
Entah sudah berapa lama Shin Liong duduk di haluan kapal, percikan air laut yang mengenai muka nya, tidak dia hiraukan lagi.
Mata nya menatap langit dengan tatapan kosong.
"Shin Liong !!!, sejak kapan kau cerewet heh, kau tidak mengerti perkataan ku kah, tinggalkan aku disini, aku masih mau berbincang dengan nya, kau sungguh tidak tahu diri Shin Liong, sudah di kasihani, malah melonjak!!"...
Kata kata Dewi Teratai putih tadi terus terngiang ngiang di telinga nya.
"Kau sungguh tidak tahu diri Shin Liong, sudah dikasihani, malah melonjak!!"...
"Sudah dikasihani, malah melonjak!!"...
"Sudah di kasihani, malah melonjak!!"...
"Melonjak!!".
"Melonjak!!".
"Melonjak!!".
"Kau, dikasihani, malah melonjak!!"...
Tiba tiba hati nya mengikuti perkataan dari Dewi Teratai putih tadi, seperti menyumpahi diri nya sendiri.
"Aku malu, ku kira Dewi benar benar tulus mencintai ku, bukan karena rasa kasihan, ah Shin Liong, Shin Liong, kau terlalu berharap yang muluk muluk, benar benar tidak tahu diri, tidak pernah bercermin" kata hati Shin Liong menyumpahi diri nya sendiri.
Sementara itu,Dewi Teratai putih berbincang bincang hangat dengan Li Peng Sun, pemuda yang pernah di kagumi nya di masa dahulu itu, tanpa terasa hari telah menjelang pagi.
"Maapkan aku Peng Sun, aku harus kembali ke kamar ku, kita tidak berjodoh, maapkan aku" ucap Dewi Teratai putih sambil menjabat tangan pemuda Li Peng Sun.
"Tidak mengapa Nuwa, kembalilah kepada suami mu, cintai dia sungguh sungguh, jangan jadikan sekedar pelarian hati mu!" ucap Li Peng Sun sambil mengecup kening Dewi Teratai putih, lalu melangkah pergi.
Lama sekali Dewi Teratai putih termenung menatap kearah kepergian Li Peng Sun tadi.
Perlahan dia melangkah kembali ke kamar nya dengan Shin Liong.
Pelan pelan pintu kamar di buka nya, karena takut Shin Liong terbangun.
Namun Dewi Teratai putih terbengong bengong setelah masuk kedalam kamar mereka, karena tidak dia jumpai Shin Liong ada di situ.
"Sayang!"...
"Sayang!"...
"Kau dimana sayang!"...
Dewi Teratai putih terus mencari Shin Liong kemana mana, bahkan tiap kamar ditanyai nya, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui dimana keberadaan Shin Liong.
Air mata mulai jatuh di pipi Dewi Teratai putih yang cantik itu.
Kembali Dewi Teratai putih memasuki kamar mereka,dan mencari Shin Liong Sabil memanggil manggil nama nya.
Tetapi tidak juga dia mendengar jawaban dari Shin Liong.
Diatas tempat tidur, dia melihat ada sebuah goresan di atas kulit binatang.
Dia mengambil kulit binatang itu, lalu membaca isi goresan nya.
__ADS_1
Nona Dewi Nuwa .
Maap kan kelancangan ku tadi nona, aku memang laki laki yang tidak tahu diri, tidak tahu terimakasih sudah di kasihani.
Nona Dewi,
Aku memang menyayangi mu sepenuh jiwa raga ku, karena aku mengira kau juga seperti itu, aku tidak pernah mengira jika diri mu cuma kasihan kepada nasip ku.
Dewi Nuwa,
Aku tidak ingin hidup dari rasa kasihan orang lain, jadi jangan mengasihani ku lagi, aku akan mencoba hidup di alam kenyataan, bukan di dunia khayalan.
Dewi Nuwa,
Aku akan mencoba hidup tanpa diri mu, meskipun itu berat sekali, dan mungkin tidak pernah bisa.
Dulu aku pernah punya mimpi mimpi indah selagi bersama mu, tetapi kini aku terjaga dari mimpi mimpi itu, itu cuma mimpi yang tidak ada kenyataan nya.
Mimpi mimpi ku dulu begitu indah, sehingga membuat aku terbuai, lalu lupa siapa diri ku yang sebenar nya, dan ketika kata kata mu menyadarkan aku yang terlalu banyak bermimpi, kenyataan itu terasa sangat menyakitkan Dewi.
