
Sebenar nya Ban Hok Tie menikah dengan Gubernur Lao Pek Tiong ini bukan karena cinta , tetapi karena perjodohan semata .
Hingga beberapa tahun berumah tangga , sedikit pun hati Ban Hok Tie tidak tertarik sama sekali pada Gubernur yang sombong dan urakan ini , sehingga dia berusaha secara diam diam agar tidak memiliki keturunan bersama sang Gubernur .
Mungkin karena terlalu banyak mengkonsumsi berbagai macam obat anti kehamilan itulah , sehingga efek nya pada perut nya sendiri .
Kendatipun sang Gubernur menangis hingga bersimpuh dihadapan sang istri , memohon agar jangan pergi , tetapi sebenar nya , Ban Hok Tie selama ini juga sedang memikirkan cara dan alasan terbaik bagi nya untuk bisa pergi meninggalkan Gubernur culas itu .
Kini setelah , alasan dan kesempatan tercipta , dia tidak lagi menyia nyiakan kesempatan emas untuk keluar dari kehidupan sang Gubernur itu .
Lao Taijin termangu menatap sebuah kereta yang dikawal sepuluh pengawal itu pergi meninggalkan gerbang kediaman nya , hati nya benar benar terluka , satu kutukan Shin Liong mulai terbukti .
Putri Lao Fin Yen pun termangu menyaksikan kejadian yang begitu singkat itu , rumah yang semula ramai dengan canda dan tawa dari sang ayahanda nya itu , kini sunyi seperti kuburan.sang Gubernur termangu menatap bunga bunga di taman lewat jendela rumah nya .
Kini segala ke indahan , kekuasaan , kemewahan , bahkan harta benda , terasa tidak ada arti nya lagi bagi nya , tanpa kehadiran Ban Hok Tie lagi .
Di raih nya sebuah cawan , lalu di tuang nya Ciu (arak) kedalam cawan itu , lalu diteguk nya sampai habis .
Jiwa nya kini sangat terluka sekali .
Sementara itu , di sebuah jalan yang cukup sepi , Shin Liong dan putri Mei Yin sedang berjalan tanpa tujuan pasti .
"Kakak !, untuk apa kakak menghendaki Tail emas sebanyak itu ?, kita tidak butuh sebanyak itu kan kak ?" tanya Putri Mei Yin bingung .
"Kita memang tidak membutuh kan Tail sebanyak ini meme , tetapi bagai mana dengan orang orang miskin ?, gelandangan ?, anak anak terlantar ?, mereka kan butuh makan juga me !" kata Shin Liong menjelaskan .
Putri Mei Yin tersenyum mendengar pernyataan dari sang suami nya itu .
Shin Liong kembali mengeluarkan cincin kelas satu yang di dapat nya dari sang Gubernur itu .
Sambil Menimang nimang cincin itu , tawa nya pun pecah berderai .
"He he he he !, ternyata benar , menghadapi manusia licik , harus dengan kelicikan pula , he he he he !, Gubernur itu akan jantungan , bila mengetahui apa yang sesungguh nya terjadi , dia kira , semudah itu dia memperdayai aku !" gumam Shin Liong sambil memasukan cincin itu kedalam cincin ruang milik nya .
"Hei berhenti kalian !" terdengar suara bentakan dari belakang mereka .
Shin Liong menghentikan langkah kaki nya , lalu memalingkan tubuh nya sambil berkata , "apa perlu mu pendeta Hek Lian Kauw ?" ...
Pendeta tua itu terperanjat mendengar kata kata yang terucap dari mulut pemuda itu .
"Ba bagai mana kau tahu aku dari Hek Lian Kauw ?" tanya pendeta itu heran .
"Itu mudah saja pendeta , bukan kah di dada kiri mu ada tato bunga teratai warna hitam dengan Pat kwa kuning ?" ujar Shin Liong menjelaskan keadaan tubuh pendeta itu .
Pendeta itu tersentak kaget , selama ini dia sudah sangat rapi menyembunyikan tato di dada kiri nya itu .
__ADS_1
Bahkan kini sudah dilapisi dengan sejenis lemak tipis , agar tidak terlihat , dan di tambah lagi dengan jubah yang dia yakin tidak pernah tersingkap sekali pun di hadapan pemuda itu .
Dia ingat pesan Kauw Suhu (setingkat Nabi) Gio Sin Thay , jika mereka bertemu seorang laki laki bermata putih perak dengan pupil berwarna kuning memanjang dari kiri ke kanan seperti mata ular , mereka harus segera melarikan diri , karena laki laki itu adalah jelmaan jiwa Dewa Naga Emas , siapapun tidak mampu melawan nya , selain Mo Sian sendiri saja yang mampu melawan laki laki itu .
