
Mendengar perkataan dari Liem Tan Ouw itu, bukan main marah nya tuan Liem Ao Gwan, di keluarkan nya sebuah kotak perunggu dari dalam cincin ruang nya, dan dari dalam kotak itu di keluarkan nya sebuah gulungan kulit kijang.
Setelah gulungan kulit kijang itu di buka, dia membaca tulisan di atas nya, yang merupakan surat wasiat penyerahan semua harta kekayaan milik tuan Liem kepada keponakan nya yang bernama Liem Ao Gwan, apa bila dia kelak meninggal Dunia.
"Kalian tahu kan itu artinya apa?, artinya semua kekayaan ayah, termasuk tanah dan rumah ini, adalah milik ku" kata Liem Ao Gwan dengan mata melotot.
"Tunggu!, apakah kakak tidak bisa membaca isi surat wasiat itu selengkap nya?" tanya Liem Tan Ouw tidak kalah geram nya melihat kelakuan saudara sepupu nya itu.
"Apa maksud mu adik, ini kan sudah jelas isi nya, lalu apa lagi?" tanya Liem Ao Gwan lagi dengan sengit nya.
Selagi mereka berdebat seru, kesempatan itu dipergunakan oleh Hao Shen, dengan sepengetahuan nona Nio Nio, untuk memasukan sebutir pil kecil ke dalam mulut tuan besar Liem.
Setelah memasukan pil itu, dengan mengurut di beberapa bagian tenggorokan tuan Liem, akhirnya pil itupun berhasil masuk kedalam perut tuan Liem.
Sementara perang mulut antara Liem Ao Gwan dengan Liem Tan Ouw masih berlangsung seru.
"Masa kakak tidak mengerti isi surat wasiat itu?, disitu kan tertulis bila ayah sudah meninggal, sedangkan sekarang, ayah belum meninggal, dan kakak sibuk mengurusi masalah harta peninggalan ayah, maksud kakak apa An?" tanya Liem Tan Ouw merasa ada yang tidak beres, tetapi dia tidak berani berkata apa apa, karena dia tahu seberapa besar pengaruh kakak sepupu nya itu, dan pula, tanda tangan di surat wasiat itu, jelas jelas tanda tangan ayah mereka.
"Apa beda nya sekarang dan nanti, ayah sudah pasti tidak tertolong lagi, tinggal menunggu waktu saja, aku minta kalian cepat cepat angkat kaki dari rumah ini, karena rumah ini akan segera ku tempati!" kata Liem Ao Gwan nyaring.
Liem Chu Kiang hanya Dian saja dari tadi, tidak ikut berbicara, karena perhatian nya tertuju kepada pemuda Hao Shen yang sedari tadi memijat bagian bagian tubuh ayah nya, setelah tadi memasukan sebutir pil berwarna putih kedalam mulut sang ayah.
Dan secara perlahan lahan, wajah ayah nya yang tadi sudah pucat pasi, kini berangsur angsur mulai memerah.
Pertengkaran mulut antara Liem Ao Gwan dengan Liem Tan Ouw masih saja berlangsung dengan seru, Liem Ao Gwan secara sepihak mengusir semua putra paman nya itu dari rumah mereka, karena dia ingin menempati rumah itu segera.
Tetapi tuan Liem Tan Ouw tetap bersikeras mempertahan kan rumah peninggalan ayah mereka itu, karena dia merasa ada yang tidak beres dengan kejadian ini.
"Tidak!, aku tidak perduli!, secepat nya kalian kosongkan rumah ini, karena sekarang, semua aset kekayaan ayah, sudah menjadi hak milik ku!" teriak Liem Ao Gwan semakin murka.
"Diam!, kalian diam semua nya!" ...
Terdengar suara kecil, agak serak, namun jelas sekali, bukan dari Liem Ao Gwan, Liem Tan Ouw, maupun Liem Chu Kiang.
__ADS_1
Suara itu berasal dari mulut kakek tua Liem Bao Ong yang kini sedang duduk di atas tempat tidur dengan di bantu oleh Nio nio.
Tiba tiba mata Hao Shen atau Shin Liong , melihat beberapa buah pil diatas meja kecil Disamping tempat tidur itu.
