
pagi pagi sekali, kakek Weng bersama kedua cucu kembar nya yang tidak identik itu pergi ke istana Kaisar untuk bekerja mengurusi taman istana.
Dengan naik kereta kuda yang sudah tua, mereka pergi ke istana.
Di samping tembok istana ada sebuah bangunan tempat menitipkan kereta kuda para abdi istana yang berada di luar istana itu.
Setelah melewati pemeriksaan dari petugas gerbang, kakek Weng segera masuk untuk melanjutkan pekerjaan nya, kebetulan hari itu, ada beberapa tanaman yang memang sudah harus di ganti baru, sehingga kakek Weng yang sudah tua, berinisiatif untuk minta tolong kepada kedua orang cucu nya.
Weng Tao dan Weng Taoli memang pernah beberapa kali ikut kakek Weng ke istana untuk membantu kakek nya yang sudah tua itu bekerja.
Memang Weng Tao dan Weng Taoli bukan cucu kandung nya, tetapi cucu oleh adik nya alias cucu keponakan, tetapi kedua pemuda itu sudah menganggap kakek Weng adalah kakek kandung mereka berdua.
Karena sering melihat kedua pemuda kembar itu ikut membantu kakek Weng bekerja, maka para petugas gerbang dan Prajurit dalam, tidak mempermasalahkan mereka berdua.
Sambil bekerja, Weng Tao atau Chen Chao Kai menjelaskan kepada adik nya situasi dan gambaran tentang istana itu, dimana kamar sang Kaisar, di mana kamar Ratu, dan dimana kamar putri Fan Yin sang putri mahkota negeri Zhao yang cantik jelita, namun bawel dan sedikit arogan juga.
Kebetulan mereka di suruh menata letak bunga bunga didalam istana, dan mengganti nya dengan yang baru.
Ketika mereka masuk kedalam kamar sang Kaisar, untuk mengganti bunga bunga segar di yang di letakan di dalam jambangan emas, mereka melihat sang kaisar yang terbaring dengan nafas satu satu.
Sejenak wajah Weng Tao menjadi tegang bercampur sedih menatap keadaan sang kaisar seperti itu, tetapi Weng Taoli menepuk pundak nya, menyadarkan Weng Tao dengan tugas mereka saat itu.
Kamar sang Kaisar ini sangat besar, lebih besar dari rumah kakek Weng sendiri, dengan puluhan lemari yang besar besar, berjejer rapi di kamar itu.
Mereka tidak bisa lama di dalam kamar itu, karena petugas segera datang memeriksa hasil kerja mereka.
Setelah merasa puas dengan hasil kerja mereka, petugas itupun mengajak mereka keluar dari ruangan itu.
Di belakang istana itu, masih ada istana lain nya lagi, tetapi bentuk nya lebih kecil, hanya satu yang agak lebih besar dari yang lain nya, yaitu istana Ratu, sedangkan yang lain nya istana selir yang jumlah nya hingga ratusan.
Di tengah tengah, menghadap ke arah istana utama, ada sebuah istana yang cukup besar juga, mirip istana Ratu.
Istana ini bernama istana Anggrek, sebuah istana untuk putri mahkota Chen Fan Yin.
Di sebelah istana Anggrek, ada lagi sebuah istana agak besar, untuk istana putra mahkota, dan di belakang nya berjejer istana para pangeran.
Bangunan bangunan istana ini mengelilingi taman tengah nama nya.
Sedangkan di belakang istana itu, masih ada sebuah taman yang bernama taman belakang.
Di kiri kanan taman belakang inilah, berjejer tempat tinggal para Kasim, dayang istana dan para inang pengasuh.
Sedangkan di paling belakang sendiri, ada kebun istana, yang ditanami berbagai pohon buah buahan.
Sedangkan di depan istana ada sebuah ruangan besar yang tidak berdinding, yang dinamakan aula utama istana.
__ADS_1
Di tempat itulah Kaisar menerima para Mentri dan panglima nya, untuk mendengarkan laporan mereka.
Di paling ujung aula itu, ada tempat yang lebih tinggi dari lantai lain nya, dan disana ada sebuah kursi kebesaran yang terbuat dari emas murni itu.
Di tempat itulah biasanya sang kaisar duduk.
