
Pemuda Mao Gi masih saja tertawa tawa mendengar perkataan dari Shin Liong yang dia anggap omong kosong itu.
"Ha ha ha ha, hei anak kadal, kau pikir aku sebod*h otak mu itu ya, yang percaya begitu saja dengan dusta orang lain?" tanya pemuda Mao Gi.
Shin Liong cuma tersenyum sinis saja mendengar hinaan dari pemuda Mao Gi itu.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak menyerang aku terus, ayo serang aku,kuberi kesempatan seratus jurus kepada mu" kata Shin Liong mengompori hati Mao Gi.
"Kurang ajar,tidak usah seratus jurus,satu jurus juga kepala mu akan pecah!" kata pemuda Mao Gi sambil menerapkan jurus petir semesta nya.
Tetapi dia merasa seperti mengisi gentong yang penuh berlubang.
Tenaga dalam nya seperti hilang buyar entah kemana,tidak lagi bisa terhimpun di dantian nya.
Di cobanya berkali kali, tetap saja menghasilkan hal yang sama.
Sementara itu dari pinggir gelanggang adu, seorang biksu tua sedang menatap ke arah pertandingan itu dengan seksama, bahkan hampir tidak berkedip sama sekali.
"Omitohut!, omitohut!" terdengar mulut nya berucap terus menerus, sementara matanya terus menatap kearah pertandingan itu, kedua telapak tangan nya di rangkum di depan dadanya dengan sikap sempurna.
Di dalam kerangkeng, pemuda Mao Gi terus berusaha mengumpulkan hawa murni nya,tetapi hasil nya tetap nihil.
"Anak muda,jangan teruskan usaha sia sia mu itu, kau sudah terkena pukulan sejati inti semesta, jangan kan Dewa, Dewata saja tidak bisa menolong mu!" sebuah suara bening walaupun tidak nyaring,tetapi sangat jelas di dengar semua orang yang hadir di situ.
Seorang biksu berjubah kuning,berdiri di sisi kerangkeng itu.
"Karma!, karma!, omitohut!, Santy Santy semesta!" ucap bibir Biksu itu terus menerus.
"Apa maksud mu Biksu?, dan apa itu pukulan sejati inti semesta itu?" tanya pemuda Mao Gi.
"Jurus sejati inti semesta itu ada puluhan ribu tahun yang lalu, dia di ciptakan oleh seorang Dewata bernama Dewata San Qin, pukulan itu juga di kenal dengan nama pukulan kasih sayang, atau pukulan perdamaian, karena barang siapa yang terkena pukulan itu,tubuh nya tidak luka, dan tidak merasa sakit,tetapi dantian nya saja yang rusak,dan hancur menjadi debu dan tidak ada yang bisa mengobati nya,bahkan kecacatan itu akan berlangsung hingga beberapa reinkarnasi atau hingga beberapa kehidupan itu" kata Biksu tua yang bernama biksu Cao Mong Tze itu.
Biksu ini berasal dari sekte Budha Emas di gunung Sa wilayah Ming.
Para tetu beberapa perguruan yang mendengarkan itu menjadi terperanjat semua nya,tidak terkecuali Dewi Teratai putih sekalipun.
"Ah aku tidak percaya kadal ini bisa melakukan hal itu,aku tidak percaya!" seru pemuda Chang Mao Gi sambil terus mencoba berkultivasi menghimpun hawa murni nya, tetapi sekuat apapun dia berusaha, hasilnya tetap nihil.
Shin Liong menatap kearah pemuda Lau Xian Ho, "kau majulah,kita tentukan siapa yang akan keluar menjadi pemenang, dan siapa yang akan menjadi pecundang!" ...
"Kau saja yang menang, aku menyerah saja,tadi dia mengajak aku untuk mengeroyok mu dengan imbalan juara pertama jatuh ketangan ku bila kami berhasil membunuh mu, dia yang merencanakan semua ini!" kata Lau Xian Ho.
Tiba tiba beberapa orang laki laki tua datang ke samping gelanggang adu itu dengan wajah murka.
"Hei pemuda Chong Mao Gi, kau sudah meracuni Ao Tan Zhiao dan Ye Jiang Hou serta Xiong Tao Lie dengan racun lemah urat agar bisa memenang kan pertandingan,dasar culas,sekarang kau mendapatkan balasan dari kecurangan mu itu!" teriak para laki laki tua itu.
