
Tuan besar Ma Ho Tiang memandang sepuluh orang pengawal nya yang sudah tergeletak di tanah dengan kondisi separuh leher nya terluka menganga, tanpa di ketahui siapa yang sudah berbuat seperti itu.
Hati nya mulai ragu ragu,antara maju melawan atau mundur perlahan.
Akal Budi nya menyuruh nya cepat cepat mundur dan lari sejauh jauh nya, tetapi nafsu nya memerintahkan diri nya untuk bertahan, apa lagi setelah melihat wajah Dewi Teratai putih yang memang luar biasa cantik jelita itu, akal Budi nya langsung tersungkur kalah dari nafsu nya.
Sekali lagi di tatap nya Shin Liong dengan seksama, memang sangat nyata sekali jika tingkat kultivasi kedua anak muda itu masih berada di tingkatan alam Taruna menengah, dan tidak mungkin dia yang sudah berada di tingkatan alam Raja akhir itu bisa kalah dari anak muda itu, meskipun mereka main keroyokan, karena perbedaan tingkat yang sangat besar, bagai bumi dengan langit.
"Anak muda!, aku tahu pasti ada seseorang yang membantu kalian berdua, tetapi aku mau menantang diri mu duel sampai mati, kalau aku menang,suka atau tidak suka, wanita itu harus menjadi istri ku, dan kalau aku kalah, aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi" kata tuan besar Ma Ho Tiang.
"Kalau kau yang kalah apakah aku harus membunuh mu, atau membiarkan kamu pergi begitu saja?" tanya Shin Liong.
Tuan besar Ma Ho Tiang memandang kearah Shin Liong sambil kembali mengukur tingkat kultivasi anak muda itu.
"Ha ha ha ha", Ma Ho Tiang akhirnya tertawa melihat ke arah Shin Liong, "asal kau bersikap jujur, semua perkataan mu itu tidak akan terjadi anak muda, kau sungguh lucu, kau masih tidak bisa melihat perbedaan tingkat yang terlampau besar Diantara kita berdua, tetapi biarlah, bila aku kalah, kau boleh mencincang tubuh ku, lalu memberikan nya ke pada serigala di hutan sana, bagai mana?" ...
"Baiklah tuan besar Ma, kau yang meminta nya, jadi bukan salah ku lagi bila melakukan seperti yang kau katakan itu, nah aku sudah siap, kau boleh menyerang ku lebih dahulu" kata Shin Liong sambil berdiri dan melangkah kearah halaman rumah itu.
"Kau terlalu menghina ku anak muda, kau meremehkan aku" kata tuan besar Ma Ho Tiang sangat geram sekali, tetapi dia berusaha untuk tidak terpancing hasutan anak muda itu.
Tuan besar Ma Ho Tiang segera menyerang Shin Liong dengan serangan maksimal nya, dia ingin segera menyelesaikan Shin Liong sekali hantaman saja, karena Dimata nya,Shin Liong cuma seorang pemuda yang bodoh tidak mengerti besar nya kesenjangan tingkat kultivasi antara mereka.
Tuan besar Ma Ho Tiang menyerang Shin Liong dengan serangan tangan kosong bertenaga maksimal nya, dengan kecepatan luar bisa cepat serta sangat berbahaya sekali.
Tetapi di mata Shin Liong , serangan dari tuam besar Ma Ho Tiang yang sangat cepat itu, justru terlihat sangat lambat dan penuh celah serta ke kurangan.
Shin Liong sengaja tidak menghindar dari serangan tuan Ma Ho Tiang terlebih dahulu, melain kan dia lebih memilih memapaki serangan tangan kosong itu dengan serangan tangan kosong pula.
" Bum!" .
Suara dentuman nyaring terdengar menggema di belakang desa itu.
Tuan besar Ma Ho Tiang melongo menatap kearah tangan kanan nya yang kini telah remuk sampai ke siku itu dengan pandangan tidak percaya.
"Percaya diri itu bagus tuan, tetapi terlalu percaya diri hingga meremehkan orang lain itu yang tidak boleh, karena diatas langit masih ada langit lagi, bintang yang tampak kecil di mata kita,justru jauh lebih besar dari dunia kita ini!" kata Shin Liong.
