Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Cinta ber tabir keangkuhan.


__ADS_3

Gadis cantik jelita itu menatap kearah Shin Liong dengan tatapan mata yang sangat tidak senang.


"Enak saja kau membawa orang luar masuk kedalam istana ini, kau tahu itu pelanggaran berat, dan kau bisa dihukum berat karena hal itu, jangan mentang mentang ayahanda mengangkat mu anak nya, lalu kau merasa memiliki hak di dalam istana ini, ketahuilah!, kau bukan apa apa dan bukan siapa siapa, kau cuma sampah yang tidak berguna di dalam istana ini, dan kau harus tahu itu, kau harus tahu diri, ini istana, bukan hutan tempat asal mu, disini banyak aturan yang harus dijaga!" teriak gadis cantik itu.


Kedua anak muda itu berlutut di hadapan putri Fan Yin.


"Maafkan kami tuan putri, maaf kan kami, dia tidak bersalah, kami lah yang bersalah, kami berdua cuma ingin menyampaikan titipan dari seorang pemuda yang kami temui di kapal beberapa hari yang lalu, dan dia menitipkan ini agar di sampaikan kepada sang pangeran!" kata Rua Tan Rao menyerahkan ukiran batu giok berbentuk ikan lumba lumba kepada putri Fan Yin.


putri Fan Yin menerima batu giok itu dan mengamati nya, dari bentuk nya, dia tahu jika itu memang milik kakak nya.


"Kalian tunggu di sini, aku akan memanggil kakak ku!" kata gadis itu sambil berlalu masuk kedalam istana.


"Saudara, maafkan kami, gara gara kami, saudara mendapatkan masalah!" kata Rua Tan Rao sangat menyesal.


Shin Liong tersenyum ramah kepada kedua anak muda itu.


Saat melihat senyum ramah Shin Liong itu, kedua anak muda itu seperti melihat senyum seseorang yang sangat mereka kenal, yaitu Hao Shen, pemuda yang menolong mereka berdua, memberikan pil ajaib hingga kultivasi mereka naik beberapa tingkat, bahkan mengajari mereka berdua beberapa jurus sakti, sehingga mereka menganggap pemuda itu adalah guru mereka berdua.


"Tidak apa apa saudara berdua, hidup memang harus tolong menolong dan bermanfaat untuk orang lain, jangan risau, saya memang cuma seorang pengembara, hari ini atau esok lusa, saya pasti akan meninggalkan tempat ini, untuk kembali berkelana, jadi apa bedanya sekarang atau nanti!" kata Shin Liong ramah.


Tidak seberapa lama, nampak putra mahkota datang bersama sang putri cantik tadi.


Melihat kedatangan putra mahkota, kedua anak muda itu langsung berlutut, tetapi tidak dengan Shin Liong , karena sang kaisar dan putra mahkota melarang keras dirinya berlutut kepada mereka.


Melihat itu, sebenar nya putri mahkota sangat tidak senang, tetapi dia tidak berani kepada sang kakak nya itu.


Putra mahkota sebenar nya kaget melihat siapa yang di bawa Shin Liong sekarang, dua orang anak muda yang dia nanti nantikan.


Tetapi dia pura pura tidak mengenal kedua orang pemuda itu.


"Kalian berdua mencari ku?, ada apakah gerangan ?" tanya putra mahkota.


"Ampun tuan ku pangeran, kami berdua beberapa waktu yang lalu tiba dari kota Kwan Ton, dan kebetulan bersamaan dengan dua orang pemuda kembar, nah salah satu dari kedua pemuda kembar itu menitipkan sebuah batu giok berukir ikan lumba lumba, dan minta tolong diserahkan kepada tuan, itulah batu giok nya berada pada tuan putri!" kata Rua Tan Rao.


Tuan putri menyerahkan batu giok berukir ikan lumba lumba itu kepada kakak nya.


Putra mahkota menatap kearah kedua anak muda itu.


"Apakah kalian berdua bersedia menjadi prajurit istana?" tanya putra mahkota.


Kedua anak muda itu berlutut di depan putra mahkota.


"Ampun tuan ku, apakah kami pantas?" tanya kedua anak muda itu.


