
Malam itu, setelah makan malam undangan keluarga Liem, Hao Cun dan Hao Shen duduk di teras depan sambil menikmati teh harum dan beberapa kue basah.
Tuan penolong berdua, nama tuan berdua ini siapa, kalau boleh kami tahu!" kata tuan besar Liem.
"Oh iya kami hampir lupa, nama saya Hao Cun dan ini adik saya Hao Shen, kami bukan penduduk kota ini, kami pengembara yang ke betulan singgah bermalam di kota ini!" kata Hao Cun menjelaskan.
"Kalau begitu, kemanakah tujuan tuan berdua?" tanya tuan besar Liem lagi
"Kami berencana mau ke kota raja Sun Cao kalau tidak ada halangan!" jawab Hao Cun.
"Kalau begitu, ini sangat kebetulan sekali, Ling Ling cucu saya ingin pergi ke kota raja Sun Cao, disana ada kakek dan nenek nya dari pihak mendiang ibu nya, bolehkah saya titip cucu saya kepada kalian?" tanya tuan besar Liem.
"Tentu saja tuan besar Liem, tentu saja boleh, besok pagi kami mungkin akan naik kapal ke kota Sun Cao!" kata pemuda Hao Cun meng iya kan dengan cepat.
Hao Shen atau Shin Liong , dari tadi cuma diam tanpa menanggapi apa pun, dia sedang asik menik mati teh nya.
Hingga menjelang larut malam, mereka ngobrol, tidak banyak yang Hao Shen atau Shin Liong omongkan, pikiran nya melayang ke sore saat dia mandi tadi, dia melihat titik emas di telapak tangan kanan nya bertambah satu lagi, menjadi tujuh titik.
Tinggal tiga titik lagi, dia akan dapat membebaskan ibu nya.
Menjelang larut malam, tuan besar Liem, menyuruh mereka bermalam di rumah kediaman tuan besar Liem, agar pagi pagi bisa bersama sama dengan Ling Ling pergi ke dermaga laut kota Kwan Ton.
Dan akhirnya pagi pun datang juga, setelah selesai sarapan pagi, dengan diantarkan oleh tuan besar Liem, mereka pergi ke dermaga kota Kwan Ton dengan menaiki kereta kuda.
Dermaga kota Kwan Ton cukup ramai, dalam waktu yang hampir bersamaan, ada beberapa kapal yang akan bertolak ke beberapa kota dan pulau terdekat.
Tuan besar Liem, memaksa membelikan mereka tiket kapal ke kota Sun Cao.
Setelah membeli tiket, mereka segera memasuki kapal besar bertenaga batu bara itu.
Ling Ling mendapatkan satu kamar sendiri, dan Hao Cun dan Hao Shen mendapatkan satu kamar ber dua.
Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, kapalpun segera berangkat ke kota Sun Cao yang memakan waktu kurang lebih lima hari, yaitu tiga hari ke kota Tobao dan dua hari lagi baru sampai kota Sun Cao.
Kapal melaju tidak terlalu jauh dari pantai, kerena perjalanan ke kota Sun Cao memang menyusuri pesisir barat.
Malam hari nya, Hao Cun dan Hao Shen serta Ling Ling, makanan bersama di ruang makan kapal itu.
Karena terlalu gerah, Hao Shen atau Shin Liong pamit terlebih dahulu ke pada Hao Cun dan Ling Ling untuk mencari angin ke haluan kapal.
Di haluan kapal, cukup banyak orang yang menikmati malam dengan bersantai sejenak, menikmati angin laut.
Di sebelah kanan, Hao Shen atau Shin Liong, duduk di dekat sebuh peti besar, sambil menyandarkan tubuh nya di peti besar itu.
Di sudut lain peti itu, terdapat dua orang remaja seumuran dengan nya sedang bercengkerama sambil bersandar ke didinding peti.
Mereka berdua adalah dua orang remaja yang tidak mampu menyewa kamar, sehingga terpaksa berada di tempat itu.
__ADS_1
Hao Shen mendengarkan mereka berdua bercengkerama sambil di selingi canda an.
Dari cara mereka berbicara, bisa di simpulkan jika mereka bersahabat dekat.
Tiba tiba dari arah belakang kapal, muncul empat orang remaja seumuran pula.