Berkali kali pendeta tua itu melihat , meneliti , bahkan memindai tubuh Shin Liong , dia tidak melihat keanehan sedikit pun juga , selain seorang laki laki dua puluh tahunan , dengan tingkat kultivasi nya baru pada Alam Taruna menengah saja .
"Cuih !, karena kau banyak tahu tentang siapa aku , sebaiknya kau cepat cepat ku bunuh saja , cepat serahkan cincin itu kepada ku !" kata pendeta tua itu .
"He he he he !, apa kau juga menginginkan cincin berisi Tail Emas palsu ini juga ?" tanya Shin Liong sambil tertawa tawa .
"Apa ?, kau kau sudah tahu tentang isi cincin itu ?" tanya pendeta tua itu lagi .
"Kalian terlalu menganggap diri kalian paling hebat , hingga tidak bisa menghargai diri orang lain , aku sudah tahu sedari awal jika cincin itu ada dua yang sama persis , yang kanan berisi tail emas palsu , sedangkan yang kiri berisi Tail emas asli , dan tahukah kau pendeta tua , tanpa kalian lihat dan sadari , aku telah menukar letak cincin itu , sehingga yang diberikan putri Lao Fin Yen kepada ku , itulah yang berisi tail emas asli , sedangkan yang berada di saku Lao Taijin saat ini , itu yang palsu !" kata Shin Liong sambil tertawa geli .
Merah padam wajah pendeta tua itu , mendengar penuturan dari Shin Liong itu .
"Kalau begitu , cepat serahkan cincin itu segera kepada ku , kalau tidak ,,,!" ....
"Kalau tidak , apa yang akan kau lakukan kepada ku pendeta sesat ?" tanya Shin Liong menantang .
"Kalau tidak , aku sendiri yang akan merebut nya dari mu , setelah merobek robek dada mu , dan mengunyah jantung mu !" kata pendeta itu dengan sangat murka .
" Kau bicara , seolah olah kau pasti mampu melawan ku pendeta , aku tahu , melawan istri ku ini saja kau tidak mampu !" kata Shin Liong .
Pendeta tua itu sangat marah sekali , dengan mengerahkan tiga perempat dari energi tubuh nya , dia segera menyerang kearah Shin Liong dengan serangan yang sangat cepat , berenergi besar serta berbahaya .
Meskipun sudah menyerang pemuda itu dengan seluruh kemampuan nya , tetap saja sang pendeta tua ini tidak berhasil membuat Shin Liong kewalahan sedikit pun juga .
Malahan dengan tenang nya dan sambil tertawa gembira , seolah sedang bercanda , Shin Liong bergerak kesana kemari melepaskan serangan pendeta tua itu , tanpa sedikitpun balas menyerang .
Rupanya , hal itu justru membuat sang pendeta tua berpikiran , jika Shin Liong tidak memiliki energi yang cukup besar untuk menyerang nya , cuma bermodalkan ilmu dimensi ruang waktu yang entah bagai mana , sehingga pemuda ini bisa keluar masuk dimensi ruang waktu begitu mudah nya , pikir sang pendeta .
Sang pendeta segera mengerahkan seluruh energi nya untuk menyerang Shin Liong sambil sesekali memancing Shin Liong agar mau beradu pukulan dengan nya .
"Ku kira jurus mu begitu hebat , ternyata tidak sepadan dengan rupa mu anak muda , omongan mu setinggi langit , tetapi kwalitas mu sangat rendah , bila kau benar benar hebat , sambut serangan ku ini !" kata pendeta tua itu berusaha memprovokasi Shin Liong agar mau beradu pukulan dengan nya .
Sambil tertawa , Shin Liong menanggapi ucapan pendeta itu dengan santai nya , " iya kah ?, bila memang seperti itu kemauan mu , baiklah pendeta tua , akan ku layani kehendak mu !" ...
Betapa gembira nya hati sang pendeta melihat Shin Liong mulai terhasut dengan omongan nya .
Pendeta tua itu segera mengerahkan seluruh energi nya untuk menjatuhkan Shin Liong dengan sekali pukul saja .
Sedangkan Shin Liong cuma menatap nya dengan tatapan yang datar saja .
Tubuh pendeta itu berkelebat kearah Shin Liong dengan mengerahkan seluruh energi nya hingga ke tingkat maksimal nya , untuk menyerang Shin Liong .
