Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Bayi Ajaib .


__ADS_3

Shin Liong dan ketiga istri nya serta putra nya A Yong dan ibu nya Dewi Chang 'e segera masuk memeriksa kamar tempat Arwanwen dan istri nya Lilian tidur tadi malam .


Ternyata kamar itu sudah rapi , seperti tidak pernah, di sewa orang .


Seorang petugas kebersihan kamar , buru buru pergi , ketika melihat Shin Liong datang .


Tetapi dengan sigap , Dewi Teratai putih menangkap tangan nya dengan kuat .


"Am 'ampun nyonya , saya tidak tahu apa apa , jangan sakiti saya !" kata wanita muda itu .


Tetapi Dewi Teratai putih yang sudah terlanjur kalap itu tidak memberi kan kelonggaran sedikit pun juga .


"Katakan kemana sepasang suami istri yang tadi malam menginap di tempat ini , cepat , atau leher mu ku patah kan !" teriak Dewi Teratai putih sangat murka sekali .


Dengan menangis , wanita muda itu berkata , " ampuni saya nyonya , saya benar benar tidak tahu menahu nyonya , saya disuruh sama tuan Bak Gao Lim kepala rumah penginapan ini !"...


"Ayo !, antarkan aku pada nya !" bentak Dewi Teratai putih lagi .


Dengan tubuh gemetar , wanita muda itu berjalan menuju ke satu ruangan di belakang penginapan itu .


Disebuah ruangan , nampak seorang laki laki gendut bertubuh pendek gemuk sedang duduk disebuah kursi , menghadap kesebuah meja .


Tanpa melihat kearah tamu nya , laki laki itu berkata , "ada apa Yun ?, mengapa kau kesini ?" ...


"Ampun tuan Bak !, ada tamu ingin bertemu dengan mu !" kata wanita muda itu .


Laki laki gendut itu mengangkat kepala nya , mata nya terbelalak ketika melihat Dewi Teratai putih berdiri di depan nya .


"Katakan dimana kedua orang tua ku kalian sembunyikan !" bentak Dewi Teratai putih .


"A ' aku tidak tahu , aku tidak mengerti apa yang kalian tanyakan !" jawab laki laki gendut itu .


"Ooh begitu ?, mungkin dengan cara ini , kau baru mengerti !" kata Dewi Teratai putih yang dengan kecepatan luar biasa , mengeluarkan pedang pendek nya , lalu menebas satu jari tangan laki laki gendut itu .


Jeritan laki laki itu melengking nyaring , hingga membuat orang orang geger .


Sepuluh orang laki laki berbadan tegap , langsung datang ketempat itu .


Di tangan kanan mereka , terlihat tato bunga teratai berwarna hitam .


"Kurang ajar , siapa yang sudah bikin keributan di tempat ini , tidak takut mati kah kalian ?" kata salah seorang dari kesepuluh laki laki itu .


"Buk !" ...


"Buk. !" ...


"Buk !" ...


"Buk !" ...


Empat kali suara bergedebug dalam waktu yang hampir bersamaan , dan empat orang laki laki terpelanting menabrak pintu hingga hancur , saat Shin Liong menghantam mereka dengan pukulan nya .


Ke empat laki laki itu ambruk dengan dada yang remuk .


"Aku tidak akan membunuh kalian ber enam , tetapi aku akan menyiksa kalian hingga kalian menyesal sudah di lahirkan oleh ibu kalian , dan kematian pun enggan datang meskipun kalian menghendaki nya !" kata Shin Liong sambil bergerak secepat kilat menotok ke enam laki laki tadi .

__ADS_1


Setelah menotok ke enam laki laki tadi , Shin Liong segera memasukan pil Dewa bintang sembilan kedalam mulut mereka , sebagai pelemah racun pelebur raga yang ada pada para penjahat teratai hitam itu seperti biasa nya .


"Katakan dimana sepasang suami istri itu kalian sekap , maka kalian boleh pergi , kalau tidak ,kalian akan tanggung sendiri akibat nya !" kata Shin Liong


"Cuih !, kau pikir kami takut , Kami salah satu dari Hek Lian Tin (barisan Teratai Hitam) , tidak pernah takut ancaman , mati pun kami tidak takut !" teriak salah seorang yang merupakan pimpinan dari Hek Lian Tin itu .


