Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Cio Mang Le.


__ADS_3

"Taman ini buatan ayah ku, dan aku dilahirkan di taman ini Shin Liong , serta ibu ku pun di kuburkan di atas bukit sana, jadi untuk sementara ini, aku tidak ada niatan untuk keluar dari taman Lokapala ini Shin Liong , apa lagi setelah majikan taman Lokapala beralih kepada diri mu, kau pasti akan sering berkunjung ke sini untuk menjenguk aku kan Shin Liong ?" kata Mei Yin tersenyum sangat manis.


Shin Liong merasa lebih dekat dengan dara itu, karena nasip mereka yang memang hampir sama, sama sama tidak lagi memiliki ayah dan ibu.


Tetapi untuk lebih dari itu, Shin Liong tidak lagi berani memulai nya, dia takut orang orang yang dia kenal cuma merasa kasihan kepada nya, baginya cuma ibunya lah yang benar benar menyayangi nya tanpa embel embel apapun.


Tanpa terasa,sudah berhari hari Shin Liong berada di tempat itu, hingga kini tibalah waktunya dia harus keluar dari tempat itu, kedunia ramai, karena masih ada lima titik emas yang harus dia penuhi untuk membebaskan sang ibu nya.


Pagi itu Shin Liong berpamitan kepada Mei Yin, untuk kembali ke dunia ramai.


"Aku akan sering berkunjung ketempat ini nantinya, sekarang aku akan keluar menuju dunia luar, kau baik baik lah di tempat ini" kata Shin Liong .


Shin Liong mematahkan cincin kunci portal dimensi itu ke arah dinding istana kecil itu, sambil membayangkan tempat asal nya masuk beberapa hari yang lalu.


Ketika cahaya putih keluar dari cincin itu membias ke arah dinding, terlihat sebuah portal terbentuk di dinding dengan penuh dengan cahaya putih.


Shin Liong melangkah dengan pasti memasuki pintu portal itu.


Dan Shin Liong keluar tepat di pinggir sungai kecil itu, agak jauh dari lobang goa tempat dia menemukan cincin kunci pintu portal dimensi itu.


Setelah berada di dunia Fangayun kembali, Shin Liong mencoba melompat menerobos celah celah dahan pohon, ternyata tidak memerlukan energi yang besar, dia bisa melompat sangat jauh dan secepat pandangan mata.


Untuk beberapa saat, Shin Liong duduk diatas cabang pohon besar yang sangat tinggi, memandang kesekeliling nya, dengan pandangan takjub


Setelah puas melihat lihat pemandangan sekeliling nya, Shin Liong melompat turun seperti kapas di jatuhkan dari ketinggian.


Setelah sampai di bawah, Shin Liong segera melesat melanjutkan perjalanan nya menuju kota Su Cuan dengan berlompatan dari satu dahan pohon kedahan pohon lain nya.


Tiba tiba telinga Shin Liong yang sudah sangat tajam itu menangkap suara isak tangis seorang wanita.


Setelah memantapkan arah suara itu, Shin Liong segera bergerak kearah suara itu.


Di Balik sebuah semak belukar, terlihat dua orang gadis cantik terbaring di tanah, dengan tubuh tertotok, sementara tidak jauh dari mereka nampak seorang pemuda tampan sedang tertawa tawa menatap ke arah kedua gadis itu.


Ha ha ha ha, hari ini memang rejeki nomplok, dua gadis cantik datang menyerahkan diri kepada ku, ha ha ha ha, kalian akan memu*skan hasrat ku, aku tidak usah bersusah payah mencari mangsa, dan mangsa nya yang datang sendiri" kata pemuda cabul itu sambil tertawa girang.


"Bret!".


"Bret!"


Baju bagian dada kedua gadis itu di tarik oleh pemuda itu hingga robek menganga, memperlihatkan sesuatu yang selama ini mereka jaga baik baik.

__ADS_1


Air mata kedua orang gadis itu berderai mengalir di pipi nya, dan rupanya suara itulah yang terdengar dari jauh oleh Shin Liong .


Meskipun cuma ******* suara tangis tertahan, karena kedua nya tidak bisa bersuara, namun sudah cukup nyaring bagi Shin Liong .


