
Putri Mei Yin mengoleskan minyak berwarna biru ke seluruh permukaan perut nyonya Gubernur itu .
Setelah itu , barulah dia mempersilahkan Shin Liong untuk memulai aksi nya .
Tanpa ragu ragu lagi , Shin Liong menggoreskan pisau kecil yang sangat tajam itu ke kulit perut sang nyonya Gubernur , sesuai seperti petunjuk dari putri Mei Yin tadi .
Setelah kulit perut itu Ter buka , terlihat sebuah daging berwarna merah , sebesar buah kelapa tua , menempel di dinding usus nyonya itu .
Dengan hati hati , Shin Liong memotong daging tumbuh itu , hingga tidak bersisa sedikit pun juga .
Lalu setelah luka bekas potongan tadi di tautkan kembali seperti semula , putri Mei Yin mengolesi luka itu dengan minyak air mata Phoenix .
Dan secara ajaib , luka tadi bertaut kembali seperti tidak pernah terjadi apa pun juga .
Begitu pula dengan kulit perut nyonya Gubernur yang tadi di belah oleh Shin Liong , setelah di tautkan seperti semula , lalu di olesi dengan minyak airmata Phoenix , kulit perut itu pulih seperti sedia kala , tanpa ada bekas luka nya sedikit pun juga .
Setelah semua nya selesai , Shin Liong segera membuka totokan nya pada nyonya Gubernur itu .
Nyonya Gubernur membuka mata nya , dia heran , nafas nya yang semula tersengal sengal , kini lapang seperti semula .
Di raba nya perut nya , terasa rata seperti sedia kala , lalu dilihat nya kesekeliling nya , ada sepasang pemuda tadi yang menatap nya dengan tersenyum ramah .
"Tanio sudah sehat seperti semula , ini minumlah pil ini , agar tubuh Tanio benar benar sehat dan penyakit itu tidak kembali lagi !" kata putri Mei Yin sambil memberikan sebutir pil berwarna biru kristal .
Tanpa ragu ragu lagi , nyonya Gubernur itu segera meminum pil yang di berikan oleh putri Mei Yin itu .
Beberapa saat kemudian , tubuh nya terasa kuat kembali , seperti sedia kala nya lagi .
"Terimakasih Sian Wu , terimakasih Yok Sian , terimakasih atas bantuan kalian berdua , saya berhutang nyawa kepada kalian berdua !" kata nyonya Gubernur sambil bersimpuh di depan Shin Liong sedang putri Mei Yin .
"Tanio !, inilah penyakit yang Tanio derita itu , jika saja terlambat di buang , satu purnama saja , nyawa Tanio dalam bahaya !" kata putri Mei Yin sambil menyerahkan daging bulat sebesar buah kelapa tua yang diletakan di atas nampan putih kepada istri sang Gubernur .
Dengan berurai air mata , istri sang gubernur itu memeluk kaki Shin Liong dan putri Mei Yin sebagai tanda kegembiraan nya yang luar biasa itu .
Putri Mei Yin menarik tangan nyonya Gubernur , untuk mengajak nya keluar dari kamar itu .
Saat mereka berjalan keluar dari kamar , bukan main terkejut nya sang Gubernur dan putri nya serta pendeta tua itu , melihat keadaan itu .
"Lihatlah semua nya , inilah istri Thai Cu , sekarang sudah sembuh seperti sedia kala , lalu mana cincin ruang kelas satu yang tuan janji kan itu ?" tanya Shin Liong .
Bukan main gembira hati sang gubernur , ketika melihat sang istri nya telah sehat seperti sedia kala nya .
__ADS_1
Tetapi dengan janji janji nya tadi , sang Gubernur pura pura tidak mendengarkan nya .
"Tadi kau dengan yakin nya mau memotong leherku besok hari , kenapa sekarang setelah istri mu ku sembuh kan , kau berpura pura lupa dengan janji mu ?" tanya Shin Liong dengan suara yang agak nyaring .
"Eh i iya , iya aku tidak akan mangkir dari janji ku , beri aku waktu , aku terlalu senang dengan kesehatan istri ku !" kata sang Gubernur mulai berkilah .
