
Di depan gerbang istana yang sangat megah itu, Shin Liong dan ibu nya di hadang oleh beberapa orang prajurit penjaga gerbang yang semuanya perempuan muda dan cantik itu.
"Tunggu!, kalian mau kemana?" tanya prajurit penjaga gerbang sambil mata nya melirik kearah Shin Liong yang terlihat sangat tampan itu.
"Kami ingin menghadap sang Ratu, kami ingin mengobati putri nya yang sedang sakit itu!" kata Dewi Chang 'e.
"Kalau sekedar coba coba, sebaik nya pulang lah, sudah banyak tabib yang lebih ahli dari kalian, tetapi semua nya gagal!" kata prajurit wanita itu.
"Tolong berilah kami kesempatan untuk mencoba nya, putra ku ini akan mengobati sang putri!" kata Dewi Chang 'e mengulang kata kata nya kembali, tetapi kali ini, di barengi dengan kilatan aneh yang keluar dari bola mata nya, sehingga prajurit wanita itu tidak mampu lagi untuk menolak permintaan dari Dewi Chang 'e itu.
"Kalian tunggulah di sini, aku akan melaporkan kepada sang ratu terlebih dahulu, bila sang ratu berkenan, kalian bisa masuk, tetapi bila sang ratu tidak berkenan, kalian tidak boleh masuk!" kata prajurit wanita itu sambil berjalan masuk kedalam gerbang istana.
Tidak seberapa lama, dia keluar lagi bersama seorang gadis muda yang lebih cantik lagi.
"Mereka lah orang nya panglima, mereka mereka ibu dan anak yang ingin mencoba mengobati penyakit sang putri bungsu itu!" kata prajurit wanita tadi.
Sang jendral wanita itu menatap kearah Shin Liong dan ibu nya, ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Dewi Chang 'e, tiba tiba jantung nya tersentak berdetak kencang, seolah dia melihat sebuah lautan di mata wanita cantik jelita itu.
"Kalian ikuti saya!" kata sang jendral itu singkat.
Mereka pun berjalan beriringan memasuki gerbang istana itu.
Di balik gerbang itu ada sebuah lapangan yang sangat luas dengan berbagai pohon dan bunga bunga ditanam.
Di samping kanan istana, berdampingan dengan istana, ada sebuah ruangan besar, bernama aula depan, tempat para tamu bertemu dengan sang Ratu.
Di sebuah kursi kebesaran, nampak seorang wanita cantik jelita sedang duduk diapit oleh dua orang gadis membawa kipas besar, yang di kipas kan kearah sang Ratu secara bergantian.
Sang panglima berlutut di hadapan sang Ratu, sementara Dewi Chang 'e, cuma membungkukan badan nya saja, yang di ikuti oleh Shin Liong .
"Ampun Ratu yang mulia, merekalah tamu yang bermaksud mencoba mengobati sang putri bungsu itu yang mulia, bila Ratu berkenan silahkan, tetapi bila tidak berkenan, maka akan saya usir mereka berdua" kata sang pang lima dengan nada sedikit angkuh.
Sang ratu menatap kearah Dewi Chang 'e dan Shin Liong itu secara bergantian.
"Siapakah kalian nona dan tuan?" tanya sang Ratu.
"Maafkan saya yang mulia, saya bukan nona, nama saya Bao Yu, dan ini putra saya Shin Liong yang ingin mencoba mengobati putri mu itu, kami cuma kebetulan lewat di kota ini, mendengar putri mu sedang sakit, hati kami terpanggil untuk mencoba menolong nya!" kata Dewi Chang 'e.
"Dengarlah nyonya, dan kau anak muda, sebenar nya aku sudah berputus asa melihat keadaan putri tersayang ku itu, sudah empat tahun, jangan kan mendapat kesembuhan, berkurang saja pun tidak,tetapi bukankah semua nya sudah di atur oleh Tian Agung?, kalian boleh mencoba nya, dan sebelum nya, aku mengucapkan terimakasih banyak atas perhatian kalian kepada putri ku itu, apapun hasil nya, biarlah Tian Agung saja yang mengatur nya, kita cuma bisa berusaha, tetapi dengarlah nyonya dan kau anak muda, bila saja kalian berhasil mengobati putri ku, maka putri ku itu akan ku berikan untuk mu anak muda, kau boleh menikah dengan nya, serta kau nyonya, akan ku angkat menjadi saudari ku, ayolah ikuti aku!" kata sang Ratu sambil berdiri dan melangkah kedalam ruang tengah istana.
