Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Musuh Terselubung .


__ADS_3

Wanita tua berwajah cantik itu kembali tersenyum ramah kepada A Yong dan Dewi Pek Lan Hua .


"Ya , aku adalah nenek guru oleh Lan er , mereka berdua juga sama seperti Lan er , kutemukan di dalam hutan selagi masih bayi , ku angkat sebagai putri angkat ku , sekaligus murid terkasih ku !" jawab Sin Ni Seng Sian .


"Berarti usia nenek sudah sangat tua nek ?" tanya A Yong terus terang .


"Ya , kau benar sekali Yong er , aku hidup semasa Dunia ini masih damai , dimasa kepemimpinan kaisar Liu Song shen , entah sudah berapa ratus tahun hingga sekarang !" jawab nenek cantik itu .


Tanpa banyak bicara lagi , Dewi Pek Lan Hua berlalu masuk kedalam pondok dan merebahkan tubuh nya di ruang dalam pondok itu .


Kedua orang gurunya menatap kearah Pek Lan Hua dengan heran , dara yang biasa nya lincah dan selalu ceria itu , kini tiba tiba diam , seperti orang yang sedang ngambek .


Malam itu , A Yong bermalam di pondok tempat tinggal Sin Ni Seng Sian .


Pagi hari nya , ketika mata hari mulai naik , Dewi Pek Lan Hua bangun dari tidur nya , yang pertama dia lakukan adalah mencari keberadaan A Yong .


Tetapi hingga sampai ke telaga kecil di depan pondok itu dia mencari , keberadaan A Yong tidak juga dia temukan .


Diatas batu putih di pinggir telaga kecil itu , dia cuma menemukan nenek guru nya yang sedang duduk bersemedi disitu .


Wanita itu membuka matanya , "kau mencari anak muda itu Lan er ?"...


"Iya nek , apakah nenek melihat nya ?" tanya Pek Lan Hua .


"Iya nak , dia berpamitan kepada nenek beberapa waktu yang lalu , saat Kokok ayam pertama berbunyi , dia menitipkan ini untuk mu , kata nya , bila takdir Dewata menentukan , kalian pasti akan bertemu lagi !" kata Sin Ni Seng Sian sambil menyerahkan sebuah kalung batu Giok merah berukir seekor naga kecil .


Dengan tangan bergetar , Pek Lan Hua menerima kalung itu , lalu di kalungkan di leher nya .


"Dia tidak menunggu ku , atau setidak nya sekedar berpamitan dengan ku nek ?" tanya Pek Lan Hua dengan nada bergetar .


"Kata nya dia tidak ingin membuat kau sedih , dan dia tidak ingin melihat muka sedih mu itu Lan er !" kata Sin Ni Seng Sian bangkit berjalan kearah cucu muridnya itu .


"Tidak ! A Yong jahat sama Lan Hua nek , dia pergi tanpa berpamitan sama Lan Hua , dia jahat nek !" Isak tangis dara jelita itu pecah .


Sin Ni Seng Sian mendekap cucu murid nya itu di dada nya , dia tahu kemelut apa yang ada di dada dara jelita itu .


"Lan er , A Yong bukan pemuda yang jahat nak , nenek melihat ada sesuatu kekuatan hebat di balik kehidupan anak muda itu , dia tidak ingin melihat kesedihan di wajah mu , mintalah petunjuk dari Dewata , bila memang dia jodoh mu , kelak , kalian pasti akan di pertemukan kembali , yakin lah !" kata Sin Ni Seng Sian menasehati cucu murid nya itu .


Mulai hari itu , Pek Lan Hua mulai belajar menyucikan hati pada Sin Ni Seng Sian , dengan lebih memperbanyak bersemedi sambil mengumpulkan hawa murni , sambil batin nya dia satukan pada Dewata agar mendapatkan petunjuk .


Di saat yang sama pula , A Yong mempercepat langkah nya , melompat dari pohon kepohon , menuju ke gunung Pek Sai , tempat persimpangan jalan ke arah barat .

__ADS_1


Tepat menjelang sore hari , dia tiba di kaki gunung Pek Sai .


Dengan duduk diatas sebuah cabang pohon besar , tidak ada yang ingin dia lakukan , selain menatap mata hari tenggelam perlahan di peraduan nya .


