
Sebenar nya,tanpa bantuan dari Shin Liong pun,Dewi Teratai putih bisa mengatasi serangan semacam itu.
Tetapi kali ini,hatinya merasa sangat tersentuh atas perhatian dari Shin Liong kepada nya.
Dewi Teratai putih merasa, perhatian dan bantuan dari Shin Liong secara diam diam itu adalah bentuk ke khawatiran Shin Liong terhadap keselamatan nya,dan itu adalah wujud dari cinta Shin Liong yang sesungguh nya kepada nya.
Ketika asap tipis dari serangan gaib yang di lepaskan oleh Bangsawan Guan telah mencapai tirai gaib yang di pasang Shin Liong secara diam diam di tubuh Dewi Teratai putih, terdengar suara desisan seperti sebuah bara api yang di celupkan ke air.
"Hi hi hi hi, kau berusaha menggunakan ilmu gendam kepada ku tuan hebat!, kau tidak tahu bahwa aku kebal terhadap jenis sihir apa pun juga,hi hi hi hi, kau melakukan hal yang sia sia saja tuan hebat, sudah di tuliskan di langit, bahwa jodoh ku bukan lah diri mu!" teriak Dewi Teratai putih.
Bangsawan Guan yang sudah di butakan oleh kecantikan dan daya pesona dari Dewi Teratai putih itu, tidak lagi mendengarkan perkataan dari Dewi nan cantik jelita itu, bagi nya,secepat nya mengalahkan dan memiliki tubuh Dewi Teratai putih adalah prioritas utama nya kini.
Karena tangan kanan nya masih belum pulih seperti semula, kini Bangsawan Guan menyerang Dewi Teratai putih mempergunakan tangan kiri nya.
Melihat itu,ke empat selir nya merasa firasat buruk mereka tadi benar,dan sebentar lagi,suami mereka itu pasti akan tumbang.
"Kakak Ong!, berhentilah,dan menyerah saja lah, dan kita kembali ke kota An Hiong saja!" teriak Oei Nio, salah satu yang tertua dari empat selir Bangsawan Guan ini.
Bangsawan Guan yang merasa malu untuk menyerah,serta masih ber keinginan untuk memiliki Dewi Teratai putih untuk nya, menjadi sangat gusar mendengar permintaan selir nya itu.
"Dasar perempuan j*dah, kau mau membuat aku malu ya, menyerah kalah dengan orang yang masih berbau kencur ini, lagipula dia wanita lagi, mau di kemana kan muka ku ini nanti nya, sebentar lagi dia akan menjadi milik ku seorang, dan kalian semua akan ku usir, aku akan mengakhiri gelar ku sebagai raja kawin kalau aku sudah bisa memiliki wanita cantik ini!" teriak bangsawan Guan dengan marah nya.
Mendengar perkataan dan rencana dari suami mereka itu, akhir nya ke empat wanita itu cuma bisa diam dengan sejuta gerutuan di dalam hati mereka.
Gerakan tangan kiri bangsawan Guan meskipun tidak sehebat tangan kanan nya,namun cukup berbahaya juga.
Beberapa kali bangsawan Guan bergerak sangat cepat,bermaksud memeluk tubuh Dewi Teratai putih, namun sang Dewi sangat susah untuk di tangkap, gerakan nya seperti se ekor burung Srigunting yang lincah.
Delapan jurus sudah berlalu begitu saja, jangankan untuk mengalahkan Dewi Teratai putih, bahkan untuk menyentuh tubuh nya saja tidak bisa.
"Tuan hebat, tidak kah kau ingin menyerah kalah saja, dan pulang ketempat mu dalam ke adaan baik baik saja, sudah delapan jurus berlalu,kau belum juga bisa mengalahkan aku, ini tawaran pertama dan sekaligus terakhir untuk mu tuan hebat!" kata Dewi Teratai putih.
"Cuih!,kau jangan meremehkan aku nona, pantang bagi ku menyerah, apalagi dengan seorang wanita, kau pasti akan menyerah dalam pelukan ku,serta melupakan laki laki buluk mu itu, meskipun aku lebih tua,tetapi aku masih jauh lebih tampan dari nya, aneh,kau lebih memilih kodok ketimbang laki laki tulen, kau seperti wanita yang punya kelainan nona!" kata Bangsawan Guan tidak mau kalah bicara.
