Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Malaikat Dari Utara .


__ADS_3

Shin Liong berjalan memasuki aula utama istana Liu itu .


Biksu leluhur atau Dewa Guan Ing , Dewa Bu Beng Koan Jin , dan Tosu Twa Kung atau Dewa Twa Kung serentak berdiri dan membungkukan badan nya di depan Shin Liong di ikuti oleh semua petinggi istana , para Ksatria dan para perwira .


"Selamat datang kembali yang mulia Kong Thai Sian Shin Liong , semoga keabadian selalu bersama yang mulia , damai !, damai !, damai !"...


Shin Liong Tersenyum ramah , melihat para Dewa dan abdi istana yang sudah berkumpul di aula utama istana Liu itu .


"Maaf yang mulia Kong Thai Sian !, mereka sudah berhari hari disini menanti ke hadiran anda sambil membaca sutra Dewa , seraya bermohon keselamatan Dewi Ying Fa tuan !" ucap sang Kaisar masih dengan rasa hati yang sangat bahagia sekali .


"Terimakasih atas doa doa kalian , dan Thian yang maha kuasa ternyata mengabulkan nya , istri saya masih diberi keselamatan dan kesehatan , terimakasih sekali lagi untuk semua kebaikan kalian !" ucap Shin Liong dengan rasa haru .


Ternyata kematian Ang Mo Bin sebagai momok dan salah satu dedengkot tua yang sangat di takuti dan di segani di belahan barat ini , berdampak sangat besar untuk negeri Liu .


Beberapa kota yang semula enggan bergabung dengan negeri Liu yang baru , kini dengan senang hati menyatakan kesetiaan mereka kepada sang Kaisar Xiong Bu .


Cuma dalam waktu yang relatif singkat , negeri Liu menjadi sebuah wilayah yang cukup luas , melingkupi beberapa kota besar sebagai propinsi dengan pemimpin seorang gubernur .


...----------------...


Tetapi tidak semua nya suka dengan keberadaan negeri baru bernama negeri Liu ini , ada saja orang atau wilayah yang tidak mau mengakui negeri Liu sebagai sebuah negeri .


Di daerah Thian San (puncak langit) di wilayah Utara , ada sebuah rumah sederhana di kaki gunung Thian San .


Rumah di tengah hutan ini didiami oleh seorang yang sudah tua sekali , saking tua umur nya , sehingga si pemilik tubuh sudah lupa berapa bilangan usia nya kini .


Laki laki ini bernama Twang Pang Lauw atau lebih dikenal dengan Malaikat dari Utara .


Malaikat dari Utara ini salah satu pilar utama dari empat pilar terkuat di benua belahan barat ini .


Ratusan tahun yang lalu , sepak terjang nya bersama tiga malaikat lain nya , sempat menggegerkan Dunia hingga sampai ke kerajaan langit , karena tindakan mereka .


Bagi mereka , tidak ada norma kebenaran atau kesalahan , yang ada , adalah menurut kehendak dan kemauan mereka saja .


Hitam bisa dibikin putih dan putih bisa dijadikan hitam , yang penting sesuai dengan kepentingan mereka saja .


Istana Langit sebenar nya tidak membiarkan hal itu berlangsung begitu saja , sudah beberapa Dewa yang mereka utus untuk menegur para Datuk ini , tetapi Dewa Dewa itu tewas di tangan mereka semua nya .


Akhirnya sebelum tatanan Alam dimensi hancur , seorang Dewata berinisiatif mengurung Dunia Betara ini dan menyegel nya dengan segel Dewa agar para Datuk itu tidak bisa menghancurkan Dunia Dunia lain nya .


Pagi itu di kaki gunung Thian San , nampak berkelebat tubuh seorang laki laki paro baya yang berlari menuju pondok kediaman laki laki tua itu .


Meskipun masih jauh , tetapi laki laki tua itu sudah bisa merasakan kehadiran orang lain di tempat itu.


Laki laki tua itu menghentikan kegiatan nya , lalu berdiri meluruskan tulang belakang nya dan menghadap ke arah tamu yang baru datang itu .

__ADS_1


Dengan nafas yang Ter engah engah , akhirnya laki laki paro baya itu sampai juga di depan pondok sederhana itu .


"Hei kau siapa ?, dan ada perlu apa ketempat ku ini ?" tanya kakek tua itu sambil menatap tidak senang ke arah tamu nya .