__ADS_1
Hati sang pendeta tua itu sangat bahagia sekali saat pukulan nya tinggal beberapa langkah dari tubuh lawan nya ini , tetapi sang lawan nya ini tetap saja terlihat belum bersiap sedikit pun juga .
Namun saat pukulan nya tinggal sejengkal dari tubuh lawan nya , mendadak wajah sang pendeta tiba tiba pucat pasi , karena energi dari tubuh Shin Liong tiba tiba melonjak drastis sekali hingga seperempat energi tubuh nya .
Dengan menggunakan seperempat energi tubuh nya saja , Shin Liong sudah mampu membuat jantung sang pendeta berdetak kencang seakan mau meledakan dada nya terkena imbas aura energi Shin Liong yang begitu besar .
Tetapi segala nya sudah terlambat , dengan jarak yang cuma tinggal satu jengkal itu , tidak ada waktu lagi bagi sang pendeta tua untuk membatalkan serangan nya .
Rupanya , inilah yang di namakan jebakan jaring laba laba , menjebak mangsa dengan berpura pura tidak berdaya , setelah mangsa dekat , barulah sang mangsa sadar jika bahaya sudah mendekat , tetapi saat sadar dengan bahaya , segala nya sudah terlambat .
"Bum !" ...
Terdengar suara dentuman yang begitu nyaring , sehingga tanah dan debu berterbangan ke udara .
Saat kabu tanah dan debu mereda , terlihatlah tubuh sang pendeta terlentang jarak dua puluh langkah dari tempat Shin Liong berdiri , dengan kondisi tidak bergerak , dari mulut dan hidung nya , keluar darah segar .
Sambil tertawa ringan , Shin Liong melangkah meneruskan perjalanan nya , meninggalkan sang pendeta tua yang masih terbaring terlentang di atas rerumputan di pinggir jalan .
Setelah Shin Liong sudah tidak nampak lagi , sang pendeta tua berusaha duduk dengan susah payah di pinggir jalan , bersila sambil mengumpulkan Qi murni untuk memulihkan keadaan tubuh nya yang terluka dalam sangat parah itu .
Setelah beberapa saat berlalu , pendeta tua itu membuka mata nya , di keluarkan nya sebutir pil dari dalam penyimpanan nya , dan langsung di telan nya .
Setelah itu , sang pendeta kembali duduk bersila di tepi jalan tadi , mengatur pernafasan nya kembali .
Beberapa saat kemudian , setelah merasa agak lumayan , pendeta itu berdiri kembali , lalu berjalan terseok seok , menuju ke rumah kediaman sang Gubernur Lao .
Gubernur Lao bangkit berdiri , setelah melihat sang pendeta itu datang .
"Bagai mana pendeta ?, apakah sudah kau bunuh pemuda itu ?" tanya sang Gubernur .
"Maaf Lao Taijin , pemuda itu tidak seremeh yang kita kira , ternyata ilmu nya di luar nalar manusia , saya tidak mampu melawan nya !" kata sang pendeta .
Beberapa saat sang Gubernur terdiam menatap kearah sang pendeta yang terluka dalam cukup parah itu .
"Sudahlah pendeta , meskipun dia tidak bisa kita bunuh , yang penting , kita tidak rugi !" kata Lao Taijin setelah menarik nafas dalam-dalam .
"Sebaik nya yang mulia periksa kembali cincin milik yang mulia itu , saya curiga itu cincin yang palsu , yang mulia !" kata sang pendeta tua itu kepada Lao Taijin .
"Memang nya kenapa pendeta ?" tanya Lao Taijin heran .
"Menurut pemuda itu , cincin yang dia terima itu berisi Tail emas asli , sedangkan yang ada pada yang mulia , itu yang berisi Tail emas palsu yang mulia !" kata sang pendeta .
"Ah bagai mana mungkin pendeta , aku sendiri yang meletakan cincin yang asli di kiri dan yang kanan adalah yang palsu , dan sedari tadi , tidak ada siapapun yang menyentuh tubuh ku , dan cincin di sebelah kiri ini masih tetap seperti semula !" jawab sang Gubernur masih yakin dengan diri nya .
"Mungkin pemuda itu cuma omong kosong , tetapi pemuda itu benar benar tahu jika yang kanan palsu dan yang kiri yang asli , kalau benar pemuda itu cuma asal omong saja , syukurlah yang mulia !" kata sang pendeta menarik nafas lega , mendengar keyakinan sang Gubernur itu .
__ADS_1
...****************...