
Shin Liong dan ketiga istri nya serta putra nya A Yong dan ibu nya Dewi Chang 'e segera masuk memeriksa kamar tempat Arwanwen dan istri nya Lilian tidur tadi malam .
Ternyata kamar itu sudah rapi , seperti tidak pernah, di sewa orang .
Seorang petugas kebersihan kamar , buru buru pergi , ketika melihat Shin Liong datang .
Tetapi dengan sigap , Dewi Teratai putih menangkap tangan nya dengan kuat .
"Am 'ampun nyonya , saya tidak tahu apa apa , jangan sakiti saya !" kata wanita muda itu .
Tetapi Dewi Teratai putih yang sudah terlanjur kalap itu tidak memberi kan kelonggaran sedikit pun juga .
"Katakan kemana sepasang suami istri yang tadi malam menginap di tempat ini , cepat , atau leher mu ku patah kan !" teriak Dewi Teratai putih sangat murka sekali .
Dengan menangis , wanita muda itu berkata , " ampuni saya nyonya , saya benar benar tidak tahu menahu nyonya , saya disuruh sama tuan Bak Gao Lim kepala rumah penginapan ini !"...
"Ayo !, antarkan aku pada nya !" bentak Dewi Teratai putih lagi .
Dengan tubuh gemetar , wanita muda itu berjalan menuju ke satu ruangan di belakang penginapan itu .
Disebuah ruangan , nampak seorang laki laki gendut bertubuh pendek gemuk sedang duduk disebuah kursi , menghadap kesebuah meja .
Tanpa melihat kearah tamu nya , laki laki itu berkata , "ada apa Yun ?, mengapa kau kesini ?" ...
"Ampun tuan Bak !, ada tamu ingin bertemu dengan mu !" kata wanita muda itu .
Laki laki gendut itu mengangkat kepala nya , mata nya terbelalak ketika melihat Dewi Teratai putih berdiri di depan nya .
"Katakan dimana kedua orang tua ku kalian sembunyikan !" bentak Dewi Teratai putih .
"A ' aku tidak tahu , aku tidak mengerti apa yang kalian tanyakan !" jawab laki laki gendut itu .
"Ooh begitu ?, mungkin dengan cara ini , kau baru mengerti !" kata Dewi Teratai putih yang dengan kecepatan luar biasa , mengeluarkan pedang pendek nya , lalu menebas satu jari tangan laki laki gendut itu .
Jeritan laki laki itu melengking nyaring , hingga membuat orang orang geger .
Sepuluh orang laki laki berbadan tegap , langsung datang ketempat itu .
Di tangan kanan mereka , terlihat tato bunga teratai berwarna hitam .
"Kurang ajar , siapa yang sudah bikin keributan di tempat ini , tidak takut mati kah kalian ?" kata salah seorang dari kesepuluh laki laki itu .
"Buk !" ...
"Buk. !" ...
"Buk !" ...
"Buk !" ...
Empat kali suara bergedebug dalam waktu yang hampir bersamaan , dan empat orang laki laki terpelanting menabrak pintu hingga hancur , saat Shin Liong menghantam mereka dengan pukulan nya .
Ke empat laki laki itu ambruk dengan dada yang remuk .
"Aku tidak akan membunuh kalian ber enam , tetapi aku akan menyiksa kalian hingga kalian menyesal sudah di lahirkan oleh ibu kalian , dan kematian pun enggan datang meskipun kalian menghendaki nya !" kata Shin Liong sambil bergerak secepat kilat menotok ke enam laki laki tadi .
__ADS_1
Setelah menotok ke enam laki laki tadi , Shin Liong segera memasukan pil Dewa bintang sembilan kedalam mulut mereka , sebagai pelemah racun pelebur raga yang ada pada para penjahat teratai hitam itu seperti biasa nya .
"Katakan dimana sepasang suami istri itu kalian sekap , maka kalian boleh pergi , kalau tidak ,kalian akan tanggung sendiri akibat nya !" kata Shin Liong
"Cuih !, kau pikir kami takut , Kami salah satu dari Hek Lian Tin (barisan Teratai Hitam) , tidak pernah takut ancaman , mati pun kami tidak takut !" teriak salah seorang yang merupakan pimpinan dari Hek Lian Tin itu .
