
Karena tidak ada waktu bagi pasukan pemanah negeri Sian Than untuk membalas serangan , akhirnya korban jiwa pun mulai berjatuhan di pihak Prajurit pemanah milik mereka .
Sebentar saja ratusan prajurit pemanah di pihak negeri Sian Than pun berguguran , tewas tertembus anak panah .
Perang di hari yang kedua ini disudahi dengan lebih dari dua ratus Prajurit pemanah dari pihak negeri Sian Than yang tewas , sementara itu di pihak negeri Hong Than ada sembilan orang yang tewas terkena Sambaran anak panah .
Mendapati telah dua kali pasukan nya dikalahkan oleh pasukan negeri Hong Than , Kaisar Kai Ong menjadi murka bukan main .
Menjelang peperangan di hari yang ketiga ini , strategi dari Jendral Qiu Pang Kian masih tetap seperti kemarin , sedangkan di pihak kaisar Kai Ong , strategi mereka juga tampak seperti kemarin , tetapi ada beberapa hal yang berubah , diantara nya , adalah adanya beberapa katapel pelontar batu milik jendral Cia Keng Hong di belakang para Prajurit pemanah mereka itu .
Setelah peperangan di nyatakan resmi dimulai , para pasukan pemanah segera berhadapan dan saling membalas serangan .
Dengan ada nya pasukan tameng yang melindungi pasukan pemanah , membuat pasukan pemanah dari pihak kaisar Kai Ong seperti mati kutu menghadapi mereka .
Tetapi hal itu tidak berlangsung lama , di saat pasukan pemanah dari negeri Sian Than itu terdesak hebat , tiba tiba dari belakang pasukan pemanah itu melesat puluhan batu batu besar sebesar tubuh kambing bunting , menimpa pasukan tameng yang sedang melindungi pasukan pemanah itu .
Sebentar saja , ratusan prajurit tameng , maupun Prajurit pemanah , bertumbangan terkena timpa batu batu besar dari pihak lawan .
Keadaan pun kini menjadi kacau balau tidak terkendali lagi .
Ratusan Prajurit yang panik berlarian tidak tentu arah nya , saling menyelamatkan diri mereka sendiri .
Disaat keadaan genting itu , tiba tiba seribu orang Prajurit berkuda milik Kaisar Kai Ong menyerbu ketengah tengah pertempuran yang sedang berkecamuk itu .
Jendral Qiu Pang Kian segera memimpin seribu Prajurit berkuda nya , untuk melakukan perlawanan kembali .
Hingga saat sore hari nya , saat terompet di tiup tanda perang untuk hari itu di hentikan , di pihak negeri Hong Than , ada tiga ratus orang Prajurit yang tewas dan seratus lebih prajurit yang terluka .
Sementara di pihak negeri Sian Than , cuma ada seratus lima puluh orang Prajurit mereka yang tewas , dengan beberapa puluh yang terluka .
Dihari yang ketiga ini , kemenangan telak berada di pihak negeri Sian Than .
Bukan main gembira nya kaisar Kai Ong , mendapatkan kemenangan telak dihari ketiga itu .
Untuk merayakan kemenangan nya , sang Kaisar Kai Ong , mengundang para jendral dan perwira nya untuk berpesta minum ciu (arak) di tenda nya .
"Besok hari , adalah hari dimana aku akan menghukum Kaisar yang sudah berani menentang ku itu , kepala nya akan ku penggal , lalu ku arak keliling negeri , agar semua orang tahu akibat dari menentang kehendak Kaisar Kai Ong Than Hong Siang yang sangat mulia ini !" teriak Kaisar Kai Ong sambil tergelak tertawa bangga .
"Ha ha ha ha !, Liu Xiong Bu to*ol , tunggulah besok hari , aku akan datang untuk menghukum diri mu , pedang ku akan memutuskan kepala mu !" teriak sang Kaisar setengah mabuk ciu .
Ke esokan hari nya , kedua pasukan sudah saling berhadap hadapan .
__ADS_1
Posisi pasukan tetap seperti kemarin hari ketiga peperangan itu .
Tetapi kini ni ada sedikit perubahan , di tengah tengah pasukan jendral Qiu Pang Kian , kini ada Biksu leluhur , Tosu Twa Kung , Bu Beng Koan Jin , A Yong dan nenek Sin Ni Seng Sian bersama kedua orang murid dan cucu nya .
