
Seratus jurus segera berlalu dalam sekejap saja , namun pertarungan antara Shin Liong dan kakek tua Thien Mo belum juga berakhir , bahkan seru pun belum .
Dengan segala cara dan akal licik nya , kakek tua Thien Mo mencoba memperdaya Shin Liong , tetapi jangan kan berhasil memukul jatuh tubuh pemuda itu , menyentuh nya saja belum berhasil .
Dalam jurus Dewa Dewi tingkatan yang sempurna ini , ternyata Shin Liong sudah berhasil menembus ruang waktu , sehingga kemanapun dia menghindar , cukup dengan sekali sentak saja , dia bisa bergerak berkelebat lebih cepat dari waktu , ketempat manapun juga meskipun agak jauh , walau tanpa membuka portal antar dimensi .
Itulah yang menyebabkan kakek tua Thien Mo kesulitan menyerang Shin Liong .
"Kalian menunggu apa lagi heh ?, apa menunggu sampai nafas ku habis kah , baru turun membantu ku !" teriak kakek tua Thien Mo nyaring sekali .
Tiba tiba berkelebat dua orang kakek kakek tua di kanan dan kiri Shin Liong .
Kedua orang itu segera menyerang Shin Liong dengan gabungan tiga energi besar mereka .
Kali ini Shin Liong harus benar benar berhati hati sekali , karena gabungan tiga energi besar itu menjadi satu energi yang luar biasa besar nya .
Shin Liong Kali ini harus mengerahkan energi nya hingga titik maksimal nya . Untuk menghadapi gempuran ketiga dedengkot utama Benua besar ini .
"BUM !!"...
Sebuah dentuman maha dahsyat terdengar di dalam lembah itu , saat pukulan jarak jauh Shin Liong tidak mengenai sasaran dan menghantam gunung batu di sisi selatan .
Gunung batu yang berdiri tegak semenjak ribuan tahun itu , kini hancur lebur , menyisakan Padang datar setinggi lembah itu sepanjang ratusan Lie .
Melihat sang suami dikeroyok oleh tiga orang Dedengkot utama Benua besar ini, Dewi Xuan Yi dan Dewi Ying Fa segera terjun ke arena laga , membela sang suami nya .
Meskipun tingkat kultivasi mereka terpaut jauh dari ketiga Dedengkot utama Benua besar itu , tetapi kedua wanita jelita itu , tidak gentar sedikit pun .
Dewi Xuan Yi dan Dewi Ying Fa baru berada di ranah Dewa perak menengah , sementara ketiga Dedengkot utama Benua besar itu sudah berada di ranah Dewa Cahaya sempurna , satu tingkatan yang jarang dapat di capai orang , meski Dewa sekalipun .
Sedangkan Shin Liong sudah berada di tingkat Dewa sempurna , satu tingkatan yang cuma bisa di capai para Dewata saja .
Tetapi tingkat Dewa Cahaya sempurna ini pun adalah tingkatan terakhir dari ranah para Dewa , diatas ini adalah tingkat Dewa sempurna , dimana ini adalah ranah para Dewata .
Dewi Xuan Yi dan Dewi Ying Fa , meskipun kalah dalam tingkat kultivasi , tetapi unggul dalam hal kecepatan bergerak menghindar .
Tetapi pertarungan , bukan masalah kepandaian menghindar saja , tetapi juga kejituan berpikir dan kekuatan daya serang .
Sebuah hantaman tangan kosong dari Dewi Xuan Yi , berhasil bersarang di pundak kakek Sian Hud Hok , membuat kakek tua itu terjajar ke belakang dan jatuh tertelentang di tanah .
Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Dewi Xuan Yi , yang segera memburu kearah kakek tua itu dengan pukulan yang ber energi sangat kuat sekali .
"Bum !"...
Sebuah dentuman nyaring terdengar , saat pukulan dari Dewi Xuan Yi bertemu dengan energi sangat besar dari tangan kakek Sian Hud Hok .
__ADS_1
Rupanya tadi cuma tipuan licik Dari kakek itu , setelah sebelum nya , melambari pundak nya dengan Qi murni nya agar tidak cedera .
Setelah tubuh nya jatuh akibat pukulan dari Dewi Xuan Yi tadi , sang kakek licik itu segera mempersiapkan qi murni nya , dan di salurkan ke tangan kanan nya , untuk menyambut pukulan pamungkas dari wanita jelita itu .