Kini di tempat itu tidak ada lagi sang Kaisar yang duduk bertahta, tetapi cuma sang pangeran Chen Chi You, pangeran tertua, namun dari seorang selir, karena sang Kaisar sendiri, sebelum bertemu sang Ratu, sudah memiliki banyak selir.
Pangeran Chen Chi You ini mengangkat diri nya sendiri menjadi wakil sang Kaisar, lalu mencopot jendral Beng Bo Antiong sebagai jendral besar, dan menggantikan nya dengan kepala prajurit yang bernama Dong Guan Saoji menjadi jendral besar, tanpa didasari dari jalur kepangkatan.
Dong Guan Saoji ini, dibantu oleh beberapa orang bawahan nya, antara lain Shi Kong Lau, Dao Taijin,dan Zhu Ciangkun, serta mendapat dukungan modal dari Bangsawan Lu dan Hartawan Qiu.
Di aula utama istana itu, ada pangeran Chi You dan jendral besar Dong Guan Saoji yang sedang berbicara berduaan dengan suara yang sangat pelan.
Meskipun sangat pelan, tetapi bagi Weng Taoli atau Shin Liong , hal itu sudah lebih dari cukup untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Tuan ku, menurut perhitungan hamba, usia sang Kaisar sekitar empat hari saja lagi, setelah itu, tuan ku akan naik tahta, tentunya setelah masa berkabung selesai selama seratus hari selesai!" kata jendral besar Dong Guan Saoji.
Jendral besar adalah pejabat panglima perang yang membawahi semua jendral lain nya.
"Tetapi bagai mana dengan putra mahkota sendiri jendral ?" tanya pangeran Chi You ragu.
"Tuan ku, percayalah, tidak ada satupun penawar racun yang dapat mengobati racun yang hamba berikan itu, dan menurut perhitungan hamba, sang putra mahkota seharusnya sudah tewas tuan ku!" kata jendral besar Dong Guan Saoji.
"Syukurlah kalau begitu jendral, aku lega mendengar perkataan mu, bila benar waktu sang Kaisar sudah tinggal beberapa hari lagi, berarti keadaan nya sudah sangat patah sekali, dan kemungkinan tidak akan tertolong lagi, kendurkan penjagaan di kamar sang Kaisar, beberapa waktu ini , hingga beliau mangkat, agar para pembesar istana lain nya tidak terlalu curiga, buat seolah oleh kita tidak terlibat, tetapi memang sudah waktu nya Kaisar meninggal Dunia, bila menurut mu sudah tidak mungkin lagi kaisar bisa di obati, tarik semua penjagaan, biarkan se alami mungkin, dan biarkan keluarga membawa para tabib untuk mengobati beliau!" kata pangeran Chi You.
"Kalau begitu, tarik semua penjagaan, Dan biar kan Ratu maupun putri membawa tabib ke dalam kamar beliau,toh tidak mungkin juga bisa di obati lagi!" kata sang pangeran Chi You.
"Akan saya lakukan tuan ku!" jawab jendral besar Guan Saoji.
"Satu hal lagi jendral, untuk beberapa hari ini, jangan lagi kau ke istana, hingga kau mendengar Kaisar meninggal Dunia, barulah kau buru buru pergi ke istana ini, agar jejak kita tidak terendus pihak manapun!" kata pangeran Chi You.
"Hamba mengerti tuan ku, akan hamba lakukan!" kata jendral besar Guan Saoji.
Pembicaraan pun berhenti sampai di situ, dan terdengar langkah sang jendral menjauh.
Weng Tao dan Weng Taoli terus bekerja membenahi bunga bunga di taman sekitaran istana itu.
Weng Taoli atau Shin Liong tidak menceritakan tentang apa yang dia dengar dari pembicaraan antara pangeran Chi You dan jendral besar Guan Saoji tadi, dia tidak ingin Weng Tao terbebani pikiran nya karena berita itu.
Weng Tao mengajak Weng Taoli untuk duduk sebentar saja di bawah pohon Tao yang tumbuh rindang di taman itu.
Ada beberapa pekerja taman yang juga duduk beristirahat di bawah pohon itu, termasuk kakek Weng sendiri.
Tiba tiba dari jauh datang seorang perempuan paro baya bertubuh agak gempal menghampiri mereka.