Shin Liong tersenyum sinis menatap mata sang Gubernur Lao itu , "kau mulai mangkir dari ucapan mu sendiri Lao Taijin , bila hidup mu berantakan kau jangan menyesal !" ucap Shin Liong sambil melangkah menggandeng tangan Putri Mei Yin menuju kearah pintu . Sesampai nya di pintu , karena sangking cepat nya Shin Liong bergerak , tidak ada satupun yang sempat melihat , meskipun cuma bayangan nya saja , saat Shin Liong kembali mendekati sang Gubernur , dan menotok urat utama nya , dengan totokan khusus , sehingga tidak seorangpun yang dapat melepaskan totokan itu , lalu kembali ketempat asal nya Disamping putri Mei Yin .
Shin Liong sekali lagi berpaling pada sang Gubernur sambil tersenyum lebar , " aku bukan kekurangan Tail Lao Taijin , tetapi aku menagih janji seorang laki laki , Kau telah ingkar dengan janji mu , maka kebebasan mu ku ambil !" ...
Baru saja Shin Liong sampai di teras rumah itu , dari dalam terdengar suara teriakan sang Gubernur meraung meminta tolong .
Tubuh Gubernur Lao tegak berdiri seperti tadi , tetapi tidak lagi mempu menggerakkan badan nya sedikit pun .
Pendeta tua itu sedang berusaha menotok sana sini supaya tubuh sang Gubernur bisa bergerak kembali , tetapi hasil nya nihil semua .
Akhirnya pendeta tua itu mencoba menggerakkan tubuh sang Gubernur , dengan maksud di baringkan ke tempat tidur saja dahulu , tetapi tubuh sang gubernur digeser sedikit pun tidak bisa , seolah kaki sang Gubernur itu sudah tumbuh sejuta akar nya .
Kini sang Gubernur sama hal nya dengan sebuah arca yang bisa bicara .
Terdengar suara putri Lao Fin Yen menangis memanggil sang ayah .
"Ayah , apa yang terjadi dengan mu ayah , ayah !" teriak putri sang gubernur itu sambil menangis meraung raung .
"Kau Sudah melanggar janji mu pada Sian Wu , kakak , kau tidak berterimakasih sama sekali kepada nya , seolah kau bukan manusia !" kata Ban Hok Tie istri sang Gubernur yang kini sudah sehat kembali .
"panggil mereka kembali , panggil mereka segera , kaki ku sudah tidak merasakan apa apa !" kata Gubernur Lao panik .
Beberapa orang Prajurit segera berlari kehalaman memanggil Shin Liong dan Putri Mei Yin yang ber jalan santai keluar dari teras rumah itu .
"Kong Cu !, kong Cu !, kembalilah Kong Cu , Lao Taijin memanggil Kong Cu !" kata Prajurit itu tersengal sengal .
Dengan tersenyum penuh kemenangan. Shin Liong segera memutar tubuh nya , memasuki rumah kediaman Gubernur itu lagi .
"Anak muda , aku mengaku Hoat Sut mu sungguh hebat sekali , aku minta maaf , bebaskan aku anak muda !" kata sang Gubernur menghiba hiba .
"Penuhi dulu janji mu , baru kau ku bebaskan !" kata Shin Liong .
Nampak sang Gubernur sangat marah sekali , "kau tidak percaya kepada ku kah ?, bebaskan dulu aku , baru aku memberikan bagian mu , kalau begini , bagai mana aku melakukan nya heh , dasar pemuda dusun bo*oh !" hardik sang Gubernur.
"Hei manusia bo*oh tak tahu terimakasih , kau pikir aku perduli kepada mu kah ?, heh dengar lah , aku tidak mau perduli , bagai mana kah cara mu , yang penting , serahkan cincin itu sebagai syarat kebebasan mu , itu saja , aku tidak ingin yang lain , aku cuma mau hak ku saja , bukankah tadi kau yang berjanji , bukan aku yang meminta !" kata Shin Liong dengan nada tinggi yang menggelegar .
__ADS_1
Putri Lao Fin Yen merasa tiba tiba dada nya terasa sesak dan jantung nya seperti berdetak kencang ,mendengar suara dari Shin Liong tadi .
"Putri ku , ambilah cincin di saku baju ku ini , dan serahkan kepada pemuda itu !" kata sang Gubernur kepada putri nya Lao Fin Yen .
Sang putri mengambil sebuah cincin bermata batu giok biru , lalu menyerahkan nya kepada Shin Liong dengan tangan yang gemetar .
