
Setelah melihat kemunculan pemuda Hao Cun dan Hao Shen yang secara tiba tiba itu, para binatang siluman yang dari tadi membaui serta menunggu kemunculan Hao Cun dan Hao Shen, menjadi semakin mengganas, seolah olah mereka melihat setumpuk daging segar yan segera akan diperebutkan.
Sepuluh ekor binatang siluman serigala malam tingkat tujuh dan sepuluh ekor binatang siluman serigala darah tingkat tujuh, seakan berlomba lomba untuk saling mendahului, menerjang kearah kedua orang pemuda itu.
Tubuh mereka berlompatan keudara, menerjang kearah kedua pemuda itu.
Namun saat tubuh mereka berada diudara, puluhan anak panah terbuat dari cahaya putih terang, melesat kearah mereka.
Cuma dalam waktu beberapa saat saja, dua puluh ekor binatang siluman tingkat tujuh itu ter bantai semua nya, oleh panah sumbu langit.
Lima ekor pimpinan kawanan serigala malam itu menggeram marah melihat para kawanan nya tewas ter bantai panah sumbu langit itu, maju serentak ingin menyerang kedua pemuda itu.
Begitu pula dengan lima ekor pimpinan kawanan serigala darah itu, maju serentak menyerang kearah kedua pemuda itu.
Kesepuluh pimpinan kawanan serigala malam dan serigala darah yang sudah berada di tingkat delapan itu,bergerak serentak menyerang Hao Cun dan Hao Shen.
Namun belum lagi terjangan mereka mencapai tujuan, sepuluh anak panah bercahaya putih, menembus leher mereka masing masing.
Kesepuluh binatang siluman tingkat delapan itupun tewas seketika.
Melihat itu, ke empat ekor binatang siluman Ku Ung tingkat delapan itu segera maju meringsek kearah kedua pemuda itu berada.
Beberapa anak panah bercahaya putih pun segera meluncur ke tenggorokan ke empat binatang siluman tingkat delapan itu.
Namun rupanya Siluman Ku Ung itu kebal terhadap panah sumbu langit, terbukti dengan tubuh mereka yang tidak bisa ditembus oleh anak panah sumbu langit.
Melihat itu, pemuda Hao Cun segera bersiap siap menghadapi serangan ke empat binatang siluman itu.
Tetapi belum lagi dia bergerak, tiba tiba secara sangat cepat, pemuda Hao Shen bergerak dengan senjata pedang Kristal Katai putih inti bintang nya.
"Cras!".
"Cras!".
"Cras!".
"Cras!".
Empat kali tebasan, putus lah ke empat kepala binatang siluman Ku Ung itu.
Melihat ke empat binatang siluman Ku Ung yang kebal senjata itu juga bisa di kalahkan dengan mudah nya, para siluman harimau yang tadi hanya menonton saja, tiba tiba melesat ke arah keremangan dalam hutan dan hilang dari pandangan.
Hampir setengah hari, kedua pemuda itu menguliti semua binatang siluman itu serta mengambil batu energi nya, dan menyimpan semua nya di dalam cincin ruang khusus pemburu.
Tengah hari, barulah mereka makan, setelah sedari pagi tidak makan apa pun juga.
Bagi Hao Cun atau Chen Chao Kai, sebenar nya tidak memerlukan keping emas dari menjual binatang buruan, karena dia membawa bekal keping emas yang tidak sedikit.
Dia hanya senang membantu sang adik angkat nya yang sudah dia anggap adik kandung nya itu.
"Kakak, kemanakah arah kita berjalan, seperti nya kita sudah tersesat kak?" tanya pemuda Hao Shen kepada kakak nya.
"Entahlah dik, seperti nya kita memang tersesat, andai saja kita bisa berubah menjadi burung elang, tentu kita bisa terbang tinggi, lalu mencari arah yang benar dari ketinggian itu!" kata pemuda Hao Cun kepada adik nya.
"Pernahkah kakak mencoba berubah menjadi binatang?" tanya pemuda Hao Shen kepada sang kakak nya.
"Tidak!, tidak!, karena kupikir bisa berubah menjadi berbagai rupa manusia sudah cukup hebat, jadi aku tidak pernah berpikir untuk berubah menjadi binatang!" jawab Hao Cun.
"Baiklah kak!, aku akan mencoba berubah menjadi elang, bila berhasil berubah, aku akan kembali menjadi Hao Shen, bila tidak berhasil kembali menjadi Hao Shen, kakak jangan ikutan berubah, biar aku saja yang menjadi binatang selama nya, kakak jangan!" kata Hao Shen kepada kakak nya.