__ADS_1
"Omitohut!, omitohut!, karma sangat cepat sekali terjadi!" kata Biksu tua itu.
Pintu kerangkeng pun di buka,dan Shin Liong di nyatakan sebagai juara pertama dan Lau Xian Ho sebagai juara kedua, untuk juara ketiga di kosong kan karena Chong Mao Gi di diskualifikasi.
Sebuah cincin ruang berisi satu juta keping emas diserahkan kepada Shin Liong bersama sebuah pedang terbuat dari emas sebagai lambang pendekar utama.
Dewi Teratai putih menyambut Shin Liong dengan pelukan hangat nya.
"Anak muda,kalau boleh tahu,dari mana kau mendapatkan jurus sejati inti semesta itu?" tanya Biksu tua tadi.
"Biksu,saya mendapatkan jurus sejati inti semesta itu dari kakek sekaligus guru saya,beliau bernama kakek Qin atau biasa di panggil orang sebagai guru sejati!" jawab Shin Liong apa ada nya.
"Omitohut!, omitohut!, omitohut!, bakal apa gerangan yang akan terjadi, sehingga tuan Dewata Agung sendiri yang berkenan menurunkan murid, Santy!, Santy!, Santy!, semoga damai melingkupi semesta ini" ucap Biksu Cao Mong Tze masgul, muka nya penuh kedukaan.
Dewi Teratai putih menatap kearah Shin Liong dengan tatapan takjub nya.
"Sayang, kau selalu memiliki kejutan untuk ku, ternyata kau memiliki jurus legendaris yang sudah lama punah itu, jurus sejati inti semesta itu sudah punah ribuan tahun yang lalu,hingga kini cuma tinggal cerita legenda nya saja lagi" kata Dewi Teratai putih sambil memeluk tangan Shin Liong.
Para prajurit kota pergi membawa pemuda Chong Mao Gi ke penjara sementara menunggu sidang dengan dakwaan meracuni tiga orang dengan racun lumpuh urat.
Sementara itu murid murid perguruan Belibis putih mengiringi kepergian Chong Mao Gi dengan pandangan mata sendu,terutama A Yong, Bin Cuan,A Hui,dan Kian Ong, yang merasa turut menjerumuskan Mao Gi dengan menuruti semua kehendak nya yang salah itu.
Itulah mengapa para cendikia ber pribahasa, jangan menghendaki takaran beras orang lain, artinya jangan menghendaki rejeki yang sudah ditentukan untuk orang lain, karena belum tentu cocok untuk orang yang menghendaki itu, masing masing sudah di tentukan rejeki nya masing masing.
Setelah makan di rumah makan dekat dengan penginapan mereka,Shin Liong dan Dewi Teratai putih kembali ke penginapan untuk mandi dan beristirahat.
"Pedang itu khusus kuberikan kepada mu Dewi, sebagai hadiah dan rasa terimakasih ku, karena hingga detik ini, tetap setia menemani ku" kata Shin Liong.
"Shin Liong sayang, kita dua raga yang satu dalam jiwa, aku mencintai mu bukan cuma karena kelebihan mu,tetapi mencintai dengan segala kekurangan mu, aku mencintai segala kekurangan mu juga, kita sudah bersumpah, Dewi Nuwa Wei untuk Shin Liong dan Shin Liong untuk Dewi Nuwa Wei, ya kan sayang!" kata Dewi Teratai putih sambil menyimpan pedang emas pemberian dari Shin Liong itu.
"Kau benar Dewi, dan ini cincin berisi hadiah satu juta keping emas,kau simpan untuk biaya hidup kita di jalan" kata Shin Liong lagi sambil menyerahkan sebuah cincin ruang kepada Dewi Teratai putih sebagai istri yang memegang semua masalah ke uangan rumah tangga mereka.
"Oh iya sayang, nanti malam akan ada lelang besar yang di sebut lelang kenegaraan,kalau kita mau melelang sesuatu,kita harus datang lebih awal dari yang lain nya" kata Dewi Teratai putih kepada Shin Liong.
"Oh iya aku hampir lupa,aku memang sangat ingin melihat lelang itu, kita bisa datang kesana sebentar lagi kan?" tanya Shin Liong.
Dengan senyum di bibir nya,Dewi Teratai putih menganggukkan kepala nya.
