
Begitulah, semenjak hari itu, dibawah perawatan dan asuhan dari Dewita Yaochi Jin Mu atau di istana kedewataan di sebut ibu Suri itu, sedikit demi sedikit keadaan dari Dewi Nuwa mulai pulih seperti sedia kala.
Dengan pil Dewa langit, Yaochi Jin Mu berhasil memulihkan kesehatan dari Dewi Nuwa, meskipun pil Dewa langit tidak sehebat pil surgawi, tetapi berkat ketelatenan dan kasih sayang dari Dewita Yaochi Jin Mu, akhirnya sedikit demi sedikit terlihat juga hasil nya.
Meskipun pisik nya sudah pulih, tetapi hatinya masih memendam kerinduan yang besar, seandainya bukan karena kandungan nya, ingin sekali dia pergi mencari keberadaan sang suami.
Dalam kesendirian nya, dia sering menangis, seolah olah air mata itu tidak pernah kering.
...----------------...
Demikian kilas balik kehidupan dari Dewi Nuwa dibawah asuhan Dewita Yaochi Jin Mu, di alam dimensi ruang waktu.
Kini kita kembali kemasa sekarang, di mana Shin Liong baru saja melangsungkan perkawinan nya dengan putri Xuan Yi, salah satu bidadari tercantik disemesta raya.
Setelah beberapa Minggu berada di istana Mo Li Fa, akhirnya pada satu pagi, di sebelah timur kota Tian Han, muncul sebuah portal ruang waktu, dan dari dalam nya muncul dua orang wanita cantik jelita dan seorang pemuda sangat tampan.
Setelah ke tiga orang itu keluar dari portal dimensi antar ruang dan waktu itu, portal itupun menciut lalu hilang sama sekali.
"Ibu, kita dimana sekarang?" tanya Shin Liong kepada ibu nya.
"Seharusnya kita berada di belahan barat dari dunia para Dewa ini nak, tetapi di bagian mana nya, ibu tidak tahu!" jawab Dewi Chang 'e
Mereka berjalan kearah Utara, berharap menemukan kota, atau paling tidak sebuah desa.
Ternyata mereka tidak menemukan sebuah desa, apalagi kota, yang ada cuma sebuah sungai besar.
Sedari awal Dewi Chang 'e sudah tahu jika sang menantu nya itu memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, setingkat Dewa Perunggu akhir, sehingga sedikit demi sedikit dia melatih kembali kekuatan sang menantu yang selama empat tahun tidak di latih lagi.
"Ibu kita kemana lagi?, tuh lihat kakak Shin Liong nampak bingung juga?" tanya Xuan Yi kepada ibu mertua nya.
"Kita susuri saja sungai ini, biasa nya di setiap ada sungai, selalu ada kehidupan" kata Dewi Chang 'e.
Dan perkiraan dari Dewi Chang 'e ternyata benar, tidak seberapa lama,mereka tiba di sebuah desa, dari desa itu hingga ke kota Tian Han, tidak seberapa jauh lagi.
Menjelang tengah hari, mereka tiba di kota Tian Han, sebuah kota kecil yang cukup padat penduduk nya, dan berada di timur negeri Sien Fo.
Saat mereka bertiga memasuki kota Tian Han itu, hampir semua mata menatap kearah mereka tanpa berkedip lagi.
Seperti biasa nya, mereka langsung mencari salah satu rumah makan untuk mengisi perut.
"Apakah meme menyukai perjalanan seperti ini meme?" tanya Shin Liong kepada istri nya.
"Suka atau tidak suka, meme harus menyukai nya kakak, meme kan istri nya Kaka, sudah kewajiban meme untuk mengikuti kemanapun kakak pergi,susah sama dirasa, senang sama dinikmati, kan harus seperti itu kan Bu?" kata Xuan Yi meminta pendapat ibu mertua nya itu.
Dia sering bermanja manja kepada sang ibu mertua yang sangat menyayangi nya itu.
"Hm iya nak!,suami istri memang harus saling berbagi suka dan duka bersama sama, apa lagi suami mu ini kan pengembara yang tidak tentu arah dan tujuan nya, jadi, kesabaran adalah modal utama!" jawab Dewi Chang 'e.
__ADS_1
Mereka segera memesan makanan untuk mereka bertiga.
Namun belum lagi makanan mereka tiba, dari arah pintu, masuk enam orang laki laki gagah, yang satu Tara nya, sudah dikenal oleh Shin Liong empat tahun yang lalu.