"A' ampun , saya Dong Wang , orang kepercayaan salah satu dari empat pilar Dewa !" jawab laki laki paro baya itu dengan tergagap .


"Apa ?, kau orang kepercayaan dari murid ku ?, ada apa dengan murid murid ku , hingga mengutus diri mu ketempat ini ?" tanya laki laki tua bergelar Malaikat dari Utara itu .


"Am , ampun tuan , ke empat murid tuan telah tewas !" kata laki laki paro baya itu dengan perasaan yang sangat takut sekali .


Mata laki laki tua itu melotot tidak percaya .


"Apa ?, apa kau bilang ?, kau jangan main main dengan ku !" hardik laki laki tua itu lagi .


Sang laki laki paro baya itu menjadi semakin ketakutan saja mendengar suara laki laki tua yang menggelegar itu .


"Be' benar tu tuan , ke empat murid tuan telah tewas , mata saya sendiri yang melihat nya !" kata laki laki paro baya itu menggigil ketakutan .


"Crap !" ...


Tiba tiba tangan laki laki tua itu mencengkram leher baju laki laki paro baya , " katakan siapa yang telah membunuh ke empat orang murid ku itu ?" ...


"Se seorang pemuda yang dipanggil Kong Thai Sian tuan !" jawab laki laki itu sambil mengibas celana nya yang sudah basah oleh ompol nya sendiri .


"Prak !" ...


Cuma dengan sebelah tangan nya , laki laki paro baya itu dilemparkan nya hingga melesat sejauh puluhan depa dan menghantam sebuah batu besar hingga kepala nya pecah berantakan .


"Keepaa*aaat !, bang*saat !, jaha*aam !, akan kucari kau meski harus menghabisi seluruh manusia di bumi ini , akan ku buat kau menyesali tindakan mu itu , kematian mu akan lebih sakit dari apapun juga !!" teriak laki laki tua itu dengan amarah yang membuncah di dada nya .


Laki laki tua itu mengamuk , memukuli apa saja , termasuk pondok nya sendiri yang terbang jauh terkena arus energi Lwekang dari kakek tua yang sangat hebat itu .


Setelah sekian lama menyendiri berkultivasi selama ratusan tahun , akhirnya kakek tua ini berhasil naik ke ranah Dewa Cahaya sempurna , satu tingkatan yang sangat jarang bisa dicapai orang , meski itu Dewa sekalipun .


Apa bila dia bisa menerobos ke tingkat Dewa sempurna , maka dia sudah setingkat Dewata , karena diatas Dewa cahaya adalah tingkatan Dewa sempurna , dimana orang yang bisa mencapai tingkatan ini , kelas nya bukan lagi Dewa , tetapi setingkat dengan Dewata .


Setelah puas mengamuk , menghancurkan semua yang ditemui nya , sehingga yang tadinya punggung sebuah gunung , kini sudah menjadi sebuah lembah , kakek tua itu duduk diatas sebuah batu sambil merenung .


Setelah beberapa saat , kakek tua itu berdiri dan dengan sekali genjot , tubuh nya terbang diatas pepohonan , meluncur ke arah selatan .


Disepanjang perjalanan nya keselatan , kakek tua ini membunuhi setiap orang yang di temui nya di jalan , entah itu orang baik atau orang jahat sekalipun , bila berpapasan dengan nya , pasti maut datang pada nya .


Akhirnya kabar kebrutalan dari orang tua bergelar Malaikat dari Utara itu sampai pula di telinga sang Kaisar Xiong Bu .


Kaisar segera mengumpulkan para bawahan nya serta tidak ketinggalan pula dengan Shin Liong dan istri nya serta para Dewa Dewa lain nya .

__ADS_1


"Apa gerangan yang mulia , adakah hal yang penting ?" tanya Biksu leluhur kepada sang Kaisar .


"Ya Biksu , bukan cuma penting , tetapi sangat penting sekali , kenalkah Biksu dengan Malaikat dari Utara ?" tanya sang Kaisar kepada Biksu leluhur .


Mendengar itu , Biksu leluhur tersentak seketika , hingga berdiri sangking terkejut nya .


"Apa yang mulia ?, Malaikat dari Utara ?" tanya Biksu leluhur lagi .


kali ini bukan cuma Biksu leluhur yang terkejut , tetapi juga Bu Beng Koan Jin dan Tosu Twa Kung juga terkejut sekali .


"Apa tidak salah kah kabar yang tuan ku terima ?" tanya Tosu Twa Kung .