Diambil nya pil itu, di cium nya dengan seksama, "nona obat apa ini nona?" tanya nya kepada nona Nio nio.
Itu obat dari toko obat terkenal dan paling terpercaya di kota ini, ada apakah?" tanya nona Nio nio heran.
"Obat ini mengandung jamur setan dalam dosis rendah, tetapi bila di konsumsi secara terus menerus, maka akan menimbulkan penyakit serius nona, dan seperti nya tuan besar di racun orang lewat pil palsu ini nona!" kata Hao Shen menjelas kan.
Mendengar penjelasan dari pemuda Hao Shen itu, tiba tiba nona Nio nio bergegas keluar dari tempat itu.
Di saat yang sama, Liem Ao Gwan dan Liem Tan Ouw terperanjat melihat siapa yang tadi berbicara.
"A ayah, bagai mana mungkin ayah sehat sehat saja, bukan kah ayah seharusnya ma, ma!" Liem Ao Gwan tidak mampu melanjutkan ucapan nya.
"Ya aku seharusnya mati kan, dan kalian berebut harta ku kan?, aku belum mati saja kalian bermaksud memperebutkan harta ku!" kata tuan besar Liem Bao Ong.
"Tidak Ayah!, tidak seperti itu, kakak Ao Gwan tiba tiba datang dengan surat wasiat dari ayah tentang penyerahan semua harta benda milik ayah, dan mengusir kami semua dari rumah ini, sedangkan ayah saja belum mati, bukan kah itu sangat keterlaluan ayah!" kata Liem Tan Ouw sambil menuding wajah saudara sepupu nya itu.
"Keterlaluan atau tidak, itu bukan soal, yang menjadi soal adalah, menghendaki kematian ku, selagi aku masih sehat, bukan kah itu yang sangat keterlaluan nama nya?" kata tuan besar Liem .
"Siapa yang menghendaki kematian ayah?" tanya Liem Ao Gwan, Liem Tan Ouw dan Liem Chu Kiang berbarengan.
"Paman Tan Ouw yang keterlaluan ayah, dia merencanakan ini sudah sejak lama, dan secara diam diam meracuni akung, untung ada pemuda Hao bersaudara ini, sehingga sandiwara paman Tan bisa terbongkar"kata nona Nio nio tiba tiba muncul dari balik pintu.
"Kau jangan mengada ada Nio, kau memfitnah paman mu sendiri!" kata Liem Tan Ouw sangat marah sekali.
"Dia tidak mengada ada Tan Ouw, aku sendiri telah mendengar rencana yang kau buat bersama istri mu itu yang ingin membunuh ku, namun aku tidak menyangka, jika kau melakukan nya seperti itu, aku sengaja membuat surat wasiat itu, aku yang meminta kepada Ao Gwan untuk mau merebut semua harta benda ku untuk Chu Kiang, sebenar nya dia tidak setuju, tetapi setelah aku jelaskan, dia akhirnya menyetujui nya, kau terlalu serakah Tan Ouw, engkau mengijinkan pemuda itu mengobati aku, karena kamu tahu dan yakin bahwa tidak ada obat untuk racun jamur setan itu, satu satu nya obat cuma pil surgawi, tetapi kamu lupa, bahwa diatas langit masih ada langit lain nya, maafkan aku Ao Gwan anak ku, aku telah melibatkan diri mu dalam bahaya!" kata tuan besar Liem Bao Ong.
"Kalian bicara omong kosong saja, kakak Gwan lah yang telah merencanakan semua ini, buktinya dia memiliki semua surat wasiat dari ayah, kalian tidak bisa membuktikan bahwa aku yang telah merencanakan semua ini" kata Liem Tan Ouw marah.
"Bagai mana dengan Kao Ming Ming paman, siapa yang sudah menukar obat akung dengan pil beracun dan menyuruh Kao Ming Ming memberikan kepada akung setiap pagi nya?" tanya nona Nio nio.
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Nio nio itu, kini Liem Tan Ouw tidak lagi bisa berkata kelit lagi, ketika seorang wanita paro baya yang tadi menangis di luar gerbang, masuk kedalam ruangan itu.
Ternyata wanita yang menangis di luar gerbang tadi adalah Kao Ming Ming.
Wanita paro baya itu menangis bersimpuh dihadapan tuan besar Liem.