Ke empat orang remaja yang baru datang ini nampaknya putra putra pejabat, atau paling tidak anak anak orang kaya.
Ketika melewati kedua remaja itu, salah seorang remaja tiba tiba berhenti dihadapan mereka.
"Ki Ciang!, Kian Gu!, lihat dua orang gembel itu ternyata sedang beristirahat di sini, sangat kebetulan sekali, ayo kita hajar sampai mati, dan mayat nya kita buang kelaut, ini kesempatan bagus!" teriak salah seorang remaja itu.
Dua orang remaja yang dipanggil Ki Ciang dan Kian Gu tertawa terbahak bahak, " kau benar Cai He, aku juga lama tidak memukuli dan membunuh seseorang, ayo lah kita selesai kan mereka!" kata remaja yang bernama Kian Gu itu.
Seorang remaja yang bernama Qiu Dong Zi segera maju bersama Dao Ki Ciang menghampiri salah satu dari kedua orang remaja itu.
Sementara itu, Zhu Kian Gu bersama Lu Cai He, maju mendekat kearah remaja yang satu nya lagi.
Memang dari tingkat kultivasi, mereka tidak berbeda jauh, dua orang remaja Rua Tan Rao dan Bu Si Hong, berada di tingkat alam Taruna menengah sedangkan Dao Ki Ciang, Zhu Kian Gu, Lu Cai He dan Qiu Dong Zi berada di tingkat alam Taruna akhir.
Remaja yang bernama Lu Cai He segera berjalan melintas di depan kedua orang remaja yang sedang duduk bersandar di dinding peti sambil ber selonjor kaki.
Lu Cai He yang berjalan cepat melintas di depan kedua remaja itu, pura pura tersandung kaki kedua remaja yang sedang berbincang bincang berdua itu.
"Ceplak!"...
Remaja bernama Lu Cai He pura pura tersungkur Karana tersandung kaki mereka, dan segera marah marah memaki kalang kabut tidak karuan.
"Maaf?, mudah sekali kau memohon maaf kepada ku setelah aku tersungkur karena kaki mu itu, aku akan memaafkan diri mu setelah memotong kedua kaki kalian berdua!" kata Lu Cai He dengan garang nya.
"Itu keterlaluan tuan muda!, lagipula tuan muda tidak cedera apa pun!" kata Rua Tan Rao lagi sambil terus memohon maap.
Lu Cai He dan Zhu Kian Gu segera menyerang Rua Tan Rao, sedangkan Dao Ki Ciang dan Qiu Dong Zi menyerang Bu Si Hong .
Perkelahian di malam hari di haluan kapal itupun tidak bisa di elakan lagi.
Kedua remaja Rua Tan Rao dan Bu Si Hong tentu saja tidak rela begitu saja diri mereka di aniaya.
Sedangkan ke empat remaja brutal itu, dengan bersemangat, ingin sekali menganiaya kedua orang remaja miskin itu.
Karena memang tingkat kultivasi mereka, kalah satu tingkat, ditambah lagi dengan kalah jumlah, maka semakin lama, kedua remaja ini semakin terdesak.
Hingga puncak nya, beberapa pukulan mulai mendarat dengan sempurna ke tubuh mereka berdua.
Setelah beberapa saat, kini kedua remaja naas itu terbaring pasrah di lantai karena sudah tidak bisa memberikan perlawanan lagi.
"Cai He!, Dong Zi!, cepat habisi mereka berdua, lalu lemparkan ke laut!" perintah Dao Ki Ciang.
__ADS_1
"Tenang saja bos, aku akan menyiksa mereka hingga mati, dan saat kita turun ke perguruan tahun depan, dua orang ini namanya sudah tidak ada lagi di kelas bos!" kata Lu Cai He sombong.
Rupanya mereka semua satu perguruan, yaitu perguruan Beruang emas yang berada di atas bukit Siguntang, disebelah barat kota Kwan Ton.
Perguruan Beruang emas ini adalah sebuah perguruan terbesar dan terkenal, yang mengajarkan berbagai ilmu, dari bela diri, kultivasi, baca tulis, hingga sastra.
