
Shin Liong berdiri diatas sebuah bukit sambil menatap pemandangan ke sekeliling nya yang sangat indah sekali .
Meskipun mata hari terik , tetapi karena ada angin semilir angin yang bertiup , sehingga terasa sejuk di badan .
Tiba tiba dari sebuah pegunungan , muncul asap hitam yang sangat tebal , menutupi segala gala nya , sehingga seketika , hari yang tadi nya tengah hari , mendadak berubah menjadi seperti tengah malam .
Tiba tiba , bulan , bintang dan matahari , semua nya dilahap oleh asap hitam pekat itu , tanpa tersisa sama sekali .
Manusia ribut berteriak histeris , ada yang menangis , ada yang menjerit , dan ada juga yang diam tak bersuara , namun berjalan kaki seperti orang cacat yang berjalan dengan menyeret nyeret bagian tubuh nya .
Seperti sedang kesurupan , ditengah tengah kekacauan itu , ada pula manusia yang saling gigit hingga bagian tubuh yang lain nya , hampi putus .
Yang sudah tergigit ini langsung menjadi manusia hantu yang berjalan kaki dengan menyeret bagian tubuh nya yang hampir putus tadi , sambil menggigit yang masih waras , hingga yang waras tadi ikut menjadi manusia hantu pula .
Jerit , tangis , raungan terdengar di mana mana , seakan akan tidak ada tempat melarikan diri lagi .
Di tengah kekacauan itu , tiba tiba Shin Liong melihat asap hitam pekat tadi memadat , dan membentuk mahluk tinggi besar bertanduk tiga , dengan mata menyala seperti bara api , menatap kearah diri nya .
Mahluk itu mendekat kearah Shin Liong sambil mengunyah Bulan , Bintang dan Matahari seperti mengunyah ba'pau .
Shin Liong ingin melawan mahluk itu , tetapi tiba tiba tubuh nya sudah tidak memiliki tenaga lagi .
Dengan kuku kuku nya yang runcing dan hitam , mahluk itu mengoyak dada Shin Liong tanpa ampun lagi .
Shin Liong menjerit sekencang kencang nya , namun tidak ada suara yang mampu dia keluarkan , selain suara ah , uh , ah , uh saja .
"Kakak !, kakak ,! Kakak !, bangun lah kakak !" ...
Terdengar suara Dewi Ying Fa membangunkan Shin Liong sambil mengguncang guncang tubuh nya , dibantu oleh Dewi Teratai putih dan Dewi Xuan Yi .
Nampak sekali di wajah ketiga wanita jelita itu kecemasan luar biasa .
Betapa tidak , selama mereka kumpul , Shin Liong tidak pernah sekali pun mengigau seperti itu .
Shin Liong akhirnya terbangun dari tidur nya .
Peluh bercucuran di wajah Shin Liong , sedangkan degup jantung nya masih cepat dan tak beraturan .
Dewi Xuan Yi melap peluh yang bercucuran di dahi Shin Liong .
"Ada apa kak !, seperti nya kakak mimpi buruk ?" tanya nya .
"Iya me , aku bermimpi yang sangat buruk sekali , aku harus menemui ibu , mungkin ibu tahu makna mimpi ku itu !" kata Shin Liong sambil berdiri .
"Minumlah air putih ini dulu kak , agar kau menjadi lebih tenang , baru setelah itu , kita menemui ibu !" nasihat Dewi Teratai putih sambil menyerahkan secangkir air putih .
Shin Liong segera mereguk nya hingga tak bersisa .
__ADS_1
Setelah itu , barulah nafas nya mulai teratur kembali .
Ketika mereka tiba di kamar Dewi Chang 'e , terlihat sang Dewi itu sedang duduk di samping tempat tidur , dengan wajah yang terlihat sangat kusut sekali .
"Ada apa nak ?, ada masalah apa ?" tanya Dewi Chang 'e pura pura tidak tahu , walau pun sebenar nya , dia sudah tahu apa tujuan putra dan ketiga menantu nya itu datang menemui nya .
Shin Liong segera menceritakan tentang semua mimpi nya tadi , kepada sang ibu .
Dewi Chang 'e menatap kearah sang putra , kini dia melihat wajah yang sangat berbeda dari sebelum nya , agak memucat , dan ada kerisauan yang berusaha disembunyikan disana .