"Iya kah ?, oke lah kalau begitu !" kata Shin Liong sambil mengeluarkan pisau belati nya , lalu pelan pelan menyayat jari telunjuk laki laki itu hingga putus .
Tentu saja jerit dan tangis laki laki itu serasa mencapai langit menahan nyeri yang luar biasa itu .
Semua yang ada di tempat itu sampai memejamkan mata nya karena ngeri melihat kesadisan yang tiada terperikan itu .
"Bagai mana ?, masih yakin kau kuat bertahan sekarang ?, masih ada sembilan jari tangan mu , dan sepuluh jari kaki mu , meskipun kalian menelan racun pelebur raga , itu tidak ada guna nya , karena kalian tidak akan mati , tetapi akan mengalami kesakitan yang luar biasa , sehingga kalian sangat ingin mati karena nya , tetapi kematian itu , justru menjauh dari kalian !" ujar Shin Liong .
Mendengar perkataan Shin Liong itu , kelima laki laki lain nya , mulai goyah pendirian .
"Cuih !, kau ternyata lebih kejam dari Iblis , aku tidak akan mengatakan apa apa !" teriak laki laki itu .
Kembali Shin Liong menyayat satu jari laki laki itu secara perlahan hingga putus .
Jerit kesakitan yang luar biasa terdengar keluar dari mulut laki laki itu .
Melihat apa yang dialami oleh Hek Lian Tin itu , laki laki gendut bernama Bak Gao Lim itu juga ikut bergidik ngeri .
Hukuman potong jari tidak lah apa apa , tetapi bila dipotong pelan pelan dengan disayat pakai pisau , itu adalah mimpi paling mengerikan sepanjang usia .
Bagai mana tidak , memotong jari dengan disayat sedikit demi sedikit , sakit nya sejuta kali lebih sakit dari pada dipotong sekali gus .
"Bunuh saja aku !, aku sudah tidak sanggup lagi , kumohon , bunuh saja aku !" jerit laki laki itu sambil menangis .
"Aku ' aku tidak akan mengatakan nya !" teriak laki laki itu kembali .
Terdengar teriakan bercampur jerit dan tangis yang nyaring menggema dari laki laki itu , ketika satu lagi jari tangan nya yang dipotong oleh Shin Liong .
"Teruslah diam dan tidak mengatakan nya , hingga tangan dan kaki mu habis , sesudah itu giliran mereka , tetapi aku tidak yakin mereka sebodoh diri mu !" bentak Shin Liong nyaring .
"Ampun !, ampun kan aku , sepasang suami istri itu di bawa oleh Siang Thi Beng ke Koai Liong Kok !" jerit laki laki itu akhirnya .
Siang Thi Beng (sepasang pencuri nyawa) adalah Sepasang pendekar lihai dan culas yang tergolong pada golongan Hitam atau Hek To , karena tindak tanduk mereka yang gemar bersenang senang dan melihat penderitaan orang lain .
Sedangkan Koai Liong kok (Lembah Naga Siluman ) adalah sebuah lembah yang di huni oleh se ekor Naga Siluman yang sangat sakti dan ganas .
Koai Liong ini merupakan guru dari Siang Thi Beng sendiri .
Maksud Siang Thi Beng , membawa sepasang suami istri itu ke Koai Liong kok , adalah untuk bersenang senang tanpa di ganggu oleh siapa pun juga .
Tetapi , ternyata Koai Liong sendiri mencium sesuatu di dalam perut Lilian , yaitu janin dari pangeran Kalasura yang karena kesaktian dari Dewi Chang 'e , janin itu tidak bisa terlahir ke Dunia .
Karena tidak lagi dapat menahan kemarahan nya , setelah mendengar kedua orang tua nya di bawa ke Koai Liong kok .
Dengan sekali hantaman tangan kanan nya , tubuh laki laki gendut bernama Bak Gao Lim itu pun tumbang dengan kepala yang rengkah .
Belum cukup sampai di situ , dengan pedang pendek nya , wanita cantik itu mengamuk , membantai kesepuluh orang Hek Lian Tin itu , hingga tewas semua nya .
Seperti se ekor singa yang terluka , Dewi Teratai putih tidak berhenti sampai di situ saja , dengan mengerahkan seluruh energi nya , di arahkan nya pukulan tangan kosong nya , ke arah rumah penginapan itu hingga hancur berantakan , rata dengan tanah .