Shin Liong Menerima cincin itu , setelah melihat isi nya , dia. Tersenyum kepada sang Gubernur , "ini semua karena rasa busuk di dalam hati mu , awal nya aku cuma mau menolong mu , tanpa mengharapkan apa apa , tetapi kau malah mau menjebak ku , itulah yang membuat aku melakukan perhitungan dengan mu , adapun putra mu itu , bila dia tidak merubah sikap nya menjadi baik dan menghargai orang lain , maka nanti dia akan mendapat bencana besar , dan kau Putri Lao Fin Yen yang angkuh dan sombong , bila kau tidak merubah sikap mu , bencana juga akan menimpa mu , terakhir , kau Lao Taijin , kau sangat mudah menjerumuskan dan menzalimi orang lain tanpa rasa bersalah sedikit pun , bila kau tidak menghentikan hal itu , kau juga akan mendapat bencana , rumah tangga mu berantakan , putra putri mu sirna sama seperti kekayaan dan jabatan mu yang akan sirna juga !" kata Shin Liong memberikan peringatan kepada Gubernur dan keluarga nya .
Setelah selesai berbicara , Shin Liong segera melangkah meninggalkan tempat itu , membawa cincin ruang kelas satu yang berisi Tail emas penuh .
"Tadi kau berjanji mau membebaskan Lao Taijin , tetapi setelah cincin itu kau terima , kau langsung angkat kali tanpa ingat janji mu lagi , itukah sikap yang kau bilang baik ?" tanya pendeta tua itu membentak Shin Liong .
Shin Liong berpaling kearah pendeta itu , "hmm itu karena kau bo*oh orang tua , kau punya mata tetapi tidak berfungsi , punya telinga dan hidung tetapi semua nya tidak berfungsi , Sebenar nya Lao Taijin sedari tadi sudah bebas, tetapi beliau saja yang masih betah menjadi patung taman !" kata Shin Liong juga dengan suara nyaring .
Mendengar ucapan Shin Liong itu , Lao Taijin segera menggerakkan telunjuk nya .
Setelah merasa telunjuk nya dapat bergerak , berikut nya , dia menggerakkan seluruh tangan nya , akhirnya dia melonjak gembira , karena sudah terbebas dari totokan aneh Shin Liong .
Sedangkan pendata tua itu sangat murka sekali , karena merasa di pecundangi oleh Shin Liong di depan orang banyak .
Pendeta itu ingin mengejar Shin Liong keluar , tetapi langkah nya di tahan oleh Lao Taijin .
Pendeta tua itu menatap wajah Lao Taijin dengan perasaan marah .
Namun Lao Taijin tersenyum sambil menggelengkan kepala nya , lalu membisikan sesuatu ketelinga pendeta itu , lalu mereka tertawa bersamaan .
"Nanti kau cari dia , pura pura minta cincin itu kembali , aku sudah mempersiapkan semua nya , cincin itu berisi Tail palsu , tetapi sangat mirip dengan Tail Emas yang asi !" kata Lao Taijin sambil tertawa puas .
"lalu cincin yang menyimpan Tail yang asli dimana ayah ?" tanya Lao Fin Yen .
"Ada , ini dia ku simpan di sebelah sini !" kata Lao Taijin sambil menepuk saku jubah bagian kiri nya sambil tertawa senang .
Putri Lao Fin Yen pun turut tertawa senang mendengar sang ayah nya berhasil menipu Shin Liong mentah mentah .
"Hi hi hi hi !, dasar pemuda bodoh , mudah saja di kadali !" kata Putri Lao Fin Yen sambil tertawa terpingkal pingkal membayangkan pemuda itu nanti nya akan malu bila berbelanja dengan Tail Emas palsu .
"Kalian memang aneh , tidak ada sedikit pun dihati kalian ada rasa terimakasih kepada orang yang telah berjasa kepada kalian , aku muak dengan sifat kalian ini , hari ini juga aku pulang ke kota Guan , jangan menjemput ku lagi !" kata Ban Hok Tie sambil masuk kedalam kamar nya .
Ban Hok Tie ini putri seorang gubernur juga jauh di Utara kota Han , di sebuah Kota besar juga yang bernama kota Guan .
Setelah berkemas , Ban Hok Tie segera memanggil para pengawal pribadi nya untuk mempersiapkan kereta untuk mereka berangkat ke Utara .
__ADS_1
...****************...