
Remaja itu duduk di atas rerumputan, sambil menatap kesekeliling nya, dengan tatapan aneh.
Tidak jauh dari diri nya terlihat beberapa puluh prajurit dengan senjata panah dan tombak telah bersiaga dari berbagai sudut.
Sementara di kejauhan, para penduduk berjubel menyaksikan peristiwa aneh pagi itu.
Seorang laki laki paro baya maju kearah remaja itu duduk.
Di belakang nya, nampak dua orang remaja dan seorang komandan pasukan kota sedang berdiri.
"Anak muda siapakah diri mu?" tanya laki laki paro baya itu dengan suara lembut namun terdengar berpengaruh kuat.
"Maap tuan, nama saya Shin Liong, saya dari Fangkea!" jawab remaja tampan berkulit putih susu itu dengan perlahan.
"Shin Liong?, Fangkea?, komandan Guo, di mana kota atau daerah atau apa saja yang bernama Fangkea yang kau tahu?" tanya laki laki paro baya itu kepada bawahan nya.
"Ampun ketua kota, saya tidak pernah mendengar di Dunia Fangayun ini ada tempat atau daerah ataupun kota bernama seperti itu tuan, mungkin benar dia berasal dari alam atas sana yang di turunkan oleh Dewata" kata komandan Guo.
"Lalu apa tujuan mu datang ke dunia kami ini Shin Liong ?" tanya laki laki itu lagi.
"Maap tuan, saya juga tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan saya, seingat saya, saya sedang berlayar di tengah laut, tiba tiba dari langit muncul lubang hitam dengan lidah cahaya putih menyedot tubuh saya begitu saja, ada perasaan aneh menggelayari di sekujur tubuh saya tuan, hingga saya tertidur, dan setelah saya terjaga, saya sudah berada di sini, dan kalau boleh saya tahu, saya sedang berada di mana ini tuan?" tanya Shin Liong apa ada nya
Laki laki paro baya itu menatap ke arah Shin Liong beberapa saat, seakan mencari kebohongan dari wajah remaja itu.
Namun setelah beberapa saat lama nya, dia tidak menemukan satupun kebohongan dari wajah Shin Liong.
Akhirnya laki laki paro baya itu menarik nafas dalam-dalam, " baiklah anak muda, aku tuan ketua kota Si Ma ini, dan nama ku Cai Bo Kung, ini putri ku, nama nya Na Li sedangkan itu putra ku,. nama nya Bo An, aku mempercayai mu, kalau kau tidak keberatan maukah kau ikut kami ke kediaman ku?" tanya tuan ketua kota dengan ramah nya.
"Saya takut merepotkan tuan nantinya, lagipula siapa saya ini tuan?, tidak pantas rasanya mendapatkan kehormatan seperti ini!" sahut Shin Liong sambil membungkukan badan nya.
"Tidak !, tidak!, nak, aku tidak suka penolakan, aku akan mengundang mu ke kediaman ku hari ini, ayo!" ajak tuan ketua Kota setengah memaksa kepada Shin Liong.
Tuan ketua kota yang mulai tertarik dengan kepribadian dari Shin Liong itu membimbing tangan nya untuk berdiri dan pergi ke tempat kediaman nya.
"Sungguh hebat tuan kota, bisa dapat menaklukan remaja itu begitu saja tanpa pertarungan yang tidak perlu!" kata salah satu penduduk kota memuji tuan kota nya.
"Ya!, ya, ternyata orang itu seorang remaja yang sangat tampan, wah mungkin tuan kota bermaksud menjodohkan dengan nona Na Li ya" kata penduduk yang lain nya lagi.
"Bisa jadi itu, segala kemungkinan bisa saja terjadi!" sahut penduduk yang lain nya.
Tiba tiba seorang pemuda berteriak nyaring karena amarah nya yang tiba tiba saja meledak mendengarkan obrolan para penduduk itu.
__ADS_1
"Tidak!, tidak!, itu tak mungkin terjadi, itu mustahil terjadi!" teriak nya nyaring.
"Gak Tong Kwan, apa hak mu dengan tuan kota, dia memilih atau tidak memilih, bukanlah urusan mu, dan kau juga bisa apa?"tanya salah seorang penduduk.
"Tidak!, tuan kota tidak boleh memilih orang asing sebagai calon suami nona Na Li, itu tidak boleh terjadi!" suara Gak Tong Kwan kembali meninggi.