Dialah Theo Kuan Yian, pemuda yang pernah memfitnah nya dulu hingga terjadi pertarungan dan mengakibatkan dia terjatuh ke dasar jurang Neraka hidup, dan entah bagai mana, sehingga dia masih bisa hidup.
Dan kini, dari seragam nya, Shin Liong tahu jika pemuda itu sudah menjadi seorang punggawa negeri Sien Fo.
Mungkin karena kepintaran nya menjilat lah yang menjadikan nya memiliki kedudukan seperti saat ini.
Setelah mengedarkan pandangan nya kesekeliling, akhirnya, matanya melihat ke arah Shin Liong beserta istri dan ibu nya duduk.
"Maaf, aku seperti nya pernah melihat mu, tetapi aku lupa di mana ya?" tanya pemuda Theo Kuan Yian sambil duduk di kursi dekat dengan Dewi Chang 'e.
"Mungkin juga tuan, saya sendiri sudah lupa!" jawab Shin Liong .
"Kau beruntung, memiliki dua wanita yang sangat cantik, aku juga ingin salah satu dari mereka!" kata pemuda itu blak blakan.
"He he he he, tuan bercanda, mereka berdua sangat berarti bagi ku tuan!" kata Shin Liong berusaha menghindar.
"Tidak!, tidak!, aku serius, aku meng inginkan salah satu dari mereka berdua, kau jangan serakah!" kata pemuda itu mulai meninggi.
"Saya tidak serakah tuan, istri saya cuma satu ini saja, sedang kan yang ini ibu saya!" jawab Shin Liong sambil menunjuk kearah sang ibu nya.
Dengan mata terbelalak, pemuda itu menatap kearah Dewi Chang'e setengah tidak percaya.
"Ibu!, dia tidak percaya kalau aku ini sebenar benar nya adalah putra mu bu!" kata Shin Liong sambil tersenyum.
Sangat wajar jika orang tidak percaya bila Dewi Chang 'e adalah ibu nya, masalah nya wajah dan tubuh Dewi Chang 'e masih seperti gadis dua puluhan tahun saja lagi,sementara kini Shin Liong sudah berusia delapan belas tahun, jadi sepintas mereka seperti seumuran saja.
"Nak, dia benar, aku adalah ibu nya, dan ini menantu ku!" kata Dewi Chang 'e menjelas kan.
"Ah!, kalian mempermainkan aku, apa kalian kira aku percaya?, sedikitpun aku tidak mempercayai keterangan kalian, pokok nya, kalian berdua harus ikut bersama ku ke kota raja Shi King untuk menghadap kepada pangeran Mao Sin Kian!" kata pemuda itu mulai marah.
Rupanya selama ini sang pemuda Theo Kuan Yian ini, menjadi bawahan dari pangeran Mao Sin Kian untuk mengumpulkan para wanita dan gadis gadis cantik, untuk dijadikan selir sang pangeran yang kini telah memiliki ratusan selir itu.
"Kau terlalu memaksa ku tuan, kau tahu?, tidak ada siapapun di dunia ini yang bisa memaksa ku, kecuali ibu dan kakek ku, pergilah tuan, jangan buat kesabaran ku habis!" kata Shin Liong masih dengan nada merendah.
"Kau pikir aku perduli heh?, dengarlah, setuju atau tidak, mereka tetap akan aku bawa ke istana, menemui pangeran Sin Kian!" kata pemuda Theo Kuan Yian itu sambil berjalan ke arah putri Xuan Yi.
Ketika tangan Theo Kuan Yian bermaksud memegang tangan Xuan Yi, dengan gerakan yang sangat cepat, Xuan Yi menyarangkan tinju nya di rahang sang pemuda.
"Bug!"...
"Krek!"...
Bersamaan suara bergedebug, terdengar pula suara seperti ranting patah, ketika tinju dari tangan Xuan Yi yang sebenar nya halus dan lembut itu bersarang di rahang pemuda Theo Kuan Yian.
__ADS_1
Spontan pemuda Theo Kuan Yian seperti anak anjing terkena pentungan, ber kaing kaing nyaring sambil memegang rahang nya yang patah.
"Tidak ada secuil kulit tubuh ku yang boleh di sentuh oleh orang lain selain suami ku sendiri, atau mereka akan merasakan kemarahan ku!" kata putri Xuan Yi murka.
