri , aku tidak akan pernah bisa membenci mu Eng moi !, itu semua karena aku sangat menyayangi mu semenjak dahulu hingga kapan pun juga !" kata kata Bu Beng Koan Jin bergetar , dan dari sudut mata nya mengalir dua bulir air bening .
Perlahan lahan , kisah masa silam mereka , terbayang kembali , berputar di ruang ingatan .
Seribu tahun yang lalu , di belahan Utara Benua ini , tepat nya di sebuah lembah yang bernama Ciok Pek Kok atau lembah Batu putih , hiduplah seorang pertapa sakti yang sudah tua , bersama ketiga orang murid nya .
Pertapa tua ini dikenal orang dengan julukan Koay Lo Jin ( orang tua aneh) yang hidup bersama dengan ketiga orang murid nya .
Murid tertua nya bernama Gak Bong Gwan , seorang pemuda tampan yang sangat berbakat serta baik hati .
Sementara itu , murid kedua nya , bernama Bi Kwan Eng , seorang dara cantik rupawan dan berbakat besar , tetapi agak pencemburu .
Sedangkan murid termuda nya bernama Pau Lian Zu , dara cantik rupawan yang lincah , centil dan manja .
Sudah semenjak lama , antara Gak Bong Gwan dan Bi Kwan Eng terjalin hubungan kasih sayang yang terjalin .
Hingga pada suatu waktu , karena merasa kepandaian mereka sudah cukup mapan , tinggal masalah berkultivasi menaikan peringkat mereka saja lagi , maka sang guru , Koay Lo Jin menyuruh mereka keluar untuk mengamalkan ilmu yang mereka dapat selama ini , sambil berkultivasi menaikan peringkat mereka .
Semenjak itulah , ketiga muda mudi ini , malang melintang di dunia luas ini , mengamalkan ilmu yang mereka punya untuk membela kebenaran .
Kemana saja mereka pergi , hampir bisa di pastikan jika mereka selalu bersama sama .
Setelah beberapa tahun mengembara bersama sama , akhirnya pada suatu hari , Gak Bong Gwan dan Bi Kwan Eng menemui guru mereka Koay Lo Jin untuk memohon ijin serta meminta restu dari beliau untuk mengikat tali pertunangan .
Koay Lo Jin tentu saja dengan rasa gembira menyambut niat baik kedua orang murid nya itu .
Setelah mendapat kan restu dari sang guru , dengan rencana beberapa purnama lagi , mereka akan melangsungkan pernikahan nya .
Maklumlah pada waktu itu negeri Liu mulai dilanda prahara , beberapa laki laki sakti dengan tingkatan kultivasi tinggi , merencanakan pemberontakan kepada sang Kaisar , maka pernikahan itu terpaksa ditunda .
Hingga pada suatu waktu , saat mereka di dalam perjalanan pengembaraan mereka , mereka bermalam di sebuah hutan yang bernama Ang Coa Shan atau hutan ular merah .
Saat malam telah larut , dan kedua dara cantik itu sudah pada tidur di tempat mereka masing masing yang agak berjauhan , saat itu Gak Bong Gwan sedang berjaga jaga di dekat api unggun .
__ADS_1
Namun tiba tiba dia mendengar suara erangan dari Pau Lian Zu seperti sedang kesakitan .
Pemuda Gak Bong Gwan segera memeriksa ketempat dara itu berbaring .
Ternyata di leher sang dara cantik itu , telah menggantung se ekor ular merah sebesar kelingkingan anak anak .
Ular ini bernama Ang Coa Hwee atau ular api merah yang sangat beracun .
Gak Bong Gwan segera menarik ular itu , dan buru buru menghisap bisa ular lewat luka bekas gigitan nya tadi .
Baru saja Gak Bong Gwan selesai menyelamatkan nyawa Pau Lian Zu dengan isapan terakhir nya , tiba tiba ;
"Bug !"...
