
Dermaga kota Yuking terasa sangat padat dengan orang yang datang dan pergi.
Ada beberapa kapal yang datang dan pergi setiap hari nya keluar masuk sungai Chong yang bermuara di teluk Zimo itu.
Apa bila ingin ke kota Zio, perjalanan mengikuti arus sungai melewati kota Xi Yuan, lalu kota Zimo, dan menyeberang ke pulau Naga, ke kota Zio.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih segera melangkah memasuki areal depan dermaga kota Yuking itu.
Sebuah bangunan berdiri memanjang selaras dengan jalur sungai deng sebuah pintu besar berada di tengah tengah, menutupi jalan di depan mereka.
Baru saja Shin Liong dan Dewi Teratai putih melangkah memasuki halaman depan dermaga yang sangat luas itu, dari kejauhan terdengar suara teriakan seseorang memanggil nama Dewi Teratai putih.
"Nona muda Dewi Nuwa!, nona muda Dewi!, tunggu sebentar!". terdengar suara penggilan dari arah belakang mereka.
Serentak, Shin Liong dan Dewi Teratai putih menoleh kebelakang, nampak sepasang muda mudi yang sudah mereka kenal sebelum nya, Tan Che Ing dan Tong Xian Gu memanggil Sabil melambaikan tangan mereka.
"Ah kalian berdua ternyata tuan muda Tong dan nona muda Tan, apakah kalian ingin pergi hari ini juga?" tanya Dewi Teratai putih.
"Iya saudari Dewi, ayo kita membeli tiket kapal dulu, kalian belum membeli tiket juga kan?" tanya nona muda Tan Che Ing.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih saling pandang tidak mengerti perkataan dari wanita cantik itu, "tiket apa maksud nya nona Tan?"...
"Tiket adalah, tanda bahwa kalian sudah membayar ongkos untuk ikut kapal ke tujuan kalian, tanpa tiket, kalian tidak akan di perkenankan ikut kapal" kata Tan Che Ing menjelaskan.
"Ooh, begitu kah nona muda Tan, kami tidak tahu kalau harus membeli tiket dulu, untung ada kalian berdua, ayo kami belum membeli tiket juga" jawab Dewi Teratai putih.
Nona muda Tan Che Ing mengajak Dewi Teratai putih memasuki bangunan di depan mereka, dan di sebuah ruangan, mereka mampir.
"Tujuan mana nona muda ber dua?" tanya gadis penjual tiket kapal itu.
"Saya dan suami saya ingin kekota Zimo, sedangkan nona ini beserta suami nya ingin ke kota Zio!" sahut Tan Che Ing.
"Ke kota Zimo dua orang tiga keping emas, sedangkan ke kota Zio, dua orang empat keping emas!" kata gadis penjual tiket itu.
Nona Tan Che Ing segera menyerah kan tiga keping emas ke pada penjual tiket itu.
"Nama nona muda dan suami nona siapa?" tanya gadis itu lagi.
"Nama saya Tan Che Ing dan suami saya Tong Xian Gu!" jawab nona Tan Che Ing.
Gadis penjual tiket itu menyerahkan dua buah plat dari perak, bertuliskan kata Zimo kepada nona Tan Che Ing dan berkata, " ini plat kalian, nati kalau sudah tiba di tempat tujuan, plat ini harus di kembalikan ya, nomor kamar kalian dua puluh satu!"...
Selanjut nya, Dewi Teratai putih menyerahkan empat keping emas kepada penjual tiket itu sembari berkata, " nama saya Dewi Nuwa dan suami saya Shin Liong !"...
Gadis penjual tiket itu menuliskan nama Dewi Teratai putih dan Shin Liong di buku penumpang, lalu menyerahkan dua buah plat perak bertuliskan Zio kepada Dewi Teratai putih sambil berkata, "kamar kalian nomor dua puluh dua, simpan plat ini baik baik, bila telah tiba di kota Zio, plat ini harus di kembalikan pada petugas, selamat menikmati perjalanan kalian!" ...
Dewi Teratai putih berjalan di belakang Tan Che Ing, ketempat tadi mereka meninggalkan Shin Liong dan Tong Xian Gu.
Ditempat itu, nampak Tong Xian Gu dan Shin Liong sedang berbincang bincang.