"Iya kah ?, oke lah kalau begitu !" kata Shin Liong sambil mengeluarkan pisau belati nya , lalu pelan pelan menyayat jari telunjuk laki laki itu hingga putus .


Tentu saja jerit dan tangis laki laki itu serasa mencapai langit menahan nyeri yang luar biasa itu .


Semua yang ada di tempat itu sampai memejamkan mata nya karena ngeri melihat kesadisan yang tiada terperikan itu .


"Bagai mana ?, masih yakin kau kuat bertahan sekarang ?, masih ada sembilan jari tangan mu , dan sepuluh jari kaki mu , meskipun kalian menelan racun pelebur raga , itu tidak ada guna nya , karena kalian tidak akan mati , tetapi akan mengalami kesakitan yang luar biasa , sehingga kalian sangat ingin mati karena nya , tetapi kematian itu , justru menjauh dari kalian !" ujar Shin Liong .


Mendengar perkataan Shin Liong itu , kelima laki laki lain nya , mulai goyah pendirian .


"Cuih !, kau ternyata lebih kejam dari Iblis , aku tidak akan mengatakan apa apa !" teriak laki laki itu .


Kembali Shin Liong menyayat satu jari laki laki itu secara perlahan hingga putus .


Jerit kesakitan yang luar biasa terdengar keluar dari mulut laki laki itu .


Melihat apa yang dialami oleh Hek Lian Tin itu , laki laki gendut bernama Bak Gao Lim itu juga ikut bergidik ngeri .


Hukuman potong jari tidak lah apa apa , tetapi bila dipotong pelan pelan dengan disayat pakai pisau , itu adalah mimpi paling mengerikan sepanjang usia .


Bagai mana tidak , memotong jari dengan disayat sedikit demi sedikit , sakit nya sejuta kali lebih sakit dari pada dipotong sekali gus .


"Bunuh saja aku !, aku sudah tidak sanggup lagi , kumohon , bunuh saja aku !" jerit laki laki itu sambil menangis .


"Aku ' aku tidak akan mengatakan nya !" teriak laki laki itu kembali .


Terdengar teriakan bercampur jerit dan tangis yang nyaring menggema dari laki laki itu , ketika satu lagi jari tangan nya yang dipotong oleh Shin Liong .


"Teruslah diam dan tidak mengatakan nya , hingga tangan dan kaki mu habis , sesudah itu giliran mereka , tetapi aku tidak yakin mereka sebodoh diri mu !" bentak Shin Liong nyaring .


"Ampun !, ampun kan aku , sepasang suami istri itu di bawa oleh Siang Thi Beng ke Koai Liong Kok !" jerit laki laki itu akhirnya .


Siang Thi Beng (sepasang pencuri nyawa) adalah Sepasang pendekar lihai dan culas yang tergolong pada golongan Hitam atau Hek To , karena tindak tanduk mereka yang gemar bersenang senang dan melihat penderitaan orang lain .


Sedangkan Koai Liong kok (Lembah Naga Siluman ) adalah sebuah lembah yang di huni oleh se ekor Naga Siluman yang sangat sakti dan ganas .


Koai Liong ini merupakan guru dari Siang Thi Beng sendiri .


Maksud Siang Thi Beng , membawa sepasang suami istri itu ke Koai Liong kok , adalah untuk bersenang senang tanpa di ganggu oleh siapa pun juga .


Tetapi , ternyata Koai Liong sendiri mencium sesuatu di dalam perut Lilian , yaitu janin dari pangeran Kalasura yang karena kesaktian dari Dewi Chang 'e , janin itu tidak bisa terlahir ke Dunia .


Karena tidak lagi dapat menahan kemarahan nya , setelah mendengar kedua orang tua nya di bawa ke Koai Liong kok .


Dengan sekali hantaman tangan kanan nya , tubuh laki laki gendut bernama Bak Gao Lim itu pun tumbang dengan kepala yang rengkah .


Belum cukup sampai di situ , dengan pedang pendek nya , wanita cantik itu mengamuk , membantai kesepuluh orang Hek Lian Tin itu , hingga tewas semua nya .


Seperti se ekor singa yang terluka , Dewi Teratai putih tidak berhenti sampai di situ saja , dengan mengerahkan seluruh energi nya , di arahkan nya pukulan tangan kosong nya , ke arah rumah penginapan itu hingga hancur berantakan , rata dengan tanah .

