
Mendung menggelayut di langit , sesekali di selingi oleh suara guntur .
Lalu hujan pun turun dengan deras nya , membasahi bumi yang kekeringan .
Desau angin menerpa daun pohon Liu , terdengar seperti suara raungan naga yang sedang murka .
"Jderr !" ...
Sambaran kilat berbarengan dengan dentuman suara petir , memekakkan telinga .
Meskipun hari belumlah terlalu sore , namun cahaya mata hari terlihat seperti senja diambang malam .
Seorang kakek tua berambut dan berjenggot panjang berwarna putih semua , duduk bersimpuh di sisi dua buah makam yang masih terlihat belum terlalu lama .
Di lihat dari tubuh nya yang kurus ceking itu , mungkin usia kakek tua itu sudah sekitar sembilan puluh tahunan , meskipun usia yang sebenar nya jauh diatas itu .
Kakek ini bernama Thien Mo atau iblis langit , guru sekaligus orang tua angkat dari sepasang Iblis merah yang tewas di tangan Shin Liong dulu .
"Benarkah ini makan kedua orang murid ku itu ?" terdengar suara agak serak keluar dari mulut kakek tua itu .
Dua orang laki laki paro baya yang sedari tadi berdiri dibawah pohon Liu itu , menganggukkan kepala nya , " benar tuan , kami sendiri yang membawa jasad sepasang Iblis merah , dan menguburkan nya di sini tuan !" ...
Nampak kesedihan luar biasa terbayang di wajah kakek tua itu , hingga kerutan di wajah nya kian bertambah pula .
"Aku tidak menyangka , di masa tua ku ini , bukan nya kedamaian yang aku dapat kan , tetapi berbagai masalah bermunculan !" keluh kakek tua itu lagi .
"Siapa pelaku nya ?" tanya kakek tua bernama Thien Mo itu lagi secara tiba tiba , sehingga kedua orang laki laki paro baya itu tersentak kaget .
"Seorang pemuda yang bernama Kong Thai Sian Shin Liong tuan !" jawab salah satu laki laki paro baya itu .
"Pyar !"...
"Bum !"...
Thien Mo mengibaskan tangan nya , dan Selarik cahaya hijau melesat , menghantam sebuah pohon Siong tua yang besar hingga hancur berantakan di buat nya .
"Aku pasti akan membalas dendam kalian berdua murid ku , tenanglah , bukan cuma pemuda itu yang akan kubuat menyesal seumur hidup nya , tetapi Kaisar beserta antek antek nya yang sudah berani mendirikan sebuah negeri , juga akan ku musnahkan , aku berjanji , negeri itu akan lenyap selama lama nya , dan para Dewa akan meratap menangis !" kata kakek tua itu dengan suara serak serak basah yang menggema nyaring , mengalahkan suara desauan air hujan .
"Pulanglah kalian , aku akan menemui sahabat ku dahulu !" kata kakek tua itu sembari berkelebat hilang entah kemana .
Kedua orang laki laki paro baya itu segera bangkit dan pergi secepat mungkin , meninggalkan tempat itu .
Di selatan Benua besar ini ada sebuah pulau yang bernama Kui To ( pulau setan) dengan hutan yang sangat angker sekali .
Dikatakan angker , karena hutan ini menyimpan ribuan macam racun , mulai dari tumbuhan beracun , hingga ular , laba laba , bahkan lalat dan tawon nya sangat beracun .
__ADS_1
Pada satu siang , saat laut tenang , sebuah perahu kecil meluncur dari daratan besar , menuju ke arah pulau itu .
Diatas perahu itu , nampak Thien Mo duduk sambil menggerakkan dayung nya .
Terlihat dayung di tangan nya cuma sesekali di kayuh kan , tetapi yang ajaib nya adalah perahu itu meluncur sangat cepat , seperti dikayuh oleh orang banyak saja nampak nya .
Tidak seberapa lama , perahu itu memasuki sebuah muara sungai kecil , hanya selebar beberapa depa saja .
Muara sungai kecil itu , seperti tersembunyi oleh lebat nya pohon pohon bakau .
Sebelum memasuki hutan yang menyelimuti kiri dan kanan sungai itu , kakek Thien Mo terlebih dahulu membaluri sekujur tubuh nya dengan semacam ramuan aneh , yang dapat menangkal gangguan racun dari tumbuhan maupun hewan di dalam hutan itu .