Saat hujan batu berterbangan dari pasukan Kai Ong , orang orang inilah yang menyambut jatuh nya bebatuan itu dengan pukulan , tendangan maupun tolakan tenaga dalam tinggi , sehingga batu batu itu berterbangan kembali kearah pelempar nya .
Satu persatu katapel besar itu hancur tertimpa batu yang mereka lontarkan , yang berbalik kearah mereka sendiri .
Melihat pasukan inti mereka mulai kewalahan , dan katapel pelontar batu tidak bisa bekerja lagi , pasukan sayap kanan dan kiri mulai meringsek maju membantu pasukan inti yang terdesak itu .
A Yong yang sempat melihat keberadaan jendral Cia Keng Hong di tengah tengah pasukan sayap kiri lawan , segera melompat kearah sang jendral yang pernah dia kenal itu .
Beberapa orang Prajurit sayap kiri , mencoba menghalangi gerak dari A Yong , tetapi dengan sekali berkelebat saja , para Prajurit itu sudah berterbangan dengan tubuh yang tidak karuan lagi .
Jendral Cia Keng Hong terperanjat melihat keberadaan dari Kong Sian Shin Yong di tengah tengah pasukan musuh itu .
Tetapi melihat sepak terjang dari Kong Sian Shin Yong yang dalam waktu singkat , berhasil membunuh ratusan Prajurit nya itu , dan membuat pasukan sayap kiri yang dia pimpin kocar kacir , kemarahan dari sang Jendral itu tidak lagi bisa dia bendung .
Dengan sekali berkelebat saja , dia sudah berada di depan A Yong .
"Kong Sian !, aku memang menghormati diri mu , tetapi jangan kau kira aku takut kepada mu , marilah kita bermain main sebentar , kau bisa membela nama Kong Sian mu , atau justru aku yang akan menggantikan kau menjadi Kong Sian !" kata Jendral Cia Keng Hong getir .
Dahulu dia pernah berjuang , bahu membahu bersama Kong Sian ini dalam membentuk negeri Chu yang berhasil direbut Kai Ong , dengan bantuan nya itu , kini harus berhadap hadapan sebagai musuh .
"Saya sudah memutuskan membela tanah air Negeri Sian Than , Kong Sian !, biarlah saya hidup dan mati dengan pilihan saya !" ucap Jendral Cia Keng Hong sambil mengeluarkan sebuah pedang panjang berkelas pusaka langit , bernama Coa Ong Cu Po Kiam ( Pedang Pusaka Raja Ular) yang memiliki aura berwarna biru pekat .
Dengan pedang pusaka langit di tangan nya , serangan dari jendral Cia Keng Hong ini memang sangat sangat mematikan .
Beberapa kali tubuh A Yong nyaris tertusuk pedang panjang itu , untung jurus Dewa Dewi masih mampu menyelamatkan nyawa nya .
Melihat A Yong yang mulai terdesak itu , Jendral Cia Keng Hong semakin bersemangat untuk menghabisi tubuh lawan nya .
Hingga pada satu saat , dengan sebuah gerak tipuan , Jendral Cia Keng Hong berhasil membuat tubuh A Yong tersudut , dan dengan sebuah tebasan , dia bermaksud menyudahi perlawanan dari anak muda itu .
"Trang !"...
pada saat genting itu , terdengar suara dentingan nyaring menggema , saat pedang Coa Ong Cu Po Kiam milik Jendral Cia Keng Hong , beradu dengan pisau kecil panjang sejengkal ber aura putih terang ditangan A Yong yang dia beri nama Pek Piaw Thien Po ( Pisau putih , pusaka langit) itu .
Seperti sebuah magnet raksasa , pisau itu menarik aura yang terpancar dari pedang Coa Ong Cu Po Kiam kedalam pisau kecil itu .
Sedangkan pedang di tangan Jendral Cia Keng Hong itu , laksana salju terkena terik mata hari , sedikit demi sedikit menyusut tersedot kedalam pisau kecil di tangan A Yong itu .
__ADS_1
Sang jendral Cia Keng Hong berusaha menarik pedang nya agar terlepas dari pisau aneh milik A Yong itu , tetapi bukan nya pedang itu yang tertarik kembali , tetapi tenaga nya juga mulai tersedot oleh pisau aneh di tangan A Yong itu .