"Maapkan aku pendekar, biarkan aku pergi kali ini" kata tuan besar Ma Ho Tiang minta di kasihani.
"Pergi lah!" ucap Shin Liong.
Tuan besar Ma Ho Tiang bermaksud untuk pergi dari tempat itu, segera melangkah terseok seok membawa tangan kanan nya yang sudah hancur itu, ke arah kereta kuda nya.
__ADS_1
Tetapi malang, Dewi Teratai putih tanpa di duga duga sudah berdiri di hadapan tuan Ma Ho Tiang dengan pedang kecil berwarna biru yang terhunus.
"Suami ku memang melepaskan tuan, tetapi tidak dengan Dewi Nuwa, Dewi Nuwa tidak pernah melanggar janji dan kata kata nya, tadi kau sendiri yang meminta untuk mencincang tubuh mu, maka akan ku kabulkan semua permintaan mu itu, agar di kemudian hari, tidak ada lagi orang miskin yang terjebak tipu daya dari kelicikan mu itu" kata Dewi Teratai putih sambil bergerak cepat.
Meskipun tuan Ma Ho Tiang berusaha bergerak cepat juga,tetapi dia masih jauh kalah cepat dari gerakan Dewi Teratai putih.
"Sreet!".
"Sreet!".
Dua kali sabetan pedang di tangan kanan Dewi Teratai putih, membuat pinggang dan kepala dari tuan Ma Ho Tiang terpisah pisah dari tubuh nya.
Dengan sangat ringan nya,Dewi Teratai putih memasukan jasad tuan Ma Ho Tiang dan semua pengawal nya kedalam gerobak serta menyuruh sang kusir untuk pergi membawa nya kembali ke tempat nya.
Kusir kereta dengan tubuh gemetaran, segera memacu kereta kuda nya, keluar dari desa Muk kua itu, tanpa menoleh kebelakang lagi.
Berselang beberapa waktu, se orang pemuda tampan berlari dari arah desa menuju ke tempat itu sambil menenteng sebilah golok.
"Adik Su!, adik Su!, maapkan aku baru saja mengetahui kalau bandot tua itu datang lagi!" teriak pemuda tampan itu.
Melihat siapa yang datang, gadis cantik bernama Ming Su itu berlari menyambut sang pemuda dengan wajah bahagia.
Pemuda ini bernama Cui Fan Gao, putra dari kepala desa Muk kua yang bernama Cui San Jian.
Sudah beberapa tahun mereka menjadi sepasang kekasih, dan sang kepala desa pun menyetujui hubungan mereka berdua, maklum gadis Ming Su adalah bunga desa yang paling terkenal sepanjang jalan antara kota Fansau dan kota Yufing.
Hampir tidak ada orang yang tidak kenal dengan gadis Ming Su ini, selain cantik, juga peramah.
Bahkan banyak para pemuda yang kebetulan lewat, menyempatkan diri untuk singgah sebentar di desa Muk kua, sekedar untuk melihat wajah Ming Su sang kembang Lawang desa Muk kua.
Ketika tuan besar Ma Ho Tiang yang terkenal mata keranjang serta senang mengoleksi para wanita muda nan cantik itu melihat nya, timbul lah niat di hati nya untuk memiliki sang kembang Lawang itu.
Maka mulailah dia mendekati orang tua Ming Su dengan memberikan berbagai hadiah.
Namun karena Ming Su memiliki kekasih hati nya sendiri, maka di tolak nya lah lamaran dari tuan besar Ma Ho Tiang.
Ma Ho Tiang yang mengetahui bahwa Ming Su berhubungan dengan putra kepala desa itu, segera menyogok sang kepala desa dengan berbagai persembahan dan pemberian nya, hingga sang kepala desa merestui tuan Ma Ho Tiang untuk meminang dara Ming Su sang kembang Lawang desa Muk kua.
Tuan besar Ma Ho Tiang yang sangat licik itu juga menekan orang tua Ming Ming Su dengan jumlah utang mereka selama ini.
Tentu saja Kao Dong An jengkel bukan mai dengan siasat licik dari tuan besar Ma Ho Tiang ini, tetapi apa mau dikata, tidak ada satupun warga desa yang berani melawan kesepuluh pengawal pribadi tuan besar Ma ini.
