Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Pelajaran Pahit.


__ADS_3

Saat Lu Cai He menyerang Hao Shen atau Shin Liong dengan membokong nya dari belakang, Hao Shen yang merasa ada serangan dari sebelah belakang, langsung berkelit ke samping kanan, tetapi dari samping kanan, muncul dalam waktu yang hampir bersamaan, Zhu Kian Gu menyerang dengan satu pukulan tangan kanan ke arah dada Hao Shen.


Tidak ada jalan bagi Hao Shen kecuali dengan mengadu pukulan nya.


Dengan mengerahkan seperempat energi nya, Hao Shen segera memapaki pukulan dari Zhu Kian Gu itu dengan pukulan tangan kanan nya pula.


"Prok!!"...


Terdengar seperti suara ranting yang banyak dipatahkan sekali gus ketika dua buah tinju beradu.


"Aduuh!, aduuh!, aduuh!" terdengar suara jeritan dari mulut Zhu Kian Gu seolah olah meruntuh kan bintang bintang malam itu, karena kini tangan kanan nya telah remuk sebatas pergelangan tangan nya, seolah olah dia sudah meninju dinding baja yang begitu keras nya.


Lu Cai He beserta ketiga sahabat nya tersentak kaget dengan kejadian itu, tetapi sudah terlambat untuk menyadari segala sesuatu nya.


"Pok!".


"Pok!".


"Pok!".


Terdengar kembali suara seperti tiga patahan dahan kering, dan bersamaan dengan itu, tiga remaja itu menjerit kesakitan karena pergelangan tangan mereka bertiga kini telah patah.


"Aku sudah menyuruh kalian untuk pergi, dan kalian sendiri yang meminta celaka, jangan salahkan aku berlaku kasar kepada kalian semua, kalian senang memukuli orang lain, menyiksa orang lain, bahkan membunuh orang lain, sekarang rasakan bagai mana rasa nya di pukuli orang lain, apakah sakit atau nikmat, kalian renungkan sendiri, berapa banyak orang yang sudah kalian buat celaka, dan berapa banyak orang tua yang harapan nya kalian musnahkan dengan mencelakai anak anak mereka, renungkan lah!" kata Hao Shen sambil memapah satu persatu kedua remaja itu kedalam kamar nya.


Kamar itu tidak terlalu besar, ada dua tempat tidur yang bisa memuat dua orang dalam satu tempat tidur yang saling berhadapan, dengan satu ruang kosong tidak sampai satu depa di tengah antara kedua tempat tidur itu.


Kedua remaja itu masih pingsan saat Hao seng membawa mereka kedalam kamar nya.


Hao Shen segera membersihkan luka luka kedua remaja itu, lalu memijat di beberapa bagian tubuh kedua nya.


Setelah beberapa saat, kedua remaja itupun siuman dari pingsan nya.


Kedua nya nampak terkejut melihat kesekeliling mereka, tiba tiba mata mereka tertuju kepada Hao Shen yang duduk di pinggir tempat tidur di seberang mereka.


"Si' siapa kah tuan muda?, apakah tuan muda yang telah membawa kami ke tempat ini?" tanya salah satu dari kedua remaja itu.


"Tidak usah terlalu banyak peradaban, panggil saja saja saya Hao Shen, saya menemukan kalian tergeletak di haluan kapal, jadi saya berinisiatif untuk Mambawa kalian berdua ke kamar ini, ini minum lah pil ini, agar kekuatan kalian pulih kembali!" kata Hao Shen sambil menyerahkan kepada remaja itu masing masing sebutir pil berwarna putih, serta menyerahkan air di dalam lumpang kulit labu tua.

__ADS_1


Kedua orang remaja itu menerima pil itu, lalu menelan nya, serta mereguk beberapa teguk air putih sebagai peluncur pil pahit itu.


"Terimakasih, tuan penolong!, saya Rua Tan Rao, sangat berhutang nyawa pada tuan, seandainya di dunia ini belum bisa membalas jasa tuan, biarlah di kehidupan mendatang, terlahir sebagai anjing yang akan melayani tuan!" kata remaja bernama Rua Tan Rao itu sambil membungkukan badan nya beberapa kali.