"Ayo kita masuk sayang!" ajak Dewi Teratai putih sambil menggandeng tangan Shin Liong, melangkah di belakang nona Tan Che Ing dan suami nya.
Mereka masuk kedalam bangunan memanjang itu tetapi kini dari pintu tengah yang besar.
__ADS_1
Setelah melewati ruangan itu, mereka keluar lewat pintu belakang di sebuah halaman yang luas memanjang searah sungai.
Beberapa kapal api nampak sedang sandar di dermaga itu.
Terdengar suara Pluit kapal berbunyi sangat nyaring, pertanda agar seluruh penumpang naik keatas kapal.
Orang orang bergegas menaiki tangga kapal yang sudah di sediakan.
Di pintu masuk, nampak sang kapten sedang memeriksa plat dari para penumpang yang menaiki kapal itu satu persatu.
Kamar Shin Liong dan Dewi Teratai putih, kebetulan berdekatan dengan kamar Tong Xian Gu dan Tan Che Ing.
Setelah seluruh penumpang sudah naik keatas kapal semua nya, kini terdengar lagi suara Pluit kedua berbunyi, di iringi suara desisan mesin uap kian nyaring.
Setelah penumpang naik semua nya, tangga pun di tarik dari dermaga.
Pluit ketiga berbunyi nyaring di iringi suara desisan mesin kiai nyaring,dan kapal pun mulai bergerak memutar haluan kearah hilir sungai.
Secara perlahan, kapal mulai bergerak,semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya mencapai batas maksimum nya.
Di dalam kamar yang tidak terlalu besar, cuma lebih besar sedikit dari tempat tidur saja,Shin Liong nampak menatap ke arah tepi sungai lewat jendela kecil yang tersedia pada tiap tiap kamar itu.
"Apakah kau mau berjalan jalan di luar sayang ?" tanya Dewi Teratai putih kepada Shin Liong.
"Apakah kita di perbolehkan berjalan jalan sebelum tiba di tempat tujuan?" tanya Shin Liong .
Dewi Teratai putih tertawa mendengar pertanyaan dari Shin Liong itu, karena sebelum nya, pertanyaan itu pula lah yang pernah dia tanyakan pada Tan Che Ing tadi, dan jawaban dari Tan Che Ing sambil tertawa, "tentu saja boleh berjalan jalan selama masih berada di dalam kapal,emang kau mau berhari hari diam di kamar?"...
Di deck atas ini, ruangan yang paling depan adalah ruangan kerja kapten kapal,di belakang nya ada ruang anak buah kapal, dan di belakang nya lagi ada ruang terbuka yang cuma di beri atap serta di sekeliling nya di beri pagar tinggi.
Di paling ujung ada lima orang pemuda sedang bersantai sambil bercengkrama,dan tidak jauh dari tempat para pemuda itu, ada dua pasang muda mudi juga sedang bersantai sambil bercengkrama.
Sementara itu di dekat kamar anak buah kapal, ada dua keluarga masing masing dengan dua orang anak sedang menikmati pemandangan alam.
Dewi Teratai putih mengajak Shin Liong duduk di sisi sebelah kanan kapal, sambil menikmati pemandangan alam sepanjang pinggir sungai itu.
Beberapa orang mulai memperhatikan mereka, terutama lima orang pemuda yang tadi bercengkrama.
"Hei!, rupanya kalian berada di sini, pantesan tadi kamar kalian kami ketuk ketuk, tidak ada jawaban!" tiba tiba Tan Che Ing dan suami nya muncul dari balik pintu.
"Ah iya, maapkan kami, suami saya ingin melihat lihat pemandangan kiri dan kanan sungai ini!" kata Dewi Teratai putih sambil mempersilahkan pasangan suami istri itu untuk duduk di dekat mereka.
Di sepanjang kiri kanan sungai masih terdapat rumah rumah penduduk berjejer.
Akhirnya setelah beberapa saat, rumah rumah penduduk pun berganti dengan perkebunan milik penduduk, yang di selingi dengan satu dua buah rumah.
Hingga beberapa saat lama nya, perkebunan milik penduduk pun berganti dengan hutan lebat di kiri dan kanan sungai itu.
"Apakah kalian memang berasal dari kota Zimo nona Tan?" tanya Dewi Teratai putih.