Komandan Guo mendekati mereka, "hei hentikan pertikaian tidak ada faedah nya ini, biarkan tuan kota yang menentukan kehidupan putra putri nya, bukan urusan kalian, lagi pula bila tuan ketua kota baik sama orang lain, lantas ada mau nya?, begitu?, kalian seperti tidak mengenal pemimpin kalian sendiri saja, ayo bubar!, bubar!" ...
Para penduduk yang tadi sedang bersitegang pun kini membubarkan diri mereka masing masing.
Bahkan meskipun rasa penasaran mereka sangat besar, untuk melihat, atau menguping pembicaraan di rumah kediaman tuan ketua kota, mareka tidak punya keberanian sedikit pun.
Di rumah kediaman ketua kota, Shin Liong mendapat undangan makan di tempat itu.
Di mata Bo An dan Na Li, kepandaian Shin Liong tidaklah seberapa, cuma berada di tingkat alam taruna menengah,tetapi mengapa ayah mereka begitu menghormati Shin Liong seolah Shin Liong adalah seorang Dewa saja layak nya.
Sementara itu, lain halnya dengan tuan kota Cai Bo Kung, dia ingat tentang mimpi nya beberapa waktu yang lalu, tiga malam berturut turut, tentang cahaya terang yang turun dari langit, dan cahaya nya menghancurkan pasukan Dao yang berniat menyerbu kota Si Ma.
Tuan kota yakin, bahwa mimpi itu merupakan satu petunjuk bagi nya, bahwa mungkin saja Dewa mengutus seseorang untuk membantu mereka melawan pasukan Dao yang terkenal sangat kuat dari Utara itu.
"Ayah, apakah tidak berlebihan dengan sambutan ayah ini?, dia cuma orang yang tersesat ke kota kita, lagipula tingkatan nya juga masih sangat rendah,bertarung dengan ku, sekali libas dia bisa tewas ayah, tetapi ayah terlihat seperti mengistimewakan dia!" kata nona muda Na Li protes.
Tuan ketua kota tersenyum melihat putri nya yang memprotes sikap nya kepada Shin Liong tadi, "apakah kau pikir kau mampu mengalahkan remaja ini Na Li?," tanya tuan ketua Kota lagi.
"Tentu saja ayah, beri aku tiga jurus, dan ayah akan melihat dia nyungsep di kaki ku, bila dalam tiga jurus aku tidak bisa mengalahkan dia, jadi budak nya pun aku bersedia!" kata nona muda Na Li semakin geram.
"Na Li, jangan mudah mengeluarkan kata kata jumawa seperti itu, ingatlah, kesombongan akan menghancurkan diri mu sendiri, ingatlah Tian mendengarkan semua ucapan mu itu!" bentak tuan ketua kota marah mendengar kata kata putri nya itu.
Tuan ketua kota masih berkeyakinan bahwa, Tian tidak mungkin mengutus manusia sembarangan cuma untuk mengantar nyawa nya saja, sangat banyak para pendekar yang terlihat lemah, tetapi sebaliknya menyimpan kekuatan besar.
"Ayah!, ayah selalu tidak mempercayai putri nya sendiri, berilah aku waktu tiga jurus, dan aku akan mengalahkan nya, ini agar ayah tidak tertipu ucapan dan tampang nya saja!" ucap nona muda Na Li semakin menjadi geram, ingin sekali rasanya dia ******* ***** mulut manis Shin Liong yang telah memperdaya ayah nya dengan kata kata sopan dan manis nya.
"Bila dalam tiga jurus kau tidak mampu mengalahkan nya bagai mana, atau dalam tiga jurus justru kau yang di kalahkan bagai mana?" tanya tuan ketua kota kepada putri nya.
Mendengar itu, bukan main geram nya nona muda Na Li, ingin rasa nya dia membeset beset tubuh remaja sialan itu, agar ayahnya percaya pada ucapan nya.
"Baiklah ayah, dengarlah, bila dalam tiga jurus aku tidak mampu menumbangkan nya, maka aku akan mengaku kalah dan akan memberikan dia tiga ratus ribu keping emas, dan bila ternyata aku yang kalah, maka aku akan bersedia menjadi budak nya, tetapi bila ternyata aku yang menang, maka dia yang harus bersedia menjadi budak di rumah ini, bagai mana ayah, adil kan?" tanya nona muda Na Li.