"Pantas tidak pantas, kalian berdua sendiri yang menentukan nya, yang penting harus ada kemauan dan tekad yang kuat, bagai mana ?" tanya putra mahkota kepada kedua orang anak muda itu.


"Kalau memang begitu, kami bersedia tuan ku, terimakasih banyak" kata Rua Tan Rao.

__ADS_1


Tiba tiba Shin Liong membungkuk di hadapan putra mahkota.


"Ada apa adik, apa ada yang perlu kau sampaikan?" tanya putra mahkota.


"Iya kakak, saya hari ini akan berpamitan dengan kakak, saya akan melanjutkan perjalanan saya kak!" ucap Shin Liong.


putra mahkota bagai tersambar petir, mendengar perkataan dari Shin Liong itu.


Meskipun dia sudah mengira ngira, bahwa satu saat adik nya itu pasti akan pergi, tetapi tetap saja hati nya terasa sangat berat.


Putri Fan Yin terkejut sampai sampai dia tersentak kaget mendengar perkataan dari Shin Liong itu.


"Tidak kah adik bisa menunda nya barang satu satu purnama lagi adik?" tanya putra mahkota.


"Ada hal yang tidak bisa saya ungkapkan kakak, dan ini berkaitan dengan waktu yang semakin mendesak, saya harus bergerak cepat, bila tidak, seumur hidup saya akan menyesalinya kakak!" kata Shin Liong .


Sebetul nya tadi pagi, saat Shin Liong mandi, dia melihat bahwa tanda kuning di telapak tangan nya sudah genap berjumlah sepuluh buah titik.


Dia ingat, bahwa dia harus segera membebaskan ibu nya yang di kurung selama seribu tahun.


"Kau harus minta ijin ayahanda dulu adik, sebelum kau pergi, aku takut ayahanda akan kecewa kepada mu!" kata putra mahkota.


Kemudian putra mahkota memanggil jendral muda Go Gwan Ho untuk menjadikan kedua anak muda itu sebagai prajurit istana.


Di ruang tengah istana, nampak sang kaisar sedang berbincang bincang dengan sang Ratu sambil sesekali tertawa gembira.


"Ada apa anak anak ku, kalian datang menghadap kepada ku tanpa ku minta, tentu ada hal yang penting sekali?" tanya sang kaisar.


"Benar ayah, hari ini adik ingin berpamitan, dia ingin meneruskan perjalanan nya !" kata putra mahkota.


Bukan main terkejutnya hati sang Kaisar, meskipun dia sudah mempersiapkan hati nya, bahwa satu waktu, Shin Liong pasti akan pergi meninggalkan istana, tetapi tetap saja hati nya belum siap.


"Mengapa terburu buru anak ku?" tanya sang Kaisar.


Sebenar nya ini tidak terburu-buru ayah, tetapi memang tujuan awal saya pergi adalah ini" kata Shin Liong, lalu menceritakan semua kisah masa lalu nya kepada sang Kaisar, hingga mengapa dia harus segera membebaskan sang ibu dari hukuman nya, sesuai batas waktu yang di berikan oleh Dewata Agung sendiri, karena bila tidak, maka ibu nya akan terkurung selama seribu tahun lamanya lagi.


"Apakah kau akan kembali kesini menjenguk ayah mu ini nak?" tanya sang kaisar sedih.


Shin Liong tersenyum ramah sambil berlutut dihadapan sang Kaisar, memeluk kedua kaki ayah angkat nya itu.


"Ayah!, percayalah, bila anak mu ini masih di beri kehidupan oleh Dewata Agung, anak mu ini akan kembali ke sini untuk menjenguk mu ayah, kau manusia pertama yang membuat saya merasakan indah nya memiliki ayah, juga ibunda Ratu, saya akan kembali ketempat ini satu waktu, untuk menjenguk kalian semua" kata Shin Liong sedikit bergetar.


"Berangkatlah anak ku, doa dan restu kami menyertai langkah kaki mu!" kata sang kaisar sambil memeluk putra angkat yang sangat di sayangi nya itu.


Begitu juga dengan sang Ratu, memeluk Shin Liong dengan air mata berlinangan, meskipun tidak dia ungkap kan, tetapi dari sikap nya kepada Shin Liong , bisa di ketahui jika sang Ratu sangat menyayangi putra angkat nya itu.