__ADS_1
Dewi Teratai putih menyerahkan satu kantong yang berisi lima ribu keping emas kepada bapak Dong An.
"Terimalah itu pak, gunakan untuk modal bertani sayur apapun, kelola dengan baik, semoga bapak bisa sukses" kata Dewi Teratai putih .
Melihat sejumlah keping emas yang tidak sedikit itu, Dong An dan istri nya gemetar, dan menangis terharu.
"Terimakasih nak!, terimakasih banyak, semoga Tian melindungi kalian berdua" kata Dong An dan istri nya menangis terharu.
"Kalian berdua cepatlah menikah kakak, nanti di rebut orang, baru kalian menyesal" kata Shin Liong kepada Ming Su dan Fan Gao.
"Terimakasih tuan muda, terimakasih atas bantuan tuan muda, kalau tidak ada tuan muda, entah bagai mana nasip kami berdua!" kata pemuda Fan Gao sambil menjura beberapa kali, di ikuti oleh nona Ming Su.
"Bapak Dong An dan ibu An Si, kami mohon diri ya, terimakasih atas jamuan kalian tadi, semoga bapak dan ibu sehat selalu" kata Dewi Teratai putih sambil melangkah mendekat ke arah kuda mereka yang di ikat di bawah pohon Liu Ngan yang rindang.
Di desa itu, meskipun agak besar, namun tidak ada satupun rumah makan, hanya beberapa buah warung nasi saja.
Ketika Shin Liong dan Dewi Teratai putih masuk kedalam sebuah warung nasi,hampir semua mata menatap tak berkedip.
Dewi Teratai putih memesan nasi dua porsi beserta dua gelas teh manis.
"Sayang, hari baru saja lewat tengah hari, belum lah sore, apakah kita bermalam di desa ini atau kita meneruskan perjalanan kita?" tanya Dewi Teratai putih kepada Shin Liong di sela sela makan nya.
Sebaiknya kita meneruskan perjalanan kita, Dewi, lagipula di desa ini tidak ada penginapan nya juga" sahut Shin Liong.
Tiba tiba Dewi Teratai putih terperanjat melihat telapak tangan Shin Liong, di situ telah ada dua titik kuning emas terang.
"Sayang,lihatlah,tanda mu itu sudah bertambah satu lagi!" kata Dewi Teratai putih sambil memegang tangan kanan Shin Liong.
"Mungkin pertolongan kita kepada bapak di belakang desa tadi yang membuat tanda ini bertambah !" kata Shin Liong sambil memperhatikan telapak tangan kanan nya.
"Oh iya Dewi, kenapa kau membunuhi orang orang nya tuan besar di belakang desa tadi, bahkan tuan besar nya sendiri kau bantai dengan sadis?" tanya Shin Liong lagi kepada Dewi Teratai putih .
Dewi Teratai putih menatap wajah Shin Liong , "kau tidak senang sayang?" ...
"Tidak!, tidak!, tidak!, Dewi jangan berprasangka seperti itu, bukan nya aku tidak senang, tetapi aku cuma ingin tahu alasan mu saja Dewi!" kata Shin Liong buru buru.
"Sayang!, mungkin kau anggap Dewi berlebihan, tetapi Dewi punya alasan nya sayang, pertama, seorang penjahat yang hidup dari hasil kejahatan nya, jarang bisa benar benar insyaf, kedua, mereka tobat di depan kita saja, bila kita sudah pergi, masyarakat lemah itu akan kembali mereka peras dan mereka ancam serta mereka tipu dengan kelicikan mereka, dan yang ke tiga, bagai mana nasip bapak itu bila kelak tuan besar itu kembali ke tempat itu lagi,tetapi kita sudah tidak ada disitu?, serta yang ke empat, aku benci dengan orang yang menghendaki yang bukan hak nya, itu saja" kata Dewi Teratai putih ringan.
Shin Liong tersenyum menatap kearah Dewi Teratai putih, dia tahu watak wanita cantik yang kini telah menjadi istri nya itu, sekali dia berkata seperti itu, siapapun tidak bisa merubah nya.
...****************...
__ADS_1