"Tidak!, tidak!, kami cuma ada keperluan di kota Zimo, untuk menghadiri pemakaman kakek nya Xian Gu, kami berasal dari kota An Hiong!" jawab Tan Che Ing.
"Ada keperluan apakah kalian pergi ke kota Zio?" tanya Tong Xian Gu.
__ADS_1
"Ah tidak, kami mau mencari sebuah kuil suci di pulau itu, kami mau mencari petunjuk tentang kedua orang tua saya yang menghilang beberapa tahun yang lalu" kata Dewi Teratai putih sedikit berdusta.
"Ooh,semoga kalian mendapatkan petunjuk tentang orang tua kalian itu" kata Tan Che Ing.
Sementara itu Shin Liong lagi asik memandang kelima orang pemuda yang selalu memperhatikan mereka, semenjak mereka tiba di tempat itu.
Dewi Teratai putih pun sampai heran, karena Shin Liong tidak mendengar beberapa kali dia menegur nya.
Akhirnya Dewi Teratai putih pun menepuk pundak Shin Liong, membuat laki laki muda itu terkejut sekali.
"A' a' ada apa Dewi?" tanya Shin Liong tergagap.
"Kau sedari tadi mengabaikan Dewi, ada apa sayang ?" tanya Dewi Teratai putih kepada Shin Liong.
"Maapkan aku Dewi, aku sedang memperhatikan kelima pemuda itu, apakah Dewi tidak melihat kejanggalan dari kelima pemuda itu?" tanya Shin Liong lagi.
Dewi Teratai putih segera memperhatikan kelima orang pemuda itu dengan seksama, namun dia tidak melihat kejanggalan apa yang dimaksudkan oleh Shin Liong itu.
"Dewi tidak melihat kejanggalan apapun sayang, memang nya kejanggalan apa yang kau maksudkan?" tanya Dewi Teratai putih bingung.
"Cobalah kau perhatikan kultivasi mereka!" ujar Shin Liong lagi.
Dewi Teratai putih beserta Tan Che Ing dan Tong Xian Gu memperhatikan apa yang Shin Liong katakan tadi.
"Tingkat alam Taruna menengah, adakah itu sesuatu yang aneh sayang?" tanya Dewi Teratai putih.
Shin Liong segera menyapu kan telapak tangan nya ke muka Dewi Teratai putih, "nah coba kau perhatikan kembali!" ...
Setelah muka nya disapu telapak tangan Shin Liong, Dewi Teratai putih kemudian memperhatikan kearah lima orang pemuda tadi.
Sesaat Dewi Teratai putih tersentak kaget melihat kelima orang pemuda tadi.
Kini yang dia lihat adalah lima orang tua berwajah sangar dengan masing masing mereka memiliki kultivasi di alam Brahmana akhir semua nya.
"Ba' bagai mana bisa ?" tanya Dewi Teratai putih kepada Shin Liong.
"Sedari awal melihat mereka, aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan mereka,dan aku berusaha memindai mereka,ternyata naluri ku benar, mereka menggunakan tirai gaib bunglon, yang memungkin kan siapapun yang melihat mereka, tidak bisa melihat ujud sesungguh nya dari mereka itu" kata Shin Liong menjelaskan kepada Dewi Teratai putih.
"Sepertinya, ada sesuatu yang mereka rencanakan sayang"kata Dewi Teratai putih .
sepasang suami istri itu menatap kearah Shin Liong dengan tatapan kagum.
Laki laki semuda itu sudah memiliki ilmu yang tinggi.
"Aku bisa saja membongkar penyamaran mereka Dewi, tetapi itu tidak seru, aku ingin melihat apa yang mereka rencanakan sebenar nya!" kata Shin Liong lagi.
Sementara itu, kelima orang pemuda aneh tadi, masih terus berbincang bincang sambil sesekali menatap ke arah Shin Liong dan Dewi Teratai putih duduk.
Kapal kini melewati hutan lebat di kiri dan kanan sungai,tidak lagi terlihat ada perkebunan ataupun rumah meskipun satu buah.
Asap hitam tebal keluar dari cerobong besar di belakang deck, seperti seekor naga mengikuti perjalanan kapal itu.
...****************...
__ADS_1