"Kakak Kai, terimakasih banyak atas perlakuan kakak selama ini yang tulus menganggap Shin Liong sebagai adik, Shin Liong cuma anak hutan, yang besar di dalam hutan, berkesempatan hidup di lingkungan istana, terimakasih kakak!" ucap Shin Liong sambil memeluk tubuh kakak angkat nya itu.

__ADS_1


Kemudian dia berpaling kearah putri mahkota yang sedari tadi selalu cemberut itu.


"Adik Yin, terimakasih atas semua kebaikan adik, kakek pamit!" kata Shin Liong berpamitan.


"Kalau kau mau pergi, pergilah, emang apa perduli ku heh?, tidak usah pakai basa basi juga tidak apa apa, lebih cepat, lebih baik!" ucap putri mahkota Chen Fan Yin itu dengan nada judes.


Shin Liong melangkah ke arah halaman istana, dimana para pekerja mulai bekerja membuat patung diri nya.


Di halaman istana itulah Shin Liong berdiri tegak, dengan tangan terlipat di dada nya.


Panca inderanya dia kosongkan dari urusan dunia wi, dan dia hubungkan dengan pikiran kakek Qin.


"Kakek Qin, Shin Liong sudah siap kakek! " ...


Seberkas cahaya putih kemilau tiba tiba melesat dari langit dan membungkus tubuh Shin Liong.


Lalu cahaya putih tadi tersentak seperti tertarik kelangit bersama tubuh Shin Liong.


Bersama dengan melesat nya tubuh Shin Liong ke langit,tubuh putri mahkota pun menubruk tempat dimana tadi Shin Liong berdiri, tetapi sangat disayang kan, terlambat beberapa saat.


"Jangan pergi!, jangan pergi!, ku mohon jangan pergi!, aku membenci diri mu Shin Liong , kau laki laki tidak berperasaan, aku tidak ingin menjadi adik mu, aku benci kau Shin Liong, kau pergi begitu saja, aku benci!" teriak putri mahkota Chen Fan Yin sambil menangis sesegukan.


Gengsi dan harga diri menutupi perasaan nya kepada laki laki idaman nya itu.


Dan itu harus dia bayar sangat mahal, laki laki itu telah terbang seperti burung camar mencari pantai lain.


Sang Kaisar, Ratu dan putra mahkota pangeran Chen Chao Kai termangu melihat kenyataan, putri cantik jelita yang selama ini menutup diri dari semua laki laki, bahkan terkenal dengan julukan putri salju itu, ternyata memendam rasa kepada Shin Liong , namun gengsi dan harga diri nya lebih kuat dibandingkan dengan perasaan nya.


Kini putri cantik jelita itu telah tersungkur oleh egois, harga diri dan kesombongan nya sendiri.


Putri mahkota Chen Fan Yin berlutut di tempat tadi Shin Liong menghilang, tangis nya pecah menghancurkan kesombongan nya.


Sang Ratu melangkah mendekati putri nya yang berlutut sambil menangis pilu itu.


Di belai nya rambut panjang sang putri, "kau menyukai nya sayang?" ...


Putri mahkota Chen Fan Yin menganggukkan kepala nya, " iya ibu, Fan sangat menyukai nya, dialah laki laki satu satu nya yang Fan suka, tetapi Fan sangat membenci laki laki itu, dia tidak mau tahu perasaan Fan bu, Fan benci Shin Liong , tetapi Fan juga tidak ingin Shin Liong pergi bu, tolonglah Fan bu, hati Fan sakit, dada Fan terasa perih bu,sakit sekali bu!"Isak tangis putri Fan Yin di pelukan sang ibunda nya.


"Sabarlah sayang, berdoalah untuk keselamatan nya, kelak dia pasti akan kembali ke sini sayang!" ucap sang ratu menghibur Puro nya itu.


Putri tercantik di negeri Zhao, putri salju yang selalu dingin kepada laki laki mana pun, tetapi sekali mengenal cinta, kepedihan lah yang dia rasa.


Sang Kaisar menatap putri nya dengan tatapan sedih, tidak dia sangka, kebencian sang putri kepada Shin Liong , cuma tameng untuk menutupi perasaan nya yang sebenar nya.


Cinta bertabur keangkuhan berbuah kekecewaan, harus menyalahkan siapa lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2