Sekarang kembalilah ke lembah Teratai Dewi, aku akan meneruskan pengembaraan ku sendirian, meskipun tanpa diri mu lagi, aku akan selalu mengingat masa masa indah kita berdua dulu, bahwa dahulu aku pernah mempunyai mimpi mimpi seperti orang lain, meskipun mimpi mimpi itu kini sudah sirna.
Dewi,
Jangan ikuti langkah ku,
dan jangan pernah mencari ku, aku bahagia melihat kau tadi begitu bahagia, meskipun aku harus tersadar, bahwa aku bukan siapa siapa.
Dewi,
Sekali lagi maapkan kelancangan ku tadi ya, itu kulakukan, karena aku menyayangi mu, tetapi bila itu berlebihan, atau tidak kau senangi, sekali lagi aku mohon maapkan lah aku.
Dari ku
Shin Liong.
Air mata mengalir di pipi Dewi Teratai putih yang putih mulus.
Bayangan Shin Liong yang membungkuk beberapa kali di hadapan nya sambil berkata, "maapkan saya nona, maapkan saya, saya memang lancang, maapkan saya!" kembali terbayang di mata Dewi Teratai putih.
Saat membungkuk berkali kali itu, terlihat ketakutan Dimata Shin Liong.
Rupanya trauma masa lalu yang bangkit kembali.
"Tidak!, tidak!, tidak sayang, kau tidak boleh meninggalkan aku, kita sudah bersumpah untuk selalu bersama sama, aku yang bodoh sayang, aku, maapkan aku sayang, kembalilah untuk ku, kembalilah!" ratap Dewi Teratai putih sambil menangis sejadi jadi nya.
Mata hari mulai muncul di ufuk timur, namun bersamaan dengan muncul nya mata hari, terdengar suara hiruk pikuk di haluan kapal itu.
Seakan akan tersadar dari keadaan,Dewi Teratai putih segera berlari kearah haluan kapal.
Sesampai nya disana, dia melihat orang orang menunjuk sesuatu di langit.
Nampak di langit, lobang hitam sebesar pintu rumah.
Dari dalam lobang hitam itu terlihat gulungan cahaya putih yang berputar putar seperti tornado, lalu menjulur kehaluan kapal itu, menarik sesosok tubuh laki laki muda kedalam lobang hitam itu.
Tubuh laki laki muda itu tersedot masuk kedalam lobang hitam secepat kilat menyambar.
__ADS_1
"Tidaak sayang, tunggu Dewi sayang!, tunggu!" teriak Dewi Teratai putih sambil melompat kearah cahaya yang menyedot tubuh Shin Liong hingga hilang di dalam lobang hitam itu.
Secepat apapun Dewi Teratai putih melompat kearah cahaya itu, tetap saja cahaya itu lebih cepat dari nya.
"Jaga diri mu Dewi!, selamat tinggal!" terdengar suara Shin Liong menggema di pagi hari itu.
Tubuh Shin Liong pun menghilang di telan lobang hitam misterius itu.
Setelah tubuh Shin Liong menghilang, lobang hitam dilangit itupun menciut, lalu lenyap dari pandangan mata.
Dewi Teratai putih meraung raung menangis sambil menatap keatas.
"Ampuni aku Dewata San Qin, aku sadar, aku salah, aku tahu ini ulah mu, kembalikan suami ku, kembalikan dia kepada ku, ampuni kesalahan ku, jangan renggut dia dari ku Dewata, kakek Qin, kembalikan Shin Liong ku!, kembalikan Shin Liong ku kek, aku tidak ingin dunia dan semua isi nya, aku cuma mau Shin Liong ku saja kakek Qin!" ratap Dewi Teratai putih sambil meraung Raung menangis pilu.
"Dewi Nuwa, dengarlah, aku tidak akan membiarkan siapapun mempermainkan cucuku, tidak juga kau!, kalau kau benar benar mencintai nya, kau harus berusaha mencarinya sendiri, bila kau bersungguh sungguh mencari nya, maka kelak kau akan menemukan diri nya,tetapi ingatlah Dewi Nuwa, bila dalam enam musim kau belum mendapatkan nya, maka tubuh nya tidak akan bisa bertahan, dan dia akan bersatu dengan ibu nya untuk selama lama nya!" terdengar suara di telinga Dewi Teratai putih.
"Bagai mana aku bisa mencarinya di alam semesta yang begini luas kakek Qin?" tanya Dewi Teratai putih.
