Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Sepuluh Kebajikan.


__ADS_3

Shin Liong dan Dewi Teratai putih berjalan memasuki sebuah ruangan yang sangat besar.


Ruangan itu mirip ruang depan sebuah istana yang sangat luas serta indah sekali, di kelilingi oleh ukiran dari emas.


Di sebelah dalam ruangan itu, duduk seorang wanita yang cantik jelita di atas sebuah kursi dari emas, diapit oleh dua orang wanita cantik jelita juga.


" Ibu!, kenapa ibu lama tidak menemui ku bu, aku merindukan ibu, lihatlah putra mu sekarang bu, tubuh ku sudah normal bu, dan nama ku sekarang Shin Liong bu, itu pemberian dari Naga Emas sahabat ku,dia kakak angkat ku bu, aku sayang ibu!" jerit Shin Liong sambil berlari kecil memeluk wanita cantik itu.


Wanita cantik itu berdiri lalu memeluk Shin Liong dengan pelukan hangat.


Sambil air mata berderai di kedua pipi nya, di ciumnya kedua pipi Shin Liong .


"Ibu tahu sayang, ibu selalu memperhatikan diri mu sayang, ibu lah orang yang paling bahagia dengan pencapaian mu selama ini, kau juga anak ku, mendekat lah kemari sayang!" Xue Bao Yu melambaikan tangan nya kearah Dewi Teratai putih.


Wanita yang sangat cantik dan jelita itu melangkah mendekat ke arah Xue Bao Yu dan merangkul wanita cantik itu dengan erat.


"Ibu mertua,terimalah salam hormat dari Dewi Nuwa menantu ibu!" kata Dewi Teratai putih sambil membungkukan badan nya di hadapan Xue Bao Yu.


Mereka bertiga berangkulan bersama.


"Dewi Nuwa anak ku, ibu titip Shin Liong putra tersayang ibu kepada mu ya sayang, jaga dan sayangi dia, ibu sangat menyayangi nya, meskipun ibu tidak sempat memberi nya kasih sayang, jangan sakiti dia nak, karena semenjak kecil, putra ibu ini sudah mengalami penderitaan nak, kalian berdua dengarlah nak, mulai sekarang, ibu tidak lagi bisa menemui kalian lagi, ibu akan menjalani kurungan selama seribu tahun, ini berhubungan dengan perjanjian saya dengan Dewata Agung, ibu menukar kebebasan ibu selama seribu tahun dengan menjaga Shin Liong semenjak bayi merah hingga remaja, dan sekarang perjanjian itu telah sampai nak,ibu akan menjalani hukuman di kurung selama seribu tahun, ibu tidak lagi bisa menjaga diri mu sayang, jaga diri mu sendiri baik baik sayang, ibu sangat mencintai diri mu, jaga suami mu baik baik Dewi, ibu menyayangi mu juga!" kata Xue Bao Yu kembali memeluk tubuh putra dan menantunya itu dengan erat, air mata nya kembali berderai jatuh di pipinya, lalu kembali di cium nya kedua pipi Shin Liong dan Dewi Teratai putih bergantian.


"Ibuu!, aku tidak ingin ibu dikurung, biarlah dunia beserta isi nya ini untuk orang lain, aku cuma mau ibu saja!,ibuuu!" jerit Shin Liong menangis sedih.


Dua buah cahaya putih melesat membungkus tubuh Xue Bao Yu, lalu melesat ke angkasa, dan menghilang di balik awan putih.


" Ibuuu!, ibuuu!, ibuuu!" jerit Shin Liong sambil menatap cahaya yang menghilang membawa ibu nya itu.


Kini tangis Shin Liong benar benar pecah dalam kepedihan hati nya.


Sang ibu telah menjalani hukuman sebagai tebusan atas waktu yang di berikan pada nya untuk menjaga dan mendidik Shin Liong dahulu.


Begitulah kasih sayang seorang ibu kepada putra putri nya, nyawa yang cuma satu satu nya pun akan di berikan demi keselamatan putra putri nya.


Dewi Teratai putih tidak lagi kuasa membendung air mata nya yang juga mengalir keluar menatap Shin Liong yang jatuh berlutut Sabil menangis sedih.


"Jdeerr!!"...


Tiba tiba petir menyambar dengan suara yang nyaring.