"Gedubrak !"...
Sebuah tendangan yang membuat dua tulang rusuk nya patah , dan pemuda itupun terpelanting sejauh beberapa depa .
Gak Bong Gwan bangkit perlahan , di keremangan malam , dia melihat wajah kemurkaan dari Bi Kwan Eng yang menatap diri nya dengan ber api api .
"Gak Bong Gwan !, tidak kusangka ternyata moral mu sangat bejat sekali , tega kau melakukan itu dengan Cece Lian Zu di depan ku , sungguh hina sekali tabiat kalian berdua , bila ada binatang yang paling hina di dunia ini , itu masih jauh lebih mulia dari pada kalian berdua , aku bersumpah , mulai sekarang tidak ada lagi hubungan apapun antara kita berdua , dan aku tidak pernah mengenal kalian berdua , baik dulu , sekarang maupun nanti !" kata Bi Kwan Eng berapi api , dengan mata yang basah oleh air mata nya .
"Eng moi dengarkan aku dulu , ini cuma kesalah pahaman saja !" kata Gak Bong Gwan mencoba menjelaskan , namun belum lagi kata kata nya tuntas , dara cantik itu segera memotong omongan nya .
Hati nya benar benar terluka , apa lagi dia mendengar rintihan dari mulut Pau Lian Zu , membuat hati nya tambah meradang , mengingat akan hal itu .
"Cici Eng , dengarlah kami dulu , kau cuma salah paham saja !" kata Pau Lian Zu berusaha menjelaskan .
Meskipun badan nya masih sangat lemas sehabis terkena bisa ular Ang Coa Hwee , tetap saja dia paksa untuk berdiri , meskipun dengan terhuyung huyung .
"Plak !"...
"Plak !"...
Dua kali hantaman telapak tangan Bi Kwan Eng mampir di pipi putih milik Pau Lian Zu , membuat pipi dara cantik itu menjadi tembem seketika .
"Kau juga perempuan ja*Ang , kau selama ini kuanggap sebagai adik kandung ku sendiri , tidak kusangka , kau tega merebut kekasih ku !" teriak Bi Kwan Eng marah besar , lalu mengeluarkan pedang nya dan menusukan kepada dara cantik di depan nya itu .
"Crok !"...
Bukan nya tubuh Pau Lian Zu yang tertembus pedang itu , tetapi tubuh Gak Bong Gwan , pada saat yang sama , segera mendorong Pau Lian Zu hingga jatuh , tetapi akibat nya , dada nya lah yang tertusuk pedang dari Bi Kwan Eng .
Melihat pembelaan Gak Bong Gwan kepada Pau Lian Zu dengan mengorbankan diri nya itu , dugaan dan kecemburuan dari BI Kwan Eng semakin menjadi jadi .
__ADS_1
"Dengarlah oleh kalian berdua , demi langit dan bumi , aku selama nya , tidak lagi mengenal kalian berdua !" teriak Bi Kwan Eng sambil menyimpan pedang nya , selanjut nya , dara cantik itu berkelebat memasuki kegelapan hutan , pergi entah kemana , hilang di rimba Ang Coa Shan , dengan segenap duka lara hati nya .
"Gwan ko , maafkan aku , gara gara aku , kau dan Cici mendapat masalah besar !" kata Pau Lian Zu dengan lemah , maklum dia masih terpengaruh racun ular Ang Coa Hwee , meskipun nyawa nya sudah terselamatkan .
"Lian moi , tidak apa apa , kau adik ku , meskipun terulang sepuluh kali , hal itu tetap akan aku lakukan , karena kewajiban ku untuk menyelamatkan adik ku , besok hari kita cari dia , semoga pikiran nya sudah jernih !" jawab Gak Bong Gwan sambil membersihkan luka nya , lalu menaburkan dengan bubuk obat .
