
Di taman belakang istana kecil itu, Shin Liong dan Mei Yin duduk berhadapan.
"Tuan!, apakah ini tidak keterlaluan, beberapa waktu tuan tidak ada Khabar nya, dan sekarang tiba tiba datang, juga lebih berani pada gadis gadis!" kata Mei Yin malu malu.
"Aku tahu Mei Yin, bertambah nya usia, akan membuat seseorang menjadi matang dalam segala hal, maafkan aku Mei Yin, banyak masalah yang harus ku hadapi, dan sekarang pun seperti itu, sekarang aku tiba di sebuah dunia yang serba rusak karena kedatangan mahluk iblis, sudah lebih dari separuh penduduk dunia itu yang binasa menjadi korban keganasan mahluk iblis ini, konon menurut ramalan kitab kuno, mahluk itu cuma bisa di tumpas dengan racun hidup, apa kau mengetahui tentang racun hidup ini Mei Yin?" tanya Shin Liong.
"Tuan!, racun hidup itu berbagai macam ragam dan jenis nya, tergantung di pergunakan untuk apa?"kata Mei Yin.
"Mei Yin!, jangan lagi kau panggil aku tuan seperti itu, telinga ku gatal mendengar nya, kau panggil aku kakak saja!" kata Shin Liong .
"Tetapi tuan adalah majikan taman Lokapala sekarang ini,dan saya adalah penunggu serta penjaga taman ini, yang berarti tuan adalah pemilik saya, dan saya adalah hamba tuan!" kata Mei Yin.
"Tidak!, tidak!, meskipun aku sekarang majikan taman Lokapala ini, tetapi kau tetap majikan taman loka pala ini juga!" kata Shin Liong.
Mei Yin menundukkan wajah nya ketika mendengar ucapan dari Shin Liong itu, jantung nya berdetak kencang, serta wajah nya memerah karena malu.
"Tetapi tu,, tu!" ...
Kata kata dari mei Yin tidak selesai, karena tiba tiba Shin Liong mencium bibir nya yang merah ranum itu.
Spontan saja dada Mei Yin seperti guncangan gunung berapi yang sedang erupsi, mulut nya kaku, sedangkan tubuh nya tidak mampu dia gerakan lagi.
"Kalau kau memanggil ku tuan, aku akan melakukan hal itu lagi, ayo panggilah tuan lagi!" kata Shin Liong sambil tertawa-tawa.
Pipi Mei Yin yang putih susu itu kini seperti udang rebus karena malu dan grogi.
"Ba, baiklah tu, eh kakak!" ucap Mei Yin sambil menutupi mulut nya dengan telapak tangan nya.
Shin Liong sendiri tertawa senang karena berhasil menggoda gadis cantik jelita itu.
Dia memang semenjak lama mengagumi gadis penyendiri itu.
Selain rasa kagum, juga iba dan merasa senasib, sama sama tidak memiliki ayah lagi.
"Bagai mana Mei Yin?, bisa kah kau menolong ku?" tanya Shin Liong lagi.
"BI' bisa kakak, tetapi kakak mau jenis racun seperti apa?, lemah?, sedang, sangat kuat?" tanya Mei Yin.
"Aku cuma ingin membunuh mahluk Orgo itu hingga ke akar akar nya, tetapi tidak membahayakan manusia!" kata Shin Liong lagi.
"Kalau begitu pakai racun Dewa tidur ini saja kak, racun ini tidak ada pengobat atau penawar nya kak, juga tidak ada anti nya, tetapi racun ini baru bereaksi setelah empat purnama, tetapi semenjak pertama kali terkena racun ini, sudah menularkan kepada orang lain di sekitar nya, baik lewat sentuhan kulit, nafas, maupun bekas sentuhan!" kata Mei Yin
menyerahkan sebuah botol kecil kepada Shin Liong .
"Cara penggunaan nya seperti apa?" tanya Shin Liong.
"Cukup kaka gosokan pada tubuh yang ingin kakak racun, atau ketempat dimana dia sering bersentuhan, seperti gagang pintu dan lain nya, dan harus di ingat, setelah semua musnah, tunggu selama dua purnama dulu, baru bisa keluar, karena racun ini akan mati, bila selama satu purnama lebih, tidak bertemu dengan inang tempat dia hidup!" kata Mei Yin.
Mei Yin juga menyerahkan beberapa botol pil kecil kepada Shin Liong .