"Tuan penolong, terimakasih banyak juga, saya Bu Si Hong!, berterimakasih atas pertolongan tuan, biarlah seandainya di dunia ini kami belum sempat membalas Budi tuan, semoga di kehidupan mendatang, kami terlahir sebagai anjing yang setia melayani tuan!" kata Bu Si Hong sambil membungkukan badan nya beberapa kali di hadapan Hao Shen.


"Saudara Rao!, dan saudara Hong!, jangan begitu berlebihan, anggap saja kita saudara dan kewajiban kita untuk saling tolong menolong, tidak usah sungkan, dan jangan panggil saya tuan, panggil saudara saja, sebenar nya ada apa dengan kalian?" tanya Hao Shen berpura pura tidak tahu.


"Saudara Shen!, kami berdua dari kota Raja Sun Cao, kami belajar di perguruan Beruang emas dan kebetulan satu tingkatan dengan empat orang tuan muda dari kota Raja Sun Cao juga, mereka berempat adalah Dao Ki Ciang putra Dao Taijin (pembesar Dao), Zhu Kian Gu putra Zhu Ciangkun (perwira Zhu), Lu Cai He putra Bangsawan Lu Ping po, dan Qiu Dong Zi putra dari Hartawan Qiu Bo Bian, semenjak pertama masuk perguruan itu, kami memang sangat sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari ke empat orang itu, bukan kami tidak berani, tetapi apa daya kami yang cuma anak petani miskin ini!" kata Rua Tan Rao.


"Hingga puncak nya adalah tadi, ketika kami sedang beristirahat di haluan kapal, kami memang tidak menyewa kamar karena tidak punya uang, saat kami istirahat, ke empat orang itu mendatangi kami, dan memukuli kami serta mau membunuh kami, cuma itu yang saya ingat, selebih nya saya tidak ingat lagi!" kata Bu Si Hong menambahkan cerita teman nya.


"Kalian berdua sudah lama saling kenal?" tanya Hao Shen.


Kedua nya mengangguk bersama sama.


"Kami sudah sangat lama saling mengenal dan bersahabat, sudah semenjak kecil dahulu!" kata Rua Tan Rao menjelaskan.


"Ooh begitu rupanya, pantaslah sifat mereka seperti itu, rupanya mereka anak anak manja!" kata Hao Shen.


"Terimalah ini, dan berjanjilah tidak akan menceritakan kepada siapapun juga, atau kalian berdua dalam masalah besar, malam ini telan lah satu butir, selanjut nya satu butir setiap malam, hingga pil ini habis, ketahuilah ini pil Dewa bintang sembilan!" kata Hao Shen lagi.


Kedua orang remaja itu menerima pil pemberian dari Hao Shen dengan tangan yang gemetar, lalu menelan sebutir dan menyimpan sisa nya.


Setelah meminum sebutir pil Dewa bintang sembilan itu, kedua remaja itu merasa ada aliran energi besar memasuki tubuh mereka hingga kultivasi mereka kembali naik menjadi alam taruna akhir.


Bukan main suka cita nya kedua orang remaja itu, hingga mereka bersujud di depan Hao Shen.


"Saudara Rao dan saudara Hong!, saya tidak suka dengan cara seperti ini, bersikaplah biasa, karena saya juga orang miskin yang sudah tidak memiliki orang tua, ingat ingat lah, nama ku Shin Liong atau Hao Shen, tetapi untuk sekarang, dengan rupa ini, nama ku Hao Shen!" kata Hao Shen menegaskan ketidak senangan nya terlalu di sanjung sanjung.


Saat mereka sedang berbicara, pintu kamar terbuka, dari luar, masuk Hao Cun yang wajah serta penampilan nya seratus persen mirip dengan Hao Shen.


"Ooh rupanya ada tamu kah adik?" tanya pemuda yang baru masuk itu.


"Ah kakak, iya ada tamu, tadi aku menemukan mereka di haluan kapal dalam keadaan pingsan, jadi ku bawa saja kesini untuk diobati, dan kebetulan mereka berdua warga kota Sun Cao juga kak!" kata Hao Shen.


"Hah?, benarkah itu saudara?, karena aku dan adik ku juga akan ke kota Sun Cao, kebetulan kalau begitu!" kata Hao Cun sambil duduk di samping Hao Shen.

__ADS_1


"Kaka, kenalkah kakak dengan Dao Taijin, Zhu Ciangkun, Bangsawan Lu dan Hartawan Qiu?" tanya Hao Shen kepada Hao Cun.


