Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Titik Terang.


__ADS_3

Yu Hua menatap kearah Shin Liong dan mengedarkan persepsi nya, tetap saja yang dia lihat adalah laki laki muda itu berada di tingkat alam Taruna menengah, sedang kan dia sendiri termasuk jenius muda di lembah Teratai merah, di usia yang baru delapan belas sudah berhasil berada di tingkat alam Brahmana awal, tidak mungkin rasanya akan kalah dari anak muda baru besar yang baru berada di tingkat alam taruna menengah itu.


"Aku bersedia dengan syarat yang kau ajukan saudara sepupu, tetapi ingatlah, bila dia kalah, maka dia akan menjadi budak ku seumur hidup nya, melayani ku dengan setia, dan bila ternyata aku yang kalah, aku akan menjadi budak kalian seumur hidup ku!" kata Yu Hua dengan percaya diri yang tinggi.


Sedangkan An Lian juga sejak awal memindai tingkat kultivasi keponakan nya ini, ternyata masih di tingkat alam Taruna menengah saja, sehingga dia menganggap semua perkataan dari keponakan nya itu hanya satu kebohongan belaka.


Itulah alasan mengapa An Lian tidak melerai anak nya mengadakan taruhan itu, sekaligus dia ingin sang keponakan nya itu tidak lagi bersikap sombong di hadapan nya.


"Bagai mana sayang, bersediakah kau bertanding demi harga diri istri mu ini?" tanya Dewi Teratai putih dengan kata kata yang sengaja di buat semesra mungkin.


"Aku bersedia Dewi, sebenar nya aku tidak ingin bertarung dengan seorang wanita, tetapi aku juga tidak ingin ada siapapun yang menginjak injak harga diri istri ku!" kata Shin Liong.


Jawaban Shin Liong ini, berhasil membuat kuping Yu Hua semakin panas mendengar nya.


"Sekarang kau boleh berkata apapun bocah, tetapi sebentar lagi, kau harus menuruti semua perkataan ku, dan kau harus berpisah dengan istri mu itu,serta menjadi budak ku se umur hidup mu" kata Yu Hua merasa yakin bisa mengalahkan Shin Liong dalam satu jurus.


"Seandainya kalian bukan kerabat dari istri ku, maka bisa ku pastikan nona jika hari ini, adalah hari terakhir kau menjadi manusia!" ucap Shin Liong dengan tekanan kata kata yang sangat kuat.


Tiba tiba ketiga orang itu merasakan seolah ada kekuatan maha dahsyat mencoba menekan dada mereka, sehingga An Lian dan Yu Hua menjadi terbatuk batuk, sementara itu Bi Kwa Ceng duduk bersila di lantai mengatur pernafasan nya, dari sudut bibir nya mengalir beberapa tetes darah segar,pertanda organ dalam tubuh nya sudah terluka.


Saat ketiga orang itu sedang berjuang melawan Dewa maut yang sudah mencengkram ubun ubun mereka, Dewi Teratai putih nampak tersenyum senyum melihat kejadian itu.


"Aku tidak akan berdusta kepada kalian, untuk apa aku berdusta,kalian untung menjadi kerabat ku, karena dengan begitu, kami tidak membunuh kalian bertiga, kami hanya akan menghilangkan kesaktian kalian,supaya kalian menjadi manusia biasa saja!" kata Dewi Teratai putih.


"Kau cuma pandai berdebat saudara sepupu, coba lepaskan tekanan ini dan mari bertanding secara ksatria" kata Yu Hua dengan muka merah padam.


"Kasihan kalian tidak juga melihat tinggi nya gunung di depan mata, baiklah, baiklah, lihatlah, suamiku sudah sedari tadi berada di luar menunggu kalian bertiga" kata Dewi Teratai putih sambil menunjuk ke arah luar rumah makan itu.


Di halaman yang cukup luas itu, Shin Liong sudah berdiri menunggu Yu Hua datang.


An Lian terkesima melihat pemandangan itu, baru saja dia melihat Shin Liong masih berada di sisi Dewi Teratai putih, kini tahu tahu sudah berada di luar rumah makan itu.


Melihat itu, Yu Hua yang masih penasaran dengan Shin Liong , segera melesat menyerang kearah anak muda itu.