Banyak mantan murid perguruan ini yang telah berhasil menjadi Mentri, ataupun perwira di istana keKaisaran, terutama di kota Raja Sun Cao.
Para pejabat maupun pembesar itupun akhir nya mengirim kan pula putra putri mereka ke perguruan itu untuk menuntut ilmu seperti mereka dulu, tentu saja dengan mendapatkan berbagai pasilitas istimewa seperti ke empat remaja brutal ini.
Lu Cai He mengeluarkan sesuatu dari cincin ruang nya, sebuah pisau kecil berwarna putih mengkilap.
Sambil memegang kepala Rua Tan Rao yang sudah pasrah tidak berdaya itu, pisau itupun di ayunkan nya ke arah leher remaja malang itu.
Namun sebelum mata pisau yang tajam mengkilap itu menyayat leher Rua Tan Rao, entah bagai mana, tiba tiba pisau itu raib dari genggaman Lu Cai He.
"Sungguh di sayangkan, empat orang remaja berpendidikan, mengeroyok dua orang remaja lemah yang sudah kalah, sangat memalukan sekali!" kata Hao Shen atau Shin Liong yang sudah berada di depan mereka sambil menimang nimang pisau putih mengkilap yang dipakai Lu Cai He untuk menggorok leher Rua Tan Rao tadi.
"Hei budak hina, siapa kau, berani berani nya mencampuri urusan kami, kau tidak tahu siapa kami ya, atau kau memang sudah bosan hidup?" tanya Dao Ki Ciang dengan sangat marah nya.
Hao Shen tersenyum dingin, sedingin angin yang berhembus saat itu, sehingga lampu lentera bergoyang goyang karena nya.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku, cepatlah pergi dari sini, atau aku akan mematahkan tangan kalian ber empat!" kata Hao Shen masih dengan nada dingin.
Mendengar perkataan Hao Shen itu, keempat remaja brutal itu bukan nya takut, tetapi malah tertawa terbahak bahak.
"Hanya karena berhasil merebut pisau Cai He, kau sudah merasa hebat ya, kembalikan pisau milik Cai He itu, kalau tidak!" bentak Dao Ki Ciang.
"Apa?, kalian mau pisau ini?, nih ambilah,dan cepat pergi dari sini!" kata Hao Shen sambil melemparkan pisau itu ke tengah laut, dan hilang tenggelam.
"Ha ha ha ha, Cai He!, kau dengar badut satu ini ingin melucu di depan tuan besar nya, ayo sekarang pukuli dia, biar ber kaing kaing seperti anak anjing" kata Dao Ki Ciang.
Lu Cai He segera maju menyerang kearah Hao Shen yang sudah tidak lagi memegang pisau milik Lu Cai He.
Namun bagi Hao Shen atau Shin Liong , gerakan mereka itu semua nya, sama seperti gerakan anak kecil saja.
Hingga berpuluh puluh jurus Lu Cai He menyerang Hao Shen, tidak satupun yang berhasil menyentuh tubuh nya, walaupun hanya sehelai rambut saja.
"Untuk yang terakhir kali nya, cepat lah pergi dari sini,dan jangan lanjutkan ke brutal an kalian!" kata Hao Shen sekedar memperingatkan ke empat remaja itu.
Tetapi ke empat remaja brutal yang sangat hobi mencelakai orang lain itu, bukan nya mundur, dan kembali ke kamar nya, tetapi malahan semakin menjadi jadi.
"Ayo sekarang kita bereskan dia, dia kan cuma sendirian saja, masa kita ber empat, kalah dengan dia yang cuma sendirian, lihatlah, tingkatan pun tinggi kita, di di alam Taruna menengah sedangkan kita di alam Taruna akhir!" kata Zhu Kian Gu.
Mereka berempat pun akhirnya maju bersama, mengeroyok Hao Shen dari segala arah.
Sekuat apapun mereka melawan Hao Shen, namun karena tingkatan kultivasi mereka yang terlalu jauh berbeda, membuat Hao Shen seperti melatih anak kecil saja layak nya.
__ADS_1
Saat Lu Cai He menyerang Hao Shen dari belakang, Hao Shen berkelit kesamping kanan, tetapi dari samping kanan, muncul pula Zhu Kian Gu yang menyerang dengan pukulan nya.
...****************...