Dewi Chang 'e bangkit berdiri , di peluk nya pemuda yang sangat di kasihi nya itu , "kita harus secepat nya mengantarkan semua keluarga mu ke lembah teratai nak , karena untuk sementara , cuma tempat itu yang paling aman , karena sudah di lingkupi oleh tirai gaib serta segel kutukan , tetapi sayang nya , kita tidak boleh menerobos dimensi ruang waktu nak , karena perjalanan ini sejati nya adalah jalan darma mu , yang harus kau lalui !" ...
"Tidak masalah Bu , aku akan melewati nya , jadi apa makna dari mimpi ku itu Bu ?" tanya Shin Liong yang masih khawatir dengan mimpi nya tadi .
"Tenang lah , itu cuma peringatan untuk mu nak , agar kau lebih bersikap waspada dan berhati hati dalam menyikapi apa yang kau dengar dan kau lihat akhir akhir ini , jangan mudah percaya , karena , bisa saja yang kau lihat dan kau dengar , tidak sesuai dengan kenyataan sebenar nya , bila kau salah melangkah , kau sendiri yang akan di lahap oleh kegelapan itu nak !"...
"Liong selalu memerlukan bantuan dan bimbingan ibu , ibu akan terus menemani Liong kan Bu ?" tanya Shin Liong dengan perasaan yang masih cemas .
Dewi Chang 'e tersenyum menatap putra nya itu , "tentu saja nak , kau kesayangan dan kebanggaan ibu , tidak mungkin ibu membiarkan putra ibu menghadapi masalah sendirian , ketahuilah nak , bila ada Giam Lo Ong (Malaikat maut /Raja kematian) datang kepada mu , maka ibulah yang akan berdiri paling depan dalam membela mu !"...
"Terimakasih Bu , kini hati Liong sudah tenang sekarang !" kata Shin Liong sambil memeluk sang ibu .
"Sekarang kakek mu sedang memohon petunjuk pada Thian sang penguasa Alam ini , apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi masalah ini , semoga kakek mu segera mendapatkan petunjuk dari Thian yang maha kuasa !" kata Dewi Chang 'e .
Pada ke esokan hari nya , karena tidak ingin menunda waktu perjalanan lagi , setelah sarapan dan mempersiapkan bekal , Shin Liong mengajak semua keluarga nya , untuk mempergunakan ilmu lari cepat mereka .
Setelah dua hari perjalanan , mereka tiba di sebuah dusun kecil , antara kota Yuking dan kota Yufing .
Dusun ini bernama Dusun Liu San (Hutan Cemara) , karena berada di pinggir sebuah hutan Cemara yang sangat lebat sekali .
Dusun ini agak sepi , karena cuma memiliki dua puluh buah Rumah saja , karena agak jauh di sebelah selatan jalan utama dari kota Yuking ke Kota Yufing .
Shin Liong dan rombongan keluarga nya tiba di dusun itu , karena mereka tidak lewat jalan umum , tetapi melewati hutan di sepanjang jalan , agar tidak menarik perhatian semua orang yang kebetulan melakukan perjalanan juga .
Malam itu mereka menginap di rumah seorang kepala Dusun yang cukup besar di dusun itu .
Mungkin karena dusun itu jarang dilewati oleh para pelintas , sehingga nampak beberapa orang laki laki paro baya , warga dusun itu yang memperhatikan kedatangan Shin Liong dengan seksama hingga beberapa saat lama nya .
Entah mengapa , malam ini hawa nya terasa sangat panas , sehingga Shin Liong berinisiatif untuk berjalan jalan sebentar di sekitaran dusun itu , sambil mencari udara segar malam hari .
Kebetulan malam itu purnama sedang penuh penuh nya , sehingga terasa ada nuansa indah berjalan sendirian di sebuah dusun sepi , dimalam hari , di bawah terang bulan purnama .
Belum terlalu jauh Shin Liong berjalan , tiba tiba telinga nya yang sangat tajam menangkap desiran seseorang yang sedang berlari tidak jauh dari tempat nya berdiri saat itu .
Sambil berlindung di balik sebatang pohon Liu yang besar berdiri di pinggir jalan , Shin Liong segera mempertajam pendengaran nya .