Namun ketika pukulan nya hampir mengenai dada Shin Liong, tiba tiba tubuh Shin Liong menghilang dari hadapan nya, dan sebuah ketokan kecil mendarat di tengkuk nya.


Dia berbalik kebelakang sambil terus menyerang, namun tengkuk nya kembali di getok Shin Liong dari belakang, seolah olah Shin Liong bertengger di belakang nya,sehingga kemana saja dia berbalik, Shin Liong akan terus berada di belakang nya.

__ADS_1


Akhirnya Yu Hua menyerang Shin Liong seperti jurus orang yang sedang kesurupan.


Ketika Yu Hua sudah berada di titik nadir kekalahan nya, tiba tiba An Lian berseru nyaring.


"Hentikan serangan mu!, aku tahu kalian bermaksud mencari kedua orang tua mu bukan?" tanya An Lian kepada Dewi Teratai putih dan Shin Liong .


"Kalau iya kenapa Aji?" tanya Dewi Teratai putih.


An Lian menarik tangan Yu Hua menjauh dari Shin Liong dan Dewi Teratai putih, "aku tahu dimana kedua orang tua mu Nuwa, tetapi kalau kau ingin kedua orang tua mu selamat, kau harus bersedia memindahkan semua kesaktian mu kepada kami,termasuk suami mu juga, bagai mana?" tanya An Lian sambil tersenyum menang.


Muka Dewi Teratai putih menjadi pucat pasi, dia menoleh kearah Shin Liong dengan tatapan sedih.


Tetapi Shin Liong tidak terlihat sedih sama sekali apalagi gugup menghadapi tekanan seperti itu.


Tiba tiba tubuh Shin Liong lenyap dari pandangan mereka,dan di saat yang bersamaan muncul di depan ketiga orang ini sambil memasukan sesuatu kedalam mulut ketiga nya, lalu menepuk belakang leher ketiga orang ini,sehingga sesuatu yang dimasukan Shin Liong kedalam mulut mereka tadi, terpaksa mereka telan.


Setelah mereka menelan benda itu, dada merekapun langsung terasa sangat sakit sekali,dan beberapa gumpal darah hitam berbau busuk, keluar dari sudut muluk ketiga nya.


Ketiga orang ini segera mengeluarkan pil anti racun dari dalam cincin ruang mereka,dan meminum nya.


Tetapi jangan kan berfungsi, malahan dada mereka menjadi semakin sakit saja.


"Cuih!, kau pikir bisa mengancam ku dengan racun murahan ini, sampai kapan pun aku tidak akan mengatakan nya,kalian cari sendiri!" kata An Lian bersikeras.


"Baiklah bila itu mau kalian, ketahuilah yang saya masukan kedalam tubuh kalian tadi adalah racun Upas naga Emas yang tidak ada penawar nya di dunia ini,bahkan di semesta raya ini, dan usia kalian cuma bertahan tiga purnama, bila dalam tiga purnama kami tidak menemukan kedua orang mertua saya itu, berarti Dewa Yamadipati lebih dahulu menjemput kalian, tetapi bila sebelum tiga purnama kami menemukan kedua orang mertua saya itu dan kami sempat mampir ke lembah teratai merah, usia kalian bisa saya perpanjang lagi" kata Shin Liong.


"Kau cuma berdusta anak muda, kau kira kami percaya?" tanya An Lian.


"Itu terserah kalian saja,kalian percaya perkataan saya, usia kalian tinggal tiga purnama lagi, kalian tidak percaya perkataan saya,usia kalian tetap tiga purnama lagi, jadi pilihan nya cuma satu, percaya atau tidak percaya, usia kalian tinggal tiga purnama lagi, itupun bila kalian tidak bertemu orang jahat atau musuh kalian, karena bila kalian mengerahkan hawa murni untuk bertarung, kematian kalian sepuluh kali lebih cepat" kata Shin Liong sambil berjalan menggandeng tangan Dewi Teratai putih.


"Tunggu!, kedua orang tua kalian berada di dalam dunia dimensi ketiga, istri ku telah menipu mereka,sehingga mereka terjebak di dalam dimensi dunia ketiga itu, ini semua demi nafsu serakah menguasai lembah Teratai, namun hingga saat ini, kami jangan kan masuk kedalam lembah, mendekat saja energi kami langsung lenyap karena kutukan itu!" kata Bi Kwa Ceng.