Kedua gadis itu menangis tersedu sedu meratapi nasip mereka berdua ,karena kini bukit yang selalu mereka jaga, kini terbuka lebar di depan pemuda bejad itu.


Pemuda ini bernama Cio Mang Le sang kumbang pemetik kembang, atau penjahat pemetik bunga yang berkepandaian tinggi, setingkat Dewa Bumi awal, serta bersifat licik dan jahil.


Sedangkan kedua korban nya itu, bila diperhatikan sungguh sungguh, ternyata kedua gadis cantik itu adalah Gak Sian Eng dan Gak Cui Ming.


Bagai mana sehingga kedua gadis cantik itu bisa menjadi korban Cio Mang Le?.


Sebaik nya kita mundur dulu kebelakang beberapa hari yang lalu di kota Si Ma.


Hari itu, dihari Shin Liong keluar dari kota Si Ma, pergi kekota Su Cuan, sebenar nya Sian Eng dan Cui Ming tidak mengetahui perihal ke berangkatkan Shin Liong itu.


Tetapi ketika saudara sepupu mereka pulang dari makan bersama putri tuan ketua kota, mereka mendengar omongan Eng Niu dan Lian Niang tentang kepergian Shin Liong dari kota Si Ma, dan menurut perkiraan nona Na Li, mungkin dia pergi ke kota Su Cuan.


Sian Eng dan Lian Niang yang memendam dendam kesumat kepada Shin Liong , berencana akan berangkat menyusul Shin Liong dan membunuh pemuda itu baik secara terang terangan, maupun secara sembunyi sembunyi.


Kedua dara cantik ini memang menyimpan dendam luar biasa besar nya kepada Shin Liong , karena eyang, kakek, hingga ayah mereka, tewas ditangan Shin Liong.


Bagi mereka, Shin Liong tidak mungkin bisa membunuh salah satu dari ke empat orang itu secara terang terangan, kecuali secara curang, karena menurut yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri, tingkat kultivasi Shin Liong terpaut sangat jauh untuk bisa membunuh ke empat orang ini.


Maka setelah mengatur persiapan, mereka berdua akhir nya pergi dengan menunggang kuda menuju ke arah kota Su Cuan.


Dengan tingkatan alam Brahmana akhir, kedua dara cantik ini merasa cukup mampu untuk membunuh Shin Liong, asalkan bertarung dengan tidak curang, apa lagi ditambah mereka berdua, maka kemenangan sudah bisa dipastikan.


Kedua dara ini sepemikiran bahwa keluarga mereka itu, diracun oleh Shin Liong dengan racun pelumpuh urat, sebelum bertarung dengan nya, sehingga saat bertarung, meskipun kultivasi mereka sangat jauh beda nya, tetapi tidak menjamin Shin Liong tidak bisa mengalahkan nya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, akhirnya pada satu pagi, mereka bertemu dengan seorang pemuda tampan, berjalan kaki menyusuri jalanan.


Karena merasa kasihan, apalagi wajah pemuda itu sangat tampan, akhir nya mereka berdua berhenti untuk sekedar menyapa pemuda itu.


"Saudara, kau berjalan kaki di jalan seperti ini, kemana kuda mu?" tanya Sian Eng sambil turun dari kuda nya.


"Eh nona nona cantik, saya beberapa hari yang lalu di rampok orang, kuda dan pakaian saya di ambil sama perampok itu" jawab pemuda itu.


"Eh kasihan sekali saudara ini, bagai mana bila saudara naik keda saya, dan saya akan bersama teman saya satu kuda !" kata Cui Ming.


Terimakasih, terimakasih, nona nona, kalian memang sangat baik hati, tetapi saya akan beristirahat sejenak untuk melepaskan penat kaki saya"kata pemuda itu sambil berjalan kearah pohon besar yang tumbuh tidak jauh dari pinggir jalan.

__ADS_1


Kedua orang dara cantik itu pun segera mengikuti pemuda tampan itu untuk beristirahat di bawah sebatang pohon besar.


Pemuda tampan itu mengeluarkan tempat air nya, lalu meneguk beberapa teguk, menawarkan kepada kedua gadis itu, tetapi karena kedua orang gadis itu menolak nya, tempat air dari kulit labu itu di simpan nya kembali.