Selaku bidadari terakhir dari tujuh bidadari tanah Kahiyangan, dia dan semua kakak kakak nya sangat menjaga kesucian diri mereka, se umur hidup tidak pernah di sentuh laki laki manapun, kecuali suami mereka sendiri.
Kalau salah satu dari mereka menikah, maka sang ratu harus mencari pengganti nya, agar para bidadari ini tetap berjumlah tujuh orang.
Merekalah penjaga dinding gaib dunia tengah agar tidak tertembus orang luar.
Para bidadari ini baru bisa keluar dari dunia tengah, apa bila ada pelangi.
Dengan terbang mengikuti pelangi itulah mereka keluar dan bersenang senang sebentar di dunia luar.
Lima orang pengawal yang mengawal pemuda Theo Kuan Yian itu menjadi gentar setelah melihat, cuma dengan sekali gerakan, perempuan yang luar biasa cantik jelita nya itu mampu mematahkan rahang Theo Kuan Yian.
Mereka segera membawa sang pemuda keluar dari rumah makan itu, pergi entah kemana.
Akhirnya, makanan yang mereka pesan pun datang, mereka segera menyantap makanan itu.
Shin Liong menatap ke arah sang ibu nya.
"Ada apa nak?, kenapa kau tatap ibu seperti itu?"" tanya Dewi Chang 'e.
"Eh tidak bu, Liong cuma tidak mengerti, sebenar nya ibu bisa saja merawat ku selagi masih bayi dengan wujud Dewi ibu, tetapi mengapa tidak ibu lakukan, dan ibu membiarkan aku menderita selama itu?" tanya Shin Liong .
"Kau marah sama ibu nak?" tanya Dewi Chang 'e.
"Eh, tidak!, tidak Bu!, Liong tidak marah sama ibu, Liong cuma tidak mengerti saja, Liong sayang ibu!" kata Shin Liong cepat cepat, takut sang ibu tersinggung.
"Dengarlah nak, setelah seorang dewa atau Dewata ber reinkarnasi menjadi manusia biasa, dia kehilangan semua kesaktian nya, dan apa bila wujud reinkarnasi nya itu mati, maka dia harus mengumpulkan kembali kekuatan nya dengan bersemedi selama seribu tahun, tetapi hal itu terpaksa ibu tentang nak, karena ibu sayang sama kamu, kamu permata terindah ibu nak, meskipun harus dihukum kurungan, ibu ikhlas asalkan bisa mendampingi mu besar, mendidik mu, meskipun itu hanya lewat mimpi mu saja nak,para Dewa Dewi, Dewata dan Dewita, semua masih berada dibawah aturan sang Tian Agung, pemilik sebenar nya dari seluruh jagat semesta raya ini nak, sebenar nya ibu mu ini seharusnya masih menjalani hukuman ku nak, tetapi melihat ketulusan bakti dan sayang mu kepada ibu, Tian Agung membebaskan ibu, dengan menyuruh mu menjemput ibu di pagoda emas tiga Dewa, kau mengerti sekarang sayang?" tanya Dewi Chang 'e sambil memeluk putra tunggal nya itu.
Kini Shin Liong telah menjelma menjadi seorang pemuda yang matang dalam bertindak dan berpikir, tidak lagi mudah terhanyut perasaan sedih dan duka nya.
Tubuh nya pun kini sudah tinggi dan berotot, tidak seperti dahulu.
"Maafkan Liong ya Bu, Liong tidak bermaksud membuat ibu sedih, Liong sayang ibu, ibu adalah ibu terbaik di dunia ini, meskipun dalam keterbatasan, serta ancaman kurungan, ibu tidak perduli, terimakasih ya Bu!" bisik Shin Liong sambil memeluk tubuh sang ibu.
Putri Xuan Yi yang melihat adegan itu, ikut terharu menyaksikan betapa suami nya ini sangat menyayangi ibu nya.
Dipeluk nya tubuh sang suami dan ibu mertua nya itu.
Dia merasa benar benar damai berada ditengah manusia yang saling menyayangi itu.
Kini Shin Liong tahu masalah sebenar nya, kenapa ibu nya tidak bisa mengasuh diri nya selagi masih bayi, tetapi meskipun begitu, satu hal yang dapat dia pastikan, bahwa ibu nya, sangat menyayangi diri nya.
...****************...
__ADS_1