"Tuan besar!, apa yang dikatakan nona muda, semua benar adanya, tuan, saya lah yang telah menukar obat dari tabib itu setiap hari, saya terpaksa melakukannya tuan besar, karena putri saya di sandera tuan Tan Ouw, dan bila saya tidak melakukan semua perintah nya, putri saya akan dia perkosa. dan dia bunuh tuan besar, saya yang salah, hukum lah saya tuan besar, tetapi satu permohonan saya kepada tuan, tolong jaga kan putri saya, pekerjakan dia sebagai pengganti saya tuan, saya bersedia mati ditangan tuan besar!" kata wanita paro baya bernama Kao Ming Ming itu.
Karena sudah merasa tersudut dan tidak bisa mengelak lagi, akhirnya Tan Ouw mengakui semua perbuatan nya.
"Ya ayah, mereka benar, sayalah yang sudah menyuruh Ming Ming menukar obat ayah dengan pil beracun itu, tetapi ayah terlalu licik, sehingga membuat surat wasiat segala, itulah yang berada diluar perkiraan saya, tetapi sekarang itu semua tidak menjadi masalah bagi ku saat ini ayah, karena sama saja, aku sudah merencanakan langkah kedua, bila langkah pertama gagal, yaitu kalian semua harus mati di tangan ku, sebenar nya ini awal nya ku rencanakan untuk kakak Ao Gwan saja, tetapi tidak mengapa bila kalian semua juga mendapatkan nya!" kata Tan Ouw sambil bertepuk tangan tiga kali.
Setelah selesai bertepuk tangan tiga kali, dari sebelah luar ruangan, muncul empat orang Hwesio berkepala gundul, tetapi berjubah merah hitam, usang menandakan bahwa mereka berasal dari kuil api di gunung Mao kian Lun, sebuah sekte Tao yang tersesat dari induk nya, dan mendirikan kepercayaan sendiri yang bernama sekte Dewa api.
Sekte Dewa api ini adalah penyembah iblis api, dan banyak merekrut murid murid secara diam diam dari berbagai kalangan dan berbagai kota.
Murid murid senior sekte ini, rata rata memiliki tingkat kultivasi yang tinggi tinggi, seperti Dewa Bumi, Dewa Laut, bahkan ada yang sudah mencapai Dewa langit menengah, karena mereka melakukan jalan pintas, dengan melakukan ritual persembahan manusia kepada Dewa api, agar mendapatkan kekuatan yang besar dan tingkat kultivasi yang tinggi.
Tetapi yang mereka terima bukan Qi murni, tetapi Qi hitam aura kegelapan dari para mahluk iblis.
Mahluk iblis, tidak bisa berinteraksi langsung dengan mahluk manusia, tanpa perantara mahluk siluman, karena dimensi tempat nya berbeda, dimensi dunia mereka adalah dimensi kegelapan di sebelah dimensi dunia siluman, sedang kan manusia bersebelahan dengan dimensi dunia siluman, yang di namakan dimensi senja, makanya banyak dari mahluk siluman yang bisa ber interaksi dengan mahluk manusia.
Sedangkan dimensi manusia, dinamakan dimensi terang.
Ke empat Hwesio gundul itu masuk kedalam ruangan itu dengan membawa kebutan terbuat dari bulu gagak.
Sepintas melihat Hwesio itu, Hao Shen atau Shin Liong , sudah bisa melihat jika tingkat kultivasi nya raya raya berada di tingkat Dewa Bumi menengah, satu tingkatan yang cukup tinggi.
"Kakak, tolong jaga orang orang, masalah Hwesio itu, biarlah saya yang akan mengatasi nya!" kata Hao Shen berbisik kepada kakak nya.
"Tetapi adik!" kata kata Hao Cun ingin membantah ucapan adik nya itu, karena ia khawatir dengan keselamatan sang adik bila harus berhadapan dengan ke empat Hwesio itu.
Tetapi setelah melihat kilatan cahaya putih dari mata sang adik, bantahan nya dia urungkan, lalu bergerak kearah tuan besar Liem.
__ADS_1
Sedangkan nona Nio nio dan ayah nya, bergerak mendekati sang ayah yang masih duduk di atas pembaringan.
...****************...