Jiwa Naga Sejati

Jiwa Naga Sejati
Kota Raja di Dalam Lembah.


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya, pada satu siang, Shin Liong berhasil tiba di gerbang kota raja Xue yang sangat megah itu.


Yang unik dari penyerangan mahluk Orgo itu, mereka tidak memerlukan harta benda, tetapi manusia manusia nya saja yang mereka tangkap dan bawa pergi.


Di kiri dan kanan terlihat bangunan toko berjejer rapi dan megah.


Di tengah tengah kota, menghadap kearah alun alun kota raja, nampak berdiri megah istana kaisar yang di Pagari tembok sangat tinggi serta di luar tembok terdapat parit yang dalam dan besar mengelilingi nya.


Nampak gerbang kota raja tertutup sangat rapat sekali.


Rupanya sebelum mengungsi, seluruh kerabat istana sempat mengunci gerbang istana.


Buaya buaya ganas yang biasanya berenang memenuhi parit benteng istana, kini tidak terlihat satu ekor pun juga, mungkin sudah habis di makan oleh mahluk Orgo itu.


Dengan sekali genjot, tubuh Shin Liong melesat kearah dalam benteng istana itu.


Istana itu benar benar sudah tidak berpenghuni lagi, debu dan daun daun nampak di sana sini.


Bahkan taman belakang istana, kini nampak rumput nya sudah tinggi tinggi tidak ter urus.


Setelah puas berkeliling melihat lihat dalam istana Kaisar itu, Shin Liong segera pergi ke luar dari istana sang kaisar itu.


Kota raja ini besar nya mungkin dua kali lipat dari kota besar yang sebelum nya Shin Liong temui dahulu.


Disebuah jalan lain nya lagi, Shin Liong melihat sebuah rumah sangat besar, hampir mirip dengan istana Kaisar.


Di atas gerbang rumah itu tertulis hartawan Juang.


Tanpa merusak pagar ataupun merobohkan pintu gerbang itu, dengan sekali genjot saja, Shin Liong sudah berhasil melompati tembok rumah itu, meskipun sangat lumayan tinggi.


Sama seperti istana Kaisar, rumah hartawan Juang ini juga tidak terurus lagi, dan rumput rumput memenuhi sekeliling rumah itu.


Cuma beda nya dari istana, semua harta berharga tidak lagi tertinggal meski sebuah piring keramik sekali pun.


Setelah berkeliling di seluruh rumah kediaman keluarga hartawan Juang itu, kini Shin Liong menyusuri ruang bawah tanah milik hartawan Juang itu.


Di ruang bawah tanah itu pun nampak tidak ada satu pun harta benda yang di tinggalkan oleh hartawan Juang.


Ketika Shin Liong bermaksud berpaling kembali ke ruangan atas, tiba tiba mata nya tertuju kepada sebuah benda berbentuk sebuah cincin usang yang sudah sangat kusam, sehingga warna asli dari batu permata nya pun tidak lagi di ketahui.


Cincin itu tergeletak begitu saja di sudut ruangan bawah tanah itu, seolah olah sebuah benda yang tidak berharga apa apa.


Shin Liong mengambil cincin kotor berdebu itu, dan menggosok gosokan mata cincin itu ke baju nya.


Cincin itu tiba tiba bercahaya kuning ke biru biruan yang sangat indah, berbingkai emas dan bermata batu permata berwarna biru langit.


Setelah meneliti cincin itu dengan seksama, ternyata cincin itu adalah cincin dimensi, yang merupakan portal menuju ke sebuah dunia di dimensi lain nya.


Namun nampak nya cincin itu di segel dengan segel Dewa yang tidak sembarang orang bisa membuka nya.


Karena belum berniat meneliti dunia dibalik cincin dimensi itu, Shin Liong segera memasukan cincin itu ke jari manis nya.

__ADS_1


Secara ajaib, cincin yang semula besar itu, mendadak menjadi pas di jari manis Shin Liong .


Karena tidak ada lagi yang perlu di lihat, Shin Liong berniat memindahkan kota raja itu ke dalam lembah, agar sang Kaisar bisa berdiam di istana nya sendiri nanti nya.


Maka dari atas ketinggian, Shin Liong mengibaskan tangan nya kearah kota raja, dan dalam sekejap, kota raja itupun lenyap meninggalkan sebuah Padang tandus yang gersang saja.