__ADS_1
"Ini apa lagi?" tanya nya.
"Sebelum kakak menebar racun itu, telan lah sebutir pil ini, nanti setelah selesai, telan satu butir lagi, tidak perlu mahluk itu kakak olesi semua, cukup satu dua saja sudah sangat cukup kak, yang penting di tengah kawanan nya"! kata Mei Yin.
Shin Liong menyimpan botol racun hidup dan anti nya itu di dalam cincin ruang khusus yang tidak bercampur dengan yang lain nya.
"Aku ingin melepaskan binatang Kahiyangan yang ku bawa dari alam Kahiyangan sana besok, apa kau mau ikut?" tanya Shin Liong .
Mei Yin tidak menjawab, cuma menganggukkan kepala nya saja.
Ke esokan hari nya, mereka pergi kehutan di timur danau, tempat Shin Liong melepaskan berbagai macam binatang, seperti rusa emas, kijang emas, Phoenix, Kirin dan lain nya yang masih banyak tersisa di penyimpanan nya, karena belum habis di lepaskan.
Juga memindahkan berbagai tumbuhan obat langka yang dia dapat selama di bumi Kahiyangan yang masih tersisa.
Menjelang sore barulah mereka selesai, dan kembali ke istana kecil itu.
"Aku akan keluar dari taman Lokapala ini, doa kan saja semua berhasil ya!" kata Shin Liong sambil menggenggam jemari tangan Mei Yin.
Entah kenapa, kini Mei Yin memiliki keberanian menatap wajah Shin Liong lama lama.
"Kalau kakak mati, maka taman Lokapala dan aku akan mati bersama kakak, tidak apa apa, kakak pasti selamat, Dewata tidak akan membiarkan kakak mati, selama apapun, aku tetap menantikan kakak kembali, ini dunia kita ber dua kak, milik kita berdua, dimana tidak ada siapapun di sini kecuali kita, kembalilah di saat kakak punya waktu!" kata Mei Yin sambil membenamkan wajah nya di dada pemuda yang selalu menghiasi mimpi mimpi malam nya itu.
Bila dulu dia tidak berani berharap, tetapi dengan tindakan yang di mulai oleh Shin Liong tadi, harapan itu tumbuh bertunas kembali.
Melihat kelakuan Mei Yin itu, Shin Liong meraih kepala gadis itu, lalu mengecup kening nya sesaat.
"Aku akan segera keluar dari Lokapala ini!" kata Shin Liong .
Di kediaman sang Kaisar di dalam lembah, pintu ruangan yang di tempati Shin Liong tadi, tiba tiba terbuka, dan Shin Liong terlihat melangkah keluar dari dalam kamar, menuju ruangan tengah, di mana para petinggi negeri sudah lama menunggu nya.
Melihat kedatangan Shin Liong , mereka semua nya menatap dengan harap harap cemas.
"Bagai mana nak, apakah kau berhasil mendapatkan racun hidup itu?" tanya Dewi Chang 'e.
Shin Liong segera mengeluarkan sebuah botol kecil.
"Bu, ini misi sangat sangat berbahaya, biar aku sendiri yang pergi, kalian tinggallah di sini!" kata Shin Liong .
"Tidak!, tidak!, aku tidak akan membiarkan ayah berjuang sendirian, cukup sudah waktu kecil ku tanpa ayah, apa artinya aku sebagai putra ayah, bila membiarkan ayah berjuang sendirian, menentang bahaya sendirian, aku tidak bisa membiarkan itu ayah!" teriak A Yong marah pada sang ayah.
"Mei pun tidak akan membiarkan kakak berjuang dan menentang bahaya sendirian, pokok nya Mei harus ikut!" teriak wanita cantik jelita itu dari belakang bersama dengan Dewi Nuwa.
"Kakak!, cukup satu kali kita berpisah, Dewi tidak ingin itu terjadi kembali, apapun yang terjadi, kita harus terus bersama sama bahkan hingga beberapa kehidupan lagi!" kata Dewi Nuwa sambil menatap kearah Shin Liong dengan tatapan sedih dan mata yang berkaca kaca.
Shin Liong menoleh kearah sang ibu nya, wanita jelita itu tersenyum, "ibu mengerti maksud mu nak, tidak ingin melibatkan keluarga mu kedalam bahaya, tetapi satu hal yang harus kau pegang kuat kuat nak, percaya kepada keluarga mu sendiri!" ...