Akibat bertemu nya dua energi besar itu , tubuh kakek tua itu terdorong beberapa depa ke belakang , sedangkan tubuh Dewi Xuan Yi terpelanting sejauh sepuluh depa dengan darah segar menyembur keluar dari mulut nya , pertanda dia terluka dalam sangat parah .
"Ha ha ha ha, tidak sia sia umpan besar menghasilkan ikan sangat besar pula , sekarang ajal mu tiba wanita cantik !" kata kakek Sian Hud Hok sambil bergerak sangat cepat memburu kearah tubuh Dewi Xuan Yi yang sudah tidak bergerak lagi itu .
"Bum !" kembali terdengar suara dentuman sangat nyaring , saat kakek Sian Hud Hok melepaskan pukulan terakhir yang sangat mematikan ke arah tubuh Dewi Xuan Yi yang sudah tidak bergerak lagi itu .
Tetapi sangat ajaib , bukan nya tubuh wanita jelita itu yang remuk , malahan tubuh kakek Sian Hud Hok lah yang terpelanting sangat jauh , lalu jatuh bergulingan di tanah , dengan beberapa gumpal darah keluar dari mulut nya , pertama kakek sakti itu telah terluka dalam juga .
Didekat tubuh Dewi Xuan Yi , nampak Shin Liong berdiri dengan gagah nya .
Rupanya yang membuat kakek culas itu terpelanting adalah Shin Liong yang memapaki pukulan dari orang tua itu dengan kekuatan nya .
Kedua orang sahabat nya , segera memburu kearah kakek Sian Hud Hok , dan memberikan nya sebutir pil pengobat luka dalam .
Sementara itu , Dewi Ying Fa meletakan kepala Dewi Xuan Yi diatas pangkuan nya , sambil menotok di beberapa bagian tubuh wanita cantik jelita itu .
Shin Liong melangkah mendekati istri nya itu , tetapi belum lagi dia sampai , tiba tiba tubuh Dewi Xuan Yi memancarkan cahaya keputih putihan beberapa saat , seperti salju yang membungkus tubuh wanita jelita itu .
Daya ajaib dari pil surgawi yang pernah di minum Dewi Xuan Yi mulai bekerja , menyembuhkan seluruh luka dalam nya serta mengganti semua organ dalam yang rusak akibat benturan dua energi besar itu .
Setelah cahaya putih itu memudar , terlihat mata Dewi Xuan Yi mulai berkedip terbuka .
"Kau terkena energi pukulan mu sendiri yang berbalik kakak , dan kau hampir saja tewas , untung kakak Shin Liong menghadang pukulan kakek tua itu !" jawab Dewi Ying Fa sambil membantu Dewi Xuan Yi duduk .
Seperti tidak mengalami apa apa , Dewi Xuan Yi langsung berdiri , lalu menggerak gerakan kaki dan tangan nya .
"Kalian berdua bukan lawan Meraka , beristirahatlah kalian , jangan sekali kali ikut bertarung bersama ku , sangat berbahaya sekali , aku akan mampu menghadapi manusia culas seperti mereka bertiga itu , dan kau Dewi Ying Fa , jaga kakak mu jangan sampai ikut bertarung , biarkan aku sendiri yang menyelesaikan masalah ini !" perintah Shin Liong kepada kedua istrinya itu .
Kedua wanita cantik jelita itu sesaat tercekat mendengar nada bicara sang suami yang selama ini lemah lembut , kini terasa sangat tegas itu .
Kedua Dewi itu segera duduk bersila di bawah sebatang pohon Siong besar sambil memperhatikan sang suami yang kini nampak sangat serius sekali .
Shin Liong segera mengurung kedua istri nya didalam tirai gaib punggung kura kura nya , agar bahaya yang terjadi tadi , tidak terulang lagi .
Sementara itu , ketiga orang kakek sakti itu terbelalak melihat wanita yang mereka kira sudah tewas itu , kini terlihat tidak menderita apa pun juga .
Padahal tadi mata kepala mereka sendiri yang melihat , jika wanita itu menyemburkan darah segar sangat banyak dari mulut nya , pertanda dia mendapatkan luka dalam yang sangat parah .
Tetapi kini dengan sangat ajaib , cuma dalam waktu beberapa saat saja , wanita itu sudah segar bugar kembali , seakan tidak pernah terjadi apa apa kepada nya .
