Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Di Tanah Para Dewa.


__ADS_3

Nun jauh dari Dunia Fangayun, berjarak, beribu ribu tahun cahaya, ada sebuah Dunia besar yang bernama Kahiyangan, dimana Dunia ini juga disebut sebagai tanah para Dewa, karena di Dunia ini terdapat beberapa kerajaan besar yang raja nya adalah para Dewa Dewi.


Namun meskipun begitu, mereka berada di bawah pengawasan kaisar Langit, yang memiliki sebuah istana di atas sebuah batu meteor yang melayang seperti sebuah Bulan mengorbit Bumi.


Ada empat kerajaan utama yang paling besar di dunia Kahiyangan ini, yaitu kerajaan Dewa air, kerajaan Dewa angin, kerajaan Dewa Bumi dan kerajaan Dewa Api.


Masing masing dari mereka menguasai wilayah timur,barat Utara dan wilayah selatan.


Sedangkan wilayah tengah merupakan wilayah terbesar, adalah wilayah kosong, tanpa ada satu pun yang berani mengaku kepemilikan wilayah itu.


Konon wilayah tengah itu tempat segala binatang surgawi berada.


Selain empat kerajaan terbesar itu, masih ada beberapa kerajaan kecil lain nya.


Meskipun kecil, tetapi kekuatannya tidaklah bisa di remehkan.


Di tengah tengah benua tengah itu, ada sebuah gunung tinggi dengan puncak nya tiga buah gunung yang di namakan puncak tiga Dewa, puncak yang paling di keramat kan orang.


Di sebelah barat benua besar itu ada sebuah negeri bernama negeri Guan yang di pimpin oleh seorang raja.


Ada dua buah sungai besar yang mengalir di negeri Guan ini, yaitu sungai Sin Wu yang bermuara di Utara dan Sungai Guan yang bermuara di barat.


Sedangkan kota Raja Guan, berada di tepi sungai Guan ini.


Di muara sungai Guan ini ada sebuah kota kecil bernama kota Ruan, perjalanan dua hari dari kota Guan di sebelah hulu.


Di Utara kota Ruan, sekitar perjalanan satu hari, ada sebuah pantai berpasir putih yang cukup luas.


Pagi yang itu cuaca sangat cerah, di laut lepas terlihat ada beberapa perahu nelayan yang sedang menuju ke kota Ruan di muara sungai Guan.


Tiba tiba cuaca cerah itu di kejutkan dengan suara petir menyambar di pinggir pantai.


Bersama dengan lesatan cahaya petir menyambar pantai itu, secara tiba tiba di tempat petir menyambar tadi, berdiri seorang anak muda sangat tampan mengenakan jubah bermotif He Hua dengan rambut yang panjang di anyam kebelakang.


Lama anak muda bernama Shin Liong itu berdiri sambil memperhatikan sekeliling nya, dia merasa kepadatan hawa Qi murni di dunia yang baru dia injak ini seratus kali lebih padat dari pada di Dunia Fangayun.


Kepadatan hawa Qi murni, menentukan tinggi nya tingkat kultivasi manusia nya, semakin padat hawa Qi murni nya semakin tinggi pula pencapaian tingkat kultivasi manusia nya.


Seperti Dunia Fangkea, dunia paling dasar,dan hawa Qi murni nya paling rendah, maka tingkat kultivasi tertinggi rata rata manusia nya cuma di alam Brahmana akhir, berbeda dengan dunia Fangayun yang hawa Qi murni nya sepuluh kali lebih padat dari Dunia Fangkea, maka tingkat kultivasi manusia nya bisa mencapai tingkat Dewa Langit,dan kini di Dunia Kahiyangan ini yang seratus kali lebih padat dari Dunia Fangayun, kemungkinan manusia nya ada yang sudah mencapai tingkat Dewa Emas, yaitu satu tahapan alam Dewa kedua.


Shin Liong berjalan menyusuri pantai itu tanpa arah tujuan yang pasti, cuma mengikuti kemana kaki itu melangkah pergi.


Setelah berjalan cukup jauh, Shin Liong melihat muara sebuah sungai yang besar, dimana beberapa perahu nelayan memasuki sungai itu, mudik kehulu nya.