Ke esokan hari nya , mereka berdua kembali mencari keberadaan BI Kwan Eng , meskipun dengan tubuh yang dipaksakan .
Tetapi hingga hari menjadi petang , keberadaan dari BI Kwan Eng tidak lagi mereka temukan .
Gak Bong Gwan menyuruh adik seperguruan nya itu untuk kembali ke Ciok Pek Kok , untuk mengabari guru mereka .
Namun dalam perjalanan nya , Pau Lian Zu justru bertemu dengan seorang pertapa wanita To yang sakti , yang bernama Bo Thian suthi , dan mengangkat diri nya menjadi murid .
Semenjak itulah Pau Lian Zu menghilang dari dunia ramai , di gantikan dengan seorang pertapa wanita yang cantik bernama San Kau Suthi atau Dewi pertapa To yang sakti .
Adapun Bi Kwan Eng , setelah peristiwa itu , bertemu dengan Biksu Guan Ing yang merupakan sahabat karib dari Gak Bong Gwan , dan dari Biksu itulah dia tahu duduk permasalahan yang sesungguh nya terjadi .
Dengan berjuta penyesalan , Bi Kwan Eng berusaha mencari keberadaan Gak Bong Gwan diseluruh Benua itu , tetapi Gak Bong Gwan seperti hilang ditelan Bumi .
Akhirnya karena sudah berpuluh puluh tahun mencari namun tidak menemukan nya , akhirnya di kaki gunung Ang Coa Shan , gunung yang sama nama nya dengan hutan nya itu , dia menetap , merenung dan menyesali kebodohan nya yang tidak mau memberikan waktu untuk Gak Bong Gwan menceritakan kejadian sesungguh nya .
Setelah beberapa lama menetap di kaki gunung Ang Coa Shan , akhirnya Bi Kwan Eng mengubur nama nya dalam dalam , dan mengganti dengan julukan yang sering di berikan orang untuk nya , yaitu Sin Ni Seng Sian atau pertapa sakti Dewi suci .
Sebenar nya Gak Bong Gwan tidak hilang , dengan membawa lara di hati nya , pemuda itu berjalan terus keutara , hingga sampai di sebuah laut , kemudian dengan sebuah perahu kecil , dia menyeberang menuju sebuah pulau , namun karena terjadi badai besar , perahu nya hancur , dan dia sendiri terdampar di sebuah pulau kecil ditengah samudra luas tidak tahu lagi kemana arah untuk kembali ke daratan besar .
Akhirnya Gak Bong Gwan berdiam di pulau kecil itu sambil bertapa menyucikan hati nya yang lara .
Mulai sejak itulah Gak Bong Gwan bersumpah bahwa Gak Bong Gwan telah mati , dan yang hidup sekarang adalah Bu Beng Koan Jin atau Orang Gila tanpa nama .
...---------------...
"Omituhud , Santy Santy ,semoga kedamaian selalu melingkupi Dunia ini !" terdengar suara Biksu leluhur memecah kesunyian pagi itu .
"Sian cai , Sian cai !, damai di Bumi , damai dilangit !" Tosu Twa Kung juga menimpali kebisuan pagi itu dengan salam khas Tosu .
Sesaat setelah terbuai dalam kebisuan pagi itu , se akan terlarut dalam kisah asmara mengharu biru dari kedua manusia itu , kini mereka semua tersentak dengan suara salam dari Biksu leluhur dan Tosu Twa Kung .
Kedua wanita paro baya bernama Tan Xio Er dan Tan Xio Hua itu merangkul sang ibu angkat sekaligus guru mereka yang sedang terisak Isak menangis itu .
"Guru , sudah lah guru , Jangan menangis lagi , hati kami turut sedih guru , siapakah pemuda itu guru ?" tanya Xio Er .
Wanita berwajah cantik itu termenung sejenak , mendengar pertanyaan dari putri angkat nya itu .
__ADS_1
...****************...