Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Takluk.


__ADS_3

Serangan dari nona Muda Cai Na Li memang sangat cepat dan bertenaga sangat kuat, tetapi di mata Shin Liong , serangan seperti itu masih terlihat sangat lambat dan membosankan sekali.


Sedangkan nona muda Cai Na Li sangat yakin bila dalam satu gebrakan, remaja bernama Shin Liong itu akan tumbang nyungsep ke tanah, karena serangan dari nya hampir sampai, namun Shin Liong tidak juga terlihat menghindar.


"Sekarang tamat riwayat mu anak muda sok hebat!" pikir nona muda Na Li gembira.


Tetapi wajah nona muda Na Li menjadi heran dan bingung ketika serangan nya sudah hampir menyentuh tubuh lawan nya, tiba tiba tubuh lawan nya itu lenyap dari hadapan nya, dan sebuah tepukan tangan mampir di pundak nya, "nona muda saya di sini!"...


Nona muda Na Li membalikan tubuh nya, dan secara mengherankan, lawannya sudah berada di belakang nya berdiri bersedekap.


Kemarahan dari nona Na Li serasa mencapai ubun ubun nya, di serang nya Shin Liong dengan kekuatan penuh.


Namun lagi lagi kejadian tadi terulang kembali, tubuh lawan nya tiba tiba lenyap dari pandangan nya, dan bersamaan dengan itu, pundak nya di tepuk dari belakang nya, "nona muda saya disini!"...


Semua yang menyaksikan menjadi takjub melihat tubuh remaja itu seakan bisa menembus ruang waktu, dalam sekejap mata berpindah ke manapun yang dia sukai.


Melihat ketidak berdaya an dari adik kembar nya menghadapi remaja bernama Shin Liong itu, Cai Bo An segera menerjang Shin Liong dari belakang nya dengan jurus ampuh serta energi penuh.


Namun tiba tiba tubuh Shin Liong kembali menghilang dari hadapan nya, dan tahu tahu pundak nya di tepuk dari belakang.


"Tuan muda sudah berlaku curang, tetapi biarlah, tidak mengapa tuan muda, sudahi pertarungan ini,kalian sudah kalah, tiga jurus sudah terlewati!" terdengar suara Shin Liong menggema di telinga mereka.


Tetapi sudah kepalang basah, kadong malu, lebih baik sekalian saja.


Tuan muda Bo An dan nona muda Na Li segera menyerang Shin Liong dari depan dan belakang nya.


Tetapi tiba tiba langkah mereka terhenti, seluruh tubuh mereka berdua kaku tidak bisa lagi di gerakan, totokan di urat utama mereka berdua, membuat tubuh kedua nya kaku.


Kini mereka berdua sadar, sebenar nya bila saja Shin Liong menginginkan nyawa mereka berdua, maka sudah sejak lama mereka tewas menjadi mayat.


Dalam keadaan kaku, bibir kedua remaja itu menjadi pucat pasi.


Mereka berdua ingin berbicara, namun mulut kedua nya seperti terkunci.


Ketegaran dan ke angkutan serta ke arogan nona muda Na Li kini runtuh sudah.


Air mata jatuh berderai membasahi pipi nya yang putih kemerahan itu.

__ADS_1


Sedangkan tuan ketua kota tersenyum melihat pertunjukan itu, ia tau kini, bahwa mimpi nya beberapa waktu lalu adalah mimpi suci , suatu petunjuk dari Dewata Agung.


"Sudahlah nak Shin Liong, tolong lepaskan totokan mereka, kini mereka mendapat pelajaran sangat berharga dari mu, jangan sekali kali meremehkan siapapun juga, siapa yang tahu diatas langit ada apa saja, bintang yang tinggi terlihat sangat kecil, meskipun sebenar nya mereka sangar besar dari semesta kita ini!" kata tuan ketua Kota.


Shin Liong segera bergerak melepaskan totokan kedua remaja bersaudara itu.


Bergerak dalam pengertian gerakan yang tidak terlihat oleh siapa pun juga dan tahu tahu, totokan kedua remaja bersaudara itu telah terlepas dengan begitu saja.


Sebenarnya sepasang remaja saudara kembar ini masih penasaran, tetapi rasa kagum lebih besar menguasai hati mereka berdua.