Seorang laki laki tua nampak di terbang di langit setelah suara petir itu menyambar.

__ADS_1


Tubuh laki laki tua itu memancarkan cahaya putih ke biruan yang terang benderang.


"Kakek guru, ibu ku kek, tolonglah ibu ku kek!" ratap Shin Liong menatap laki laki tua yang terbang di langit itu.


"Shin Liong cucu ku, bukan kakek yang bisa membebaskan ibu mu nak, tetapi diri mu sendiri lah yang bisa membebaskan ibu mu nak!" kata kakek Qin.


"Bagai mana cara aku membebaskan ibu ku kek!" tanya Shin Liong .


"Lakukanlah sepuluh macam kebajikan, dan ibu mu akan bebas dari kurungan nya, sekarang adalah giliran diri mu yang berkorban untuk ibu mu!" kata kakek Qin lalu melesat pergi ke angkasa.


"Kakek tunggu!, Kakek tunggu!" teriak Shin Liong sambil duduk.


Dilihat nya Dewi Teratai putih juga melakukan hal yang sama, duduk di sisi nya.


Perlahan lahan kesadaran nya pulih kembali, dia melihat ke sekeliling nya,yang ada cuma dia dan Dewi Teratai putih yang tiduran di dalam tenda.


Di raih nya air putih di dalam kulit labu,lalu di teguk nya.


Dewi Teratai putih meraih tubuh Shin Liong dan memeluk nya dengan erat, "kau mimpi buruk kah sayang?"...


"Ya Dewi,aku bermimpi bertemu kembali ibu ku,dan beliau di kurung di suatu tempat!" kata Shin Liong sedih sekali.


"Aku juga bermimpi yang sama sayang, aku bermimpi kita berada di suatu tempat mirip sebuah istana, dan di situ ada ibu mu sedang duduk di sebuah singgasana di apit oleh dua gadis yang cantik jelita, ibu mu meminta ku untuk menjaga mu, setelah itu datang cahaya membawa ibu mu pergi, lalu seorang kakek tua muncul di angkasa, menyuruh mu berbuat sepuluh kebajikan untuk melepaskan ibu mu dari kurungan nya" kata Dewi Teratai putih .


"Kita akan melakukan sepuluh kebajikan itu untuk membebaskan ibu sayang, kita akan berjuang bersama sama, tidurlah, Dewi akan menjaga mu,sebentar lagi pagi datang!" kata Dewi Teratai putih sambil membenamkan kepala Shin Liong de dada nya, tiba tiba saja hatinya terasa perih melihat laki kesayangan nya itu menangis terisak tanpa suara.


"Menangis lah sayang, karena air mata bukan mutlak hak nya para wanita saja, laki laki juga punya air mata, andaikan Dewi bisa, Dewi ingin memanjakan Shin Liong, menghibur Shin Liong, agar jangan lagi ada air mata yang jatuh membasahi pipi mu Shin Liong, tetapi Dewi bukan sang pemegang takdir hidup Shin Liong" bisik Dewi Teratai putih sambil membelai rambut panjang Shin Liong.


"Ibu!, aku akan membebaskan ibu, aku sayang ibu, Bu!" bisik Shin Liong.


Dari dalam hutan terdengar suara Kokok ayam hutan bersahutan, yang menandakan bahwa sebentar lagi pagi akan tiba.


Dewi Teratai putih keluar dari tenda, menyalakan api, lalu menggodok air untuk membuat dua cangkir teh panas.


Tidak seberapa lama, diapun masuk kembali kedalam tenda, membawa dua cangkir teh panas manis.


"Minumlah sayang, mungkin bisa mengurangi rasa kedukaan diri mu" kata Dewi Teratai putih sembari menyerahkan secangkir teh manis.


"Masih ada Dewi, yakin lah sayang, apapun yang akan terjadi, kita akan tetap bersama sama selama nya, kita akan berjuang bersama" kata Dewi Teratai putih, membesarkan hati Shin Liong.


"Terimakasih Dewi, sekarang aku cuma memiliki diri mu saja di dunia ini,terimakasih atas kesediaan mu bersama ku" jawab Shin Liong.

__ADS_1


Dan, fajar pun datang, di ufuk timur, terlihat matahari mulai memancarkan cahaya nya ke permukaan Bumi.