__ADS_1


Ternyata dugaan Shin Liong benar, tidak jauh dari muara sungai besar itu, ada sebuah kota kecil yang cukup ramai penduduk nya.


Dari gerbang di dermaga nya, dapat di lihat jika kota ini bernama kota Ruan, kota yang tidak terlalu besar, namun cukup ramai dan berpenduduk yang padat.


Setelah memasuki kota Ruan, Shin Liong ternganga melihat rata rata tingkat kultivasi para pemuda nya berada di tingkat Dewa Bumi menengah, bagai mana dengan para senior nya?, dunia yang sangat mengerikan pikir nya.


Karena hari masih agak pagi, hal pertama yang dilakukan oleh Shin Liong adalah mencari rumah makan untuk sarapan pagi.


Tidak seberapa jauh dari dermaga, ada sebuah rumah makan yang cukup ramai pengunjung nya.


Rumah makan ini khusus menjual makanan yang berasal dari hasil laut segar.


Baru saja Shin Liong duduk dan memesan makanan, tiba tiba dari arah luar rumah makan itu, masuk dua orang laki laki tua, dan duduk di meja yang sama dengan Shin Liong.


"Saudara Dai!, benarkah berita yang ku dengar, jika Sang Raja akan menikahkan putrinya?" tanya laki laki tua pertama kepada teman nya.


"Entahlah saudara Mu!, yang aku dengar juga seperti itu, putri Tan Xiu Oei di pinang Pangeran Fu Shen Yu dari negeri Sien Fo!" jawab lelaki tua bernama Dai Wang Heng itu.


"Tetapi ku dengar, putri cantik itu menolak pinangan dari negeri Sien Fo itu saudara Dai!" kata laki laki tua bernama Hu Bing Ong itu lagi.


"Mungkinkah itu saudara Mu!, kau tahu seberapa hebat nya raja Fu Heng Ho yang bergelar Dewa api itu saudara Mu!, makanya negeri nya pun bernama negeri Sien Fo (Api Bintang)salah satu negeri terkuat diantara empat negeri kuat di benua ini" kata Dai Wang Heng.


"Kita lihat saja saudara Dai, semoga itu cuma isu orang saja, bila benar terjadi, bisa bisa negeri ini hancur di libas negeri Sien Fo yang sangat besar dan kuat itu" kata laki laki tua Mu Bing Ong menghentikan pembicaraan karena pesanan mereka sudah tiba.


"Aku seperti belumpernah melihat mu di kota kecil ini, kau orang baru kah di kota ini nak?" tanya laki laki tua bernama Mu Bing Ong itu seperti tersadar dengan keberadaan Shin Liong di situ.


"Iya pak, saya baru tiba pagi ini, nama saya Shin Liong !" kata Shin Liong memperkenalkan diri nya.


"Kamu berasal dari mana nak?" tanya laki laki tua bernama Dai Wang Heng ikut nimbrung bicara.


"Saya berasal dari Fangayun pak,terdampar di negeri ini!" jawab Shin Liong sambil meneruskan makan nya.


Mendengar itu, kedua laki laki itu tersentak kaget hingga sampai batuk batuk kecil.


"Haah?, itu kalau tidak salah, dibalik bintang berkabut putih, sangat jauh dari sini, bagai mana cara nya kau bisa tiba di sini nak?" tanya kedua laki laki itu bersamaan.


"Saya tidak tahu pak!, yang saya tahu tadi pagi, tiba tiba saya terbangun sudah berada di tepi pantai pak!" jawab Shin Liong sedikit berdusta, karena takut malah menjadi heboh.


"Ooh, kalau begitu, Tian Agung yang memindahkan diri mu ke dunia tinggi ini, mungkin ada maksud tersembunyi di balik ini semua!" kata Mu Bing Ong sambil meneruskan makan nya.


"Apa rencana mu selanjut nya nak?" tanya Dai Wang Heng kemudian.


"Mungkin saya akan berpetualang di dunia ini pak, sambil menambah pengalaman hidup saya!" jawab Shin Liong .

__ADS_1


"Nah bagai mana kalau kau ikut kami ke kota raja saja pagi ini, kebetulan kami mau pergi ke kota raja, kabar nya ada acara pernikahan putri mahkota dengan pangeran dari negeri tetangga, ayolah nak, kebetulan kami naik kereta cuma berdua!" tawar Dai Wang Heng pada Shin Liong .