Tuan ketua kota masih tersenyum ramah menatap kearah Shin Liong duduk, "bagai mana nak Shin Liong, bersediakah kau melayani tantangan putri ku, tetapi dengan satu syarat, kau harus bertarung sungguh sungguh, jangan memandang kedudukan ku, dan tidak boleh sengaja mengalah, bagai mana, kayu bersedia?" tanya tuan ketua Kota.
Sebenar nya, dengan adanya pertarungan itu, ada sesuatu yang ingin dia ketahui juga, tidak mengapa mengorbankan putri nya demi keselamatan masyarakat satu kota itu.
__ADS_1
"Bila itu perintah dari tuan ketua kota, saya bersedia, dan akan berusaha tidak membuat tuan kecewa!" sahut Shin Liong pasti.
"Baiklah, marilah kita ke halaman belakang!" kata tuan ketua Kota sambil berjalan menuju ke arah halaman belakang kediaman tuan ketua kota itu.
Sebenar nya tuan ketua Kota ingin tahu sampai dimana kesaktian remaja yang terlihat biasa saja itu, lantas tantangan dari putri nya adalah sebuah kesempatan yang sulit didapat kan, meskipun akibatnya bila putrinya kalah, taruhan nya sangatlah besar, kebebasan hidup sang putri.
Sementara itu, Cai Bo An masih meyakini adiknya yang akan menang, tidak mungkin tingkat alam Taruna menengah, bisa mengalahkan orang yang berada di tingkat Brahmana menengah, jaraknya terlampau jauh bagai langit dan bumi.
Setiba nya di halaman belakang kediaman tuan ketua Kota, Shin Liong di buat kagum dengan luas nya halaman belakang kediaman tuan ketua Kota.
Di halaman belakang itu, Shin Liong dan nona muda Na Li saling berhadap hadapan.
"Sekarang mulailah!" seru tuan ketua kota lantang.
"Kau boleh memulai nya tuan hebat!" kata nona muda Na Li mengejek Shin Liong dengan kata kata sindiran.
Shin Liong tidak tersinggung dengan kata kata itu, dia cuma tersenyum ramah saja.
"Baiklah!".
"Selesai!".
Kata kata dari Shin Liong seolah olah ucapan omong kosong yang tidak karuan saja, karena begitu berkata baiklah, sekejap itu pula berkata selesai.
"Hei kapan kau menyerang ku, jangan bermain main heh!" bentak nona muda Na Li marah.
Shin Liong masih tersenyum ramah sambil memperlihatkan bunga Mei Guo (mawar) emas di tangan kanan nya, yang biasa terselip di rambut nona muda Na Li.
"Saya sudah melakukannya nona, tetapi nona tidak menghindar sedikit pun juga, ini bukti nya!" kata Shin Liong sambil mengacungkan bunga Mei Guo emas ditangan kanan nya.
Semua yang hadir saat itu terpaku melihat bunga Mei Gui emas hiasan rambut nona muda Na Li yang tidak pernah terlepas dari rambut nya itu.
Bunga Mei Gui emas itu hadiah dari sang ibunda nya beberapa tahun silam, dan semenjak itu tidak lagi pernah lepas dari rambut nona muda Na Li.
Tidak ada yang melihat, kapan dan bagai mana Shin Liong bergerak mengambil bunga itu, tahu tahu bunga Mei Gui emas itu sudah berada di tangan nya.
Tetapi bagi nona muda Na Li, meskipun dia terkejut setengah mati, dia masih tidak kehabisan akal untuk meloloskan diri dari kekalahan nya.
"Kau pikir aku dapat kau tipu dengan ilmu sihir murahan mu itu?, semua orang melihat kau tidak bergerak kemanapun juga, dan tahu tahu bunga Mei Gui emas milik ku berada di tangan mu, itu nama nya curang tuan hebat"kata nona muda Na Li mengatur siasat.
"Baiklah, sekarang kehendak nona muda sendiri bagai mana?" tanya Shin Liong.
__ADS_1
"Yang kau lakukan tadi bukan lah serangan, tetapi candaan, sekarang giliran ku, kau tahan lah serangan ku ini!" kata nona muda Na Li langsung menyerang ke arah Shin Liong.
...****************...