Kini Shin Liong berniat untuk kembali ke kota di ceruk batu di tengah tengah lautan gurun pasir hisap.


Tetapi sebelum dia kembali ke kota di ceruk batu itu, Shin Liong melihat dari ketinggian sebuah hamparan bekas persawahan yang sangat luas sekali, mungkin seluas empat kali kota Raja itu sendiri.


Shin Liong segera terbang kearah tempat itu, dan memasukan nya kedalam cincin dimensi nya.


Setelah menyelesaikan semua nya, barulah Shin Liong membuka portal menuju ke kota di dalam ceruk batu di tengah lautan pasir hisap.


Ternyata di kota di dalam ceruk pasir api itu telah kelebihan kapasitas nya, sehingga sebagian masyarakat terpaksa berdesakan di satu rumah.


Di sebuah rumah yang sudah disediakan untuk mereka, Shin Liong singgah di situ.


Rumah yang cukup mewah dan megah itu terlihat sangat nyaman.


Seorang anak muda membuka kan pintu untuk Shin Liong .


"Ayah!,,, Bu!, ibu!, ayah datang !" teriakan A Yong membuat se isi rumah geger.


Dewi Nuwa dan putri Xuan Yi berlari kecil ke arah luar menyambut kedatangan Shin Liong.


"Kakak, syukurlah kakak selamat, ayo masuk!" ajak Putri Xuan Yi dengan wajah gembira.


"Kau datang nak?, syukurlah, bagai mana dengan tugas mu nak?" tanya Dewi Chang 'e sambil tersenyum ramah, memeluk putra nya.


"Ayah, orang orang yang baru datang itu sangat banyak, sehingga dua kota ini tidak lagi mampu menampung mereka, mungkin sebuah kota besar lagi, baru cukup untuk mereka yah!" lapor A Yong kepada sang ayah.


"Besok ayah akan menghadap kepada Kaisar untuk membicarakan dan merundingkan jalan ke luar nya, apakah kalian akan ikut?" tanya Shin Liong.


"Tentu saja kami ikut kak!" jawab Dewi Nuwa dan putri Xuan Yi bersamaan.


"Saya ikut kan yah?" tanya A Yong memohon kepada ayah nya.


"Iya, besok pagi kita semua akan menghadap Kaisar di kota sebelah!" jawab Shin Liong sambil bangkit menuju ke belakang untuk mandi.


Malam itu mereka makan bersama, Ar Wan Wen dan Li Lian juga serumah dengan mereka, maklum rumah yang di sediakan oleh tuan ketua kota cukup besar untuk mereka.


Selesai makan, mereka bercengkrama di ruang tengah, sambil mendengarkan cerita dari Ar Wan Wen dan Li Lian tentang pengalaman mereka selama berpetualang di dunia kacau balau itu, hingga akhirnya jatuh didalam cengkraman kekuasaan para iblis ganas itu.


Ke esokan pagi nya, setelah sarapan, Shin Liong dan seluruh keluarga nya, mengadakan perjalanan ke kota di lembah tempat sang Kaisar berada.


Lewat lobang portal di tebing batu, mereka tiba di sebelah timur lembah.


Memang lembah ini jauh lebih besar dari pada di ceruk pasir api, dan untuk meletakan sebuah kota besar dan hamparan persawahan, sudah sangat cukup.


Sambil terbang di udara, Shin Liong mengibaskan tangan nya,dan sebuah kota raja terhampar sempurna dibawah mereka.

__ADS_1


Ar Wan Wen dan Li Lian serta yang lain nya, yang tidak ikut terbang menjadi terkesima, karena tiba tiba tubuh mereka berada di tengah tengah sebuah kota sangat besar.


Shin Liong yang masih terbang tidak berhenti begitu saja, tangan nya masih di kibaskan kearah barat kota raja itu, dan sebuah hamparan persawahan yang sangat luas, beserta beberapa perkampungan kosong terhampar dari kota raja hingga kota lama di sebelah barat lembah, bersambung dengan persawahan dan perkebunan lama milik penduduk.


Di tengah tengah persawahan itu, terbentang jalan raya yang sangat besar menghubungkan kedua kota itu.


Para penduduk dan prajurit yang kebetulan melihat hal itu menjadi terkejut serta takjub luar biasa.


Mereka sudah mengira, ini tentu pekerjaan sang tuan muda penolong mereka.