"Kalau boleh tahu, sebenar nya tuan muda tingkatan kultivasi nya apa, karena kami yang sudah berada di tingkat alam Brahmana menengah saja tidak berdaya melawan tuan muda?" tanya Bo An penasaran.


"Maap tuan muda Bo An, bukan maksud saya menyembunyikan tingkat kultivasi saya, tetapi tingkatan kultivasi saya memang sengaja di sembunyikan oleh kakek Qin, yang merangkap sebagai guru saya, sehingga siapapun tidak akan bisa mengetahui tingkat kultivasi saya, maapkan saya tuan muda, saya sendiri tidak bisa melepaskan selubung gaib yang di pasang kakek Qin ini" jawab Shin Liong sekujur nya.


Dengan wajah kecewa Bo An menatap ke arah Shin Liong , diperhatikan nya dengan teliti, tetap saja yang dia lihat Shin Liong berada di tingkat alam Taruna menengah.


Melihat hal itu, akhirnya Shin Liong berinisiatif untuk sekedar menunjukan tingkat maksimal nya dengan mempergunakan jurus jurus khusus.


"Tetapi saya masih bisa menampilkan tingkatan saya sedikit, meskipun tidak sepenuh nya, karena saya tidak ingin menimbulkan resiko lain nya" kata Shin Liong sambil mulai mengeluarkan energi nya hingga ketingkat Dewa Bumi menengah.


Seluruh yang hadir disitu tiba tiba merasa tubuh mereka menjadi sangat berat, atau bisa juga, energi mereka yang sebenar nya terkuras, dan detak jantung mereka berdetak sangat kuat, seolah olah mau keluar dari tempat nya, bila Shin Liong terus meningkatkan tekanan nya, niscaya jantung mereka akan meledak.


Para prajurit yang kebetulan berjaga tidak jauh dari tempat itu, sampai terduduk bersimpuh, tidak kuat menahan tekanan energi yang begitu kuat.


Kini Tuan muda Cai Bo An dan Cai Na Li sudah benar benar merubah pandangan nya terhadap Shin Liong, tidak ada lagi pandangan angkuh dan merendahkan seperti sebelum nya.


"Bagai mana dengan janji mu Na Li, apa yang ingin kau katakan sekarang?, ayah tidak bisa membantu mu, yang berucap bibir mu, bukan atas suruhan ayah?" tanya tuan ketua Kota dengan pandangan sendu menatap putri nya, yang terlalu gampang berucap itu.


Nona muda Cai Na Li tertunduk lesu, dia menyadari ucapan nya yang terlalu mudah terucap itu, dan akhirnya, dia sendiri yang harus menerima akibat nya.


"Sa' saya akan bertanggung jawab dengan kata kata saya ayah, mungkin sudah nasip saya harus menjadi budak nya, saya yang salah ayah, karena merasa kami anak anak jenius, sehingga dengan mudah memandang rendah orang lain, maapkan saya ayah!" ucap nona muda Na Li dengan nada bergetar menahan air mata nya.


"Tuan ketua Kota, saya bukan nya tidak mau menghargai kalian semua, saya cuma pengembara ruang waktu, yang tidak pasti kemana arah dan tujuan saya, bagi saya, kesendirian saya jauh lebih baik dari pada membawa orang lain sengsara tuan, semua janji dan sumpah nona muda Na Li saya terima, dan sekarang juga saya menyatakan nona Na Li saya merdeka kan, dan dia kembali menjadi manusia bebas lepas, terlepas ikatan apapun dengan diri saya, satu hal yang ingin saya pesankan tuan, jangan memandang bintang itu kecil, kecil kelihatan nya, besar dalam kenyataan nya" kata Shin Liong sedikit memberikan petuah.


Akhirnya benteng keangkuhan hati nona muda Na Li pun runtuh sudah, dada nya terasa sesak menahan rasa haru nya, hingga akhirnya, air mata nyapun tumpah tanpa terbendung lagi.


Begitupun juga dengan tuan ketua Kota, dia kagum dengan kebesaran hati anak remaja di depan nya itu, dan yang lebih membuat hampir tidak masuk akal itu ialah dalam usia yang masih empat belasan tahun itu, anak remaja ini telah mencapai tingkatan alam Dewa yang sangat jarang di capai manusia biasa, meskipun sudah berkultivasi Beratus ratus tahun lama nya.