__ADS_1
Sang kakak terharu, lalu memeluk tubuh sang adik.
Kemudian, Hao Shen atau Shin Liong , segera berkonsentrasi kepada rupa bentuk burung elang.
Seberkas cahaya putih membungkus tubuh nya sesaat, lalu,
"Plup!".
Ketika cahaya itu menghilang, tubuh Hao Shen pun kini telah sirna, dan berganti dengan se ekor burung elang berbulu putih.
"Kuiiik!".
"Kuiiik!".
Dan setelah beberapa saat kemudian, tubuh elang putih itupun memancarkan cahaya putih kembali.
Lalu setelah cahaya putih itu sirna,
"Plup!".
Tubuh elang itupun kembali menjadi tubuh pemuda Hao Shen lagi.
Hao Cun tertegun melihat keberhasilan adik nya itu, "kau berhasil adik, kalau begitu perjalanan kita akan menjadi jauh lebih cepat!"...
Kini mereka berdua yang berubah menjadi burung elang putih, lalu terbang keudara, melesat ke angkasa.
Dari ketinggian, mereka melihat nun jauh di timur, di pinggir pantai, dekat laut, ada sebuah kota besar.
Kedua ekor burung itu segera terbang kearah itu.
Mereka tidak mengenakan sayap mereka terus menerus, Hannya saat mencapai ketinggian saja, setelah merasa cukup tinggi, mereka berhenti mengepalkan sayap nya, hanya meluncur mengikuti angin saja.
Setelah mereka berdua turun di tempat sepi agak jauh dari jalan, mereka berdua kembali berubah menjadi pemuda kembar Hao Cun dan Hao Shen.
Dengan berjalan kaki, mereka memasuki gerbang kota Kwan Ton, setelah terlebih dahulu membayar biaya masuk kota sebesar setengah keping emas.
Saat mereka masuk kedalam kota Kwan Ton, hari sudah menjelang sore.
Ternyata kota Kwan Ton jauh lebih besar dari pada kota Su Cuan, berada di tepi laut, dengan latar belakang pegunungan.
Apalagi kota Kwan Ton berada di dalam sebuah teluk yang cukup besar, sehingga gelombang tidak terlalu besar, sehingga banyak penduduk yang memanfaatkan untuk wisata air, dengan menawarkan perahu beserta jasa pendayung nya.
Di dermaga laut kota Kwan Ton ini, banyak kapal yang bersandar, sekedar transit atau memang bertujuan ke kota besar ini, bahkan kapal dari berbagai pulau pun banyak yang singgah di kota ini.
Ketika kedua pemuda Hao Cun dan Hao Shen ini mampir ke rumah makan di kota itu, orang orang yang sedang makan pun tercengang melihat dua orang pemuda yang sama persis tanpa ada perbedaan sedikit pun juga, baik rupa, bentuk tubuh, dan kulit nya.
Rupanya rumah makan itu adalah yang paling terkenal di seluruh kota Kwan Ton, itu terlihat dari banyak nya para pengunjung yang datang.
Rumah makan ini tidak bertingkat, tetapi bangunan nya berbentuk melingkar seperti huruf u dengan halaman berada di tengah tengah, karena itulah kereta kuda tidak boleh memasuki halaman rumah makan ini.
Hao Cun dan Hao Shen masuk ke bagian depan sebelah kiri halaman.
Setelah memesan makanan, mereka mencari tempat duduk di dekat jendela, menghadap ke halaman.
Rupanya di tempat itu adalah tempat elite, karena banyak nya orang orang kaya yang makan di sana, sehingga hampir semua meja terisi, untung saja mereka masih kebagian meja.
Baru saja pelayan mengantarkan minuman teh manis, dari arah pintu masuk empat orang gadis cantik.
Melihat dari pakaian mereka, bisa di pastikan mereka anak orang. orang kaya.
__ADS_1
Mereka berdiri di ambang pintu sesaat, melihat kesana kemari, mencari tempat yang masih kosong.
Karena semua meja sudah penuh, cuma meja yang di tempati Hao Cun dan Hao Shen saja yang masih tersisa empat kursi, maka ke empat gadis cantik itu segera berjalan ke arah meja itu.
"Maap saudara berdua, bisakah kami bergabung di meja ini, berhubung semua meja sudah penuh!" tanya salah satu dari ke empat gadis cantik itu.