__ADS_1
Para tamu yang menginap di tempat itu segera lari menjauh , termasuk yang berada di rumah makan .
Rumah makan milik Hek Lian Kauw ini juga tidak luput dari sasaran kemarahan dari Dewi Teratai putih ini .
Kini di tempat itu yang tersisa cuma sebuah tanah lapang dengan setumpuk sisa sisa bangunan saja .
Setelah semua nya hancur berantakan , akhirnya Dewi Teratai putih pun duduk diatas rerumputan sambil menangis , khawatir dengan keselamatan kedua orang tua nya .
Shin Liong menghampiri wanita cantik itu , membelai rambut nya yang panjang terurai .
"Sabarlah Dewi !, kita akan segera ke Koai Liong kok , kita bebaskan kedua orang tua mu !" kata Shin Liong .
Dewi Teratai putih memeluk Shin Liong sambil menangis tersedu sedu , di benam kan nya wajah nya di dada sang suami nya itu .
Hari itu juga mereka pergi ke arah barat menuju ke Koai Liong kok untuk mencari Arwanwen dan Li Lian .
Lembah itu agak ke barat daya dan sejauh perjalanan dua hari dari kota Fansau .
Lembah selebar satu lie dan sepanjang sepuluh lie ini , membentang dari Utara ke selatan dengan tebing tebing terbuat dari batu cadas berwarna serba hitam .
Seluruh lembah ini , banyak terdapat kayu liong berwarna hitam dan bergetah hitam , dengan daun daun nya yang kecil berwarna hitam pula .
Selain itu , ada pula bunga mawar hitam yang langka , serta bunga anggrek hitam .
Ditengah tengah lembah Koai Liong kok , tepat nya berada di tebing batu cadas sebelah barat , terdapat sebuah mulut goa sebesar rumah .
Goa ini memanjang dari timur kesebelah barat .
Di sebuah ruangan yang sangat besar , di atas batu altar hitam , terlihat Arwanwen dan Li Lian tertidur telentang dengan sangat lelap nya .
Disebelah selatan altar , berdiri sepasang manusia berusia paro baya namun masih terlihat sangat cantik dan tampan , mereka lah Siang Thi Beng .
sedangkan di seberang altar , di sebelah Utara , berdiri seorang laki laki tua bertubuh bongkok berkulit hitam ke biru biruan , dengan rambut putih riap riapan , sedang merapalkan mantera mantera Hoat Sut .
Beberapa saat kemudian , dari tubuh Li Lian , memancarkan cahaya kuning terang .
Dan bersamaan dengan itu , dari celah kedua belah paha Li Lian , melesat cahaya merah , kearah kedua belah tangan laki laki bongkok itu .
Ternyata cahaya merah itu adalah seorang bayi perempuan berambut merah menyala , dengan pupil mata berwarna merah darah .
Terdengar suara tawa dari laki laki tua bongkok itu menggema di dalam goa besar itu , hingga mencapai seluruh lembah Koai Liong kok .
"Ha ha ha ha !, Dengan menyantap bayi ajaib perpaduan antara manusia sakti dan pangeran iblis ini , kesaktian ku tak akan bisa ditandingi oleh mahluk apapun di semesta Raya ini , aku Hek Koai Liong akan menjadi Raja semesta Raya ha ha ha ha !" ...
Laki laki tua yang bertubuh bongkok itu tertawa terbahak bahak , sambil menatap bayi merah di tangan nya itu .
Gema suara tawa nya terdengar hingga keseluruh lembah itu .
Namun tiba tiba , seberkas bayangan hitam , tiba tiba menyambar bayi merah itu .
"Ho ho ho ho !, Hek Koai Liong , kau tidak berhak atas tubuh bayi ini , karena bayi ini putri kakak ku Kalasura , akulah Dandasura paman nya yang lebih berhak atas tubuh bayi ini , aku akan menambah kesaktian ku , agar bisa membunuh Shin Liong yang sudah membunuh kakak ku !" kata bayangan hitam yang ternyata seorang laki laki tua ber kulit gelap , dengan jubah yang juga hitam .
Di dahi laki laki tua bernama Dandasura itu , ada sebuah tanduk berwarna hitam dengan panjang sekitar satu jengkal .
...****************...
__ADS_1