Seperti biasa nya, Shin Liong segera berolahraga dengan berlatih ilmu bela diri yang sudah dia kuasai selama ini.


Kali ini dia berlatih bersama Dewi Teratai putih,saling pukul dan saling serang.


Setelah puas berlatih, barulah Shin Liong mandi di telaga, lalu duduk diatas batu besar berkultivasi menyerap sinar matahari pagi beberapa saat.


Dewi Teratai putih menatap kearah Shin Liong, dia melihat cahaya matahari pagi seperti tersedot kearah tubuh Shin Liong semua, hingga tubuh nya terlihat mengepulkan asap putih tipis.


"Luar biasa laki laki ini, alam mengajarkan nya berkultivasi menyerap cahaya matahari pagi secara alami, cahaya yang justru sangat berguna untuk memperkuat dan memperbesar dantian nya,serta menjaga dan meremajakan seluruh sel sel di dalam tubuh nya" pikir Dewi Teratai putih kagum.


Shin Liong memang sudah lama tidak melakukan hal seperti itu, baru kini dia melakukan nya lagi.


Setelah cukup lama berkultivasi menyerap cahaya matahari pagi, barulah Shin Liong menyelesaikan ritual pagi yang sudah cukup lama tidak di jalan kan nya lagi itu.


Dia bangkit, memungut pakaian nya yang tadi dia letakan diatas batu sebelum mandi, mengenakan nya, lalu berjalan kearah Dewi Teratai putih yang memperhatikan dirinya sedari tadi.


"Ada apa Dewi menatap ku seperti itu?" tanya Shin Liong bingung.


"Sejak kapan kau melakukan kultivasi seperti itu sayang?" tanya Dewi Teratai putih.


"Entahlah Dewi,sudah sangat lama, mungkin saat aku berusia enam atau tujuh tahun !" jawab Shin Liong, lalu bercerita tentang masa lalu nya, mulai dari dia di kota Li Cuan, hingga melarikan diri kehutan karena mau di bunuh oleh nenek nya lewat tangan Ju Bi Guan dan Ma Lai, lalu di tampung oleh kakek Po Peng, di fitnah oleh Mou Yi Hua,dan lari karena kembali mau di bunuh oleh tetua perguruan Mou Cai Lang, hingga bertemu kakek Qin atas petunjuk ibu nya lewat mimpi nya.


Setelah selesai bercerita, ia melihat beberapa bulir air mata menetes membasahi pipi Dewi Teratai putih yang putih susu kemerah merahan itu.


"Kenapa kau menangis Dewi, adakah cerita ku menyakiti hati mu?" tanya Shin Liong.


Dewi Teratai putih tersenyum manis kepada Shin Liong sambil mengusap air mata nya.


"Bagai mana hatiku tidak sakit sayang, kekasih hati ku di sakiti orang sedemikian sadis, sungguh derita yang kau alami tidak ada dua nya di dunia ini, tempaan hidup mu begitu berat, aku takjub, kau masih bisa bertahan hingga sekarang, bahkan bangkit mengalahkan sang takdir itu sendiri, aku bangga bisa menjadi pendamping hidup mu selama nya,aku berjanji, tidak akan ku biarkan seorang pun jua yang akan menghina mu, percayalah, kalau itu mereka lakukan,maka pedang ku akan menggorok leher mereka!" kata Dewi Teratai putih.


Kebetulan saat itu Dewi Teratai putih juga sudah selesai membersihkan tubuh nya.


Setelah berkultivasi menyerap cahaya matahari pagi beberapa saat, Dewi Teratai putih melihat semua mendung di wajah Shin Liong tiba tiba sirna berganti aura keceriaan.


"Apakah kedukaan mu sudah hilang?" tanya Dewi Teratai putih .


"Tidak ! Dewi, aku sudah biasa bila hatiku sedang berduka, aku berjemur di cahaya matahari pagi hingga sampai terasa panas,maka hatiku pun ikut hangat dan kedukaan ku berkurang" jawab Shin Liong jujur.


Berkultivasi menyerap cahaya matahari pagi seperti yang telah di lakukan oleh Shin Liong itu, memang ber epek kepada suasana hati akan merasa lebih rileks dan terasa damai, sehingga segala macam beban akan ber kurang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2