Mereka menaiki tangga yang terbuat dari emas menuju ke tingkat dua istana itu.
Di sebuah pintu yang terbuat dari emas, yang dijaga sejumlah prajurit wanita cantik, mereka masuk kedalam nya.
Di atas sebuah tempat tidur, terlihat sesosok tubuh tergolek tidak bergerak, cuma mata nya yang berwarna hijau sajalah yang masih bergerak kesana kemari, pertanda dia masih hidup.
Sedangkan bagian tubuh nya yang lain, terlihat kering kerontang seperti kumpulan tulang terbalut kulit saja lagi yang tersisa .
Sedikitpun tidak lagi tersisa kecantikan di wajah nya, apalagi bila dikatakan gadis tercantik di seluruh semesta raya.
Tubuh gadis itu sudah kaku seperti sebuah patung kayu.
__ADS_1
Dewi Chang 'e menatap kearah putra nya, " kau sanggup mengobati nya putra ku?" ...
"Ibu!, dengan restu ibu, apapun akan kulakukan ibu, doakan aku berhasil ya Bu?" kata Shin Liong sambil berlutut di hadapan Dewi Chang 'e.
Dewi Chang 'e membelai rambut putra tersayang nya itu dengan lembut, "doa restu ibu menyertai mu nak, kasihan gadis ini, seperti nya dia masih bisa bertahan berkat sari bunga Mo Li yang di teteskan ke mulut nya!" kata Dewi Chang 'e.
Sang ratu menatap takjub kearah Dewi Chang 'e, tanpa di beritahukan pun, wanita itu sudah tahu.
Shin Liong mengeluarkan cawan berlian dari cincin ruang nya, lalu sebotol kecil air mata Phoenix ia tuangkan kedalam cawan berlian itu.
Setelah itu, sebutir pil surgawi dia masukan kedalam cawan berisi air mata Phoenix itu.
Beberapa saat air didalam cawan berlian itu bergolak mendidih.
Setelah air didalam cawan berlian itu berhenti mendidih, sedikit demi sedikit dia masukan kedalam mulut sang putri bungsu itu.
Sendokkan pertama, bibir sang putri belum bisa merespon nya.
Sendokkan kedua, bibir itu mulai bergerak, merespon obat yang di masukan ke mulut nya.
Sendokkan ke tiga, kini tenggorokan nya yang mulai bergerak, menelan cairan pil surgawi yang di campur dengan air mata Phoenix itu.
Melihat keajaiban itu, harapan di dalam hati sang Ratu pun kini mulai tumbuh kembali.
Sendokkan ke empat dan kelima serta seterusnya, semakin mudah dilakukan.
Setelah sendokkan yang terakhir masuk kedalam mulut sang putri bungsu itu, tiba tiba tubuh sang putri bungsu mengeluarkan uap putih bercampur cahaya terang yang menutupi sekujur tubuh nya.
Lalu, Lamat Lamat terdengar suara erangan halus dari dalam kabut uap itu.
Suara erangan itu semakin lama semakin jelas terdengar.
"Ibuuu!"...
Air mata sang Ratu sudah tidak mampu terbendung lagi, bertahun tahun dia tidak lagi mendengar suara sang putri tersayang nya itu, baru kini dia mendengar nya lagi.
Se andai nya saja, sang putri tidak dalam masa pengobatan nya, ingin sekali rasanya sang ratu memeluk tubuh sang putri nya itu.
Kabut putih yang tadi menggumpal dan memadat, perlahan lahan kini mulai memisah dan buyar ke segala arah,lalu sirna tertiup angin keluar lewat tingkap yang terbuka.
Perlahan lahan diatas tempat tidur, meskipun masih agak samar, tetapi sudah terlihat wajah seorang dara luar biasa cantik jelita nya itu, sedang terbaring telentang.
Semakin lama, wajah itu semakin jelas terlihat, wajah cantik dengan mata yang masih tertutup rapat.