Beberapa saat kemudian , setelah duduk bersila mengumpulkan qi murni nya , kakek Sian Hud Hok pun kembali segar dan sudah mampu bertarung lagi , meskipun luka dalam nya belum lagi sembuh .
__ADS_1
"Kita tidak punya pilihan lagi , ayo keluarkan senjata kalian masing masing , kita serang dia dengan senjata pusaka Dewa !" teriak kakek Thien Mo kepada kedua sahabat nya itu sambil mengeluarkan sebuah pedang panjang ber aura merah terang bernama Liong Cu Pokiam (pedang pusaka Mustika Naga) .
Di susul oleh kakek Sian Hud Hok yang mengeluarkan sebuah pedang ber aura kuning emas bernama Kim Tiau Pokiam ( pedang pusaka Rajawali emas) .
Dan kakek Sian Lo Sai mengeluarkan sebuah pedang ber
aura putih terang dan memiliki lidah petir yang menyambar kesana kemari , bernama Thai Lek Sian Pokiam (pedang pusaka Dewa petir) .
Ketiga kakek sakti dedengkot utama Benua besar itu segera menyerang Shin Liong dengan pedang mereka masing masing .
Tiga pedang pusaka langit itu segera bergerak mengurung Shin Liong dari berbagai arah .
Dengan suara mendengung , beberapa kali pedang pusaka langit itu nyaris mengenai tubuh Shin Liong .
Melihat Shin Liong yang mulai terlihat terdesak itu , terdengar suara tawa mengejek dari ketiga dedengkot tua itu .
"Ha ha ha ha, sahabat sahabat ku , hari ini Dewata tua itu akan menangis melihat orang yang dia utus kembali tewas di tangan kita !" kata kakek Thien Mo gembira .
"Ha ha ha ha, lihatlah sahabat ku , anak an*ing itu mulai kewalahan , Tigal masalah waktu saja lagi !" sahut kakek Sian Hud Hok menimpali ucapan sahabat nya .
"Bukan cuma anak an*ing , tetapi juga cucu keturunan an*ing sahabat ku !" kakek Sian Lo Sai ikut menimpali ucapan kedua sahabat nya itu .
Mendengar ucapan ketiga dedengkot sakti itu , tiba tiba darah Shin Liong terasa mendidih hingga sampai ke ubun ubun nya .
Bila diri nya sendiri yang di hina , dicaci dan di rendahkan , dia sudah biasa , tetapi bila ibu dan kakek yang paling dia hormati ikut di hina , sampai kapan pun dia tidak akan terima .
Shin Liong segera mengeluarkan pedang Kristal Katai putih inti bintang .
Setelah pedang Kristal Katai putih inti bintang di keluarkan , secara ajaib aura kemilau dari pedang itu , menarik aura yang terpancar dari ketiga pedang pusaka langit yang berada di tangan ketiga dedengkot sakti itu .
Aura kuning , merah dan putih yang terpancar dari ketiga pedang pusaka langit itu , terus tersedot kedalam pedang Kristal Katai putih inti bintang tanpa bisa di hentikan .
Ketiga pedang di tangan dedengkot sakti itu , laksana es di tengah terik matahari , sedikit demi sedikit kian mengecil , hingga akhirnya hilang sama sekali .
Sementara itu , kini aura dari pedang Kristal Katai putih inti bintang berubah menjadi berwarna pelangi yang sangat indah namun sekaligus mengerikan itu .
Kini ketiga pedang pusaka langit yang mereka curi dari para Dewa yang berhasil mereka bunuh itu , tersedot dan menyatu dengan pedang Kristal Katai putih inti bintang yang kini terlihat sebesar daun pisang itu .
Kakek tua Sian Lo Sai sebagai ahli segala racun , karena berdiam di pulau Kui To di hutan Ban Tok Lim ( hutan seribu racun) itu , segera melemparkan serbuk putih kearah Shin Liong berdiri .
Sedangkan kakek Thien Mo , melemparkan Amgi (senjata rahasia) berupa paku beracun ke arah Shin Liong .
Dan kakek tua Sian Hud Hok juga melemparkan Amgi berupa jarum jarum beracun nya , kearah Shin Liong berdiri .
Namun saat semua Amgi itu menghantam tubuh Shin Liong , semua Amgi itu rontok satu persatu , seolah olah yang mereka tabrak bukan kulit manusia , tetapi sebuah dinding baja yang sangat keras .
__ADS_1
...****************...