"Tentu saja kita akan datang sayang, ayo kita berkemas kemas terlebih dahulu" kata Dewi Teratai putih mengeluarkan sebuah sisir dan menyisir rambut Shin Liong yang panjang,serta di anyam kebelakang.
Kali ini Shin Liong mengenakan jubah putih bermotif bunga teratai pemberian dari kakek guru nya dulu.
Setelah selesai mendandani Shin Liong, kini giliran Dewi Teratai putih sendiri yang berdandan.
Kali ini Dewi Teratai putih tidak berpakaian pendekar,tetapi seperti seorang putri bangsawan mengenakan gaun panjang berwarna hijau muda bermotif bunga teratai,dengan rambut panjang nya dibiarkan terurai kebelakang.
__ADS_1
Tubuh nya yang tinggi semampai,dengan bentuk tubuh indah, wajah cantik jelita, persis seperti ratu bidadari sedang turun ke bumi.
Sore itu Shin Liong dan Dewi Teratai putih datang ke sebuah gedung yang besar, bernama gedung Lelang negara.
Mereka di sambut oleh se orang pemuda di depan pintu gedung.
Di luar gedung,nampak sepasukan prajurit khusus sedang berjaga jaga, di bantu oleh beberapa orang pendekar kelas satu.
"Nona muda ada yang bisa saya bantu?" tanya pemuda itu terpana menatap wajah Dewi Teratai putih yang luar biasa cantik itu.
"Kami ingin melelang sesuatu barang di pelelangan malam ini" kata Dewi Teratai putih.
"Oh silahkan nona muda naik ke atas di tingkat dua ada kamar nona Zou Sue Nio, dialah yang mengurus semua barang yang akan di lelang nanti malam"jawab pemuda itu sambil cengar cengir.
Dewi Teratai putih segera berlalu dari situ dengan menggandeng tangan Shin Liong, mengajak nya naik ke tingkat dua gedung itu.
"Hu uh!mau mau nya dengan pemuda buluk seperti itu, mending sama aku,jelas jelas lebih tampan,dasar aneh!" gerutu pemuda itu sambil mengikuti kepergian Dewi Teratai putih yang menggandeng tangan Shin Liong dengan pandangan nya.
"Plok!".
Sebuah tepukan mampir di pundak nya tiba tiba.
"E,,kucing! kucing! kucing! kambing, eh keong!, eh kadal" jerit pemuda itu terlatah latah sangking terkejut bukan main saat tiba tiba pundak nya di tepuk oleh rekan kerja nya.
"Makanya kalau lagi kerja, jangan melamun, malam ini akan sangat banyak pengunjung dari berbagai wilayah dan kota kota!" kata sang rekan kerja nya memperingatkan nya.
"Aku baru saja melihat satu ke indahan dunia di depan mata ku, membuat aku menjadi sakit jiwa seketika" jawab pemuda itu.
"Huh!, sudahlah,ayo kita bekerja lagi,ketahuan pimpinan baru kau tahu rasa!" kata sang rekan kerja nya sambil berlalu dari tempat itu.
"Huuh, nasip, nasip, aku yang lebih gagah, lebih tampan ini, jangan kan punya kekasih secantik itu, janda buluk saja menghindar!" gerutu pemuda itu sendirian.
Sementara itu,Dewi Teratai putih yang berjalan sambil menggandeng tangan Shin Liong , kini sudah sampai di depan sebuah ruangan yang di atas pintu nya bertuliskan "Zuo Sue Nio".
Setelah mengetuk pintu, terdengar suara lembut seorang wanita dari dalam ruangan itu, untuk mempersilahkan mereka masuk.
Ruangan nona Nio ini sangat luas, ada beberapa meja tersusun rapi dengan beberapa orang tua yang masing masing merupakan pakar, duduk di belakang meja itu.
Jumlah orang tua para pakar, yang di tugaskan oleh kaisar untuk meneliti keaslian sesuatu barang itu, ada sekitar sepuluh orang.
"Ada apakah nona muda kesini?" tanya gadis anggun yang duduk di meja paling tengah.
"Kami mencari nona Sue Nio!" kata Dewi Teratai putih sambil maju mendekati nona itu.
"Ya,saya sendiri nona, apa yang bisa kami bantu?" tanya gadis itu lagi, sambil menatap kearah Dewi Teratai putih yang terlihat sangat cantik jelita luar biasa itu.
__ADS_1
...****************...