"Baiklah Bu, pagi ini juga kita berangkat ke Utara, sekaligus mencari jejak ibu Li Lian dan tuan Ar Wan Wen!" kata Shin Liong mengambil keputusan.
Sebenar nya jendral Huang Fu Shen berniat menyertai mereka, tetapi Shin Liong menolak nya,
__ADS_1
Setelah mempersiapkan bekal, Shin Liong segera membuka portal menuju ketempat dekat goa persembunyian sang jendral tua kemarin.
Dari tempat itu, Shin Liong memutuskan untuk terus ke Utara, mencari pegunungan Lin Mao.
Dengan terbang dari dahan kedahan pohon lain nya, perjalanan yang seharusnya beberapa purnama itu, bisa di singkat menjadi cuma beberapa Minggu saja.
Pada Minggu ke dua, mereka tiba di sebuah kota yang besar dan megah.
Kota ini mengelilingi sebuah Danau yang sangat indah, dengan pohon pohon rindang berjejer di tepian nya.
Seperti hal nya kota yang lain, kota ini juga sunyi sepi tanpa ada seorang manusia pun juga, bahkan ada beberapa toko yang terlihat masih sepi.
Sebuah toko senjata yang sangat besar dan megah, bertingkat empat terlihat masih buka.
Ini menandakan saat peristiwa itu terjadi, toko ini masih buka dan belum sempat di tutup.
Shin Liong mengajak ibu, istri, serta putra nya untuk masuk melihat lihat isi toko senjata itu.
Di bagian bawah terdapat berbagai macam senjata biasa, buatan para ahli.
Di tingkat kedua ada senjata jenis pusaka Bumi dari berbagai jenis.
Di tingkat ketiga, adalah tempat senjata jenis mustika Bumi berbagai bentuk dan jenis.
Sedangkan di tingkat empat, adalah tempat senjata Langit berbagai tingkat, jenis, ukuran dan bentuk.
Berbagai senjata Langit dari berbagai jenis dan tingkatan berjejer rapi di dalam lemari berukir, dari senjata biasa, senjata pusaka, hingga senjata mustika, semua ada.
"Nenek!, lihatlah ini, jubah emas Dewa Naga, jubah ini sebuah benda mustika Dewa, bolehkah aku memiliki nya nek?" tanya A Yong kepada Dewi Chang 'e.
"Ambilah, dan pakai lah, bila jubah itu tiba tiba pas dengan tubuh mu, berarti benda itu telah memilih mu, tetapi bila kekecilan atau kebesaran, berarti benda itu tidak berjodoh dengan mu nak!" kata Dewi Chang 'e tersenyum melihat tingkah cucu nya itu.
A Yong segera mengambil jubah panjang berwarna kuning emas itu sambil membaca tulisan di bawah nya," jubah ini dibuat dari kulit Naga Emas, dan di jahit dengan benang dari urat naga emas itu sendiri!"...
Saat A Yong mengenakan jubah itu, jubah yang asal nya besar dan tinggi itu, tiba tiba pas dengan ukuran tubuh nya.
"Nek!, tubuh ku terasa sangat ringan, dan tenaga ku semakin bertambah!" ungkap A Yong sangat gembira.
"Itu berarti jubah ini benar benar memilih mu nak!" ucap Dewi Chang 'e dengan bangga, melihat sang cucu semakin gagah.
Sementara itu, Shin Liong merasa ada sebuah energi sangat besar yang menarik diri nya ke satu tempat.
"Bu!, ada sesuatu energi sangat besar menarik tubuh ku Bu!" kata Shin Liong memberitahukan ibu nya.
"Jangan kau lawan energi itu, turuti saja kearah mana dia menarik mu, ibu juga merasakan ada sebuah energi yang luar biasa besar sedang berusaha bangkit di ruangan ini!" kata Dewi Chang 'e.
Sementara itu, putri Xuan Yi melihat sebuah selendang hijau bersulam benang emas di dalam sebuah lemari.
Ketika di dekati, selendang itu langsung memancarkan cahaya ke emasan, dan melesat keluar dari tempat nya, langsung membelit pinggang sang putri.
__ADS_1
Ketika selendang itu sudah terpasang dengan sendiri nya di pinggang putri Xuan Yi, tiba tiba aura kecantikan nya melonjak Beratus kali lipat dari semula.
...****************...