Maka beberapa prajurit penjaga gerbang segera melaporkan kepada atasan nya, dan sang atasan melaporkan lagi kepada punggawa pasukan, serta punggawa pasukan melaporkan kepada sang jendral.


Dengan menggunakan ilmu lari cepat nya, sang jendral tua segera memeriksa semua yang di laporkan oleh prajurit nya.


Dari luar gerbang kota, dia melihat hamparan persawahan yang sangat luas, serta di kejauhan terlihat sebuah kota yang sangat besar berdiri megah.


Jendral tua Pau Lok Kuan terpana sesaat melihat kota di kejauhan itu.


"Punggawa, coba lihat, bukan kah itu kota raja Xue, atau mata ku yang sudah rabun?" tanya sang jendral senior itu.


"penglihatan tuan jendral tidak salah tuan, itu memang kota raja, saya sudah menyuruh para anak buah saya memeriksa nya, dan memang disana ada alun alun kota Raja yang sangat besar serta istana Kaisar, saya sudah menyuruh beberapa pasukan untuk membersihkan istana Kaisar bersama para pesuruh istana, jendral!" kata punggawa itu.


Selagi asik mereka berbincang bincang, dari kejauhan datang Shin Liong bersama enam orang kerabat nya dari kota sebelah.


"Salam hormat tuan jendral, selamat berjumpa lagi, bisakah saya menemui sang Kaisar, tuan?" tanya Shin Liong .


Dengan gembira, jendral senior itu segera memeluk Shin Liong dengan erat nya.


"Aku sudah menduga nya, tentu ini perbuatan tuan muda, tidak ada yang mampu memindahkan kota sebesar kota Raja, apa lagi bersama persawahan yang begitu luas nya itu, selain tuan muda, ayo, ayo, kita ke tempat kaisar, kebetulan juga saya ingin melaporkan kejadian barusan kepada sang Kaisar!" kata jendral senior itu sambil menggandeng pundak Shin Liong , mengajak nya pergi bersama.


Rupanya kabar kejadian pagi ini sudah di dengar oleh sang kaisar dari sang pangeran Chong Fu Quon.


Maka ketika melihat jendral senior itu tiba bersama Shin Liong dan beberapa orang kerabat nya, sang kaisar dengan tertawa bahagia, segera menyambut nya.


Tanpa sungkan sungkan lagi, sang Kaisar segera memeluk Shin Liong dengan erat nya.


"Terimakasih tuan muda, terimakasih, tuan sangat banyak membantu kami, jika tidak ada tuan, kami mungkin tinggal cerita dan sejarah saja di dunia yang rusak ini!" kata sang Kaisar dengan tulus.


"Yang mulia, kira nya yang mulia jangan memanggil saya dengan panggilan tuan, sebut saja nama saya tuan, kuping saya kurang enak mendengar panggilan itu!" kata Shin Liong sambil membalas pelukan dari Kaisar Chong Kong Yu itu.


"Baiklah!, baiklah!, anak ku, karena kau sebaya dengan putra ku, bagai mana jika kau ku angkat sebagai putra ku, apakah kau tidak keberatan Shin Liong ?" tanya Kaisar ragu ragu.


Sebenar nya Shin Liong bingung menjawab tawaran dari sang Kaisar Chong Kong Yu itu, tetapi ibu nya tiba tiba mencelutuk, "tentu saja dia tidak keberatan yang mulia, dan terimakasih banyak atas kemurahan hati yang mulia!" ...


Shin Liong pun terpaksa meng iya kan apa yang ibu nya katakan itu.


"Yang mulia, maafkan saya yang lancang memindahkan kota Raja ke dalam perlindungan lembah ini yang mulia!" kata Shin Liong sambil bersimpuh dihadapan sang Kaisar.


"Tidak ada yang perlu di maafkan nak, aku justru merasa berhutang jasa yang sangat besar pada mu, sebenar nya aku sering ber angan angan seandainya kota raja berada di dalam lembah ini, eh ternyata Dewa malah mengabulkan angan angan ku lewat diri mu nak, terimakasih banyak nak!" kata sang kaisar sambil kembali memeluk Shin Liong dengan erat nya.


Kaisar pun akhirnya mengajak mereka semua nya untuk memasuki kediaman nya itu.

__ADS_1


...****************...


He he he, jangan tanya ini novel apa?, author juga bingung ngejawab nya, yang pasti cerita petualangan dengan latar belakang silat dan kultivasi serta di selingi kisah kisah cinta.


__ADS_2