Setelah menyusuri sungai kecil itu beberapa saat lama nya , akhirnya dia tiba di tempat sungai yang berair dangkal dengan dasar nya berbatu batu .
Kakek Thien Mo segera menambatkan perahu kecil nya pada akar pohon , selanjut nya dia berkelebat memasuki hutan Ban tok Lim (hutan seribu racun) itu tanpa ragu ragu sedikit pun .
Seandainya pendekar kultipator biasa , meskipun tingkatan nya sudah sangat tinggi , memasuki hutan Ban tok Lim ini , tidak ada yang berani menjamin jika nyawa masih melekat di badan nya .
Segala apapun jenis binatang berbisa yang ada di pulau ini , semua nya mematikan .
Kakek Thien Mo terus berkelebat menyusuri jalan setapak yang sudah hampir hilang itu , meskipun kadang kadang harus berjalan perlahan , karena jalan nya sudah tertutup semak tinggi tinggi .
Akhirnya setelah menempuh perjalanan beberapa saat , kakek Thien Mo pun tiba di tepi sebuah telaga kecil di kaki sebuah bukit yang juga tidak terlalu tinggi itu .
Di tepi telaga sebelah barat , menghadap ke arah timur , terdapat sebuah pondok kecil bertiang tinggi tanpa tangga .
"Tua Bangka sialan , ada angin apa yang membuat kau nyasar ketempat ku yang tenang ini ?" tanya seorang laki laki tua jangkung , berambut putih panjang , namun di sisi kiri dan kanan kepala nya saja , sedangkan di dahi hingga ubun ubun nya , cuma kulit yang licin tanpa sehelai rambut pun .
kakek tua ini mempunyai kumis dan jenggot yang panjang pula , namun juga berwarna putih semua .
"Beratus ratus tahun tidak berjumpa , kukira kau tidak lagi mengenal ku Lo Sai , ternyata kau tidak banyak berubah , cuma kepala mu saja yang kian botak ya !" ejek Thien Mo kepada sahabat nya yang bernama Sian Lo Sai (Dewa Singa tua) yang biasa di panggil oleh Thien Mo dengan panggilan Lo Sai (Singa tua) saja .
"Ya Thien Mo yang tidak pernah bisa terbang ke langit , lalu angin apa yang membawa mu nyasar ke kediaman ku ini heh ?" tanya kakek Sian Lo Sai dengan ketus nya .
"Hei Lo Sai , kapan terakhir kali kedua orang murid mu , mengunjungi mu disini ?" tanya kakek Thien Mo .
Kakek Sian Lo Sai termenung beberapa saat lama nya , kemudian mengangkat bahu nya , "entahlah Thien Mo , aku lupa , yang pasti sudah sangat lama sekali , mungkin sepuluh musim , atau bahkan mungkin juga lebih "...
"Nah itulah kesalahan kita Lo Sai , kita terlampau berambisi untuk menjadi lebih sakti dari Dewata , sehingga siang malam sibuk berkultivasi saja untuk meningkatkan tingkatan kita , dan kita lupa menjenguk murid murid kita , tahukah kau jika semua murid murid kita telah tewas ?" tanya Thien Mo dengan suara bergetar .
"Haah apa ?, te' tewas ?, kau jangan bercanda Thien Mo , bisa bisa ku pecahkan batok kepala mu itu nanti !" bentak kakek Sian Lo Sai sangat marah .
"Kau pikir aku bercanda ya !, ketahuilah Lo Sai , kedua orang murid ku , juga murid si tua Sian Hud Hok dan Twa Pang Lauw , semua nya sudah tewas !" teriak Thien Mo sengit .
"Ba' bagai mana mungkin mereka tewas semua nya , bukan kah selama ratusan tahun , mereka tidak memiliki lawan yang dapat menandingi nya ?" tanya kakek Sian Lo Sai dengan suara mengecil dan bergetar .
__ADS_1
"Seorang pemuda yang turun dari langit , berhasil membunuh semua murid murid kita Lo Sai !" ucap kakek Thien Mo juga dengan suara yang bergetar .
Tiba tiba kakek Sian Lo Sai bangkit berdiri , lalu berkelebat kesana kemari , sambil memukul dan menendang apa saja yang berada di dekat nya .
"Bum !"...