__ADS_1


Para tamu yang menginap di tempat itu segera lari menjauh , termasuk yang berada di rumah makan .


Rumah makan milik Hek Lian Kauw ini juga tidak luput dari sasaran kemarahan dari Dewi Teratai putih ini .


Kini di tempat itu yang tersisa cuma sebuah tanah lapang dengan setumpuk sisa sisa bangunan saja .


Setelah semua nya hancur berantakan , akhirnya Dewi Teratai putih pun duduk diatas rerumputan sambil menangis , khawatir dengan keselamatan kedua orang tua nya .


Shin Liong menghampiri wanita cantik itu , membelai rambut nya yang panjang terurai .


"Sabarlah Dewi !, kita akan segera ke Koai Liong kok , kita bebaskan kedua orang tua mu !" kata Shin Liong .


Dewi Teratai putih memeluk Shin Liong sambil menangis tersedu sedu , di benam kan nya wajah nya di dada sang suami nya itu .


Hari itu juga mereka pergi ke arah barat menuju ke Koai Liong kok untuk mencari Arwanwen dan Li Lian .


Lembah itu agak ke barat daya dan sejauh perjalanan dua hari dari kota Fansau .


Lembah selebar satu lie dan sepanjang sepuluh lie ini , membentang dari Utara ke selatan dengan tebing tebing terbuat dari batu cadas berwarna serba hitam .


Seluruh lembah ini , banyak terdapat kayu liong berwarna hitam dan bergetah hitam , dengan daun daun nya yang kecil berwarna hitam pula .


Selain itu , ada pula bunga mawar hitam yang langka , serta bunga anggrek hitam .


Ditengah tengah lembah Koai Liong kok , tepat nya berada di tebing batu cadas sebelah barat , terdapat sebuah mulut goa sebesar rumah .


Goa ini memanjang dari timur kesebelah barat .


Di sebuah ruangan yang sangat besar , di atas batu altar hitam , terlihat Arwanwen dan Li Lian tertidur telentang dengan sangat lelap nya .


Disebelah selatan altar , berdiri sepasang manusia berusia paro baya namun masih terlihat sangat cantik dan tampan , mereka lah Siang Thi Beng .


sedangkan di seberang altar , di sebelah Utara , berdiri seorang laki laki tua bertubuh bongkok berkulit hitam ke biru biruan , dengan rambut putih riap riapan , sedang merapalkan mantera mantera Hoat Sut .


Beberapa saat kemudian , dari tubuh Li Lian , memancarkan cahaya kuning terang .


Dan bersamaan dengan itu , dari celah kedua belah paha Li Lian , melesat cahaya merah , kearah kedua belah tangan laki laki bongkok itu .


Ternyata cahaya merah itu adalah seorang bayi perempuan berambut merah menyala , dengan pupil mata berwarna merah darah .


Terdengar suara tawa dari laki laki tua bongkok itu menggema di dalam goa besar itu , hingga mencapai seluruh lembah Koai Liong kok .


"Ha ha ha ha !, Dengan menyantap bayi ajaib perpaduan antara manusia sakti dan pangeran iblis ini , kesaktian ku tak akan bisa ditandingi oleh mahluk apapun di semesta Raya ini , aku Hek Koai Liong akan menjadi Raja semesta Raya ha ha ha ha !" ...


Laki laki tua yang bertubuh bongkok itu tertawa terbahak bahak , sambil menatap bayi merah di tangan nya itu .


Gema suara tawa nya terdengar hingga keseluruh lembah itu .


Namun tiba tiba , seberkas bayangan hitam , tiba tiba menyambar bayi merah itu .


"Ho ho ho ho !, Hek Koai Liong , kau tidak berhak atas tubuh bayi ini , karena bayi ini putri kakak ku Kalasura , akulah Dandasura paman nya yang lebih berhak atas tubuh bayi ini , aku akan menambah kesaktian ku , agar bisa membunuh Shin Liong yang sudah membunuh kakak ku !" kata bayangan hitam yang ternyata seorang laki laki tua ber kulit gelap , dengan jubah yang juga hitam .


Di dahi laki laki tua bernama Dandasura itu , ada sebuah tanduk berwarna hitam dengan panjang sekitar satu jengkal .


...****************...

__ADS_1


__ADS_2