"Baiklah tuan hebat, kau sudah menghina ku,juga suami ku, kau akan membayar sangat mahal bagi siapapun yang berani menghina suami ku ini!" kata Dewi Teratai putih sangat geram.
"Ha ha ha ha, lantas kau mau apa nona?" teriak Bangsawan Guan mencoba memprovokasi hati Dewi Teratai putih.
Tetapi kali ini dia benar benar sial,karena memprovokasi seseorang yang seharusnya tidak dia provokasi.
Dewi Teratai putih mengeluarkan pedang kecil berwarna biru milik nya, "tadi kau bertanya aku mau apa?, ini jawaban nya,aku mau ini!"...
Dewi Teratai putih langsung bergerak dengan sangat cepat nya,hingga mata biasa tidak lagi bisa mengikuti gerakan nya. Dan,
"Tress!!".
__ADS_1
Tidak ada yang sempat melihat apa yang dilakukan oleh Dewi Teratai putih, bahkan bangsawan Guan sendiri belum menyadari apa yang telah terjadi,ketika tahu tahu darah sudah menyembur keluar dari leher laki laki itu.
Bangsawan Guan terpana tidak percaya, dengan cepat memegang lehernya dengan kedua tangan nya.
Namun ketika luka dilehernya dia tutup dengan kedua tangan nya,darah menyembur dari mulut dan hidung nya.
Ke empat selir dari bangsawan Guan cuma bisa menjerit jerit sambil menangis melihat leher sang suami luka hampir separo leher nya itu.
Setelah berputar putar ditempatnya beberapa kali,akhir nya tubuh nya pun terhuyung huyung dan roboh ketanah memperdengarkan suara menggerung seperti suara kerbau di sembelih.
"Aku sudah memberi kesempatan hidup kepada suami kalian, tetapi nafsu Duniawi membutakan mata nya, dan akibat nya,kalian lihat sendiri!" kata Dewi Teratai putih sambil menyimpan pedang nya, lalu melangkah kedalam rumah makan itu sambil mengandeng tangan Shin Liong.
Setelah membayar harga makanan yang mereka makan tadi, Dewi Teratai putih menggandeng tangan Shin Liong keluar dari rumah makan itu, untuk mencari sebuah penginapan.
Dan ke esokan hari nya, pagi pagi setelah selesai sarapan serta menyiapkan bekal di jalan, Shin Liong dan Dewi Teratai putih pun keluar dari kota Fan Sau lewat gerbang timur , menuju ke arah kota Yufing.
Jarak antara kota Fansau dan kota Yufing adalah dua kali lebih jauh dari kota Fansau ke kota Raja Alexia, dan melewati hutan rimba belantara yang lebat.
Jalan yang seharusnya mereka lewati adalah memutari sebuah pegunungan, sehingga lebih jauh jarak tempuh nya.
Untuk menyingkat waktu, Shin Liong dan Dewi Teratai putih memotong jarak lewat lembah yang cukup dalam serta berhutan sangat lebat, namun cuma bisa di lewati orang dan kuda, tidak bisa di lewati gerobak ataupun kereta kuda.
Kalau jarak yang mengelilingi punggung bukit memerlukan waktu lebih dari satu purnama,maka jarak tempuh dengan memotong jalur lewat lembah ini cuma separo nya saja
Dengan kuda jalan perlahan lahan saja, mereka memasuki hutan menuju ke lembah besar nama nya.
Shin Liong dan Dewi Teratai putih mencari tempat yang agak datar namun lebih tinggi dari sekeliling nya untuk mendirikan tenda mereka.
Tidak jauh dari tepi telaga,di sebuah gundukan tanah yang agak tinggi, mereka mendirikan tenda.
Shin Liong segera mengumpulkan ranting kering untuk membuat api, sedangkan Dewi Teratai putih sibuk dengan aktivitas para wanita,yaitu memasak.
Karena hari mulai mendung,Shin Liong membuatkan gubuk sederhana untuk kuda mereka, agar tidak kehujanan, tidak lupa dia melindungi kuda itu dari binatang buas dengan tirai gaib punggung kura kura.
Setelah membersihkan badan mereka di dalam telaga, mereka naik dan bersiap siap untuk makan.