Pondok bertiang tinggi yang tadi nya berdiri megah , kini hancur terkena. Pukulan jarak jauh dari kakek Sian Lo Sai ini .
Bahkan ada beberapa batang pohon besar yang terbang dengan akar akar nya , terkena pukulan dan tendangan kakek Sian Lo Sai ini .
Setelah puas mengamuk , kakek Sian Lo Sai akhirnya duduk diatas sebuah batu besar sambil sesekali menghapus air mata nya .
Setinggi apa pun tingkatan seseorang , dia juga memiliki air mata serta perasaan sedih dan gembira .
Hukum alam inilah yang tidak mungkin bisa di hindari oleh mahluk manusia .
Meskipun dia Dewa atau mahluk suci , bahkan Dewata mahluk suci dan utama , dia tetap mahluk ciptaan Tuhan yang maha esa , yang tidak terlepas dari hukum sebab akibat .
"Dengarlah wahai para setan dan iblis , aku lebih baik mati menyusul kedua orang murid ku itu , bila tidak bisa membalas kan dendam kedua orang murid ku itu , aku bersumpah akan merobek robek dada pemuda itu , serta mengunyah jantung nya !" teriak kakek Sian Lo Sai dengan suara nyaring , hingga hutan di sekitar situ berbunyi berderak karena nya .
"Ya kita memang harus membalaskan dendam murid murid kita , serta membasmi semua yang sudah berani mendirikan sebuah negeri di tanah kegelapan milik kita ini !" kata kakek Thien Mo menimpali perkataan dari kakek Sian Lo Sai .
Namun baru saja mereka berdua bermaksud beranjak pergi , tiba tiba terdengar suara seorang laki laki bergema di sekeliling mereka berdua .
"Hei Lo Mo !, Lo Sai !, kalian berdua sudah bosan hidup kah ?, tamu kehormatan datang bukan nya disambut , malah mau ditinggal pergi !"....
Thien Mo tahu , siapa yang datang , karena tidak ada seorangpun yang berani memanggil diri nya dengan panggilan Lo Mo (Iblis tua) , kecuali Sian Hud Hok (Dewa penakluk Budha) .
"Hei Lo Sian , keluarlah atau kubuat tubuh mu menjadi babi panggang !" teriak Thien Mo membalas teriakan itu dengan menggunakan tenaga dalam juga , sehingga gema nya sanggup membuat dahan dahan pohon bergoyangan dan daun daun nya berjatuhan .
Tiba tiba di hadapan kedua orang tua itu , muncul seorang tua lain nya , bertubuh jangkung , agak gemuk dengan perut yang agak buncit , ketika dia melangkah , perut nya ikut berayun ayun keatas kebawah .
Karena tubuh nya lebih tinggi dari manusia biasa , dan agak gemuk , sehingga mirip seperti raksasa .
"He he he , rupanya kau yang datang berkunjung ketempat Lo Sai ini Lo Mo , kebetulan kalau begitu , aku mau memberitahukan kalian berdua jika semua murid kalian telah tewas oleh seorang pemuda yang mengaku diri nya Kong Thai Sian itu !" kata kakek bertubuh raksasa berkepala botak sama sekali itu .
"Kami sudah tahu Lo Sian !, kami akan pergi mencari dan menghukum pemuda itu serta semua orang yang mendukung nya akan kami musnahkan sekalian !" jawab Thien Mo .
"Aku akan bersama kalian , aku juga berkepentingan dengan nya , kedua murid kembar ku , juga tewas di tangan nya , aku akan membelah dada nya , meminum darah nya , serta mengunyah jantung nya !" kata kakek bertubuh raksasa bernama Sian Hud Hok itu dengan perasaan yang amat murka sekali .
"Lalu bagai mana dengan saudara Twa Pang Lauw ?, Lo Sian ?" tanya kakek Sian Lo Sai lagi .
Mendengar pertanyaan dari kakek Lo Sai itu , sejenak Sian Hud Hok termenung beberapa saat , "aku telah bertemu dengan nya beberapa waktu yang lalu , kini dia sudah menjadi manusia cacat yang tidak berguna lagi !" jawab kakek Sian Hud Hok dengan wajah yang sangat sedih sekali .
Amarah , dendam dan kebencian , terlihat dengan sangat jelas di wajah kakek bertubuh jangkung itu .
__ADS_1
...****************...