Diatas atap sebuah rumah penduduk dusun itu , nampak berkelebat dua sosok manusia .
__ADS_1
Kedua orang itu nampak sekali jika sudah menguasai ilmu meringan kan tubuh yang sempurna , karena , Disamping gerakan mereka sangat ringan , juga terlihat sangat cepat sekali , berlompatan dari satu atap , ke atap yang lain nya , tanpa menimbulkan suara sedikit pun .
Kadang kadang , kedua bayangan itu hinggap di atas pohon , lalu melompat kembali keatas atap rumah penduduk .
Karena penasaran dengan kedua bayangan itu , Shin Liong akhirnya mengikuti bayangan itu dari jarak yang tidak terlalu jauh .
Kedua bayangan itu melompat keatas atap rumah kepala dusun , lalu membuka sebuah genteng nya dan melihat ke arah dalam rumah itu .
Setelah beberapa saat mengintip dari atas atap lewat lubang bekas atap genteng , kedua bayangan itu pun segera pergi dari tempat itu .
Shin Liong yang masih penasaran dengan kedua bayangan itu , segera melesat mengikuti nya .
Bayangan itu terus melesat kearah selatan , menuju pinggiran hutan Liu di kaki bukit Liu San .
Setelah melewati perkebunan pisang milik para penduduk dusun , tibalah kedua bayangan tadi di tepi hutan Liu .
Ternyata di tempat itu , sudah menunggu puluhan laki laki paro baya .
"Bagai mana Pek Lok , Cok Kiong ?" tanya seorang laki laki paro baya kepada kedua orang yang baru datang tadi .
"Ternyata impormasi yang disampaikan oleh kepala dusun tadi sore lewat utusan nya itu sangat benar sekali Louw Lo Suhu , di rumah kepala dusun itu ada beberapa orang tamu asing yang menginap di sana , tetapi yang jelas kami lihat tadi adalah keberadaan seorang anak muda diantara rombongan itu Louw Lo Suhu , meskipun tingkat kultivasi nya masih sangat rendah , tetapi terlihat jelas , jika susunan tulang anak muda itu sangat sempurna , dan seperti nya , anak muda itu adalah pemuda pilihan seperti yang di cari Louw Lo Suhu !" kata laki laki yang di panggil Pek Lok itu .
"Hm !, kalau yang kau katakan itu benar , ini kesempatan yang sangat baik sekali , sekarang juga kita ringkus anak muda itu , dan kita serahkan pada sang junjungan !" kata laki laki yang di panggil Lo Suhu tadi .
"Tetapi sebaik nya kita tunggu beberapa waktu dulu , hingga racun tidur yang diberikan oleh kepala dusun tadi sore benar benar bekerja , soal nya tadi kami tidak melihat salah seorang pemuda seperti yang di katakan utusan kepala dusun tadi sore Louw Lo Suhu !" kata Cok Kiong .
"Satu hal lagi Louw Lo Suhu !, bagai mana jika salah satu dari kelima wanita itu untuk saya , saya mau , meskipun mendapat bagian yang mana saja !" kata Pek Lok .
"Hus !, kau mau menjadi persembahan juga ya ?" tanya Louw Lo Suhu kepada laki laki paro baya bernama Pek Lok itu .
Laki laki paro baya itu bergidik , "tidak !, tidak !, tidak , tidak jadi Louw Lo Suhu , saya cuma bercanda saja !" ...
Meskipun mereka semua nya , mengenakan pakaian serba hitam , dan berada di keremangan bawah pohon Liu, tetapi dengan pemindaian nya , Shin Liong masih bisa mengetahui mereka satu persatu .
Tiba tiba salah satu dari para laki laki paro baya itu berteriak terkejut sambil menunjuk ke salah satu pohon Liu .
"Ha ' ha ' han tu , hantu !" ...
Semua menatap kearah yang di tunjuk oleh laki laki itu .
Di tempat yang dia tunjuk tadi , ternyata tidak ada sesuatu apapun juga .
"Ha ' han tu , hantu !" teriak laki laki lain nya lagi sambil menunjuk arah lain yang cukup jauh dari arah yang pertama tadi .
Semua mata tertuju kearah yang di tunjuk laki laki paro baya itu .
Namun mereka tidak melihat sesuatu apapun juga .
__ADS_1
...****************...