Karena Shin Liong juga merasa tertarik ingin melihat kota raja nya dunia yang baru dia datangi itu, maka diapun langsung menyanggupi nya.


"Baik lah pak, berapa lama perjalanan naik kereta ke kota raja dari sini?" tanya Shin Liong .


"Satu hari setengah nak, kalau naik kapal dua hari dua malam baru sampai!" jawab Dai Wang Heng.


Selesai makan, mereka segera beranjak kearah kereta kuda yang ditarik oleh dua ekor kuda itu.


Meskipun kereta itu cuma ditarik oleh dua ekor kuda saja, tetapi karena jalanan yang di lalui cukup datar, sehingga jalan kereta pun lumayan cepat, sehingga setelah bermalam di tengah jalan selama satu malam, besok hari nya, setelah tengah hari, mereka sudah memasuki kota raja Guan.


Kota Raja Guan adalah kota yang besar dan megah dengan di kelilingi oleh tembok tinggi dengan empat buah gerbang kota.


Gerbang barat ke kota Ruan, gerbang Utara ke kota Tiaw Wu, gerbang timur ke kota Balo dan gerbang selatan ke dermaga sungai Guan.


Ini tanah para Dewa, tetapi Shin Liong heran, semenjak awal, dia tidak pernah melihat satupun binatang illahi maupun binatang surgawi seperti yang dulu sering dia dengar cerita nya.


Menurut Mu Bing Ong dan Dai Wang Heng,sudah sejak lama sekali, binatang binatang itu tidak lagi terlihat, mungkin sudah punah semua nya.


Konon menurut cerita dari para Dewa Dewa, binatang binatang illahi dan binatang surgawi itu di kumpulkan di tengah tengah benua ini oleh seorang Dewata ratusan ribu tahun yang lalu, untuk menghindari dari kepunahan oleh tangan manusia, dan di kurung dengan tabir gaib Dewata,serta tidak di berikan satu buah pintu pun untuk jalan keluar masuk.


Hai itu dilakukan, karena banyak nya para Dewa yang memanfaatkan energi besar hewan illahi maupun hewan surgawi itu untuk menambah kekuatan mereka.


Di sebelah barat kota Balo,ada sebuah jurang sangat dalam, tidak ada yang bisa memastikan seberapa dalam jurang itu.


Jurang itu di namakan jurang Neraka hidup, karena daya hisap nya yang luar biasa besar, sehingga manusia sesakti apapun, pasti akan terhisap oleh jurang Neraka hidup itu bila berada kurang dari seratus langkah dari bibir jurang.


Sebenar nya Shin Liong lebih tertarik dengan dinding tak kasat mata yang tidak bisa tertembus oleh siapapun juga, dari pada masalah pernikahan putri mahkota negeri Guan.


Shin Liong segera memantapkan hati nya untuk berangkat besok pagi pagi melihat jurang Neraka hidup, yang menurut pikiran nya adalah pintu masuk kedunia bagian tengah.


Lepas tengah hari, ketika mereka telah memasuki kota Raja Guan, Mu Bing Ong dan Dai Wang Heng mengajak Shin Liong untuk makan di salah satu rumah makan terkenal kota raja Guan itu.


Nampak sekali kesibukan di kota raja demikian meningkat, para prajurit berlalu lalang dengan kesiagaan penuh.


"Maklum pangeran dari negeri Sien Fo yang akan datang, jadi kesiagaan ekstra kuat dari biasa nya!" kata Mu Bing Ong menduga duga.


"Lha iya lah saudara Mu, bila terjadi sesuatu dengan pangeran itu, bisa hancur negeri Guan ini, Raja negeri Sien Fo kan terkenal dengan gelar Dewa Api nya!" ujar Dai Wang Heng menambahkan.


Memang kesibukan di kota Raja Guan sangat terlihat mencolok sekali, beberapa pasukan hilir mudik, bahkan ada beberapa yang keluar kota Raja dengan wajah yang sangat tegang sekali.


Mu Bing Ong dan Dai Wang Heng masih saja bercerita tentang benua ini, serta ada berapa negara di benua ini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2