"Tergantung kesucian cinta mu serta kegigihan usaha mu , bila cinta mu kepada nya benar benar tulus dan suci,serta upaya mu gigih, maka sebelum masa itu tiba, kalian bisa bertemu, tetapi bila cinta tidak benar benar tulus, kalian tidak akan bertemu lagi" terdengar kembali kata kata kakek Qin di telinga Dewi Teratai putih.
"Dari mana aku harus memulai nya kek?" tanya Dewi Teratai putih.
"Teruskan lah perjalanan mu sendiri seperti yang sudah di rencanakan, cinta mu akan menuntun jalan mana yang harus kau tempuh, kelak aku akan membantu menuntun langkah mu, bila ku anggap kau sungguh sungguh mencintai cucu ku!" jawab kakek Qin lagi langsung ke telinga Dewi Teratai putih.
Setelah beberapa saat, tidak lagi terdengar suara dari kakek Qin, meskipun Dewi Teratai putih memanggil nya berkali kali.
pemuda Li Peng Sun berjalan mendekati Dewi Teratai putih dari belakang, lalu menepuk pundak nya seraya berkata, " sudahlah Nuwa, lebih baik kau kembali, atau kau ikut dengan ku saja, mungkin saja kita bisa memulai nya dari awal lagi!"...
"Sudahlah Peng Sun, jangan buat aku melakukan kesalahan dua kali, aku masih menghargai persahabatan kita, seandainya tidak, maka leher mu yang akan ku gorok, aku memaafkan mu kali ini, tetapi tidak nanti nya, aku sudah salah berkata kasar kepada suami ku hanya karena kamu, sekarang aku sadar, aku cuma kagum kepada mu, tetapi tidak menyukai mu, apalagi mencintai mu, aku cuma mencintai suami ku, dan aku akan tetap mencarinya, meskipun ke ujung semesta sekali pun, aku akan bersimpuh memohon ampunan dari nya!" ucap Dewi Teratai putih di sela sela tangisan nya.
Kini tidak ada seorang pun yang berani menggangu Dewi Teratai putih lagi.
Didalam kamar nya, Dewi Teratai putih merenung sendiri, bayang bayang Shin Liong menari nari di alam pikiran nya.
"Aku yang Si Chun, bukan kau sayang, hanya karena pemuda sialan itu, aku melupakan mu, aku bukan wanita yang baik ternyata" gumam Dewi Teratai putih sambil menjambak rambut nya sendiri, seraya menangis terisak isak.
Bayangan Shin Liong membungkuk beberapa kali di hadapan nya dengan muka yang ketakutan kembali berputar di ingatan nya.
"Maapkan saya nona, maapkan saya, saya memang lancang, maapkan saya nona!"...
Dewi Teratai putih menangis tersedu sedu, berkali kali rambut panjang nya dia Jambak sendiri.
"Kau bodoh Nuwa, kau biadab!, cuma karena laki laki lain, kau melupakan orang yang tulus mencintai mu, kau memang biadab Nuwa!" ucap Dewi Teratai putih tidak henti hentinya memaki diri nya sendiri.
Satu persatu kenangan indah bersama Shin Liong berputar kembali di ruang pikiran nya.
Saat saat indah berdua, bersama dalam suka dan duka, kini sudah tinggal kenangan yang tidak mungkin bisa terulang kembali.
Hidup bukan lah sandiwara yang bisa di ulang kembali.
Sekali membuat kesalahan, akibat nya bisa seumur hidup menjadi beban.
Entah sudah berapa banyak air mata Dewi Teratai putih yang tumpah, dan entah berapa lama dia terus menangis.
Memang penyesalan selalu datang belakangan.
Dewi Teratai putih bangkit berdiri, diangkat nya tangan nya keatas, "dengarlah Dewa, akan kucari kemanapun suami ku pergi, meskipun ke ujung semesta sekalipun, dan bila dalam enam musim aku tidak juga menemukan nya, maka roh ku akan mencari nya ke alam akhirat, meskipun harus melewati berapa kali kelahiran, aku akan terus mencari nya!"...
__ADS_1
"Sayang, ampuni aku, ampuni kesalahan ku, jangan tinggalkan diri ku, aku tidak lagi memiliki gairah untuk melanjutkan hidup ku ini tanpa ke hadiran mu, sekarang aku merasa dunia ini terlalu sepi tanpa diri mu!" ratap Dewi Teratai putih terus menangis,sehingga matanya bengkak memerah.
...****************...