
Dewi Teratai putih menatap kearah Shin Liong yang celingukan kesana kemari sambil mengendus endus udara, seperti mencari sesuatu.
Dia heran melihat kelakuan suami nya itu pagi ini setelah datang dari mencari kayu kering.
"Ada apa sih sayang?, kamu bikin Dewi takut!" kata Dewi Teratai putih yang ketakutan kalau kalau sang suami nya itu kesambet siluman hutan.
"Ah Dewi,kau masak apa pagi ini,kenapa bau nya sangat harum seperti bau aneh!" kata Shin Liong sambil terus mengendus kesana kemari.
"Dewi masak, masakan seperti biasanya sayang, tidak ada yang baru,kan bumbu nya cuma itu itu aja,lagi pula Dewi lihat, kau sangat menyukai masakan itu" kata Dewi Teratai putih bingung.
"Bukan bau masakan yang biasanya Dewi, coba kau berdiri lagi,dan endus benar benar,ini bau apa,kok baunya sangat harum sekali!" kata Shin Liong lagi.
Dewi Teratai putih pun pada akhirnya berdiri di dekat Shin Liong, bahkan hidung nya di dekatkan dengan hidung Shin Liong.
"Tidak ada bau apapun sayang, cuma bau hidung mu saja!" kata Dewi Teratai putih sambil terkekeh kekeh.
"Lha iya lah, hidung mu menempel di hidung ku, tentu saja bau hidung ku yang kau cium,coba endus benar benar,ini bau apa!" kata Shin Liong sambil ketawa juga.
Akhirnya Dewi Teratai putih pun menuruti kehendak dari Shin Liong , dia mengendus kesana kemari.
Tiba tiba dia mencium bau harum yang aneh, mirip seperti harum bunga anggrek,tetapi mirip bau harum buah ada juga.
"Oh iya, ini seperti harum bunga anggrek dan buah mangga hutan,tetapi dimana pohon nya ya?" tanya Dewi Teratai putih sambil terus mengendus arah dari mana sumber bau itu.
Dewi Teratai putih terus mengendus bau yang dia katakan sebagai bau mangga hutan yang masak, hingga membawa nya ke dekat pohon Ara tumbang.
"Sayang!, bau itu semaki kuat semakin kita kesini!" kata Dewi Teratai putih.
Shin Liong juga merasakan bau itu semakin kuat ketika mereka tiba di dekat pohon Ara besar yang tumbang tadi.
"Iya kau benar Dewi, bau aneh itu semakin kuat di tempat ini,seperti nya berasal dari lubang bekas pohon tumbang itu!" kata Shin Liong sambil menunjuk kearah lobang tanah di tebing bekas pohon tumbang tadi malam.
Dewi Teratai putih segera melangkah kearah yang di tunjuk oleh Shin Liong tadi.
Ternyata batu besar yang terguling masuk ke dalam telaga tadi malam itu,menyumbat sebuah lubang goa, ketika batu itu terguling karena dicengkeram oleh pohon Ara raksasa itu saat akan tumbang,mulut goa itu pun terbuka.
"Aneh, bau harum itu justru berasal dari situ sayang, kita lihat yuk!" ajak Dewi Teratai putih sambil menunjuk ke arah mulut goa.
Dengan sekali lompat, Dewi Teratai putih dan Shin Liong pun sudah sampai di mulut goa itu.
Ternyata mulut goa itu cukup lebar, hampir sebesar tubuh gajah.
Dewi Teratai putih dan Shin Liong segera memasuki lorong goa itu, yang membawa mereka menurun ke perut bukit.
Dengan menggunakan cahaya dari pedang kristal, sebagai penerangan, mereka terus melangkah memasuki lorong goa itu, yang sangat panjang dan berliku liku.
__ADS_1
Setelah beberapa lama mereka berjalan menerobos lorong goa itu, akhirnya di kejauhan terdengar suara desau air yang jatuh.
"Hati hatilah sayang,di depan seperti nya ada sungai di bawah tanah!" kata Dewi Teratai putih sambil berpegangan ke baju Shin Liong .
Mereka maju perlahan memasuki lorong go itu.
Dan setelah melewati beberapa tikungan, di depan, nampak sebuah cahaya putih ke biruan di kejauhan, dan suara percikan serta desauan air semakin nyaring saja.
Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan goa yang sangat besar,dengan sebuah telaga kecil di situ,dan suara air itu berasal dari air terjun kecil yang keluar dari sebuah lobang di dinding dekat atap goa menuju ke arah telaga kecil itu.
Sedangkan cahaya terang, putih ke biruan tadi, berasal dari bebatuan kristal di sekeliling dinding goa, sehingga ruangan itu menjadi terang seluruh nya, seperti terkena cahaya mata hari.
Agak ke ujung ruangan besar goa itu, terdapat sebuah pohon dengan batang lebih besar dari batang kelapa,namun tidak tinggi, cuma sekitar satu setengah depa saja dari lantai goa.
Daun pohon aneh itu berwarna hijau pucat, lebih banyak ke Putih dengan empat biji buah sebesar buah pir, tetapi ber bentuk mirip buah delima, tetapi berwarna kuning emas dan menyebarkan aroma wangi yang khas perpaduan antara harum bunga anggrek dan aroma buah mangga hutan yang masak.
"Rupanya buah ini yang menyebarkan aroma harum sedap tadi Dewi!" kata Shin Liong sambil memegang buah itu.
Saat tangan Shin Liong menyentuh buah aneh itu, tiba tiba buah itu jatuh karena terlalu masak.
"HM!, bau nya harum dan sedap, mungkin buah ini manis Dewi!" kata Shin Liong lagi.
"Tunggulah dulu sayang, jangan buru buru memakan buah itu!" lerai Dewi Teratai putih ketika Shin Liong bermaksud menggigit nya.
Dewi Teratai putih mencabut sebuah hiasan rambut berbentuk bunga teratai kecil di kepala nya,dan menancapkan sedikit tangkai nya ke buah aneh tadi.
Dewi Teratai putih kembali menyimpan hiasan rambut nya itu ke atas kepala nya kembali.
"Ini tidak beracun sayang, tetapi mengandung energi alam yang sangat besar sekali, mungkin ini yang pernah ayah ceritakan dahulu, bahwa dahulu kala ada buah aneh bernama buah Mumu, yang hanya berbuah setiap seribu tahun sekali, pohon Mumu akan berbunga setelah seribu tahun, dan setelah seratus tahun, bunga itu luruh meninggalkan putik buah, dan dari putih buah menjadi buah muda memerlukan waktu seratus tahun, dari buah muda hingga buah matang sempurna, memerlukan waktu seratus tahun pula, jadi bisa kau bayangkan lama nya menunggu waktu pohon ini berbuah selama seribu tiga ratus tahun, dan kata ayah dahulu,dengan memakan buah Mumu ini sebutir, orang akan bisa menerobos ke tingkatan para Dewa!" kata Dewi Teratai putih menjelaskan kepada Shin Liong .
"Bagai mana kalau aku mencoba nya Dewi?" tanya Shin Liong kepada Dewi Teratai putih .
"Tidak!, kita harus mencoba nya bersama sama, agar bila ini bukan buah Mumu emas seperti yang ayah ceritakan itu, dan ini mengandung racun, kita akan mati bersama sama!" kata Dewi Teratai putih lagi sambil memetik sebutir buah Mumu emas itu.
Mereka memakan buah Mumu emas itu bersama sama.
"Rasanya sangat manis dan enak,mungkin ini buah paling enak yang pernah aku makan" kata Shin Liong.
"Iya sayang, ini buah paling enak yang pernah kurasakan juga, sebaiknya sisa dua buah itu kita petik dan simpan saja dahulu" kata Dewi Teratai putih sambil memetik sisa buah Mumu itu dan menyimpan nya di dalam cincin ruang agar tidak rusak atau busuk.
Beberapa saat kemudian, Shin Liong merasa ada aliran hawa aneh masuk dan berputar putar di perut nya.
Dia segera duduk bersila diatas batu untuk mengumpulkan hawa aneh yang bergolak didalam perut nya itu ke dalam dantian nya.
Begitu juga dengan Dewi Teratai putih, dia duduk diatas batu sambil mengarahkan hawa aneh itu ke dalam dantian nya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, ledakan terjadi di dalam tubuh Shin Liong hasil dari dantian nya yang membesar, menyebabkan dia naik tingkat kultivasi nya dari alam Brahmana akhir menjadi alam Brahmana sempurna.