Akhirnya demi menyelamatkan nyawa nya , sang jendral itu , terpaksa melepaskan pedang itu dari genggaman nya .
Begitu pedang itu terlepas dari genggaman tangan Jendral Cia Keng Hong , secara ajaib , pedang itu segera menghilang seluruh nya , ditelan pisau kecil ditangan A Yong itu .
Pisau kecil ditangan A Yong itu , setelah berhasil menelan habis pedang pusaka langit di tangan Jendral Cia Keng Hong , secara ajaib , aura nya kini berubah menjadi putih ke biru biruan yang terang menyilaukan mata serta bentuk nya berubah menjadi sebuah pedang pendek .
Melihat itu , Jendra Cia Keng Hong segera melompat kebelakang , dengan maksud melarikan diri , tetapi tangan A Yong yang memegang pedang pendek itu segera berkelebat cepat .
Meskipun jarak nya sekitar tiga depa , tetapi secara ajaib , pedang itu memanjang , hingga mencapai tubuh Jendral Cia Keng Hong .
Sang jendral itu tumbang dengan luka besar menganga , hampir memutuskan tubuh nya dari belakang .
Melihat pimpinan mereka tewas , pasukan sayap kiri itu segera mundur kebelakang , sambil berteriak , "Cia Goanswe tewas !, Cia Goanswe tewas !, Cia Goanswe tewas !" ...
Teriakan itu segera menggema kemana mana , keseluruh pasukan Negeri Sian Than .
Diwaktu yang sama pula , di sayap kanan , terjadi pertarungan sengit antara pasukan negeri Hong Than yang di pimpin oleh Jendral Oey Bi Sue , melawan pasukan sayap kanan Negeri Sian Than yang di pimpin oleh Jendral Sin Mo Ko Moan Te Kung .
Pertarungan yang kurang seimbang pun terjadi , karena sesungguh nya , kultivasi Jendral Oey Bi Sue masih berada dibawah tingkatan dari Jendral Sin Mo Ko Moan Te Kung mantan Tai Ong dari perampok Sin Hek kui itu .
Hingga cuma dalam beberapa ratus jurus saja , Jendral Oey Bi Sue terdesak hebat sekali , hingga pada satu kesempatan , pukulan tangan kosong dari Jendral Sin Mo Ko Moan Te Kung yang dilambari energi maksimal nya , berhasil mengenai dada nya dengan telak sekali .
"Bum !" ...
Bersamaan dengan suara dentuman itu , tubuh Jendral Oey Bi Sue terlempar sejauh puluhan depa dengan dada yang sudah remuk .
Tubuh Jendral Oey Bi Sue itu jatuh tepat di depan Bu Beng Koan Jin yang sedang mengamuk , membantai siapa saja yang berada di dekat nya .
Melihat Jendral Oey Bi Sue telah tewas , Bu Beng Koan Jin segera melompat kearah jendral Sin Mo Ko Moan Te Kung , menggantikan jendral Oey Bi Sue.
Melihat seorang pemuda berpakaian yang tidak karuan menghadang di hadapan nya , jendral Sin Mo Ko Moan Te Kung tertawa terbahak bahak .
"Siapa kau anak muda , apa kau juga ingin menyusul sang Jendral mu itu ?" tanya jendral Sin Mo Ko Moan Te Kung dengan sombong nya .
"Siapa yang muda ?, siapa yang tua ?, apa perduli Dunia pada ku ?, aku adalah aku , dan kau juga aku , sedangkan aku bukan kau !" racau Bu Beng Koan Jin tidak karuan .
"Cuih !, ternyata cuma orang gila saja , baik nya kau ku bunuh terlebih dahulu , dari pada bikin susah saja , pusing aku mendengar omongan mu !" kata Jendral Sin Mo Ko Moan Te Kung bergumam sambil mengerahkan semua energi nya untuk di pukulkan kepada pemuda gila itu .
"He he he he, aku gila , kau gila , dia gila , mereka semua gila , adakah yang waras diantara kita ?, ada yang gila harta , ada gila jabatan , ada gila kedudukan , ada gila hormat , semua nya adalah orang gila , apa perduli ku , karena ternyata tidak ada yang waras di dunia ini !" kata Bu Beng Koan Jin sambil tertawa geli .
__ADS_1
...****************...