Tetapi sebenar nya , dia sendiri tidak melihat matahari itu tenggelam , di pelupuk mata nya , bayangan dara jelita bernama Pek Lan Hua itu lah yang selalu terbayang .


Kebersamaan mereka beberapa waktu ini , selalu berdua , membuat ada ikatan batin tersendiri diantara kedua nya , yang enggan untuk mereka ungkapkan , tetapi jelas terlihat dalam tindakan .


Satu rasa yang cuma mereka berdua yang tahu sebenar nya .


A Yong terbayang tingkah polah manja dan ceria dara jelita itu ketika bersama nya , bagai mana dara itu tanpa sungkan sungkan memegang dan menarik tangan nya , mengajak berlari , atau kadang bergelayut manja di pundak nya disaat merasa lelah setelah berlarian .


Ada rasa perih teramat sangat di dasar hati A Yong , yang baru sekarang dia rasakan untuk pertama kali di dalam hidup nya .


Ditarik nya nafasnya dalam-dalam , sambil berusaha membuang jauh jauh bayangan wajah dara jelita itu .


Pagi itu , sebelum matahari benar benar keluar di ufuk timur , A Yong segera melesat kearah barat , melanjutkan perjalanan nya kembali menuju ke Kota Raja Qiantung yang masih harus di tempuh sekitar dua hari lagi .


Menjelang sore hari , A Yong mencari mata air terdekat , sambil berburu binatang untuk santapan malam nya , untung nya , tepat di pinggir sebuah pancuran kecil , A Yong melihat se ekor ayam hutan jantan sedang minum di mata air itu .


Dengan sebutir batu kecil , A Yong sudah berhasil menghabisi nyawa ayam hutan itu .


Selesai membersihkan badan nya , dan menyantap daging ayam hutan bakar , A Yong segera kembali ke pinggir jalan tempat tadi dia berhenti .


A Yong segera melompat keatas dahan yang agak terlindung serta nyaman untuk tempat beristirahat .


Saat mata hari tinggal cahaya nya saja di ufuk barat , tiba tiba dari timur muncul dua ekor kuda yang di tunggangi oleh dua orang laki laki paro baya .


Setelah menyalakan api unggun , kedua orang laki laki paro baya itu segera mengeluarkan sisa bekal mereka dan menyantap nya .


Setelah selesai menyantap sisa bekal mereka , kedua orang laki laki paro baya itu berbincang sejenak sambil tiduran di atas tikar kulit hewan .


"Louw Dong !, untuk apa kita menemui Ming Cen Du Goanswe di dalam istana Liu , bukankah ini terlalu berbahaya ?" tanya salah seorang laki laki itu kepada teman nya yang bernama Louw Dong


"Bak Juo !, yang mulia Kaisar menyuruh kita menemui Jendral Ming Cen Du , dan bergabung dengan Pasukan jendral itu untuk menyusup kedalam pasukan negeri Liu yang sudah terlebih dahulu menyusup ke tengah tengah pasukan musuh , dan bila waktu nya tiba , saat negeri Sian Tan menyerbu , pasukan kita tidak akan terbendung lagi oleh para Prajurit negeri Liu itu !" kata Louw Dong menjawab pertanyaan teman nya .


"Tetapi aku dengar Negeri Liu ini dibantu oleh seorang pemuda ber kesaktian tinggi yang dianggap Dewa apa Dewata muda , entah lah !" kata Bak Juo lagi .


"Itu semua sudah di pikirkan oleh yang mulia Kai Ong Than Hong Siang , dan beliau sudah mengirim beberapa orang untuk meminta kepada tiga dedengkot Benua besar ini yang murid nya semua nya sudah di bunuh oleh pemuda bernama Shin Liong itu , tiga dedengkot utama itu kesaktian nya bila di gabungkan , sungguh di luar nalar manusia , dia adalah Thien Mo dari timur Benua , Sian Hud Hok dari Barat Benua , dan Sian Lo Sai dari selatan !" jawab Louw Dong .


Ketiga Dedengkot yang di bicarakan oleh kedua orang laki laki paro baya itu adalah bagian dari empat Datuk sesat sahabat dari Twa Pang Lauw atau Malaikat dari Utara yang telah dikalahkan oleh Shin Liong dahulu .