Namun energi kuat itu belum juga mereda,terus mengalir memasuki dantian nya kembali.
Begitu juga dengan Dewi Teratai putih, dia naik tingkat kultivasi nya, dari dewa bumi akhir, ke Dewa Bumi sempurna, sedangkan arus energi aneh itu tetap saja mengalir memasuki dantian nya,seperti nya belum akan berakhir.
Kembali terjadi ledakan teredam di dalam tubuh Shin Liong karena dantian nya kembali membesar akibat terlampau penuh di isi energi positif dari buah Mumu emas itu.
Kini Shin Liong sudah menerobos ke tingkat Dewa Bumi awal, lalu kembali melesat ke tingkat Dewa Bumi menengah,barulah pergolakan energi itu berhenti.
Sedangkan Dewi Teratai putih kini menerobos ke tingkat Dewa Laut menengah.
"Sayang! ayolah kita cepat cepat keluar dari goa ini, kau sudah menerobos ke tingkat Dewa Bumi, jadi akan ada pembaptisan oleh petir kesengsaraan, barulah sah penerobosan mu itu,kalau kita tetap di sini, goa ini akan runtuh nanti!" kata Dewi Teratai putih sambil menarik tangan Shin Liong keluar dari goa itu.
Apa yang dikatakan oleh Dewi Teratai putih itu ternyata benar, sesampai nya mereka diluar, dilangit terlihat awan hitam berputar putar seperti topan tornado dengan lidah petir menggelegar sesekali.
"Himpun semua kekuatan mu sayang, hadapi ujian petir kesengsaraan itu, Dewi yakin kau bisa menghadapi nya, kau laki laki yang paling tahan menghadapi penderitaan, siap kan diri mu sayang!" perintah Dewi Teratai putih setelah meletakan tubuh Shin Liong di sebuah batu besar yang agak tinggi.
Kalau di tingkat alam rendah penerobosan tingkat tidak di uji oleh petir kesengsaraan, berbeda dengan tingkat alam Dewa ini,meskipun masih alam Dewa rendah,ujian petir kesengsaraan sudah ada.
Setelah meletakan tubuh sang suami di atas batu di ketinggian,Dewi Teratai putih segera menjauh sambil berdoa semoga Dewata memberikan kekuatan kepada suami nya itu.
Shin Liong sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa,segala energi di kerahkan untuk melindungi tubuh nya.
"Jdeerr!!"...
Petir pertama menyambar tubuh Shin Liong, betapa pun dia mempersiapkan diri nya, seluruh tubuh nya kini terasa sangat panas sekali, rambut dan pakaian nya pun kini telah gosong semua nya, yang terlihat kini tubuh hitam hangus mengepulkan asap putih.
Tetapi Shin Liong sudah kenyang dengan semua deraan siksa itu tidak mau menyerah dengan keadaan,dia bangkit berdiri sambil berseru, "aku akan kuat!, ibu beri aku kekuatan!" seru nya menggema.
Bersamaan dengan itu, tubuh nya mengeluarkan aura putih terang, karena kekuatan panah sumbu langit dan pedang kristal Katai putih mulai bangkit dari dalam tubuh Shin Liong, guna melindungi semua organ penting tuan nya.
"Jdeerr!!"...
Petir kedua menyambar kearah tubuh Shin Liong, membuat seluruh kulit nya kini hangus total, tidak ada lagi yang tersisa, kecuali kedua biji mata nya saja yang sudah di lindungi oleh panah sumbu langit dan pedang kristal Katai putih.
Tubuh kecil Shin Liong terlempar beberapa tindak, lalu dengan tekat yang sangat kuat,dia bangkit berdiri tegak meskipun sekujur tubuh nya kini gosong semua.
"Aku tidak akan kalah Dewa!!" teriak Shin Liong menggema di lembah luas itu.
"Jdeerr!!"...
Sambaran petir terakhir benar benar menghanguskan seluruh kulit tubuh Shin Liong menjadi arang.
Tetapi dengan keteguhan hatinya, dia berusaha bangkit berdiri tegak menengadahkan wajah nya ke langit, menantang para Dewa.
__ADS_1
...****************...