Hao Cun menarik nafas panjang, "tentu saja aku mengenal mereka, siapa sih warga kota Sun Cao yang tidak mengenal mereka!" jawab Hao Cun, "memang nya ada apa adik?"...


"Putra putra mereka lah yang membuat kedua saudara ini menjadi seperti ini kakak, mereka berasal dari satu perguruan di kota Kwan Ton, tetapi setiap waktu selalu menjadi bulan bulanan ke empat orang itu!" kata Hao Shen.


"Apakah kalian dari perguruan Beruang emas?" tanya Hao Cun lagi.


"Benar saudara Cun, kami dari perguruan itu, tetapi kami cuma berasal dari petani kecil di pinggiran kota, bukan dari kalangan bangsawan maupun Hartawan, jadi tidak di perguruan maupun di kota raja, kami selalu menjadi bulan bulanan orang!" jawab Rua Tan Rao sambil menunduk.


"Biasa nya orang yang belajar di perguruan Beruang emas itu, memiliki niatan untuk menjadi sesuatu, seperti prajurit, atau pejabat misal nya, nah apa tujuan kalian belajar di sana?" kembali Hao Cun bertanya.


"Seandainya kami bisa menyelesaikan pelajaran disana, kami ingin menjadi prajurit negeri Zhao, semoga saja bisa merubah nasip kami yang miskin ini!" jawab Rua Tan Rao lagi.


Beberapa saat Hao Cun termenung, hati nya tersentuh, betapa banyak rakyat negeri nya yang masih miskin.


"Begini saja saudara ku" kata Hao Cun sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin ruang nya, dan menyerahkan nya kepada Rua Tan Rao, "terimalah ini saudara, aku mendapatkan nya dari pangeran putra mahkota, karena aku tidak memerlukan nya, maka sebaiknya kalian saja yang menyimpan nya, bila satu ketika negeri Zhao sudah kembali aman, carilah dan temui sang pangeran putra mahkota Negeri Zhao, dan perlihatkan ini kepada para petugas, katakan pada pangeran, kalian saudara ku, mudah mudahan kalian di terima bekerja di istana Kaisar!" kata Hao Cun sambil menyerahkan sebuah batu Giok hijau berukir mirip ikan lumba lumba yang cantik.


"Maap saudara ku, maap sekali, kami tidak berani menerima ini semua, karena sepengetahuan kami, ini tanda simbol kerabat istana, ini di berikan untuk saudara, bukan untuk kami, kami takut, putra mahkota menghukum kami nanti nya!" kata Rua Tan Rao menolak pemberian dari Hao Cun itu.


"Saudara ku, kau tahu artinya simbol ini?, ini artinya tidak ada hukum apapun yang lebih tinggi dari simbol ini selain titah Kaisar, aku tidak memberikan nya kepada mu, tetapi menitipkan nya kepada mu, bila kelak negeri kita sudah stabil, tolong kembalikan ini kepada sang pangeran, katakan titipan dari Hao Cun!" kata Hao Cun lagi sambil meletakan ukiran batu giok hijau berbentuk ikan lumba lumba itu ke tangan Rua Tan Rao.


Rua Tan Rao dengan berat hati, terpaksa menerima titipan itu.


"Eh kakak, bagai mana acara mu bersama nona Ling Ling tadi?, seru?" tanya Hao Shen bertanya kepada kakak nya itu.


"Ah!, kau adik, selalu ingin tahu aja, tetapi lumayan seru sih, dia selain cantik, juga pandai bergaul serta yang pasti pintar dan ber ilmu cukup tinggi!" jawab Hao Cun .


Mendengar perkataan dari kakak nya itu, Hao Shen cuma tertawa tawa saja, dia tahu ada sesuatu yang sedang terjalin antara kakak nya dengan nona Ling Ling.


Selama di perjalanan, tidak ada yang mereka lakukan, selain membimbing Rua Tan Rao dan Bu Si Hong berkultivasi.


Selama tiga hari perjalanan menuju kota Tobao,kini tiga butir pil Dewa bintang sembilan sudah mereka konsumsi, dan kini tingkat kultivasi mereka pun telah menerobos ke tingkat Alam Ksatria dasar, dan tinggal dua butir pil lagi yang tersisa.


Alam manusia meskipun berhasil menerobos ketingkat Selan jut nya, tidak ada ujian petir kesengsaraan, karena ini masih di tingkat paling rendah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2