__ADS_1


Karena apa bila manusia mencapai tingkatan alam Dewa, pisik nya tidak akan menua lagi, bila dia berusia dibawah dua puluh tahun, batas ketuaan pisik nya cuma dua puluh tahun, sesudah itu pisik nya tidak akan menua lebih dari itu, tetapi bila dia mencapai tingkatan alam Dewa di usia lima puluh tahun misal nya, maka pisik nya akan tetap seperti itu selama nya, itulah mengapa pisik para Dewa kebanyakan berupa orang tua, karena dia mencapai tingkatan alam Dewa, diusia itu, tetapi pisik nya tidak lagi bisa menua meskipun sudah hidup beribu ribu tahun lama nya.


"Anak muda!, bolehkah saya meminta bantuan mu anak muda!" akhirnya tuan ketua Kota membuka pembicaraan nya.


"Tuan ketua kota!, kita manusia memang harus saling tolong menolong kan, katakanlah, bila saya mampu menolong, maka saya berjanji akan menolong tuan" kata Shin Liong.


"Sebaiknya kita masuk dahulu, duduk duduk sambil minum teh" kata tuan ketua Kota.


Di ruang tengah rumah kediaman tuan ketua Kota, mereka duduk berbincang bincang sambil minum teh harum yang nikmat.


Tuan ketua kota menyerahkan beberapa kantong berisi tiga ratus ribu keping emas kepada Shin Liong.


Meskipun Shin Liong berusaha menolak nya, tetapi tuan ketua kota memaksa nya.


"Anak muda!, jangan lagi menolak nya, ini pertaruhan yang di ucapkan putri ku, bila kau menolak nya, sama dengan kau menghina ku anak muda, ini hak mu, kau sudah membebaskan putri ku, jangan lagi menolak ini anak muda" kata tuan ketua kota.


Akhirnya Shin Liong terpaksa menerima keping emas itu yang di masukan nya kedalam cincin ruang nya.


"Sekarang katakan lah tuan, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu tuan ketua kota?" tanya Shin Liong kepada tuan ketua kota.


Begini anak muda, Kota Si Ma ini adalah kota terpencil, namun penghasil kuda yang terkenal, beberapa waktu yang lalu Negeri Dao yang berbentuk kerajaan kecil di Utara ingin menjadikan kota kami ini sebagai bagian dari negeri mereka, tetapi sejak dahulu kala, kota kami ini berdiri sendiri, dan tidak masuk kedalam wilayah negeri manapun juga, dan kami selalu aman damai saja, makanya kami menolak mentah mentah pernyataan dari negeri Dao itu, sehingga pernyataan kami itu menyebabkan kerajaan Dao marah, dan mengutus ribuan prajurit terbaik nya untuk menyerang kota ini, bisakah anak muda membantu kami mempertahan kan kota kami ini?" tanya tuan ketua Kota.


Shin Liong merenung sesaat, "baiklah tuan ketua kota, saya akan membantu tuan semampu daya saya!" ...


Tuan ketua kota melambaikan tangan nya ke arah komandan Guo.


Komandan Guo segera menghampiri tuan ketua kota.


"Komandan Guo, bagai mana perkembangan dari pasukan kita di gerbang kota?" tanya tuan ketua kota.


"Ampun tuan ketua Kota, pasukan kita cuma berjumlah tiga ratus prajurit, dan sudah di siaga kan di gerbang Kota, sedangkan pasukan musuh, menurut para teliksandi kita, mereka berjumlah seribu prajurit, dan sudah berada sebelah gunung Kai Tung, dan di pimpin oleh seorang panglima perang berpangkat jendral" kata komandan Guo.


"Tuan komandan, saya tidak mengerti tentang ke prajuritan, tetapi saya akan membantu semampu daya saya, tuan atur saja pasukan sesuai dengan kapasitas tuan, dan saya akan bergerak sendiri membantu tuan dengan jalan lain!" kata Shin Liong.


"Saudara Shin Liong , biarlah kami berdua bergerak bersama saudara, kami akan ikut dengan saudara Shin Liong !" kata Cai Bo An.


"Baiklah, kita bergerak bertiga,dan tuan ketua kota akan bergerak bersama dengan komandan Guo, untuk menghadang pasukan musuh!" kata Shin Liong .

__ADS_1


Akhirnya setelah mendapat kesepakatan, mereka pun bergerak sesuai rencana mereka masing masing.


...****************...


__ADS_2