Dewi Chang 'e tercengang melihat wajah yang terbaring diatas tempat tidur itu, sangat pantas bila dikatakan, kecantikan wanita tercantik di seluruh semesta raya ini di kumpulkan, belum bisa menandingi separuh dari kecantikan gadis di depan mata nya ini.
Setelah kabut sudah benar benar sirna, barulah jelas, jika pemandangan tubuh mengerikan tadi sudah tidak tampak lagi, dan kini yang tampak di depan mereka adalah wajah seorang dara yang luar biasa cantik jelita nya.
Dara jelita yang baru berusia delapan belas tahun itu mulai membuka mata nya, yang pertama dia lihat adalah laki laki yang tadi berusaha mengobati dirinya itu, yang masih berdiri di samping tempat tidur nya.
Meskipun tadi tubuh nya seperti tengkorak kayu yang tidak bisa bergerak, namun otak dan kesadaran nya masih berfungsi dengan baik.
__ADS_1
Mata nya menatap kearah Shin Liong , disaat yang sama, Shin Liong juga menatap kearah sang putri, tiba tiba saja kedua nya merasa ada getaran aneh menggerayangi sekujur tubuh mereka berdua.
Lalu pandangan mata nya beralih kepada sang Ratu Xi Yu He.
"Ibuuu!"...
Panggil nya lirih, sambil bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur nya.
Sang Ratu memeluk sang putri bungsu nya itu dengan erat, air mata sang ratu kini benar benar tumpah ruah, bukan air mata kesedihan lagi, tetapi air mata suka cita dan kebahagiaan.
Mendengar suara tangisan di dalam ruangan itu, dari balik pintu kamar muncul enam orang gadis yang juga cantik jelita itu.
Di depan pintu kamar, ke enam gadis cantik jelita itu termangu menatap sang ibunda mereka yang sedang berpelukan dengan adik tersayang mereka.
Spontan saja, ke enam gadis cantik jelita itu berhamburan berlari kearah sang adik, dan memeluk erat sang putri bungsu itu.
Ketujuh orang putri tercantik itu saling berangkulan sambil ber tangisan dengan rasa haru.
Empat tahun sang adik kesayangan mereka itu terbaring seperti patung kayu bernyawa, tabib silih berganti, tetapi tidak ada satupun yang berhasil mengobati penyakit nya, baru sekarang berhasil.
"Yang mulia Ratu, menurut penglihatan hamba, penyebab sakit nya sang putri belum bisa di keluarkan, dan itu arti nya, sewaktu waktu , penyakit sang putri bisa saja kambuh kembali!" kata Shin Liong kepada sang Ratu.
"Lantas apa yang harus kita lakukan nak?" tanya sang Ratu yang kini tanpa sungkan lagi, memanggil Shin Liong, anak.
"Saya akan menyalurkan hawa murni kedalam tubuh tuan putri, untuk mendesak benda itu keluar yang mulia!" jawab Shin Liong.
Tanpa ragu ragu lagi, sang Ratu langsung menyetujui nya.
Ke enam orang putri dan sang Ratu sendiri menghindar ke sudut lain dari ruangan itu.
Sementara itu, Shin Liong naik keatas tempat tidur, mengambil posisi di belakang sang putri, lalu menempelkan kedua tangan nya kearah pinggang sang putri.
Awal nya sang putri merasa ada hawa hangat yang sangat nyaman menyusup dari telapak tangan Shin Liong, masuk kedalam kulit nya.
Tetapi lama kelamaan, hawa hangat itu menumpuk di dalam perut sang putri, dan berubah menjadi hawa panas.
Semakin lama, hawa didalam tubuh sang putri menjadi semakin panas saja.
"Hoek!"...
"Hoek!"...
"Hoek!"...
Tiga kali sang putri muntah ke atas lantai kamar itu.
Dari muntahan sang putri, terlihat tiga ekor binatang seperti ulat berwarna hitam, namun juga mirip lintah itu menggeliat geliat di lantai ruangan.
"Ini ulat racun tengkorak yang mulia, siapa saja yang menelan ulat ini, maka akan menjadi tengkorak hidup!" kata Shin Liong sambil menaburkan semacam bubuk merah ke tubuh ulat racun tengkorak itu.
Ulat racun tengkorak itu menggeliat beberapa kali, lalu diam selama lama nya.
__ADS_1
...****************...