Dalam saat genting ini, dia harus bertindak sebagai pelindung keluarga nya, terutama untuk putri tunggal nya.


"Lalu bila benar akung (kakek) dan pho pho (nenek) masih hidup, dimana mereka sekarang?" tanya Dewi Teratai putih lagi.


"Mereka berada di Dunia teratai biru, satu dimensi lain dari semesta ini, tempat semua leluhur majikan lembah teratai berada!" jawab Bi Kwa Ceng sambil menahan sakit di dada nya.

__ADS_1


Shin Liong melemparkan sebotol kecil pil berisi sembilan butir.


"Telan lah pil itu satu purnama satu butir,setelah tiga purnama, jadi kesempatan hidup kalian ku perpanjang menjadi enam purnama, berharap saja sebelum enam purnama, kami bisa menemukan mereka berdua,karena bila tidak, ketika pil penawar nya sudah habis, maka tubuh kalian akan terlepas satu persatu, di mulai dari kedua kaki, lalu tangan,selanjut nya rambut, kuping, hidung, mata, hingga leher kalian lepas bersamaan dengan lepas nya nyawa kalian. kata Shin Liong melangkah sambil menggandeng tangan Dewi Teratai putih .


"Ibu, semua ini gara gara ambisi gila ibu, kita semua terseret kedalam pusaran bahaya dan di ambang kematian!" teriak gadis cantik bernama Yu Hua itu justru menyalahkan sang ibu nya sendiri.


"Tenang saja Hua er, di kota Yufing ini ibu punya kenalan seorang Tabib sakti, kita sekarang kesana untuk meminta dia mengobati kita bertiga" kata An Lian membujuk putri nya.


Dengan menaiki sebuah kereta kuda, mereka segera bergegas menuju ke sebuah rumah di sudut kota Yufing.


Rumah itu tidak terlalu besar, namun memiliki halaman yang sangat luas dengan pohon pohon pir berjejer di pinggir nya.


Setelah mengikat tali kekang kuda di sebuah pohon, ketiga orang itu segera bergegas menuju ke rumah itu.


setelah beberapa kali mengetuk pintu rumah, akhir nya pintu rumah pun di buka kan,dan seorang laki laki tua berambut putih semua keluar dari balik pintu itu.


"Tabib sakti Wu Bai Dong, tolonglah kami bertiga, kami terkena racun!" kata An Lian.


"Hei bukan kah kau Dewi teratai merah?, ada apa yang terjadi?" tanya tabib Wu Bai Dong heran.


"Kami bertarung dengan seorang anak muda sakti, dan kami terkena racun nya, tolonglah kami Tabib Wu!" kata An Lian lagi sambil memegang dada nya yang terasa sangat sakit itu.


"Ayo ayo masuk dulu!" kata tabib Wu dengan ramah, mempersilahkan tamu nya masuk kedalam rumah.


Setelah mereka masuk, yang pertama di periksa oleh tabib Wu adalah An Lian sang Dewi Teratai merah sendiri.


Tabib Wu memeriksa tubuh An Lian secara teliti, bahkan jari tangan An Lian pun di gores nya dengan pisau kecil untuk mengeluarkan darah nya, dan darah itu dia letakan pada piring putih,lalu di campur dengan beberapa serbuk, hingga pada campuran terakhir, darah An Lian berubah menjadi berwarna biru ke hitam hitaman.


Tabib Wu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum berbicara, "sungguh disayangkan nona Dewi, saya tidak bisa berbuat apapun terhadap penyakit kalian, kalian terkena racun yang sangat sangat langka, yaitu racun Upas Naga Emas, dimana racun itu tidak bisa di obati kecuali dengan darah Naga Emas itu sendiri,waktu kalian cuma tiga purnama, bila dalam tiga purnama tidak mendapatkan penawar nya, maka semua nya akan berakhir sudah!" kata Tabib Wu dengan muka agak sedih.


Mendengar itu, terdengar jeritan dari gadis cantik Yu Hua yang menangis sambil menjerit sejadi jadi nya.


Hatinya benar benar terpukul sekali.


Gadis yang tadi sangat jumawa sekali, kini menangis sambil menjerit jerit sejadi jadi nya.


Air mata nya tumpah sudah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2