__ADS_1
"Hei kalian enak enak duduk disini, bukan nya bekerja, dasar pemalas, ku adukan kepada pangeran kalian nanti, baru tau, ayo bekerja lagi!" teriak perempuan itu.
"Maap Ni Hou, kami baru saja duduk untuk mengaso sebentar, ijinkanlah kami istirahat sejenak!" pinta kakek Weng.
"Tidak!, tidak!, tidak!, enak benar kalian istirahat, tidak ada istirahat istirahat tan, kerja terus, kalian di bayar untuk itu, ayo!, ayo jangan malas malas, dasar, pantesan miskin!" kata perempuan paro baya itu sambil terus memakai maki, bahkan ada seorang yang dia dorong hingga jatuh terjerembab.
Pemuda Weng Tao bermaksud bangkit menghajar perempuan itu, tetapi kakek Weng memegang tangan nya dan memberi tanda agar tidak melawan.
Merekapun bangkit dan meneruskan pekerjaan mereka kembali.
Sedangkan perempuan itu berjalan ke arah rumah kepala pelayan istana.
"Siapakah dia kakek?" tanya Weng Taoli atau Shin Liong berbisik.
"Dia itu bernama Gong Ni Hou, seorang kepala pelayang yang baru diangkat beberapa purnama ini, dia asalnya pelayan biasa, tetapi karena pintar nya menjilat sang pangeran dan memfitnah sesama pelayan, makanya dia punya kedudukan cukup tinggi, dia pulalah yang bertanggung jawab dengan pengobatan sang Kaisar" bisik kakek Weng.
Weng Taoli merenung sejenak, tiba tiba jiwa muda usil nya memunculkan sebuah ide agak gila.
Sambil tersenyum senyum, Weng Taoli atau Shin Liong menghampiri kakak nya dan berbisik, "kak aku pamit sebentar, aku mau minta tolong sama bibi yang tadi!"...
"Minta tolong apa adik, jangan macam macam, di sekeliling kita ini tampak nya saja yang sunyi, padahal ada ratusan prajurit yang selalu siap siaga!" kata Weng Tao memperingatkan adik nya.
Kebetulan saat itu, para pekerja sudah memencar bekerja masing masing.
Tanpa menghiraukan Weng Tao lagi, Weng Taoli segera melangkah kearah rumah kepala pelayan itu.
Tanpa memberi salam atau mengetuk pintu, Weng Taoli atau Shin Liong langsung masuk kedalam rumah itu.
Didalam sebuah kamar, didapatinya Gong Ni Hou sedang duduk di sisi pembaringan sambil memperhatikan sekotak perhiasan emas permata.
"Masabodoh dengan Kaisar tua bangka itu, aku bukan nya di jadikan selir, malahan di jadikan pelayan biasa, sekarang kau baru tahu rasa huh!" umpat kepala pelayan itu menggerutu sendiri.
Belum sempat dia bangkit berdiri, tiba tiba sekelebat hembusan angin menerpa tubuh nya, dan tubuh nya pun langsung kaku tidak bisa di gerakan, bahkan bersuara saja tidak bisa, dan yang lebih kacau nya, pandangan nya menjadi gelap.
Shin Liong yang tadi masuk kedalam rumah kepala pelayan itu, dan menotok nya, mengangkat tubuh agak gemuk itu dan meletakan nya di bawah tempat tidur.
Di meja kecil, di lihat nya ada beberapa botol pil, setelah diteliti nya, ternyata kandungan nya racun dalam dosis kecil.
Tetapi meskipun dalam dosis kecil sekalipun, tetapi bila diakumulasi selama bertahun tahun, maka akan mematikan juga.
"Plup!"...
Tiba tiba tubuh Shin Liong berubah menjadi tubuh kepala pelayan itu, tentu saja perubahan itu bersama suara nya sekalian, sebagai mana bangsa jin bisa berubah menjadi apa pun dan siapapun, pasti lengkap dengan perubahan suara nya sekali gus.
Dengan membawa nampan emas berisi obat, dan air putih di dalam teko emas, Shin Liong yang telah menjadi kepala pelayan itu, berjalan kearah istana Kaisar.
__ADS_1
Beberapa orang prajurit yang berjaga jaga, menyapa nya ketika berpapasan, tetapi kepala pelayan itu menanggapi nya dengan dingin saja.
...****************...