__ADS_1


Diantara mereka adalah , Thien Mo (Iblis Langit) dari Utara guru dari sepasang Iblis merah , lalu Sian Hud Hok (Dewa penakluk Budha) dari belahan barat , guru dari Si kembar Im Yang , serta Sian Lo Sai (Dewa Singa Tua) dari selatan , guru dari Malaikat muka pucat dan Hantu hitam .


Dahulu kala , ke empat Datuk Dedengkot Benua besar ini lah yang telah membunuh beberapa orang Dewa yang mencoba memperbaiki Dunia Betara yang sudah rusak oleh mereka ini .


Diatas pohon yang tinggi itu , A Yong terus mendengarkan semua pembicaraan kedua orang laki laki paro baya itu .


Menjelang pagi hari , A Yong masih belum beranjak dari tempat persembunyian nya di cabang teratas pohon Siong itu , tepat di rerimbunan daun daun nya .


A Yong memperhatikan dengan seksama kedua laki laki paro baya itu hingga kedua nya meninggalkan tempat itu dengan naik kuda nya , serta berlari menuju ke barat .


Barulah setelah beberapa saat berlalu , A Yong segera turun dari persembunyian nya , dan segera pergi kearah kedua orang laki laki paro baya tadi menuju .


A Yong Tidak bertindak apa apa , bukan karena takut , tetapi lebih kepada ingin tahu siapa siapa saja orang yang terlibat ingin mencelakai ayah nya itu .


Karena dia merasa di dalam pasukan negeri Liu yang baru berdiri itu , ada beberapa pengkhianat yang bekerja sama dengan negeri timur , untuk meruntuhkan kekuasaan negeri barat .


Menjelang sore hari nya , A Yong sudah memasuki gerbang Kota Raja Qiantung yang sangat megah itu .


Kota Raja Qiantung adalah kota yang sangat besar sekali , mungkin dua kali lebih besar dari kota Raja Liok Ho .


Semua itu karena kota ini adalah kota kuno yang berdiri ribuan tahun yang lalu , semenjak dinasti Liu pertama didirikan , hingga keruntuhan dinasti itu , serta lahir nya kembali penerus langsung dari Dinasti Liu yang baru .


Karena mendengar di belahan timur berdiri sebuah Negeri yang bernama Sian Than (Negeri Dewa) bekas negeri Chu yang berdiri cuma dalam beberapa purnama itu , maka Shin Liong mengusulkan negeri Liu ini di ubah nama nya menjadi Negeri Hong Than(Negeri Dewa) .


Usul itu pun di setujui oleh sang Kaisar Liu Xiong Bu , dan semenjak itulah negeri Liu berubah nama menjadi negeri Hong Than.


A Yong tidak langsung pergi ke istana , karena dia ragu ragu , apakah ayah nya masih berada di dalam istana , atau justru sudah pergi .


Pagi hari nya , setelah sarapan pagi , A Yong berjalan jalan di sekitar kota Raja Qiantung , sambil mencari impormasi tentang jendral Ming Cen Du yang di bicarakan oleh kedua orang laki laki tadi malam .


Setelah mencari kesana kemari dan mengorek impormasi kemana mana , akhirnya A Yong mengetahui letak rumah kediaman sang jendral itu .


Sang jendral Ming Cen Du , memiliki tempat tinggal yang besar dan megah , agak jauh dari istana Liu .


Jendral Ming Cen Du adalah adik ipar dari Oei Ying Lang mantan penguasa kota Xaizu yang bergabung dengan Negeri Liu membentuk Negeri Hong Than yang besar .


Atas semua jasa jasa nya , Oei Ying Lang diangkat oleh sang Kaisar menjadi Tuan ketua Kota Xaizu dan adik ipar nya diangkat menjadi jendral muda , setelah membuktikan kesetiaan dan ke tangguhan nya dalam beberapa peperangan yang terjadi .


Rumah kediaman sang jendral muda ini di beri tembok yang tinggi serta di jaga oleh lusinan prajurit terlatih .


Terlihat beberapa pemuda memasuki kediaman sang jendral muda bergantian , untuk mendapat menjadi Prajurit .

__ADS_1


...****************...


__ADS_2