Kaisar Xiong Bu menggelengkan kepala nya , " tidak paman Tosu Twa Kung , kabar itu sudah pasti , sekarang Malaikat dari Utara itu sedang mengarah ke selatan , tepat nya ke kota Qiantung , tujuan utama nya adalah mencari yang mulia Kong Thai Sian , tetapi sepanjang perjalanan , laki laki tua itu membantai siapa saja orang orang yang di temui nya , bahkan ada sebuah desa yang masyarakat nya habis dibantai oleh Malaikat dari Utara itu !" kata Kaisar menjelas kan .


"Kau mengenal orang tua itu Biksu ?" tanya Shin Liong kepada Biksu leluhur .


"Saya sangat mengenal malaikat dari Utara itu tuan , dia merupakan salah satu dari empat tokoh utama Benua ini , dahulu saja tingkat kultivasi nya sudah demikian tinggi berada di ranah Dewa Emas sempurna , entahlah sekarang , setelah ratusan tahun menghilang tidak tahu rimba nya , sudah pasti tingkat kultivasi nya juga meningkat dari pada masa dahulu !" jawab Biksu leluhur .


Shin Liong bangkit berdiri , " biarlah masalah ini saya sendiri yang menghadapi nya , karena ini sudah tugas untuk saya , kalian perketat penjagaan di sekitar kota Raja ini , yang mulia , ini ada pil Dewa bintang sembilan , bagikan kesemua Prajurit sebutir seorang , agar kultivasi mereka bisa naik ketanah yang lebih tinggi lagi , sementara itu , saya akan mencoba mengatasi Malaikat dari Utara itu di hutan paling Utara wilayah kita ini !" kata Shin Liong sambil berjalan keluar dari tempat itu di ikuti oleh kedua orang istri nya .


"Tuan Kong Thai Sian , ijinkan saya ikut menemani tuan ku , Biksu adalah pelayan Dewa , yang juga pelayan Dewata , ijinkan saya melayani tuan ku !" kata Biksu leluhur sambil bersimpuh di ikuti oleh Bu Beng Koan Jin sang sahabat karibnya itu .


"Baiklah Biksu leluhur dan Bu Beng Koan Jin , kalian boleh mengikuti aku , tetapi tidak boleh bertindak tanpa persetujuan ku !" kata Shin Liong memperingatkan kedua nya .


"Terimakasih Kong Thai Sian , kami berjanji akan mematuhi tuan !" jawab kedua orang itu dengan gembira , karena di ijinkan untuk mengikuti perjalanan Shin Liong itu .


"Tosu Twa Kung !, tugas mu adalah mendampingi sang Kaisar , menjaga keselamatan nya !" kata Shin Liong lagi kepada Tosu Twa Kung yang nampak nya juga ingin mengikuti kedua rekan nya itu .


Setelah berada di halaman istana , selanjut nya , kelima orang itu segera melesat ke udara , terbang kearah Utara untuk menghadang Malaikat dari Utara yang sedang menebar petaka di sepanjang perjalanan nya .


Setelah terbang ke Utara dengan kecepatan penuh selama satu harian , sore hari nya , mereka tiba di hutan batas negeri Liu dengan wilayah kota San Qwan .


Hutan ini begitu lebat nya , dengan pohon pohon sangat besar menjulang tinggi keudara .


Beberapa kereta kuda melaju di jalan menuju kearah kota Qiantung yang masih sangat jauh itu .


"Ingin kemanakah kalian ini , kalau sayang nyawa , cepatlah kembali dan mengungsi ke kota Qiantung , karena disana ada seorang Dewata muda , cuma dialah yang bisa mengatasi iblis itu !" kata salah seorang laki laki paro baya , yang menaiki kereta dengan tergesa gesa .


Terlihat iring iringan panjang kereta kuda seperti sedang pawai besar saja layak nya .


Namun belum lagi iring iringan kereta itu habis , dari yang paling ujung terdengar suara berderak sangat nyaring sekali , dan bersamaan dengan itu , kereta kereta itu pun terlempar jauh saling tindih dengan orang orang menjerit ketakutan .


Di ujung barisan kereta , terlihat seorang tua kurus bertubuh tinggi sedang mengerahkan Lwekang (tenaga dalam ) nya , dan menghantam barisan kereta kuda itu dengan pukulan tangan kosong nya sehingga menjadi porak poranda .


...****************...

__ADS_1


__ADS_2