Selanjut nya, pemuda itu mengeluarkan beberapa butir buah pir, memakan salah satu nya,sambil kembali menawarkan nya kepada kedua orang gadis cantik itu.


Karena merasa tidak enak dengan ke baikan orang lain, apa lagi setelah mereka melihat wajah tampan pemuda itu, kecurigaan mereka pun hilang, mengambil sebiji buah pir itu, mereka belah dua dan memakan nya sebelah seorang.


Namun baru saja menghabiskan separuh buah yang sudah di belah dua itu, tiba tiba kedua orang gadis cantik itu merasa seluruh tenaga mereka tiba tiba lenyap.


Pemuda tampan itu tiba tiba berdiri sambil tertawa terkekeh kekeh, bergerak menotok kedua orang dara yang masih lugu dengan ganas nya dunia luar itu, lalu mengepit tubuh kedua dara itu di kanan dan kiri tubuh nya, serta melesat memasuki kerimbunan hutan.


Di satu tempat, di bawah kerimbunan pohon pohon besar, kedua dara cantik di lemparkan nya keatas tanah begitu saja.


Pemuda tampan itu kembali tertawa terkekeh kekeh sambil menari mengelilingi kedua orang dara itu.


"He he he he, Nang Ning nong, Ning Nang Ning nong, dua kuntum bunga terjerat kumbang jantan, asik, asik eh, asik, satu persatu tubuh kalian akan ku nikmati hingga puas, eh, eh, eh ternyata hidup itu sangat indah,eh, eh, Mang Le, Mang Le, Cio Mang Le memang ber hoki besar, tidak percuma orang orang menjuluki aku si kumbang penghisap kembang, aku selain tampan, juga memiliki hoki besar!" kata pemuda bernama Cio Mang Le sang kumbang penghisap kembang itu sambil menari nari kegirangan dengan keberuntungan nya yang luar biasa hari itu, mendapatkan dua orang gadis cantik sekali gus.


Adapun kedua orang gadis yang sudah tidak berdaya itu, hanya bisa menangis meratapi kemalangan nasip mereka, pergi membawa dendam, dan pulang membawa aib dan malu serta terhina seumur hidup mereka.


Mungkin seratus kali kematian akan lebih baik dari pada hidup terhina seperti sekarang ini.


Penyesalan sudah tidak berguna lagi sekarang, air mata juga percuma, siapa yang bakalan menolong mereka ditengah alas seperti sekarang.


"Maafkan aku Cui Ming, aku menghasut mu untuk menuntaskan hasrat dendam hati ku, namun dendam belum juga terbalaskan, diri sudah diperhinakan, maafkan aku Cui Ming!" kata hati Sian Eng sambil memandang kearah Sian Eng, cuma itu yang dia bisa.


Kepandaian dan kultivasi mereka ternyata tidak ada artinya di dunia luar seperti sekarang ini.


Memang benar kata orang orang tua, memelihara bara dalam sekam, maka padi jua yang akan terbakar, artinya memelihara dendam di dalam hati, tubuh juga yang akan celaka.


Terlambat sudah untuk menyadari kesalahan, dan terlambat sudah untuk berbuat kebaikan, bara didalam sekam itu sudah membakar tumpukan padi, tidak ada lagi jalan untuk kembali, hanya Tian yang bisa menolong kali ini.


Sedangkan dara Cui Ming hanya bisa menangis dengan suara halus, karena jangan kan untuk bergerak, untuk bersuara saja mereka tidak bisa.


Isak tangis Cui Ming dalam penyesalan hati terbesar nya, tidak juga mampu menyelamatkan mereka berdua.


"Andai aku menuruti kata kata ibu dan kakak ku, tentu aku akan baik baik saja"kata hati Cui Ming dalam Isak tangis nya.


Sesal yang sudah tidak ada artinya lagi.


Mereka sebenar nya mengetahui tentang Cio Mang Le sang kumbang penghisap kembang itu, tetapi mereka tidak pernah membayang kan sedikitpun, jika merekalah yang akan menjadi korban nya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2