Di Kejauhan terdengar dentuman suara Guntur pertanda sebentar lagi hari mungkin akan hujan.
Setelah selesai makan, Shin Liong segera menutupi tenda mereka dengan tirai gaib punggung kura kura nya,agar tidak berbahaya bila ada kayu roboh menimpa mereka.
Tidak jauh dari mereka, terdapat sebuah pohon Ara yang sangat besar, tumbuh di tebing tepi telaga.
Sangking besar nya, akar dan batang pohon Ara itu sampai menutupi sebuah batu sebesar gajah.
Angin mulai bertiup semakin lama semakin kencang, diselingi suara gemuruh Guntur dan sesekali suara petir.
__ADS_1
"Krak!!"...
"Bum!!"...
Tiba tiba pohon Ara yang sangat besar serta berumur sudah ribuan tahun itu tumbang kedalam telaga, sehingga menyebabkan gelombang dan cipratan air telaga setinggi pohon.
Hujan pun akhir nya turun dengan lebat nya seperti di tumpahkan dari langit bersama kilat dan petir berdentum beberapa kali.
Bahkan hingga pagi tiba, barulah hujan mulai mereda.
Ketika Shin Liong dan Dewi Teratai putih keluar dari tenda mereka, nampak pohon Ara yang kemarin menjulang gagah dengan akar akar nya yang seperti tangan tangan raksasa itu, kini sudah sekarat tumbang ke dalam telaga.
Rupanya perjuangan pohon Ara itu sampai ke titik nadir nya, akar nya tetap mencengkram batu besar, sebesar gajah itu hingga saat dia tumbang pun,batu itu tetap ikut dia masuk ke dalam telaga.
Bekas batu besar yang ikut masuk kedalam telaga itu, kini menyisakan sebuah lubang di tebing batu sebesar gajah.
Shin Liong terpaksa mencari kayu kering kembali,karena kayu kering mereka sudah basah semua nya karena di guyur hujan.
"Sayang, kau kumpulkan kayu kering untuk ku, aku mau memasak untuk kita!" kata Dewi Teratai putih.
"Iya Dewi, aku akan segera mencarikan kayu bakar untuk mu,tunggu lah beberapa saat,sementara aku belum kembali,kau boleh mandi duluan dari ku" kata Shin Liong sambil melangkah kearah gerombolan pohon pohon mencari ranting ranting kering yang berserakan di situ.
Shin Liong mencari kayu kering tidak jauh dari tempat pohon Ara yang tumbang tadi malam.
Rupanya batu besar sebesar gajah itu selama ini menutupi mulut sebuah goa.
Karena sudah mendapatkan kayu bakar, Shin Liong kembali ke tenda tempat Dewi Teratai putih sudah menantikan nya.
"Kenapa lama sayang?" tanya Dewi Teratai putih perlahan.
"Tadi aku mampir di tempat pohon besar yang tumbang itu,ternyata di situ seperti ada mulut goa yang selama ini di tutupi oleh pohon sebesar rumah itu,dan ketika hujan badai tadi malam,pohon itu tumbang, meninggalkan sebuah mulut goa yang cukup besar " kata Shin Liong .
Dewi Teratai putih tersenyum menatap suami kecil nya itu, meskipun usia Shin Liong sudah empat belas tahun, tetapi sedikit banyak, sifat anak anak nya masih ada.
Di rangkul nya tubuh laki laki muda itu dengan erat, sambil tertawa lepas, "ayo sekarang mandi, Dewi kan sudah mandi, sementara kamu mandi, Dewi akan memasak untuk kita sekaligus bekal kita nanti, ayo cepat mandi, sana!" kata Dewi Teratai putih dengan sabar menghadapi sang suami yang masih labil itu.
Setelah selesai mandi, Shin Liong segera mendatangi Dewi Teratai putih yang sedang sibuk memasak nasi untuk mereka.
Mata nya celingukan kesana kemari,mencari sesuatu.
"Mencari apaan sih sayang?" tanya Dewi Teratai putih sambil memandang kelakuan Shin Liong dengan heran nya.
Laki laki itu terus saja celingukan kesana ke mari sambil mengendus kemana mana, seperti mencari sesuatu.
"Apa yang dia cari ya?".
__ADS_1
Tunggu saja jawaban nya pada episode mendatang.
...****************...