"Eh, silahkan!, silahkan!, nona nona muda duduk di meja ini!" kata Hao Cun mempersilahkan mereka duduk.
Mereka pun segera duduk memenuhi ke empat kursi yang masih tersisa di meja itu.
Tiga orang duduk menghadap kearah Hao Cun dan Hao Shen, sedangkan yang seorang lagi, duduk di kursi yang berada di samping Hao Shen, dan menghadap kearah tiga orang teman nya.
Gadis yang duduk di samping Hao Shen agak pendiam, tetapi melihat dari pakaian nya, dia seorang nona muda, dan paling cantik dari ketiga teman nya dengan tubuh yang tinggi semampai.
"Jiu Mei!, kalian berdua nampak serasi, sama sama pendiam!" kata salah seorang gadis yang duduk di depan Hao Shen, menggoda gadis cantik yang duduk di samping Hao Cun.
"Hm!".
Gadis itu cuma mendehem, tanpa menanggapi godaan teman nya.
"Guan Mi, jangan menggoda Jiu Mei terus, lihat mukanya jadi merah" kata taman nya yang lain.
"Iya Guan Mi, jangan menggodanya terus, lihat pipinya merah, jadi nya tambah cantik, bisa bisa saudara ini bisa jatuh cinta beneran" kata teman nya yang lain lagi.
"Kalau kalian tidak berhenti menggoda ku, aku akan pulang, dan kalian bayar sendiri!" kata gadis bernama Jiu Mei itu.
"Sudahlah Guan Mi!, Bian Moi!, cepat pesan makanan untuk kita, jangan bercanda terus!" kata teman mereka yang sedari tadi cuma diam saja.
"Baiklah Eng Xian, aku akan memesan makanan untuk kita, seperti biasa nya kan ?" tanya Guan Mi.
Serentak ketiga gadis itupun meng iya kan.
Tak seberapa lama, pesanan Hao Cun dan Hao Shen pun datang diantarkan ke meja mereka.
Saat mereka sedang menikmati makanan mereka, dan keempat gadis cantik itu saling bercanda, dari arah pintu masuk dua orang pemuda.
Setelah berdiri celingukan kesana kemari, kedua orang pemuda itu melangkah ke arah meja Hao Cun dan Hao Shen.
Saat melihat dua orang pemuda itu masuk, ke empat orang gadis itu nampak sedikit tegang.
Setelah berada di dekat Hao Cun dan Hao Shen, salah satu pemuda itu berkata, " Hei!, kalian pindah dari situ, meja itu akan kami gunakan, entah lah dari situ!" teriak nya.
"Luan Cen Tong!, kau keterlaluan mengusir orang begitu saja!, pergilah jangan ganggu mereka!, mereka tidak ada hubungan nya dengan kami!" teriak gadis bernama Ouw Jiu Mei itu sambil berdiri.
"Oow!, rupanya jal*ng ini ingin membela kekasih nya ya, kau ingin melihat kekasih mu Bermandi darah disini ya, baiklah kalau begitu, Bo Peng!, hajar pemuda itu, tidak ada seorangpun yang boleh duduk bersama calon istri ku!" kata pemuda bernama Luan Cen Tong itu memerintahkan teman nya untuk memukuli Hao Shen.
Pemuda bernama Kang Bo Peng itu maju mendekati Hao Shen, lalu dengan cepat, tangan kanan nya terayun kearah muka Hao Shen.
"Prok!"...
"Aduuh!"...
Tanpa ada satupun yang sempat melihat, apa dan siapa yang berbuat, tiba tiba pemuda yang bernama Kang Bo Peng ini berjingkrak jingkrak kesakitan sambil memegang tangan kanan nya yang sudah hancur sebatas siku itu, sedangkan kedua pemuda Hao Cun dan Hao Shen masih asik menikmati makanan mereka, seolah olah bukan mereka yang melakukan nya, dan seolah olah mereka tidak mengetahui ada peristiwa itu.
Melihat teman nya hanya dalam sekali gebrak saja sudah cidera, pemuda Luan Cen Tong menjadi gentar, dan sambil menunjuk kearah Hao cun dan Hao Shen, dia berkata, "kurang ajar sekali kau, tunggu lah, kalian akan merasakan akibat nya berurusan dengan tuan muda Luan"...
Pemuda Luan Cen Tong membawa teman nya keluar dari rumah makan itu.
...****************...
__ADS_1